The best thing you’ve ever done is when you tried to accept your weakness without letting anything else go from yourself.
Langit Trondheim kali ini lebih jernih dan membiru gelap berhamburan gemerlap bintang dan benda-benda langit. Mereka terlihat seperti berlian diatas gaun indah berwarna donker yang meskipun dipakai oleh orang paling jelekpun akan tetap terlihat menawan.
Aku berdiri sendirian disebuah tepi pelabuhan setelah terjadi pertengkaran hebat bersama sahabatku. Selang beberapa saat, karena aku tidak memiliki alasan untuk tetap tinggal didepan perahu-perahu yang diterjang ombak dan angin laut yang semakin keras menghempas, aku berjalan menuju kafetaria terdekat.
Lelaki itu, meski sering membuat ulah dikampus karena pemikirannya yang ekstrimis, ia masih tetap menjadi lelaki yang manis dan perhatian dalam memperlakukan wanita. Meski begitu, sama sekali tak ada keinginan baginya untuk membuat sebuah hubungan terikat berlandaskan cinta, ia lebih menyukai kebebasan dan menyerahkan semuanya terhadap waktu.
“Masih marah?” Kebetulan yang sangat menguntungkan bagiku karena lelaki itu berada didalam kafe yang sama denganku saat ini.
Wajahnya tenggelam dalam balutan jaket kulit yang ia pakai dan hanya tersisa jambul hitam yang ia poles sebelum kami pergi menuju Trondheim.
“Di luar dingin banget Fa,” ucapku basa-basi sambil membenarkan posisi dudukku.
“Paling bentar lagi juga turun salju.” Alfa mengambil tas yang tak pernah ia tinggalkan kemanapun, didalamnya selalu ada apapun yang kami butuhkan.
Alfa memberiku syal coklat yang neneknya buat ketika beliau masih ada, Alfa bilang kalau neneknya terlalu memaksakan diri membuat syal tersebut karena sehari setelah syal tersebut selesai dirajut, neneknya masuk UGD.
“Pake ini. Lain kali kalo kemana-mana bawa tas yang gede biar muat apa-apa.” titahnya lagi mengingatkanku pada perdebatan tadi.
“Udah deh jangan mulai lagi, ntar ujung-ujungnya kita debat lagi, kan.” Aku mencibir tepat didepan wajahnya, sengaja aku condongkan badanku agar ucapanku ini masuk ke otaknya.
Alih-alih kembali ketempatku duduk, aku malah berhenti begitu mata kami saling beradu. Terakhir kali aku dan Alfa saling menatap dalam adalah ketika perpisahan sekolah, kami menjadi pasangan prom dan berdansa bersama. Sekarang, aku baru sadar kalau Alfa jauh berbeda dengan Alfa yang dulu, puberty hits him like a truck.
“Lo ngapain maen nyosor gitu?” tanya Alif dingin.
“Biar kamu bisa denger dengan jelas ucapan aku,” balasku santai, posisiku masih tidak beranjak dari sana, masih sama tanpa sedikitpun memundurkan badan.
Alfa terlihat risih, dapat dilihat dengan wajahnya yang berpaling kearah lain daripada menatap wajahku. Aku terbahak dalam hati, baru pertama kali aku melihat wajah Alfa yang lain, biasanya anak ini hanya terdiam, tertawa, dan marah. Sekarang aku akan menambahkan daftar baru kalau Alfariel Eshaal merasa risih untuk melihat wajah Laluna Yuan, eh tunggu, kalau Alfa merasa risih melihat wajahku, apa itu berarti ada yang salah dengan wajahku? If it’s true, I’ll smack his face!
“Alfa!” aku menggebrak meja yang terletak diantara kita berdua, dia mengernyitkan dahi heran. Aku tak tahu kenapa dia berekspresi seperti itu, mungkin karena aku sedikit memaksa keadaan karena wajahku yang mulai membeku dan terlihat seperti sebuah kepiting rebus. “Muka aku jelek ya?”
“Hah?” bukannya menjawab, anak ini malah balik bertanya.
“Idung lo udah mulai merah tuh, pake jaketnya.” Tambahnya.
“Nggak bawa jaket, Fa.”
Alfa melemparkan jaket yang ia bawa ditasnya kearahku sambil berkata, “Minum coklat panas, gih.”
Aku tersenyum sumringah, kemudian memakainya dengan sigap. “Belom dipesenin.”
Alfa beranjak, ia melangkah mendekati seorang pelayan cantik khas kaukasian lalu memesan sesuatu pada si pelayan tersebut.
“Bentar lagi dateng kok, tunggu aja,” sahut Alfa begitu ia kembali. Jika saja Alfa dan aku tak memiliki hubungan persahabatan ini, mungkin saja aku sudah tenggelam patah hati gara-gara perasaan sepihak.
Alfa mengambil cup kopi didepannya, dengan santai ia meneguk cairan tersebut tanpa menawariku yang sekarat karena tenggorokan yang sudah mulai digerogoti rasa dingin membekukan. Cairan itu seperti lava panas yang mengalir ditengah balokan salju keras, tengukkannya menggambarkan kenikmatan yang benar-benar aku butuhkan saat ini. Aku meneguk salivaku sendiri, benar-benar memalukan karena aku ingin sekali merebut kopi itu dan meminumnya hingga tandas sekarang.
“Cuaca makin dingin, tapi bintang masih banyak tuh diluar.” Ocehku mengenyahkan keinginan untuk merebut minuman milik Alfa.
“Wanna see that?”
“apa?”
“Those stars?”
“Nggak ah, takut ujan salju, bisa-bisa aku mati membeku ditumpukkan salju.”
Alfa tertawa mendengar aku menggerutu seperti itu. Hidung mancungnya mulai memerah sama seperti milikku. Padahal jaket dia lebih tebal dibanding dengan jaket yang aku pakai sekarang.
“gue mau nunjukkin ke elo hujan yang gak bakalan beku dan gak berubah jadi es,” ucap Alfa sambil tersenyum.
“Jangan bercanda, Mas Alfa. Kamu boleh aja lebih pintar dari aku tapi kamu gak bisa ngibulin aku dengan cara bilang hujan yang gak berubah jadi es.”
“Lo gak percaya sama gue.” Sahutannya terdengar lebih ke sebuah pernyataan dibanding pertanyaan.
“Iya. Aku gak percaya soal ini.”
“Itu kenapa gue gak pernah mau orang masuk ke kehidupan gue lebih dalem.”
Aku terdiam. Ucapan Alfa mengarah kearah yang lain, aku tahu pasti Alfa tidak akan berkata seperti ini jika tidak pikirkan terlebih dahulu. Apalagi ini menyangkut alasan mengapa Alfa tidak memiliki hubungan selama ini. Setahu aku, banyak cewek yang bisa Alfa jadikan sebagai pasangan, tapi ia memilih untuk tidak melakukan hal tersebut. Seperti diawal aku bilang, Alfa lebih suka kebebasan dan tidak menginginkan sebuah ikatan apalagi membuat sebuah komitment.
“seriusan, Fa? Kamu baper?”
Alfa tertawa. “Gue bakalan nunjukkin ke elo kalo hal itu ada asal lo percaya.”
“Ok. Tapi kalo kamu gak bisa bikin aku percaya, kamu harus janji bakalan mulai suka dan pacaran sama cewek.”
“Anjir, berat banget deh, gue belom mau punya hubungan sama cewek.”
“kalo sama cowok?”
“Lo gila!” aku tertawa mendengar ekspresi kesal Alfa barusan, membuat anak ini kesal adalah salah satu hal yang bisa menghangatkan suasana.
“Apa susahnya sih kamu buka hati buat cewek? Aku bosen liat kamu sendiri terus kalo ke kondangan.”
“Bodo amat, emang gue peduli?”
“Aku yang peduli!” sahutku.
Alfa menggelengkan kepalanya mantap, bertepatan dengan itu seorang pelayan menghidangkan coklat panas yang tadi Alfa pesan untukku, ia melemparkan senyum menggoda pada Alfa. Dalam hati aku menyeringai, percuma mau digoda segimanapun juga Alfa gak bakalan goyah.
“Nyt måltidet ditt,” ucap pelayan tersebut dengan senyuman manis.
“Takk,” balas Alfa balik memberikan senyum.
Pelayan itu mundur kembali ketempatnya bekerja. Jika itu bukan Alfa, mungkin mereka akan mengambil kesempatan ini untuk mendapatkan hati pelayan tadi, tapi Alfa sama sekali tidak terusik. Aku jadi bimbang, sebenarnya anak ini normal atau tidak, sih?
Aku dan Alfa tidak mengatakan apapun setelah itu, kami hanya diam dan masing-masing memegang minuman yang kami pesan. Aku memperhatikan Alfa dari balik cup coklat panas yang sedang bertengger dibibirku, lelaki kaku dengan otak kritis khas mahasiswa yang aktif menggembor-gemborkan hak mahasiswa untuk ditegakkan itu tak lebih dari seorang lelaki yang takut untuk membuat dirinya terikat dalam sebuah hubungan.
Kami keluar ketika acara minum coklat dan kopi dalam keadaan hening selama kurang lebih 15 menit itu selesai, Alfa sengaja menyewa mobil untuk liburan kami disini, ia bilang ia tak butuh tour guide karena ia sudah paham mengenai Norwegia dari google maps dan beberapa kenalan disini. Aku sempat mencibir dan mendoakan kalau kami akan tersesat dan berakhir dengan memanggil jasa tour guide tapi sayangnya selama 4 hari kemarin, tidak ada tanda-tanda kami akan tersesat.
Alfa mengemudikan mobilnya kearah selatan Trondheim, menjauh dari hiruk pikuk pemukiman dan memasuki jalanan yang mulai sepi dan hanya menyisakan beberapa tempat persinggahan beserta pohon cemara yang sudah mulai tertutup salju putih. Meski begitu, jalanan masih saja ramai dengan kendaraan roda empat yang sama-sama melaju kearah selatan.
“Lun, liat langitnya deh,” sahut Alfa memintaku menatap langit, memang semenjak tadi aku terfokus pada jalanan disampingku dan tidak melihat apa yang ada didepan.
Begitu aku melihat apa yang ada didepan kami, mataku terpaku seketika. Liukan cahaya berwarna hijau bercampur ungu membentang dilangit Trondheim selatan. Pancaran cahaya mirip batu ametis menguasai langit dengan sebuah tarian alami yang menampakkan visual sempurna dari sebuah keindahan, menggantung diatas sana dan menyebar disegala arah dengan variasi putih, hijau dan violet yang memabukkan, mencoba merayu mata siapapun untuk menghampirinya dengan godaan yang susah untuk ditolak.
Northen lights, mereka memanggilnya dengan nama itu.
“Gimana?” tanya Alfa. Dari suaranya, aku dapat mendengar eskpresi kesenangan dan kepuasan didalamnya.
“Gorgeous,” balasku terpesona.
Saking menikmatinya, aku bahkan tidak sadar kalau Alfa telah membawaku ke tengah hutan dan sampai di sebuah lahan membentang yang ditutupi salju. Malam tidak terlihat seperti malam biasanya, malam kali ini terang berkerlip karena pancaran cahaya itu masih menetap disana.
Dengan santai Alfa membuka pintu mobil dan memintaku untuk keluar. Senyumannya masih saja terpatri disana, dengan tangan kiri yang ia sanggakan ditas gendongnya dan tangan kanan yang memaut tangan kiriku, kami berjalan hati-hati mendekati pancaran cahaya itu meliuk-liuk.
Tepat ketika aku merasa berada dibawah northen lights, aku merasakan perasaan yang benar-benar melebihi kata terpesona. Aku merasa kecil disini, dibawah lekukan cahaya raksasa itu aku melihat bahwa Tuhan benar-benar menyayangi umatnya sehingga ia memberikan kami hadiah berupa lukisan hidup beralaskan langit.
“Ini yang gue maksud.” Ucap Alfa.
Aku beralih menatap lelaki itu, wajahnya terlihat hangat karena senyuman terus saja ia tunjukkan. “Maksudnya?”
“Gue namain ini hujan yang gak bakalan beku dan gak bikin dingin karena emang begitu,” ucap Alfa menggantung. “karena kalo lo lihat dari samping, cahaya-cahaya ini memanjang vertical kaya jatuh dari langit persis seperti hujan. Bedanya, air hujan itu putus-putus dan berbentuk cair, kalau ini enggak. Ditambah lagi, hujan bisa berubah jadi es kalo musim dingin, tetapi mereka..” Alfa menunjukkan telunjuknya ke arah cahaya tersebut.
“Mereka akan terus seperti itu selamanya.”
Aku terkekeh mendengar ucapan nyeleneh Alfa, tapi ia berkata benar jika cahaya ini seakan terjun lurus dari langit namun tidak bersentuhan dengan bumi. “Kamu ngaco.”
“But you believe it.”
“I do, tapi aku bakalan bilang gak percaya.”
“Kenapa?”
“Karena kalo aku percaya, itu artinya kamu bakalan tetep gak bakalan buka hati buat cewek.”
Alfa terkekeh, “lo pengen tau kenapa gue gak mau punya hubungan sama cewek?”
“Karena gue belom sepenuhnya bisa percaya sama diri gue sendiri, ada masa dimana gue selalu protes ke Tuhan kenapa dia ciptain gue dengan kekurangan yang gue punya, dan gue sadar kalo gue gak bisa kaya gitu. Satu-satunya cara adalah menerima, bagi gue, menerima kekurangan diri gue sendiri adalah hal yang paling sulit.” Ucapnya.
“Kamu gak bisa kaya gitu, Fa. Kita dilahirkan dengan kekurangannya masing-masing. Dan tugas kita adalah menerima kekurangan itu, kamu gak bisa mendikte diri kamu untuk menghindari kekurangan dirimu sendiri.” Sanggahku.
“Gue gak menghindar.”
“Kamu gak menerima kekurangan kamu karena kamu mencoba menghindar dari itu semua,” tuturku jujur. Alfa yang ada didepanku bukan Alfa yang aku kenal sebagai sosok yang sempurna dengan kekurangannya.
Ketika aku yang bukan siapa-siapanya saja menerima apa yang menjadi kekurangannya, kenapa justru anak ini malah tidak bisa menerima dirinya sendiri.
“Look, Alfa. Kekurangan kamu adalah satu hal yang bisa membuatmu mencintai dirimu sendiri. Try to believe yourself by accepting your weakness, then you can see how the world loves you more than what you expected, menutup diri dari orang lain hanya karena kamu merasa belum menerima kekurangan adalah hal yang egois. Kamu akan menemukan perasaan menerima ketika kamu membuka diri untuk menerima orang lain yang mencoba masuk ke hidup kamu. Jangan melepaskan orang-orang yang justru memiliki kemungkinan membuat kamu bisa menerima diri kamu sendiri.”
Alfa mematung disana, tidak lagi mendebat atau menyanggah ucapanku. Aku menghela nafas panjang, dibawah cahaya ini aku mengetahui alasan kenapa Alfa tidak ingin membuka hati untuk orang lain. Ia terlalu memikirkan dirinya sendiri dan tidak memikirkan bagaimana hatinya membutuhkan sesuatu sebagai cara agar ia bisa menerima dirinya sendiri.
“I’ll try but I need someone to believe me,” lirihnya pelan, mata Alfa terlihat menyerah disana, ada sorot meminta yang tidak bisa aku mengerti.
Aku memegang tangan lelaki itu erat sekedar memberikan sentuhan dukungan untuk membuatnya kuat. Dengan hati-hati aku melontarkan kata-kata yang selama ini aku ingin katakan. “I believe you, always did and will always do.”
Alfa tersenyum simpul, tidak ada yang lebih membuatku merasa tenang selain melihat orang yang ada didepanku merasa lebih baik. Alfa berada dalam keadaan terburuknya saat ini, dan aku beruntung menjadi orang yang setidaknya menjadi sandaran lelaki itu. Northen lights yang sedang meliuk-liuk diatas sana memberi kekuatan lain pada lelaki itu untuk menerima dirinya sendiri, bersamaan dengan itu Alfa mengatakan kata-kata yang sama sekali tak terbersit dibenakku.
“Ketika barusan lo bilang percaya sama gue, saat itu pula gue memutuskan untuk membuka hati gue, dan elo yang akan pegang hati itu buat seterusnya.”