Mujadid1928

"Lelahnya berpetualang adalah hal terindah dari sebuah penantian"

Jejak Kisah Suci

Tetesan embun pagi di rerumputan perlahan tersapu oleh sepatu kusamnya,  langkahnya memang sengaja ia pelankan agar sesekali ia bisa menikmati hembusan-hembusan asap yang berasal dari dapur ibu-ibu serta hisapan rokok bapak-bapak lengkap dengan secangkir kopi panasnya di depan rumahnya.  Semenjak ia beranjak dari kampung halamannya,  ia memang terkesan jarang menikmati suasana seperti itu.  Suasana demikian hanya bisa ia temui di sudut-sudut perkotaan tempat ia melintas menuju kampusnya.  

Setibanya dikampus duduklah ia di pojokan kampus sambil sesekali menghela nafas sebelum jam kuliahnya dipagi ini dimulai.  Ia memang sedikit berbeda dari teman-teman sekampusnya yang bisa pulang pergi kampus dengan tunggangan mewahnya, namun tak lantas menjadikannya sebagai alasan untuk bermalas-malasan. 

Angin lalu lalang berhembus, orasi-orasi aktifis kampus tak membuatnya jera dari titik fokus,  pandanganya enggan lepas dari rangkaian kertas,  lalu diuaraikanya gulungan-gulungan kata yang menghujatnya dengan deras.  

"Baiklah,  pertemuan hari ini kita cukupkan sekian, sampai jumpa di pertemuan selanjutnya,  jangn lupa dengan tugasnya" ujar sang dosen yang seketika memecah keheningan ruangan kelas.  

"Jar ikut yuk.. " ajak Deni sambil menepuk pundaknya dari belakang. 

"Kemana?" jawabnya dengan singkat. 

"Ke kantin lah,  kamu kenapa kok kelihatanya lesu amat hari ini? " lanjut Deni. 

"Kurang sholat dhuha kali..  " ledek Arya yang tiba-tiba muncul dari belakang. 

"Nggak papa kok,  ayo kalo mau ke kantin,  tapi jangan lama-lama ya..  " lagi-lagi ia menjawabnya dengan singkat. 

Lalu mereka bergegas melewati anak tangga seraya bercanda sambil sesekali menghibur Fajar yang hari ini terlihat lebih lesu dari biasanya. 

"Pagi ,  mau pesen apa nak? " sambut ibu penjaga kantin yang biasa menyiapkan sarapan anak-anak rantau yang jauh dari ibu kandungnya. 

"teh anget aja bu,  kalian pesen apa ar, den?  " jawabnya sambil meletakkan tas beratnya yang berisikan buku-buku tebal. 

"nasi Goreng ya bu, "jawab Arya dan Deni serentak. 

"Ciye kompak amat," lanjutnya. 

"Harus kompak dong!" sambung Deni. 

"Emang kamu Jar,  yang lain pesen nasgor kamu cuma cuma pesen teh anget doang,  emang gak laper? " tanya Arya penasaran. 

"Aku udah sarapan kok tadi di pondok" jawabnya meyakinkan teman-temanya agar ia terlihat baik-baik saja. 

Obrolan demi obrolan mulai terbangun,  mulai dari bahasan tugas-tugas kuliah hingga sesekali terselip obrolan tentang mahasiswa-mahasiswi hits dhits dikampusnya. 

"Aku duluan ya.. " ujarnya yang seketika menghentikan tawa ringan mereka. 

"loh mau kemana emang jar? " tanya Arya penasaran

"Ternyata bener katamu tadi ar..  Pasti dia mau ke masjid buat sholat dhuha,"  sambung Deni dengan nada bercanda. 

"Ayo kalo mau ikut.. " ajaknya kepada teman-temanya. 

"Wah payah kamu jar ngajakin Arya sholat dhuha,  sholat subuh aja dia gak pernah.. Haha.." ledek Deni kepada Arya. 

"Sembarangan! " jawab arya dengan raut wajah tidak terima. 

"Udah udah..  Aku duluan ya.  Ketemu lagi nanti dikelas! " ujarnya menutup obrolan pagi mereka. 

"Iya jar,  nitip doa aja ya biar aku bisa dapetin mahasisi-mahasiswi hits tadi..  Haha.. " ledek Arya sambil melirik ke Deni.

Kali ini ia bergegas menuju ke masjid kampus untuk melaksanakan rutinanya yang sudah lama ia lakukan sejak masih duduk di bangku SMA. setelah sholat dhuha,  satu hal yang tak pernah ia lupakan adalah selalu berdoa mengucap syukur atas nikmat-nikmat yang telah tuhan berikan kepadanya, meski hidupnya selalu pas-pasan namun ia selalu punya cara untuk mensyukurinya.  Baginya bisa mengenyam pendidikan di perguruan tinggi adalah suatu nikmat yang luar biasa yang tidak semua orang bisa merasakanya, apalagi ditambah dengan belajar ilmu-ilmu agama di pondok pesantrennya. 

Hari menjelang sore,  tiba saatnya ia kembali ke pondok sebelum batas waktu pulangnya habis. Ditengah perjalanannya,  tiba-tiba datang sepeda motor dan berhenti tepat di depannya.  Setelah dilihat ternyata Arya,  teman sekelasnya.  

"Kok tumben lewat sini Ar? " tanyanya penasaran

"Iya kebetulan ada jadwal latihan futsal di gor kota jadi aku lewat sini,  ayo aku anter kamu sekalian! " jawab Arya sambil menawarkan tumpangan. 

"Yaudah ayo..  Kebetulan aku hari ini agak telat pulang ke pondoknya! " jawabnya tanpa pikir panjang. 

Selang beberapa menit,  tibalah mereka di gerbang pondoknya.  Lalu ia pun bergegas memasuki pondok karena hari ini ia sedikit terlambat akibat tugas kelompoknya yang membuatnya harus berlama-lama di perpustakaan kampus. 

Pertemuannya hari ini dengan beberapa dosen hanya tuntaskan bebannya sekian persen.  Dibalik kepulangan sang Surya sudah ada beban lain yang menyapa.  Adzan maghrib berkumandang,  kini saatnya ia melaksanakan kewajibannya sebagai santri. Bergegaslah ia ke masjid untuk melaksanakan jamaah maghrib.  Seusai jamaah, kini dijemputnya lembaran-lembaran kuning bertuliskan huruf-huruf asing sambil menyiapkan beberapa bait dari kitab yang harus ia setorkan kepada ustadznya.  Selang beberapa waktu tibalah giliran ya menghadap ustadznya.  Dilantunkannya syair-syair tersebut di depan ustadznya.  Ternyata yang ia khawatirkan sejak di kampus terjadi juga.  Ia tidak berhasil menyetorkan hafalanya dengan lancar. 

"Saya lihat kok akhir-akhir ini hafalanmu melemah,  kenapa?  Ada masalah? " Tanya ustadz mengklarifikasi keanehanya selama belakangan itu. 

"Maaf tadz,  dari kemarin memang banyak tugas kampus yang harus saya selesaikan,  jadi tidak bisa menggagalkannya dengan maksimal,  sekali lagi maaf tadz, " jawabnya denga raut wajah bersalah

"Baiklah untuk kali ini saya maklumi,  lain kali kamu harus lebih bijak dalam membagi waktumu,  kamu kan sudah dewasa.. " lanjut ustadznya menasehatinya. 

"Baik tadz,  sekali lagi saya minta maaf!" lanjutnya menutup pertemuanya dengan ustadznya. 

Peringatan dari ustadznya membuatnya lebih bersemangat. Kemudian ia melanjutkan hafalannya ditempat favoritnya,  tepat di bawah pohon yang ada di samping masjid. 

"Udah dapat berapa bait mas? " Sapa Sandi membuka obrolan malam itu. 

"Baru dikit san.. " jawabnya sambil tersenyum hangat kepada santri cilik itu yang tinggal satu pesantren ddengannya. 

"Aku boleh tanya nggak? " sambung sandi

"Tanya apa?  Tinggal ngomong aja"  jawabnya agak penasaran. 

"Emang gak capek ya kuliah sambil mondok itu? " tanya Sandi dengan polos.

Seketika ia tertawa mendengar pertanyaan dan melihat wajah polosnya. 

"Ya rasa capek pasti ada,  tapi kita kan bisa istirahat kalo capek,  lagian kan sudah ada jadwalnya masing-masing jadi kita masih ada waktu buat istiraha!" jawabnya mencoba menjelaskan. 

"Kenapa sih gak kuliah aja kaya yang lain?  Atau ada cita-cita buat jadi ustadz? " lanjut Sandi masih belum puas dengan jawaban yang ia berikan. 

"Kita ini laki-laki san,  masa depan kita itu tidak sederhana,  kelak kalau kita sudah berkeluarga kita harus bisa membimbing istri sama anak kita,  sekarang masih enak  kita masih bisa belajar sama kyai,  tapi beberapa tahun kemudian?  Belum tentu masih ada orang yang peduli mau mendidik anak orang seperti yang kiyai kita lakukan sekarang,  makanya kalo kita mondok sambil kuliah setidaknya kita nggak cuma bermanfaat bagi masyarakat, tapi kita juga harus berguna bagi keluarga kita,  khususnya guru bagi anak-anak kita." jawabnya lirih sambil memegang pundak santri kecil itu. 

Belum sempat ia lanjutkan, Sandi tiba-tiba lari menghampiri teman-temanya yang baru usai mengaji.  Setelah kepergian santri kecil itu,  diseruputnya kopi yang sudah dingin sedari tadi dan menutup kitabnya sambil bergumam di dalam hati "alangkah beruntungnya Sandi bisa mengenyam pendidikan agama sejak masih kecil,  sedangkan aku baru saja bisa merasakanya sekarang,  waktuku jelas lebih singkat darinya,  dan otomatis usahaku harus lebih hebat dari usahanya,  agar singgahku dinegeri orang bukan sekedar singgah.  Terimakasih tuhan telah mempercayaiku dengan memberi ku kesempatan untuk menjadi bagian dari orang-orang yang engkau muliyakan.. ".

Malam kian larut,  namun pikiranya belum lepas dari impian-impian sederhanany yang penuh makna.  Semua hasrat mulianya terekam dalam jejak langkah kisah sucinya,  baginya lelahnya berpetualang adalah hal terindah dari sebuah penantian.