"See the world with your heart"
Gerimis tipis di awal Januari aku sudah berada di stasiun, berdiri menunggu kereta yang akan membawaku pergi, pergi meninggalkan kotaku, kota kecil berjuta cerita untuk beberapa waktu. Speker stasiun menyebutkan beberapa kereta yang akan berangkat dan yang akan tiba, nampaknya kereta yang akan membawaku belum juga tiba. Tas koper merah berukuran sedang yang berada di sebelah kanan kakiku terus kupegangi, aku rasa stasiun ramai hari ini, banyak orang berlalulalang, terdengar juga suara ibu-ibu yang sedang mengobrol, membicarakan kereta yang sedikit telat dari yang sudah dijadwalkan.
“Ade, mau kemana?” terdengar suara ibu di sebelahku. Entahlah dia bicara kepada siapa, namun tak terdengar suara anak yang menjawab.
“Ade mau kemana?” Kali ini si ibu berbicara kembali sembari memegang pundaku.
“Oh saya Solo, Bu,” jawabku singkat dengan sedikit kaget.
“Solo sebentar lagi, kebetulan tujuan saya juga Solo, nanti bisa saya bantu,” jelas si ibu.
Suasana kembali seperti semula, hanya terdengar suara derap kaki orang-orang yang berlalulalang. Suara speker stasiun kembali bersuara kali ini menyebutkan kereta Solo sudah tiba, semua orang mulai berdesakan berdiri di depan garis aman pembatas kereta, badanku terdorong hampir jatuh tersungkur. Kereta mulai melewati para penumpang yang berdiri menunggu, dengan suara yang khas memelan bersiap untuk berhenti.
“Sini, Dek, ibu bawakan tasnya,” tawar ibu yang tadi mengajakku mengobrol.
“Tak usah, Bu, biar saya saja,” namun sebelum aku meraih tas koper yang berada tepat di samping kakiku, ibu itu langsung menyambar meraihnya.
Aku mulai melangkahkan kakiku untuk naik, bingung mencari ibu yang tadi membawa tas koperku, “Ke mana ibu itu?” gumamku. Seseorang menarik tanganku, aku semakin bingung siapa orang ini dan akan dibawa kemana diriku. Gerbong-gerbong sudah penuh terisi, sebagian penumpang ada yang berdiri, tidak mendapat tempat duduk. Perasaanku sedikit lega setelah tahu ibu tadi yang menarik tanganku dan mempersilahkan diriku untuk duduk, speker stasiun kembali bersuara kereta Solo dipersilahkan berangkat, lambat laun kereta mulai melaju.
Keadaan menjadi hening, tak ada orang yang berbincang, yang terdengar hanyalah deruan kereta yang berjalan dilintasannya melewati apa saja yang dilewatinya dengan cepat, dan suara speker kereta yang berbunyi memberitahukan tiap-tiap stasiun yang dilewati, berhenti sejenak mungkin ada yang ingin turun atau naik. Ibu yang tadi pun tak terdengar lagi suaranya mungkin ia tertidur, karena perjalanan baru dimulai dan masih sangat panjang. Aku terus menggenggam tongkatku, tongkat panjang yang ku lipat, memudahkanku untuk berjalan dan dengan mudah bisa kubawa kemana saja. Mencoba tertidur karena perjalanan masih panjang, aku rogoh earphone di tas selempang kecil, memasangnya dan mulai ku-play lagu pertama, Dear God dari Avenged Sevenfold salahsatu lagu kesukaanku. Perjalanan terasa begitu lama dan sangat membosankan, aku mencoba menikmati dan terus berusaha untuk mencoba tertidur. Kali ini Heal the World dari Michael Jakson menemani perjalanan jauhku.
***
Peristiwa kelam 10 tahun silam tiba-tiba datang merasuki pikiranku, peristiwa pahit yang harus kuterima, yang harus kutelan mentah-mentah dan inilah kenyataan. Malam itu langit begitu cerah rembulan bersinar terang, planet-planet bergerak pada orbitnya, bintang bertaburan di mana-mana menghiasi langit yang gelap. Seperti biasa aku duduk di balkon untuk melakukan hobiku melihat bintang, menunjuk bintang dengan jemariku membentuk pola-pola yang sesuai dengan formasinya dan terkadang aku ditemani kakakku, Kak Dien. Dia sama sepertiku menyukai bintang. Namun, tiba-tiba cahaya itu hilang kali ini, aku mencoba mengedipkan mata, sesekali menguceknya tapi tetap saja cahaya bulan itu tak bisa kulihat. Aku berteriak memanggil ibu yang sedang merapihkan pakaian di bawah, aku panik dan bingung apa yang sebenarnya terjadi, begitu pun dengan ibu, ia langsung naik ke kamarku, badanku ambruk dan aku tak ingat apa-apa lagi.
Inilah kenyataan, ketika aku terbangun mataku tidak ikut terbangun, dunia begitu gelap, Tuhan mengambil penglihatanku dan aku menjadi seseorang yang membenci lagit malam penuh bintang. Menangis, itu yang bisa kulakukan kali ini. Aku bagaikan langit malam tanpa rembulan dan tanpa taburan bintang. Namun, ibu begitu tegar memeluk serta menyemangatiku, walau aku tahu betul suara ibu lirih mencoba tegar dengan keadaan diriku yang sekarang.
Beberapa hari aku mengurung diri di kamar, aku marah, aku kecewa, aku benci pada keadaan, aku..., “Oh, Tuhan, mengapa engkau ambil mataku? Mengapa?” begitu batinku. Seseorang tengah berjalan menuju kamarku, aku bisa mendengar suara langkah kaki itu, mungkin itu ibu atau kak Dien.
“Dek...” diiringi ketukan pintu suara itu tak asing di telingaku, suara yang lembut dari seseorang yang lembut. Ya, itu ibu, orang yang selalu memberikan semangat pada diriku, selalu menghiburku walau hatinya perih melihat buah hatinya seperti ini. Juga menjadi Ayah untukku dan kak Dien semenjak Ayah pergi meninggalkan kami untuk selamanya lima tahun lalu.
“Iya, Bu, pintunya tidak aku kunci,” jawabku yang sedang duduk di bibir kasur.
Ibu membuka daun pintu kamarku dan masuk menutupnya kembali dengan lembut, nyaris tanpa suara. Ibu menyodorkan secangkir susu hangat padaku dan menarik kursi belajar duduk tepat di hadapanku, menarik napas, aku rasa ibu akan mulai berbicara.
“Ibu ingin kamu sekolah lagi, masa depan kamu masih panjang, kamu masih sangat muda,” aku tertegun mendengar perkataan wanita yang berada di hadapanku ini, merubah posisi duduk, entah aku harus bicara apa tak ada satu kata pun yang keluar dari mulutku, aku membisu, “Ibu sudah mencarikan sekolah yang terbaik untuk kamu, sekolah yang bisa menolong kamu,” sambungnya.
“Tapi, Bu...” belum sempat aku melanjutkan ucapanku, wanita itu langsung menyambar ucapannku.
“Tapi apa? Apa yang kamu ragukan? Apa yang kamu takutkan?” pertanyaan itu sulit untukku jawab, “Kamu hanya tidak punya mata untuk melihat, tapi kamu masih punya hati. Jadi tolong, mata bukan satu-satunya alat untuk melihat, gunakanlah hatimu untuk melihat, kamu akan melihat dunia lebih luas,” suara orang yang sangat kuhormati sedikit memilu, menahan airmata tak ingin menangis di hadapanku. Percakapan malam ini diakhiri dengan ciuman lembut ibu di kening anaknya yang tak berdaya ini.
Hari ini ibu membawaku ke tempat yang belum pernah aku singgahi, ditemani kak Dien yang mengemudikan mobilnya dengan santai. Tak ada sedikit katapun yang keluar dari mulut ibu atau kak Dien di sepannjang perjalanan, hanya alunan musik klasik yang kak Dien play mengiringi kami sampai tujuan. Ya, ini sekolah baruku, sebuah sekolah luar biasa di daerah Jakarta Timur.
Aku menikmatinya, belajar banyak hal dan bersyukur Tuhan masih memberikan hati untuku. Ibu selalu menanyakan kegiatan hari ini di kala aku pulang, terkadang dengan muka masam aku menjawabnya. Ibu selalu tegar menghadapiku, mendukung apapun yang aku lakukan dan memberikan semangat padaku.
“Bagaimana sekolah hari ini?” belum sempat aku sampai di kursi untuk duduk dan membuka sepatu ibu sudah bertanya seperti itu. Aku hanya tersenyum tak berkata apapun, sudah biasa baginya hanya mendapat senyuman tanpa jawaban. Namun, senyumanku inilah jawaban dari pertanyaan-pertanyaannya, baginya sudah lebih dari cukup.
Kemacetan ibu kota merupakan hal yang lumrah, hari ini disekolah akan ada pentas seni, aku bangun lebih awal. Meskipun demikian ibu tetap bangun lebih awal dariku, padahal aku sudah bangun sangat pagi buta. Seperti biasanya aku ditemani ibu, wanita ini yang selalu ada di sampingku, aku akan menampilkan sebuah lagu untuknya.
“Percaya pada dirimu sendiri, ibu yakin kamu bisa,” sebelum aku pergi ke belakang panggung utuk bersiap pentas, ibu membisikan kata itu padaku, kata yang sederhana membuat aku yakin mampu melakukannya dengan baik. Aku meninggalkannya, dibantu Mrs. Dewi aku menuju belakang pentas.
Ruangan aula begitu ramai kali ini, teriakan dan tepuk tangan orangtua nampak tak ada hentinya, di kala anak mereka menampilkan bakat-bakatnya yang luar biasa. Kali ini giliranku, aku mulai menekan satu not keyboard yang ada di hadapanku dan suasana tampak hening. Kumulai memainkan beberapa not dan lagu mulai dinyanyikan, tak terasa semua penonton ikut menikmati dan bernyanyi, aula kembali ramai dengan suara nyanyian yang bergemuruh. Sampai not terakhir, semua hadirin yang datang bertepuk tangan dan ibu memelukku, begitu hangat dan erat. Bisikan itu kian lembut mendarat di telingaku, “Berjalanlah dengan hati, jadilah permata untuk ibu,” dan kembali ke barisan penonton. Waktu terus berjalan beberapa penghargaan sudah kuraih dan itu semua aku persembahkan untuk dia, wanita yang begitu tegar menemani setiap langkahku.
Airmataku membuncah, kesal dan emosiku tak bisa kubendung, begitu gelap dan sembilu malam ini, orang yang sangat kuhormati dan kusayangi telah pergi untuk selamanya, tubuh itu berada di depanku terbujur kaku tanpa suara bahkan kata, terdiam hanya tangisku yang semakin menjadi. Beberapa hari aku mengurung diri di kamar, panggilan Kak Dien tak kugubris sedikit pun, kini hatiku yang memilu, rasanya tak ada semangat dalam jiwa untuk melakukan segalanya. Semangatku telah hilang, terkubur bersama jasad ibu pagi itu.
***
Kata itu kembali terngiang di telingaku, kata sederhana penuh harapan tak bisa kulupakan. Aku harus mengejarnya, bangkit dari kegelapan dan keterpurukan bukan karena mataku melainkan karena hatiku. Kini aku kembali aktif di sekolah dan memperdalam bakat musikku, sampai akhirnya tawaran itu menghampiriku, tawaran yang tak main-main, mana mungkin aku menolaknnya.
Usai menyelesaikan studiku di Paris, aku menjadi salah satu guru musik di sana, sampai akhirnya Tuhan memberikan kesempatan untuk aku kembali ke tanah air dan diminta menjadi dosen di universitas cukup ternama di indonesia. Dosen netra yang mampu memotifasi mahasiswanya untuk terus berlari mengejar apa yang mereka cari dan dapat meraihnya. Kak Dien hanya tersenyum bangga padaku, airmatanya hampir jatuh kala itu, melihat adiknya yang tidak bisa melihat dunia mampu berbicara di antara orang-orang terkemuka di dunia. Juga Ibu mungkin ia tersenyum bahagia dan bangga melihatku permata kecilnya yang hampir terlupakan, telah berhasil melihat dunia dengan hati tanpa mata.
Tak terasa kereta sudah sampai di tempat tujuanku, lagi-lagi ibu tadi berkesiap membantuku, mengangkat tas koperku dan menuntunku hingga keluar dari gerbong kereta, keramaian mulai kurasakan kembali. Kota Solo kali ini, udara yang sejuk dengan sedikit hembusan angin menyambut kedatanganku kala senja itu di kota penuh budaya ini. Sekarang aku tersadar, mutiara yang ibu inginkan kini berada di hatiku, dan aku hampir tidak sadar aku telah melihat dengan hati, bak menari di atas awan.
Aku mulai melangkah menuju luar stasiun. Mobil yang siap membawaku ke tempat tujuan—sudah menunggu sejak 2 jam tadi—melaju cepat meninggalkan kotak-kotak besi panjang berisi manusia itu.