Everybody has their own red carpet
I’M PROUD
Aku melihat sekelilingku, mengamati langkah demi langkah yang mereka pijakkan, kata demi kata yang mereka lontarkan, perbincangan-perbincangan yang mereka ciptakan seolah menambah sibuk ruang kelas ini. Aku masih terdiam menatap satu demi satu teman-temanku yang mulai asyik membicarakan berbagai kompetisi yang mereka ikuti. Senyum lebar disertai gelak tawa yang menandakan rasa bangga bahkan wajah muram menahan tangis yang menandakan kekecewaanpun tak luput dari penglihatanku.
“Thalita selamat ya untuk kemenanganmu dalam kompetisi essay tingkat internasional awal minggu ini.” Suara seorang temanku dengan lantang ke arah Thalita hingga memecah keriuhan suasana kelas. Thalita, seorang gadis yang aktif mengikuti lomba essay dan baru saja memenangkan lombanya yang diadakan di Bangkok. Kalimat itu diikuti oleh teman-temanku yang lain untuk menucapkan selamat yang kemudian mereka kembali pada kesibukan perbincangan masing-masing.
Mereka menghentikan aktivitasnya dan mulai menempati tempat duduknya ketika seorang Dosen masuk ke dalam ruang kelas. Seperti kelas pada umumnya, tidak semua mahasiswa memperhatikan apa yang diajarkan oleh pengajar mereka. Sebagian dari mereka mendengarkan saja, mendengarkan sambil mencatat, bermain handphone, hingga berbisik-bisik dengan teman di sebelahnya. Tibalah saat dimana Dosen memberi waktu bagi mahasiswanya untuk bertanya, sebagian dari mereka mengangkat tangan aku hanya diam melihat ambisi mereka untuk bertanya. Ya, aku hanya mengamati ambisi-ambisi setiap anak untuk mendapat entah tambahan nilai maupun pengakuan bahwa ia memperhatikan, atau mungkin mereka memang ingin tahu dan ingin belajar lebih banyak dari Dosen tersebut.
Sepulangnya dari kelas, aku memutuskan untuk pergi ke kantin bersama beberapa temanku. Perbincangan demi perbincangan mengenai banyak hal dimulai sembari menikmati hidangan yang kami pesan. Tidak semua obrolan dapat kupahami, sebagian hanya masuk ke telingaku kemudian lenyap begitu saja. Di situlah, aku merasa bahwa mereka berada di atasku, dalam hal ilmu, pemahaman, serta pengetahuan. Aku merasa seperti seonggok daging yang dialiri darah, diberi otak untuk berpikir dan belajar tetapi tidak kumanfaatkan. Aku terdiam menatap mereka, sesekali terbesit di benakku untuk menyerah saja. Berhenti memaksakan pikiran dan tenagaku untuk memahami hal-hal yang memang sulit untuk ku pahami. “Kamu kenapa Aliya? Kok bengong gitu? Ada masalah?” tegur salah satu temanku yang membuyarkan lamunanku. “Ah tidak, aku hanya kepikiran sesuatu kok tapi bukan masalah besar, jadi tenang aja hehe” balasku dengan sedikit tawa yang seakan dipaksakan.
Tidak ada yang menarik memang dari hariku yang aku lewati di tengah-tengah orang berambisi, perbincangan-perbincangan yang tidak aku pahami, serta materi-materi yang sulit dimengerti. Kuletakkan tas ransel dari pundakku, kurebahkan tubuhku diatas Kasur abu-abuku. Sebuah pesan masuk dari temanku yang mulai membahas topik mengenai salah satu mata kuliah esok hari. Mereka seperti tidak memiliki rasa penat akan ambisi-ambisi mereka. Aku menatap langit-langit kamar lekat-lekat semabi berpikir tentangku. Siapa yang sebenarnya salah, aku yang terlalu santai atau mereka yang penuh ambisi?
***
Keesokan harinya aku terbangun seperti biasa, satu jam sebelum waktuku untuk pergi ke kampus. Aku mengambil handphoneku dan kubaca pesan demi pesan yang sempat terlewatkan olehku semalam. Apa yang mereka bahas masih sama, seputar materi suatu mata kuliah yang tidak sepenuhnya aku pahami. Aku meletakkan kembali handphoneku di atas meja lalu bergegas untuk bersiap pergi ke kampus. Sepanjang jalan aku mencoba membaca kembali pesan tersebut, kali ini aku mencoba memahaminya dengan mencari informasi dari sumber-sumber lain. Meskipun pada akhirnya aku tidak benar-benar memahami keseluruhannya, setidaknya aku memahami garis besar dari topik pembahasan yang mengganjal tidurku semalam.
Sesampainya di kelas, aku segera meletakkan tasku di kursi yang tidak terlalu di depan dan tidak terlalu berada di belakang. Beberapa temanku yang sering bersamaku segera mengikutiku dengan meletakkan tas dan duduk di barisan tempat dudukku. Kami berenam, tidak semua dari kami menyuka tempat duduk di depan maupun di tempat-tempat yang mudah menjadi sasaran empuk Dosen untuk diberi pertanyaan. Terkadang, aku merasa bahwa aku adalah orang yang paling bodoh di antara lima orang temanku, atau bahkan di antara seluruh teman di kelasku. Dua dari mereka adalah orang yang memiliki passion dalam debat dan tak jarang mereka memenangkan berbagai macam kompetisi, seorang lagi mengikuti sebuah kompetisi konferensi yang di adakan di negara lain, begitu juga dengan dua temanku yang juga memiliki kelebihan di bidang musik, serta aktif dalam berbagai organisasi. Aku selalu berpikir bahwa seluruh teman di kelasku adalah sekumpulan manusai yang diberi kelebihan oleh Tuhan dan mereka selalu ada di atasku. Mereka seperti tak memiliki cela, sempurna dengan segala kelebihannya.
Hingga suatu ketika aku mendapati kelima teman dekatku mengeluh di sebuah grup chat yang kita buat sebagai tempat berbagi cerita.
“Aku takut aku kalah dalam kompetisi debat akhir minggu ini” kata seorang temanku.
“Semangat ya Ra, aku juga takut aku jadi orang yang paling terlihat bodoh dalam konferensi tahun depan” timpal Laras.
“Aku takut gak bisa ngerjain UAS minggu depan nih” Caroline menambahkan.
“Aku rasanya ingin pulang gak mau ngerjain essay kelompok buat minggu depan.”
“Aku takut tugasku tidak memenuhi ekspektasi dari Dosen kita”
Aku mengamati chat demi chat yang masuk malam itu. Memang, akhir-akhir ini tugas yang kita dapatkan sangat banyak dan menumpuk baik tugas individu maupun tugas kelompok yang seakan tak kunjung habis. Terlebih lagi minggu depan akan didakan Ujian Akhir Semester Ganjil, tentunya otak ini seakan tak bisa diistirahatkan sejenak untuk sekadar menikmati sesesap kopi sambil menatap lekat senja sore hari. Sebuah pesan masuk dari salah satu temanku memecahkan keheningan malam itu “yaudahlah temen-temen gak ada hal lain yang bisa kita lakukan selain berusaha dan berdoa. Gausah insecure, everybody has their own red carpet. Mungkin sekarang kita terlihat biasa saja di mata mereka, tapi tidak menutuo kemungkinan kita akan dilihat oleh mereka dengan tatapan kagum suatu saat. Tidak ada yang salah dengan diri kita, toh kita sudah diberi kelebihan dalam beberapa hal oleh Tuhan.”
Malam itu aku kembali menatap langi-langit kamarku lekat-lekat, otakku terus berpikir mengenai banyak hal. Pesan yang dikirimkan oleh temanku sunggu membuat otakku bekerja keras dan menggetarkan hati. Perlahan aku menyadari bahwa tidak hanya aku yang memiliki berbagai macam ketakutan dalam menghadapi hari esok. Tidak hanya aku yang merasa tertekan berada di lingkungan yang berisi makhluk-makhluk berambisi. Tidak hanya aku yang merasa rendah diantara orang-orang lain yang terlihat lebih tinggi. Mereka juga merasakannya, bahkan orang yang sering memenangkan kompetisi. Mereka pernah merasa takut kalah, takut mengecewakan diri sendiri dan orang lain, serta ratusan bahkan ribuan alasan lain untuk menyalahkan diri mereka bahwa mereka tidak cukup baik dalam melakukan banyak hal. Aku juga menyadari bahwa ketakukanku saat ini merupakan representasi dari ketidak percayaan diriku akan kemampuan dan segala kelebihan yang tuhan berikan. Dari situlah aku berpikir bahwa yang harus aku lakukan pada diriku saat ini adalah bangga pada segala kelebihan dan kekurangan yang Tuhan berikan untuk menyambut hari-hari yang mungkin akan dipenuhi oleh makhluk-makhluk dengan ambisi.