Aku bersyukur dengan keadaanku. Meskipun aku tidak pernah dilihat oleh orang yang aku cintai.
Aku Ingin Menelukmu Walau Kau Tak Menganggapku Ada
Kicauan burung mengajakku untuk bersenda gurau dihari yang begitu cerah. Suara angin yang tertawa mengejekku seperti bongkahan ranting yang tak berarti. Aku adalah orang yang sangat merindukan bidadari kecilku. Sedekat ruas jari bahkan seharum bunga wangi, aku selalu melihat ia dengan tatapan penuh kebencian.
"Ayah senang kau baik-baik saja." ucapku dalam hati. Putri kecilku sekarang beranjak dewasa. Umurnya menginjak 17 tahun di Oktober mendatang.
Suatu hari, aku melihat ia terburu-buru dengan membawa barang-barang yang begitu banyak.Dengan terkejutnya aku langsung menghampirinya dengan sepenuh tenaga. Namun apa daya, aku hanya seorang laki-laki yang memakai roda. Aku sedih karena tidak bisa mengejar bahkan bertanya akan pergi kemana putri kecilku? Kecemasan pun semakin menghapiriku.sudah satu minggu putriku tidak pulang kerumah. Sudah habis caraku untuk mencari putriku. Teman-temannya tidak ada yang mau memberi kabar tentang keberadaan putri kecilku.
"Bodoh! Bodoh sekali aku menjadi seorang ayah." ujarku sambil meratapi keadaan yang semakin buruk.
Hari berganti dengan begitu cepat. Namun belum ada sedikit pun tanda-tanda kepulangannya. Alangkah senangnya aku ketika masih bisa menggendongmu, bermain bersamamu, tertawa bersama dan aku adalah tempat sembunyi dari kemarahan ibumu. Aku rindu ketika aku bisa mengantarmu pergi ke sekolah dengan diiringi senyum kecilmu. Aku rindu ketika engkau pulang dari sekolah dengan bangganya kau memanggilku ayah.
Aku ingat ketika itu kau memintaku untuk membacakan sebuah dongeng tentang bintang. Dan aku terkejut ketika saat itu kamu memotong ceritaku. Dan dengan polosnya kamu berkata, "Ayah mau jadi bintangku kan?" Sungguh ketika itu aku ingin meneteskan air mata namun tidak dihadapanmu. Aku masih ingat ketika kamu putriku bercita-cita ingin seperti bintang yang memberi sinar untuk orang lain. Dan di situlah aku merasa bangga punya anak sepertimu.
Tapi itu dulu. Ketika aku masih bisa berjalan beriringan denganmu. Ketika kamu masih sebut aku ayah dengan begitu bangganya. Namun, ketika aku mengalami kecelakaan dan salah satu kakiku harus diamputasi disitulah kamu mulai menjauhiku. Betapa menjeritnya hati ayahmu ini yang ketika itu butuh canda tawamu disetiap harinya.
Tak terasa hari semakin sore. Terdengar suara hujan yang sangat menyejukkan hati. Tapi mobil siapa itu? Siapa yang berhenti di halaman rumahku?
‘Tok tok tok’
Aku menghapiri pintu rumah dan membukanya.
"Lama banget sih cuma buka pintu doang kaya nunggu antrian di mall." ujar perempuan itu. Aku terkejut sekaligus bahagia melihat putriku datang. Aku tidak peduli ia mau bicara apa yang penting ia berbicara kepadaku.
"Nak dari mana saja kamu? Sudah 3 minggu ini kamu gak pulang kerumah." ujarku sambil cemas
"Berisik! Terserah aku aja. Mau pulang mau ngga juga yang penting sekarang aku pulang kan?" timbalnya dengan nada yang sedikit kencang.
"Ayah cemas nak. Semenjak kamu pergi ayah gak bisa makan dan minum karena menunggumu pulang. Oh iya minggu depan kamu ulang tahun kan? Kamu mau undang siapa aja nanti ke pesta ulang tahunmu?” ujarku penuh gembira.
"Yang jelas teman-teman sekolahku, dan aku gak akan ngundang pria cacat sepertimu"
"Satu lagi tolong jangan panggil aku anakmu karena aku malu punya ayah sepertimu" ujarnya sambil masuk ke kamar.
Aku terkejut mendengar perkataan putriku. Yang membuat aku tambah terkejut perkataan itu keluar dari darah dagingku sendiri. Dan ia dulunya adalah alasan terbesarku untuk tersenyum. Tapi aku yakin pasti putriku ngomong seperti itu karena kecapean.
Dua hari menuju ulang tahun putriku, kondisi tubuhku semakin lemah. Aku tidak bisa berbicara dengan lancar bahkan tanganku sangat lemas untuk digerakkan. Tetapi aku teringat bahwa aku belum membeli kado untuk putri kecilku dan aku juga belum menghias rumah ini. Dengan semangat, aku bergegas menyiapkan pesta meskipun aku tahu badanku semakin lemah. Aku membeli kado sebuah boneka bintang yang selalu jadi impiannya. Aku tahu kado ini sangat Aku tahu kado ini sangat murah bahkan tidak ada nilainya. Tapi ini adalah gambaran bahwa aku selalu menjadi bintangnya meskipun ia tidak menyadarinya. Aku selipkan beberapa harapan yang semoga suatu saat nanti akan aku dapatkan. Aku tahu aku ini sangat bawel untuk ukuran seorang ayah. Tapi ketahuilah aku seperti ini karena aku sayang padamu, putriku.
Persiapan mulai rampung dan aku sudah berpakaian rapi. Aku tidak ingin kelihatan buruk dan mempermalukan purtiku dihadapan teman-temannya.Waktu semakin malam, suara hening malam pun terdengar sangat jelas. Badanku mulai tak karuan. Aku semakin lemas dan tanganku tak bisa digerakkan. Tapi putriku belum juga datang.
"Aku tahu badanku sudah sangat lemas,tapi sebentar aku hanya ingin melihat putriku untuk yang terakhir kalinya" pintaku dalam hati
Suara hentakan kaki pun terdengar jelas. Dengan polosnya ia datang tanpa merasa bersalah sedikitpun. Ia melihat dekorasi yang dibuat pria yang dianggapnya tak berguna. Ia mulai tersentuh ketika melihat foto masa kecilnya bersama ayah dan ibu tercinta nya. Ia mulai berjalan dengan pelan sambil mengingat masa kecil yang ia habiskan bersama keluarganya.Tak sampai disitu kemudian ia melihat buku dongeng yang berjudul bintang.
"Ayahhhhhhh ayahh dimana? Ayahhh?"
"Ayahhh?"
Sambil menangis ia mencari sosok pria yang justru dulunya tidak mau sebut ayah. Ketika ia berada di salah satu ruang, ruang yang sangat berarti untuk seorang pria untuk putrinya. Ia melihat ayahnya sudah terbujur kaku dengan memegang kado dan sehelai surat untuk purtinya.
"Ayahh bangun maafkan aku, maafkan sikapku, maafkan semua kebodoanku."
"Ayahhh bangunnn" ucapnya menangis sambil memeluk ayahnya.
"Ayah, maafkan aku. Maafkan aku yang pernah menyakitimu. Maafkan aku yang pernah melukaimu bahkan menyebutmu cacat."
"Bangun ayah bangunnnn! Lihat aku sekarang memelukmu dengan erat,sekarang aku disampingmu. Bangun ayah bangunnnnnn!"
"Ayah aku mohon bangun. Bukankah Ayah adalah bintangku? Tapi kenapa ayah meninggalkan ku? Ayoo bangun ayah putri kecilmu sekarang sudah siap menjadi bintang kecilmu!"
"Ayahhhhh" ujarnya dengan penuh penyesalan.
Tangisan terus mengalir seperti waktu yang tak bisa terulang. Kini sosok ayah yang dengan luar biasa menghadapi putri kecilnya telah menjadi bintang yang sebenarnya. Namun, awan hitam selalu menyelimuti putri kecil itu. Masih tampak jelas duka yang terpancar di raut mukanya.Duka yang tak bisa hilang dengan waktu yang singkat.
"Andai Tuhan beri aku kesempatan kan aku buat kisah bahagia bersama Ayah..."
Ketika itu ia lihat sehelai kertas lalu membukanya sambil menangis. Ketika membacanya sontak dengan kencang ia menangis sejadi-jadi nya. Dalam surat itu sang ayah bercerita tentang masa bahagia yang pernah dialami bersama putrinya. Dan di bait terakhirnya sang ayah menulis "...di hari penantianku,aku ingin memelukmu meski 'kau tak pernah anggap aku ada".