Riniss

Cinta Bukanlah Sumber Kebahagiaan, tapi Ketiadaan Cinta adalah Sumber Penderitaan

Seandainya aku bisa mengulang waktu, tentu aku akan lebih memilih menjadi burung yang terbang bebas, daripada raja yang terbelenggu.

***

Gundukan dedaunan pohon-pohon yang rindang di bawah pekatnya langit malam dan sedikit temaram cahaya bulan tak ubahnya seperti malaikat maut yang menunggu dan terus membayangi. Tiba-tiba aku merasa sedih menatap semua itu dari balkon kamarku di lantai 3. Merasa ngeri, segera kualihkan pandanganku menuju halaman depan rumah. Tampak olehku beberapa lelaki berpakaian serba hitam berdiri dengan angkuhnya di sekeliling pelataran rumahku. Tidak, bukan. Ini bukan rumahku. Ini adalah rumah Tuan Raymond---ayah angkatku. Rumah ini berdiri di atas kompleks tanah seluas 1 hektar dengan arsitektur bergaya klasik, persis seperti rumah-rumah klasik mewah yang terdapat di Inggris, tempat kelahiran Tuan Raymond. Siapa pun yang melihat rumah ini, mereka pasti berpikir pemiliknya bukanlah orang yang rendah hati karena sudah membangun rumah ini atas dasar pamer dan foya-foya.

Sorot lampu mobil yang menyoroti gerbang tinggi rumah ini menyadarkanku dari lamunanku. Tampak dua orang dari penjaga-penjaga itu segera berlari menuju gerbang dan membukanya, beberapa orang lainnya segera berbaris di sebelah kanan dan kiri jalur mobil. Mobil itu melenggang masuk ke pelataran rumah ini dengan gagahnya. Seorang di antara mereka segera membuka pintu belakang mobil berwarna hitam legam itu, menampilkan sosok lelaki beriris mata biru dan rambut pirang dengan balutan jas mewah berkelas yang tampak begitu pas di tubuh tinggi tegapnya. Penjaga-penjaga itu segera menunduk tatkala lelaki itu---Tuan Raymond---berjalan melewati mereka untuk memasuki rumah ini. Menyadari sesuatu, aku segera beranjak dari balkon menuju kamarku dan kembali berkutat dengan buku-buku tebal di meja belajarku.

***

Cklekk! Suara pintu kamarku yang terbuka menampilkan wajah lelah Tuan Raymond. Ia berjalan menghampiriku dengan tatapan mata tajamnya yang begitu mengintimidasi.

“Gama...” Suara beratnya terdengar memanggilku.

“Ya...” Aku hanya meliriknya singkat lalu kembali menatap deretan tulisan di atas buku tebal itu.

“Apa yang kau lakukan tadi siang?”

“Aku hanya pergi sekolah”

“Tidak, kau pasti melakukan hal lain selain itu”  Kudengar nada suaranya meninggi.

“Kubilang hari ini aku hanya pergi ke sekolah...” Aku berusaha membela diri.

“Oh begitu rupanya. Kau sudah berani membohongiku sekarang, ya? Aku mendapat laporan dari sopirmu, katanya kau tidak ada di sekolah saat ia menjemputmu pulang. Jawab aku! Kemana kau pergi tadi?” Aku bergidik ngeri saat melihat matanya memerah dan rahangnya mengeras.

“Ya baiklah! Aku hanya pergi ke pameran lukis sebentar dan setelah itu aku langsung pulang ke rumah lalu mengurung diriku di kamar bersama tumpukan buku-buku ini seperti biasa. Hanya itu saja. Apa aku salah lagi kali ini, huhh?”

“Gama!! Sungguh kau sudah berani melanggar peraturanku sekarang. Sekali lagi kau melanggar peraturanku, aku tidak akan segan-segan mengurungmu lagi. Dengar baik-baik perkataanku ini!” Titahnya tak terbantahkan.

“Hmm...” Aku hanya mengangguk singkat.

“Sekarang belajarlah, aku tidak mau mendengar nilaimu sampai turun di sekolah. Ingat, kau harus selalu menjadi nomor satu di sekolahmu!” Perintahnya lalu pergi.

Selalu begitu, setiap kali aku melaggar aturannya. Ia tak pernah main-main dengan kata-katanya. Bagiku dia tak ubahnya seperti seorang diktator, sungguh sangat berbeda dengan sifat almarhum ayahku. Hal ini yang membuatku tak kunjung bisa menganggapnya seorang ayah, bahkan hanya ayah angkat sekalipun.

Sepi dan hening selalu saja menyergap malamku. Aku lagi-lagi hanya bisa menatap selembar foto usang yang menampilkan wajah masa kecilku bersama mendiang Ayah dan Ibu. Rasa penyesalan itu lagi-lagi datang. Aku memukul-mukul dadaku yang terasa sakit, menahan ribuan bongkahan batu yang tak juga bisa kukeluarkan. Mengapa aku dengan bodohnya mau diangkat menjadi anak oleh Tuan Raymond kala itu, padahal orang tuaku sudah memberikan limpahan kasih dan cinta terbaiknya untukku. Namun dengan semangatnya aku meminta Ibu dan Ayah untuk menandatangani surat pengadopsian itu. Jawabannya hanya satu, aku terlalu tergoda dengan kehidupan mewah yang ditawarkan Tuan Raymond kepadaku. Aku dibutakan dengan kekayaannya, beraninya aku menyerahkan hidupku kepadanya dengan harapan ingin mendapatkan kehidupan yang lebih bahagia dan bersahaja.

Satu tahun pertama, hidupku masih baik-baik saja. Ia memperlakukanku seperti layaknya seorang anak. Aku yang masih berusia 13 tahun kala itu memintanya untuk mengizinkanku menemui Ibu di desa, karena seorang pengantar surat memberiku surat dari Ibu dan mengabarkan bahwa Ayah meninggal. Aku begitu kaget saat itu, tak percaya bahwa penyakit yang mengerogoti tubuh Ayah benar-benar membawanya pada kematian, tapi Tuan Raymond tidak mengizinkannya. Ia malah berkata bahwa sekarang dialah ayahku. Ia mengerahkan anak-anak buahnya untuk menjagaku agar tidak pergi kemana-mana. Aku begitu terpuruk kala itu, aku mulai menyadari bahwa Tuan Raymond tak sebaik yang kukira.

Sejak saat itu ia semakin berani mengatur hidupku. Ia mengatur kegiatanku dari mulai bangun sampai tidur, dan aku tidak boleh melanggarnya sedikitpun. Tahun berikutnya ia memasukkanku ke sekolah bertaraf internasional yang kemudian ia menjadi salah seorang donatur sekolah itu. Ia juga menyewa beberapa guru les yang setiap hari datang bergantian mengajarku di rumah sepulang sekolah. Ia bahkan mengatur setiap makanan yang masuk ke mulutku dan pakaian sehari-hariku melalui orang kepercayaannya. Ia juga memilihkanku seorang sopir khusus untukku yang akan memantau setiap pergerakanku dan melaporkannya setiap hari padanya.

Sungguh aku sangat terbebani dengan semua yang dia lakukan untukku. Ia mulai merampas kebasanku Ia bahkan tak mengizinkanku untuk belajar melukis lagi, padahal aku sangat menyukai melukis. Aku ingin menjadi pelukis seperti ayahku. Ia malah mulai mengajarkanku ilmu bisnis, ia memberiku buku-buku tebal berisi teori-teori bisnis dan kiat-kiat menjadi pebisnis sukses yang sama sekali tak menarik menurutku. Katanya aku harus menjadi pebisnis dan menjadi pewaris semua perusahaannya. Tapi sungguh, aku tidak tergoda dengan semua itu.

***

Semilir angin pagi menderu dengan merdunya, melayangkan butiran-butiran debu yang tertarik dari peradunnya. Seperti biasa, dingin itu lagi-lagi menyerang kulitku yang tak tertutupi selimut. Tak ada yang salah pada dunia, hanya saja sinar mentari di atas sana dengan beraninya membangunkanku dari tidurku. Tok tok tok, seseorang mengetuk pintu kamarku membuatku terbangun sepenuhnya.

“Masuk...” Kataku dengan suara parau. Lalu detik berikutnya masuklah beberapa pelayan berseragam rapi, seseorang di antaranya membawa handuk berwarna putih di atas baki. Ya, selalu seperti itu setiap pagi.

“Tuan Muda segeralah mandi, Tuan Raymond sudah menunggu di meja makan,” kata salah seorang di antara mereka sambil memberikan handuk putih itu. Aku tak menanggapi dan berlalu menuju kamar mandi

***

“Bagaimana kabarmu pagi ini Gama?” Tanyanya membuka pembicaraan.

“Hmm...kabarku baik”

“Kalau begitu hari ini kau pasti bisa mengikuti pelajaran dengan baik. Oh ya, Ayah akan memanggil seorang guru tutor baru, ia akan mengajarkanmu hal-hal yang memang seharusnya dipelajari oleh pebisnis-pebisnis pemula. Kau tahu, dia sangat kompeten sekali untuk dijadikan guru bisnis.” Tuturnya panjang lebar membuatku menghentikan proses mengunyah makanan mahal itu di mulutku.

“Guru tutorku sudah banyak, apa kau masih mau menambahnya, huhh...?”

“Kau terdengar tidak setuju dengan usulku. Benarkah begitu, Gama?” Tanyanya sambil menatapku tajam dengan mata birunya.

“Ya, memang begitu. Aku terlalu lelah, jadi lebih baik jangan panggil orang itu.”

“Tidak! Kau tidak bisa membantahku. Aku akan tetap memanggil orang itu...” Pekiknya keras seraya melemparkan sendok dan garpunya ke atas meja membuatku dan para pelayan yang berdiri di belakangku terlonjak kaget. Dan ketika amarahnya muncul, selalu saja aku tidak bisa membela diriku.

“Kau tak pernah menunjukkan rasa terima kasihmu padaku Gama. Aku sudah mengangkat derajatmu yang hanya seorang anak dari keluarga miskin dan kampungan hingga menjadi kaya seperti sekarang. Tak pernahkah kau menyadari itu, huhh? Aku memberimu segala kemewahan yang kupunya. Aku memberikanmu pelayan-pelayan itu yang dengan setia melayanimu dari mulai kau bangun hingga kau tidur. Aku sudah menjadikanmu seorang raja, Gama. Tapi kau selalu berusaha melanggar aturanku. Kau hanya perlu mengikuti apa yang sudah kutentukan untukmu. Ingat! Aku akan menjadikanmu pewaris tunggal dari semua perusahaanku, kau benar-benar akan menjadi seorang raja. Camkan itu!!” serunya panjang lebar membuat darahku mendidih. Dengan berani aku menghentakkan meja makanku dan berdiri.

“Ya, benar. Kau sudah menjadikanku seorang raja, raja yang terbelenggu lebih tepatnya. Raja yang sama sekali tak punya kebebasan untuk sekadar mencicipi kehidupan yang bahagia. Ingat Tuan Raymond, kau pernah menjanjikanku sebuah kehidupan yang bahag---“

“Aku sudah memberimu segalanya, apa kau masih tidak bahagia, huhh?” Bentaknya memotong perkataanku, sekarang ia juga ikut berdiri.

“Lalu apa kau sendiri bahagia dengan segala yang kau punya? Bukankah kau sendiripun tak bahagia. Kau hanya memenuhi hidupmu dengan kemewahan, tapi kau tak pernah berusaha mencari dan memberi cinta kasih untuk orang-orang di sekitarmu. Kau tidak pernah membesarkanku dengan cinta kasih seorang ayah sebagaimana mestinya, aku sudah cukup menderita dengan semua ini. Kau menjadikanku seorang raja yang terbelenggu di balik semua kemewahan yang kau berikan...” Air mata itu tak bisa lagi kutahan. Kulihat ia hanya tertunduk dengan air mata yang juga mulai mengalir dari pelupuk matanya.

Aku segera mengambil tas ranselku dan pergi menerobos barisan pelayan-pelayan Tuan Raymond. Salah seorang diantaranya menahan lenganku, tapi Tuan Raymond memerintahkannya untuk melepasku, hingga aku bisa pergi dengan bebas.

***

Jam pelajaran telah usai. Aku berjalan lemah menuju gerbang sekolah. Kudengar beberapa orang pegawai sekolah menyapaku dengan ramahnya. Ya tentu, karena mereka tahu aku adalah anak angkat donatur terkaya di sekolah ini. Aku hanya tersenyum pahit dan melanjutkan langkahku. Sedetik kemudian sebuah mobil mewah berhenti di hadapanku. Kulihat sopirnya turun lalu membukakan pintu belakang mobil itu.

“Ayo pulang Tuan, Tuan Raymond sudah menunggu di rumah,” tuturnya ramah. Aku mengernyitkan keningku heran, tak biasanya Tuan Raymond pulang siang-siang begini. Oh ya, aku ingat sekarang. Bukankah tadi ia bilang akan membawakanku seorang guru bisnis.

“Bilang saja padanya, aku akan pergi mengerjakan tugas bersama teman-teman.”

“Tapi Tuan---“

Aku segera berlari dari tempat itu menuju sebuah lorong dekat sekolahku, takut kalau-kalau ia akan mengejarku.

***

Sedari tadi aku sibuk menatap seorang pelukis jalanan yang asik mengukirkan kuasnya di atas kanvas. Aku memicingkan mata melihat lukisannya yang terkena sinar matahari. Lalu sedetik kemudian mataku menatap sosok yang tak asing tengah menghampiriku, aku segera beranjak dari kursiku dan berlari di pinggiran jalan raya. Benar, kenapa aku begitu bodoh berani berbohong pada sopir itu, bukankah ia pasti mengadu pada Tuan Raymond. Setelah tadi pertengkaran hebatku dengannya, ia pasti marah besar padaku, lebih parah lagi ia bisa saja mengurungku lagi di kamar selama seminggu, seperti saat aku berusaha menemui Ibu di desa tahun lalu.

Aku mempercepat langkahku, sesekali aku melirik ke belakang, menampilkan sosok Tuan Raymond beserta beberapa anak buahnya mengejarku. Sesaat aku menatap lampu lalu lintas. Ya, tepat. Lampu merah sedang menyala sekarang. Lalu dengan cepat aku melintasi zebra cross, meninggalkan Tuan Raymond beserta para anak buahnya yang berlari di sebelah kanan jalan. Aku kembali melangkahkan kakiku, kali ini lebih cepat. Tapi langkahku terhenti saat kudengar suara decitan mobil dan teriakan orang-orang yang begitu memekakan telinga. Aku mematung di tempatku, sesaat kemudian aku berbalik dan melihat orang-orang berkerumun di tengah jalan, dan di antara kerumunan itu kulihat para anak buah Tuan Raymond tampak begitu panik. Aku segera berlari menerobos kerumunan orang-orang. Kepalaku pening melihat aliran darah segar mengalir dengan derasnya dari tubuh Tuan Raymond. Tubuhku ambruk, kakiku tak lagi mampu menopang tubuhku. Kulihat matanya yang masih terbuka menatapku lemah, tangannya yang berlumuran darah meraih tanganku.

“Maaf...maaf karena aku sudah membuatmu menderita Gama. Perkataanmu tadi pagi benar, aku hanya membesarkanmu dengan segala kemewahan yang kupunya, tapi aku tak pernah memberimu cinta dan kasih seperti yang kau harapkan, ”

“.....” Bibirku terasa kelu, aku tak mampu berkata-kata.

“Maaf aku telah mengekang dan membelenggumu dengan kekuasaanku. Aku hanya pernah ditinggal mati anak lelakiku satu-satunya. Tapi aku tidak bisa menghilangkan obsesiku untuk mempunyai seorang anak lelaki yang akan menjadi pewaris tahtaku. Maaf jika kau menjadi korban dari semua ini...Gama, tolong! Maafkanlah aku...” Hanya itu yang keluar dari mulutnya sebelum akhirnya matanya benar-benar menutup sempurna.

***

Aku memandangi wajah Ibu yang tampak lebih tirus, tanda-tanda penuaan tampak jelas di wajahnya, rambutnya pun sudah mulai memutih. Sedari tadi ia hanya menangis haru sambil memelukku dengan erat, bahagia akhirnya kami bisa bersama-sama lagi sekarang.

Sekarang aku tak mau lagi pergi dari sisinya. Beberapa tahun jauh darinya membuatku menyadari banyak hal. Sudah terlalu lama aku tak menerima limpahan cinta kasih darinya, itu karena aku yang terlalu terobsesi dengan kemewahan pergi meninggalkannya menuju gerbang penderitaan. Aku menyadari bahwa hidup dengan cinta memang tak menjamin akan selalu bahagia. Tapi aku pun sudah pernah merasakan hidup tanpa cinta kasih, dan hanya penderitaanlah yang aku rasakan. Sekarang aku tak ingin lagi meninggalkan Ibu, aku hanya ingin menemaninya di hari tuanya. Bersama membangun cinta yang memang seharusnya ada dalam setiap perjalanan hidup ini.

~SELESAI~