Miya

Jangan menutup mata dan telingamu pada kebenaran. Jika dengan berbicara mereka tidak mendengarmu, maka berteriaklah agar mereka mendengar kebenaran itu.

RUMOR
Di sinilah aku sekarang. Aku dan teman-teman kelasku saling duduk berhadapan sambil menikmati bekal makan siang kami masing-masing. Nasi, telur dadar, dan tumis kangkung yang tertata rapi dalam kotak bekal bewarna kuning itu menjadi menu makan siangku  hari. 
“Kalian sudah dengar berita terbaru tentang Terra?” Tanya Fani memulai pembicaraan di antara kami berempat sambil menyuapkan nasi ke mulutnya.
“Maksudmu Terra yang ternyata adalah adik kandung dari Emera Damarang—model majalah dewasa itu?” Kini Gisel mulai menyahut. Lalu diikuti dengan anggukan Fani.
“Aku dengar kemarin dia pulang bersama Om-Om berjas pakai mobil mewah.” Fani meletakkan sendok makannya. 
“Sudah kuduga dia memang seperti itu. Lihat saja Kakaknya! Mereka adalah buah yang jatuh dari pohon yang sama. Aku yakin pasti pergaulannya tidak baik.” Sahut Gisel.
Rani yang memperhatikan Fani dan Gisel bicara akhirnya mengangguk. “Ah, ternyata dia orangnya seperti itu. Padahal kelihatan pendiam.”
“Air yang tenang jangan disangka tak berbuaya.” Ujar Fani.
Aku memperhatikan nasiku yang sama sekali belum kusentuh.
Rumor. Ya, rumor tentang Terra. Terra menjadi buah bibir seluruh SMA Garuda Diponegoro. Semua siswa menjadikannya bahan berkasuk-kusuk. Hal itu bermula saat seorang siswa kelas XII melihat Terra, yang satu tingkat di bawahnya, berdiri di depan sebuah bar bersama seorang pria. Ia lantas memfoto peristiwa tersebut. Kemudian foto itu menyebar dan menjadikan Terra sebagai bahan pergunjingan.
Rumor yang membuat Terra dianggap  bukan perempuan baik-baik itu menyebar dari mulut ke mulut. Seolah-olah sedang bermain pesan berantai. Semua orang menjadi berpikran negatif pada Terra. Apalagi setelah diketahui bahwa Terra adalah adik Emera Damarang lewat sebuah foto yang diunggah Emera di akun media sosialnya, pada unggahan tersebut Emera menyebut jika Terra adalah adik kandungnya. Akibatnya rumor tentang Terra pun semakin menjadi-jadi.
Di kelas, di kantin, jam pelajaran, atau jam istirahat, semua membicarakan Terra. Bahkan di toilet pun mereka masih menjadikan Terra bahan pergunjingan.
“Kemarin aku lihat Terra diantar pria pakai jas naik mobil mahal ke sekolah. Berangkatnya pagi-pagi banget jadi gak ada yang lihat. Untung aku berangkat pagi buat ngerjain PR, jadi nggak sengaja lihat. Pasti Terra pacarnya pria itu deh. Jangan bilang kepada siapapun, ya!”
“Ini rahasia di antara kita.”
Dua siswa saling masih merapikan riasan wajah itu lalu tertawa.
Aku hanya tersenyum miris kala mengingat mendengarnya dari salah satu bilik toilet. Rahasia katanya? “Heh.” Dengusku. Karena keesokan harinya, rahasia di antara dua gadis itu telah bertransformasi menjadi rahasia publik. Cerita yang dirahasiakan pasti akan selalu tersebar. Memangnya ada seseorang yang bisa menjaga mulutnya?
Akibat rumor-rumor yang menyebar, Terra dijauhi. Siswa-siswa yang kulihat sering bersama Terra meninggalkannya. Terra menjadi penyendiri. Telinganya selalu ditutup dengan earphone. Sering menundukkan kepala saat berjalan.
Terra memang pendiam namun selalu ceria, bukan pemurung. Terra dulu dikenal sebagai gadis berbakat. Ia pandai menari tarian tradisional dan sering mengikuti lomba. Kebanyakan lomba yang diikuti dimenangkannya. Meski pendiam, tetapi banyak yang menyukai dan menjadi temannya.
Aku cukup dekat dengan Terra. Kami berasal dari SMP yang sama. Meski saat SMA tidak sekelas, kami tetap berhubungan baik. Terra temanku, aku tidak bisa membiarkannya sendirian. Aku mencoba mendekati dan berbicara dengannya, tetapi ia selalu menghindar saat melihatku. Aku ingin di sampingnya. Menguatkannya, menepuk-nepuk bahunya, dan menjadikan bahuku sebagai sandarannya. Aku ingin menusuk mata-mata yang memandang jijik Terra. Juga merobek mulut-mulut kotor yang membicarakan hal tak masuk akal tentang Terra seolah mereka selalu benar. Tanpa cacat.
“Terra.” Panggilku.
Terra yang sedang duduk di bangku dekat pos satpam terhenyak. Dari wajahnya kulihat ia kaget melihat keberadaanku. Ia segera bangkit dan hendak pergi. Namun tanganku mencekal lengannya.
“Kenapa kamu diam saja diperlakukan seperti ini Terra? Kenapa kamu tidak menyangkal atau menjelaskan semuanya pada mereka?” tanyaku.
Terra mengangkat wajahnya. Kulihat pipinya lebih tirus sejak terakhir kali aku melihatnya. Ada kantung mata bewarna hitam di bawah kedua matanya. 
“Untuk apa? Agar mereka mengerti? Meskipun aku bicara, mereka tidak mau mengerti dan peduli. Karena mereka senang melakukannya, menjadikan orang lain sebagai bahan pergunjingan.”
“Terra.”
“Aku tidak diam saja, aku sudah mencobanya. Dan tidak mengubah apapun. Semuanya menjauhiku, meninggalkan aku.”
“Aku tidak mengerti. Kau belum mencobanya padaku. Cobalah padaku, Terra!” Kupegang kedua bahu Terra.
Terra menatapku. Seolah tengah menimbang sesuatu. Sesaat ia terlihat ragu. Namun akhirnya ia mulai bersuara.
“Kau seharusnya katakan pada mereka siapa pria itu sebenarnya.” 
“Aku harus bilang ke mereka kalau pria berusia 30 tahunan yang wajahnya mirip boyband itu suami baru Mama, wanita yang usianya hampir setengah abad?” Terra mendengus. “Siapa yang akan percaya?”
“Atau aku harus membuat rekayasa dan bilang kalau pria itu pacar Kak Emera? Aku tidak mau mengorbankan Kakakku, pandangan orang-orang tentangnya sudah buruk karena profesinya. Dia yang sudah banting tulang membantu Mama untuk melunasi hutang yang ditinggalkan Papa yang pergi meninggalkan kami.”
Aku mendengarkan setiap cerita Terra. Ia beberapa kali menghapus air matanya yang keluar. Ia kadang tersenyum, kadang menangis saat bercerita.
Bunyi klakson menghentikan kami. Terra segera meraih tasnya. Ia tersenyum. Senyum penuh kesedihan.
“ Terima kasih telah mendengarku.”
Terra beranjak menghampiri seorang pria berjas yang berdiri di samping sedan hitamnya.Ia membukakan pintu mobilnya untuk Terra. Setelah keduanya masuk, sedan itu meninggalkan halaman sekolah.
Itu adalah hari terakhir  aku melihat Terra. Hari terakhir Terra sebagai penari kebanggaan SMA Garuda Diponegoro. Hari itu, tepatnya adalah kemarin.
“Hei!”
Suara itu membuyarkan lamunanku. Aku masih berada di kelas rupanya. Di depanku, Fani, Gisel, dan Rani menatapku penuh tanya. Seolah menunggu jawaban dariku.
Aku mengerjap beberapa kali.
“Apa?” Tanyaku.
“Kami senang akhirnya Terra—Si Penggoda Om-Om—itu yang hanya mencemarkan nama sekolah kita akhirnya pindah kemarin. Kau juga senang, iya kan?” tutur Gina.
Aku menatap satu-satu wajah lawan bicara. Wajah mereka sama sekali tanpa beban. 
Aku mendengus.
“Kalian puas sekarang?” tanyaku tersenyum miring. 
Ketiga orang di depanku keningnya berkerut. Tak kunjung menyahut.
“Terra sekarang sudah pindah. KALIAN PUAS SEKARANG?” Aku meninggikan suara. Membuat semua mata di kelas tertuju padaku.
Mereka saling melemparkan satu sama lain. Mulut mereka yang tadinya sibuk berbincang kini diam. Aku menatap mereka tajam. Mataku beralih kepada ketiga orang yang ada di depanku.
“Tidak. Aku sama sekali tidak senang melihat Terra, temanku, pindah sekolah karena tidak tahan digunjingkan melakukan hal yang tidak pernah dia lakukan oleh seluruh sekolah.”
“Aku tidak mengerti denganmu. Apa kau tidak lihat fotonya? Jelas-jelas itu Terra bersama Om-Om di bar malam-malam. Kau mau bilang kalau Terra di sana sedang mengerjakan PR?” Kali ini Gina menyahut. Diikuti tawa kecil dari para siswa yang mendengarnya.
Aku tidak peduli dengan seluruh mata yang menatapku dengan tatapan meremehkan itu. Aku tidak akan diam saja. Aku akan mengatakan kebenaran itu. Aku tidak akan membiarkan temanku terus diinjak meski ia telah tidak berada di sini.
Telingaku sakit setiap mendengar mereka mengolok Terra. Aku kesal dan lebih kesal saat Terra diam saja diperlakukan seperti itu. Kemarin aku diam dan bersabar karena aku tidak tahu apapun. Samentara Terra selalu menghindar dariku. Tetapi sekarang aku sudah tahu. Aku tidak akan diam saja. Aku tidak akan menutup mata dan telinga pada kebenaran. Jika dengan berbicara mereka tidak mendengar, aku akan berteriak agar mereka mendengar kebenaran itu.
Aku berdiri menatap balik setiap mata yang menatapku. Aku tidak peduli jika setelahnya aku  akan dibenci, dijauhi, di-bully, dan dikucilkan. 
Sekarang, dengarkanlah aku meneriakkan kebenaran!
“Apa kalian tidak melihat apa yang dikenakan Terra di foto itu? Ia mengenakan seragam kedai kopi tempatnya bekerja. Bangunan kedai kopi itu di samping bar. Dia di depan bar karena menyelamatkan pria mabuk korban tabrak lari. Terra menelepon pria yang bersamanya di foto itu untuk membawa korban ke rumah sakit.” 
“Asal kalian tahu, pria yang kalian sebut sebagai pacar Terra itu…” Aku mengambil napas. “Dia ayah tiri Terra. Kalian bisa tanya pada wali kelas Terra jika tidak percaya. Dalam foto saja mereka tidak bersentuhan sama sekali, tetapi kalian seenak berspekulasi.
“Dan Terra yang kalian sebut mencemari nama baik sekolah kita, dia seharusnya mengharumkan sekolah kita hari ini. Seharusnya hari ini dia ikut kompetisi menari di Bali, tetapi kalian menggagalkannya. Kalian menghancurkan Terra, membuatnya depresi sehingga tidak bisa konsentrasi latihan dan memilih mengundurkan diri. PUAS KALIAN?” Teriakku penuh emosi.
Napasku terengah-engah. Hanya suara napasku yang terdengar dalam keheningan kelas. Mata-mata itu saling memandang satu sama lain. Aku tersenyum miring.
“Bukan Terra yang mencemari sekolah ini, tetapi kalian. Kalian yang menyebarkan rumor yang belum terbukti kebenarannya lalu mengambil kesimpulan seenaknya. Kalian memang senang melakukannya, menjadikan orang lain bahan pergunjingan padahal teman kalian sendiri. Merasa diri kalian selalu benar, putih, tanpa cacat. Padahal kalian jauh lebih buruk.”
Tidak ada suara sama sekali setelahnya. Mereka menunduk tidak berani menatapku. Terlihat wajah-wajah kaget lalu diikuti wajah penyesalan di sana. Kuharap penyesalan yang mereka tunjukkan bukan kepalsuan ataupun sesaat. 
Bekalku sama sekali belum tersentuh saat istirahat berakhir dan guru memasuki kelas. Semua kembali ke tempat duduk masing-masing. Lalu diikuti guru PKn yang mulai menjelaskan materi sistem pemerintahan Indonesia dan beberapa negara lain.