calistaclaudi

Betapa berharganya kata maaf, hanya orang-orang yang mahal yang mampu mengucapnya tanpa pamrih.

Forgiven

 

Sinar mentari menembus lewat celah-celah jendela, menggantikan gelapnya pagi buta. Dan dia masih terjaga sedari tadi malam. Entah apa yang ia jaga, kelam fajarnya atau perasaannya, namun satu hal yang pasti, sanubarinya bimbang terguncang. Bukan, ia bukan sedang membuat skripsi, sepatah kata pun bahkan belum tercipta untuk judul penelitiannya.

Goyahnya hati bukan tanpa sebab, setiap penyesalan demi penyesalan datang setelah perbuatan dan perkataan. Semua itu dirangkum dalam sebuah momen yang tak terhapuskan, dari lubuk hati yang dikira tak akan terpatahkan.

Lelaki itu hanya termenung, sesekali mengecek layar smartphone berlogo apelnya yang keluaran terbaru itu. Nampaknya ia sedikit gila, namun ia masih sadar dan waras betul. Abraham Mahardika namanya, semua orang cukup memanggilnya singkat; Bram. Perawakannya yang tinggi kurus dengan rambut berombak acak-acakan sedikit tersirat dalam kilas gambaran siluet, bayangannya terlihat samar diterpa semburat cahaya tipis. Ia masih tetap terduduk diam di atas kasur abu-abunya, dengan selimut biru tua yang sudah tidak terlipat lagi terinjak di bawah kedua telapak kakinya.

Jam dinding bergambar motif piano itu sudah menunjukkan jarum pendeknya di antara angka enam dan lima, lebih tepatnya hampir mendekati enam, seolah si jarum pendek seperti seorang wanita yang tengah memilih dengan siapa dirinya merasa nyaman dan meninggalkan masa lalunya di angka lima. Wangi kayu manis bercampur vanilla masih senantiasa memenuhi udara seisi kamar Bram, bukan tanpa sebab itu menjadi wangi favorit seorang laki-laki sepertinya.

“Nak, kamu udah bangun?” Seorang wanita paruh baya dengan dandanan modern nan elegan memecah keheningan dengan membuka pintu kamar Bram dan bertanya kepada anak sulungnya itu.

“Udah, Mi.” Jawab Bram singkat seraya tersenyum tipis menoleh ke arah daun pintu, sedikit berbohong karena ia sudah bangun sedari kemarin malam.

“Anterin May sekolah ya, mau kan?” Ah, sudah merupakan sebuah tugas mulia yang tidak mungkin ditolak. Pikir Bram dalam benaknya sembari mengangguk, diikuti oleh senyuman hangat sang Mami sembari berlalu. Lalu ia bangkit mengambil handuk putih yang digantungnya di kait di balik pintu.

 

***

 

“Ah Bram kamu pakai mandi lama-lama segala sih, jadi telat kan aku!” Keluh May kesal, mengambek kepada kakaknya seperti biasa. Bram biasanya membalas ketus tak mau kalah, namun kali ini ia lebih memilih diam saja.

Jemari tangannya tetap setia pada kemudi mobil city car nya yang berlapis kulit klasik warna coklat. Di tengah kemacetan Jakarta yang menguras tenaga dan waktu, ia hanya memilih menunggu, di bawah kaca film yang tak memberikan celah bagi mentari untuk menyilaukan pandangannya. Tak ada lagu ataupun suara penyiar radio yang terdengar di dalam mobil putih itu. Hanya sunyi, sepi, hening.

 

Tok.. Tok.. Tok.

 

“Kak tisu nya kak?” Seorang anak lelaki kisaran kelas 4 SD yang kurus dan lusuh nampak sedikit melongokkan kepalanya di kaca jendela mobil Bram, matanya agak disipitkan karena silau, sembari memegang beberapa pak tisu dan membawa tas selempang. Suaranya tidak terlalu terdengar, hanya gerakan mulutnya yang terbaca.

Bram hanya menoleh sedikit dan memberikan isyarat tangan seperti angka lima, tanda tidak mau, dari balik kacanya yang agak gelap. Anak kecil itu pun berlalu dengan raut wajah yang datar, seolah hal ini biasa menjadi makanannya sehari-hari, lalu berlanjut menawarkan produk dagangannya kepada mobil di belakang Bram. Sepintas Bram menoleh memerhatikannya lewat kaca spion.

“Bram, kenapa sih? Kamu galau?” Suara May melembut dan raut wajahnya tidak lagi mengkerut seperti saat mengeluh tadi. Bram agak kaget dan mengalihkan pandangannya dari kaca spion.

“Enggak, bawel aja kamu. Udah sabar aja, bentar lagi nyampe sekolah.” Jawab Bram dingin kepada adiknya yang terlihat bosan itu.

Jakarta dan kejamnya. Terasa tekanan yang berbeda kepada setiap jiwa. Hanya itu kalimat yang terlintas di benak Bram saat itu. Ia memindahkan gigi mobilnya dari N ke D, lalu menurunkan rem tangan, dan melanjutkan perjalanan. Kembali menyusuri jantung ibu kota Jakarta yang saat itu sudah tidak terlalu macet.

“Biasa tuh kamu udah nyolot, sok asyik, berisik lagi. Sekarang kamu malah jadi sok keren, ih geli tau.” Ledek May sembari membetulkan posisi duduknya dan merapikan rok abu-abunya. Sesekali ia merapikan rambutnya yang digerai panjang sedada dan masih setengah basah. Wangi shampoo aroma bunga tercium jelas di hidung Bram, sebenarnya entah wangi shampoo atau wangi parfum, tapi begitu menyengat.

“Kamu kali yang sok kecantikan, genit banget mau ke sekolah doang mentang-mentang udah jadi senior.”  Ujar Bram meledek sambil masih fokus mengemudi, sementara May sibuk dengan buku catatan TIK nya, menghafal rumus-rumus kode komputer yang akan diujikan di jam kedua nanti. Mereka pun terdiam dan sibuk masing-masing sampai akhirnya tiba di gerbang sekolah May.

Seturunnya May, Bram kembali mengemudi melewati jalan yang sama, berlawanan arah namun tetap menyusuri perempatan dengan lampu merah yang tadi ia lalui. Bocah itu masih ada di sana namun ia tak lagi menawarkan dagangannya, ia terduduk di pinggir trotoar sambil menggendong beberapa pak tisu. Nampaknya ia lelah dan butuh tempat untuk berteduh, namun langit Jakarta nan cerah hari ini nampaknya tidak beratap. Bram terus memerhatikannya, sampai lampu merah pun berubah menjadi hijau.

Bukan arah pulang yang menjadi tujuannya, Bram memutarbalik kemudinya dan memutuskan untuk parkir di depan mini market terdekat, membeli beberapa botol air mineral dingin dengan cepat. Setelah itu Bram berlari kecil sambil berhati-hati menyebrang ke arah trotoar, menghampiri si adik kecil.

 

“Hai, nama kamu siapa?” Bram langsung duduk di sampingnya dan menjulurkan tangannya.

“Yandi.” Sambut anak kecil itu singkat dengan logat medhok khas Jawa. Tangan kecilnya yang agak berwarna gelap bersalaman dengan tangan Bram yang dihiasi jam tangan kulit keluaran terbaru itu.

“Jauh-jauh dari Jawa kok jualan tisu toh dik? Aku beli lima yo, ini bayaranku.” Bram tersenyum ramah sambil mengeluarkan selembar uang 50.000 Rupiah. Ia sengaja menirukan logat Yandi agar anak itu merasa lebih nyaman dengan Bram.

“Satunya cuma tiga ribu Mas, iki tak kasih kembaliannya.” Yandi buru-buru merogoh kantong celananya tanpa menerima uang Bram terlebih dahulu.

“Eeeeh, ndak usah.” Bram menahan tangan Yandi lalu meletakkan lembaran uang biru tersebut di atas telapak tangannya.

“Tapi mas ndak enak aku.” Yandi tetap menyodorkan lembaran uang tersebut kepada Bram sambil agak menyipitkan matanya karena kesilauan terkena sinar matahari yang terik.

“Tabung saja buat beli buku atau sepatu atau apapun yang kamu mau lah, anggap saja aku lagi bagi-bagi rezeki. Aku duduk sini ngobrol-ngobrol boleh?” Tanya Bram sembari memandang Yandi.

“Aduh makasih lho mas, aku hutang ini sama Mas. Boleh, boleh. Tapi nanti kalau lampu merah aku tinggal ndak apa?” Ujar Yandi sembari menyodorkan lima pak tisu pembelian Bram.

Ojo tinggalin aku dong, Yandi. Kamu duduk sini istirahat dulu sambil nemenin aku. Oke? Ini tak bagi air minum sedikit.” Bram meletakkan tiga botol air mineral dingin yang baru dibelinya di sebelah Yandi.

“Ah, baik Mas, terima kasih banyak lho. Mau ngobrol opo toh sama aku?” Tanya Yandi dengan muka dan tatapan polos. Maklum, ia tidak biasa diajak bicara dengan orang asing di sela-sela ‘jam kerja’-nya.

“Kalau kamu jualan tisu seperti ini, orang lebih banyak yang beli atau menolak sih waktu kamu tawarkan?” Bram menatap serius dan mendalam, sementara Yandi hanya terkekeh mendengar pertanyaannya.

“Ah, ditolak mah sudah biasa, Mas. Sehari rata-rata hanya dua sampai lima orang yang beli tisu jualanku. Makanya kaget aku Mas ada yang beli lima sekaligus.” Sontak Bram kaget,  ia kira Yandi mampu menafkahi dirinya dan keluarganya hanya dengan berjualan tisu.

“Memang orang tua kamu di mana?” Rasa penasaran Bram mendorongnya untuk bertanya dengan lancang.

“Sedari kecil aku ndak kenal ibu bapakku, Mas. Aku ditemui di dalam kardus dekat tong sampah oleh warga daerah desaku di Pekalongan, dibawa ke panti asuhan. Saat aku umur 2 tahun, ada ibu tunggal yang tinggal sendirian dan mengadopsi aku, kita hanya hidup berdua Mas. Tapi setelah umurku 7 tahun beliau meninggal dan aku ndak tahu harus ke mana. Diam-diam aku merantau ke Jakarta pakai uang tabunganku dan sekarang aku di sini ngobrol sama Mas. Udah tiga tahun di Ibukota, ndak ada yang cari aku juga.” Cerita Yandi panjang lebar, dengan ekspresi yang biasa saja. Datar tanpa terlihat rasa sedih ataupun murka karena hidupnya. Begitu miris dan keras, batin Bram.

“Terus kamu nggak sekolah? Kok kelihatannya kamu nggak sedih, Dik?” Bram berusaha terlihat tegar dan dewasa, padahal jiwa dan hatinya terguncang, bingung harus berbuat apa.

“Sekolah sampai kelas dua SD saja Mas saat di Pekalongan, selepas itu ndak pernah sekolah lagi. Aku sudah biasa saja Mas ndak ada rasa sedih, toh aku sudah ikhlas, menerima  jalan hidupku dan memaafkan kedua orangtuaku. Ambil positifnya saja Mas, toh orang yang tulus akan selalu bersyukur.” Anak ini baru berusia sepuluh tahun, tapi perangainya sudah seperti orang kerja kantoran saja. Bram yang sedang di semester tua kuliah saja kalah bijaksana dan dewasa.

“Ah... Aku numpang curhat ya, Dik. Kemarin aku tengkar hebat sama cewek aku karena hal kecil.” Cerita Bram sembari memandang jauh, seperti merenung.

“Cantik ndak Mas ceweknya?” Sela Yandi bertanya dengan polosnya.

“Cantik. Banget.” Bram tersenyum tipis

“Mirip Laudya Chintia Bella toh Mas, cantik dan anggun.” Ujar Yandi singkat sembari terkekeh.

Bram tak menghiraukan omongan Yandi. “Terus kami nggak ada yang mau ngalah, Dik. Hubungan kami yang sudah tiga setengah tahun sekarang di ujung tanduk. Harus apa aku?”

“Mas nya sayang nggak? Kalau udah sayang, ceweknya cantik lagi, jangan dilepas toh Mas. Kehilangan itu sakit lho.” Yandi tersenyum tipis di sela perkataannya, terjadi hening sejenak di antara mereka, lalu ia melanjutkan. “Ndak ada yang pernah minta maaf ke aku Mas walau mereka menolak aku, ya aku sudah biasa ditolak. Aku sadar, hanya orang-orang yang mahal yang mampu mengucapkan maaf tanpa pamrih toh Mas. Betapa berharganya kata maaf.”

Bram mengacak rambut Yandi nan lepek, lalu ia segera mengeluarkan telepon genggam dari kantongnya, mengetik nama Wendy dan memencet tombol dial sesegera mungkin. Tuutt...tuutt.. Telepon pun diangkat.

“Wen, aku nggak peduli soal tengkar kita kemarin atau gimanapun reaksi kamu. Aku tahu aku nggak pernah ucapin ini sama sekali dalam tiga setengah tahun kita pacaran, tapi sekarang aku mau bilang maaf. Maaf banget karena nggak pernah mau ngalah. Tulus dari hati aku yang paling dalam.” Bram mengucapkan kata-kata yang membuat dirinya sendiri ternganga sekaligus deg-degan. Jantungnya berdebar sangat cepat hingga rasanya mau pingsan, namun ia sekaligus merasakan kelegaan yang sangat amat dalam setelah ada kata yang tercekat selama ini. Ya, maaf.

“Bram...” Terdengar suara perempuan nan lembut di ujung sana, sembari terisak kecil.

 

***

 

10 tahun kemudian..

Sinar mentari menembus lewat celah-celah jendela, menggantikan gelapnya pagi buta. Dan dia masih terlelap sedari tadi malam, sembari menjaga lelapnya seseorang di dalam pelukannya. Lelaki itu masih bernama Bram, dan bayi kecil di pelukannya itu bernama Given, nama singkat dari Forgiven. Wangi vanilla bercampur aroma kayu manis masih memenuhi ruangan yang ditempati Bram, sekalipun itu ruangan yang berbeda dengan kamarnya dulu.

“Bram, ayo bangun sarapan.” Istri Bram masuk ke dalam kamar mereka, memberi kecupan kecil nan hangat di pipi Given anaknya, sembari menepuk halus pundak Bram dengan suara khasnya yang lembut ketika memanggil nama suami tersayangnya itu.

“Iya, Wendy..” Jawab Bram dengan suara mengantuknya sambil masih bermalas-malasan di kasur.

“Bangun sayang, hari ini kamu ada rapat jam 11. Asistenmu Yandi udah telepon tadi untuk reminder.” Bujuk Wendy halus, berhasil membuat Bram membuka matanya dan perlahan meletakkan Given yang sedang terlelap di atas kasur.

“Pagi Wen, maaf aku susah ya dibangunin?” Bram beranjak dan keluar dari kamar bersama Wendy untuk menikmati sarapannya di pagi hari. Sebuah sandwich berisi telor dan sosis serta hiasan saos tomat yang dibentuk sebuah tulisan telah menunggunya di meja makan, sama seperti pagi-pagi sebelumnya. Bentuk dari saos tomat itu bertuliskan:

I love you.