Walaupun aku hanya mencintaimu dalam diam, aku tidak pernah menyesali itu
Hujan turun dengan derasnya, aku melangkahkan kakiku dengan terburu-buru, mencari tempat berteduh. Hatiku gelisah dan selalu melihat jam tangan yang terus menerus berputar. Waktu sudah menunjukkan pukul 07.05 menit. Terlambat, ya aku sudah terlambat, jalanan pun sangat kacau dan macet karena sedang ada perbaikan jalan. Angkot yang baru saja aku naiki menurunkanku begitu saja, dan berputar arah karena tidak ingin terjebak macet. Mau tidak mau aku turun dan mencari angkot lainnya. Rasanya aku ingin menyerah saja untuk datang ke sekolah. Sudah terlambat lagi pula jika aku memang datang ke sekolah, pasti aku juga tidak akan masuk kelas. Tapi entah mengapa hari itu aku begitu sangat ingin datang ke sekolah. Aku berlari menerjang hujan, pikirku sekolahku tinggal 300 ratus meter lagi. Jadi aku pustukan untuk berjalan kaki. Yasudah tidak apa-apa, lagi pula jalanan begitu macet ingin menaiki angkot lainnya pun percuma tidak akan bergerak. Tetapi, Tiba-tiba hatiku tergerak untuk menaiki sebuah angkot. Aku masuk kedalamnya dan duduk. Aku kaget, jantungku berdetak dengan cepat, aku merasa waktu berhenti walau hanya sedetik. Aku begitu kaget dengan seseorang yang duduk di hadapanku. Ya, orang itu adalah orang yang aku sukai. Aku sudah lama menyukainya semenjak awal masuk SMA. Aku tidak tau darimana perasan ini berawal. Seperti.... tidak butuh suatu alasan untuk menyukai seseorang, hanya terjadi begitu saja.
Mataku dan matanya berpandangan cukup lama. Aku berpikir aku menatapnya selama lima detik. Kemudian aku mengalihkan pandanganku ke arah kaca. Mimpi apa aku semalam bisa bertemu dengannya dengan cara yang seperti ini. Aku gelisah dan tak menentu. Kemudian supir angkot berkata akan mengambil jalan pintas, tetapi jaraknya cukup jauh dan lama untuk sampai ke sekolahku karena jaraknya lebih jauh dua km. Aku hanya ingin cepat-cepat sampai sekolah. Ia pun mengobrol dengan temannya. Aku hanya mendengarnya saja. Terkadang aku ingin tiba-tiba masuk dalam obrolan tersebut, tapi aku menahannya. Ya walupun aku tahu kami bersekolah yang sama tapi aku tidak benar- benar mengenalnya. Hal itu hanya akan membuat suasana menjadi canggung. Selama perjalanan yang aku lakukan hanya melihat keluar dan benar-benar menikmati suasana hujan. Sejak saat itu aku sangat menyukai hujan. Karena untuk pertama kalinya seseorang yang aku sukai bersamaku di saat hujan, ya walupun di tidak merasakan sebaliknya dan mungkin tidak menganggapku ada saat itu. Kami pun tiba di sekolah dan ternyata siswa masih diperbolekan masuk karena banyaknya kondisi sepertu hujan dan macet. Aku pun berjalan dengan cepat untuk sampai ke kelasku.
Pada saat jam istirahat, temanku mengagetkanku karena berlari cepat dengan terburu-buru sambil membawa sebuah kabar.
“Elin.....ada kabar bagus banget tau ga, tadi aku tau dari temenku, temenku tau dari temennya. Pokoknya gitu deh, kan bentar lagi mau ada perpisahan kelas 12, terus lagi dibuka pendafatar nari gitu.” tukasnya sambil duduk disampingku.
“Menari?? Tidak ah, kau kan tahu aku tidak bisa menari.” jawabku.
“ Sudah ikut saja, lagipula buat nambah pengalaman aja, lagian sama aja aku juga ga bisa nari juga. Tapi aku pengen ikut.” Ucapnya sambil menirukan sebuah tarian
Tapi entah mengapa tiba-tiba aku mengikutinya untuk ikut seleksi tersebut. Aku bersama dengan temanku datang ke seleksi tersebut saat pulang sekolah. Aku tidak menyangka aku diterima untuk menari. Mau tidak mau aku ikut, dan sekarang adalah dua minggu sebelum perpisahan anak kelas 12.
Hari kedua kami latihan aku begitu kaget, aku melihatnya datang juga. Orang yang aku sukai datang ke tempat latihan. Ternyata ia ikut dalam tim satunya. Betapa malunya diriku menari dan selalu membuat kesalahan. Apalagi dengan tubuhku yang kaku ini. Aku berkata didalam benakku bagaimana aku menghadapinya. Aku malu pastinya setiap hari bertemu dengannya di tempat latihan.
“Lin kenapa mukanya kok pucet gitu, kaya canggung sama malu. Padahal kemarin juga biasa aja. ga apa-apa kan kamu?” tanya Rere.
“ga kok ga papa. Cuma lagi emm.. aku tiba-tiba lupa gerakan aja.” ucapku sekenanya.
Akhirnya akupun benar-benar fokus pada gerakan tarian dan melupakan kalo emang dia ada disana. Karena kalo terpikirkan itu, aku benar-benar malu dan canggung. Dengan sekuat tenaga berlatih sendiri di rumah. Sebelum hari H kami semua melakukan gladi resik di sebuah gedung. Kami menempati sebuah ruangan, ketika itu kami sedang makan bersama dan satu persatu temanku meninggalkan ruangan tersebut. Sekarang hanya ada aku dan dirinya. Kami pun terlihat sibuk dengan makanan kami masing-masing. Rasanya aku ingin cepat-cepat menghabiskan makananku. Aku pun memberanikan diri untuk melihat wajahnya. Sekali lagi mataku dan matanya berpandangan cukup lama, kau tahu apa yang ada dipikiranku. Aku bergulat dengan sejuta pertanyaan-pertanyaanku. Bagaimana makanannya apakah enak? Kamu pasti lelah kita sudah latihan sepanjang hari? Apa kamu mengenal diriku? Mau tidak kau menjadi temanku? Bolehkan kita berbincang walau hanya beberapa saat? Besok kita tampil pasti kita semua deg-deg an? dan pertanyaaan pertanyaan lainnya. Tiba-tiba temannya datang dan memanggil dirinya, dan kemudian ia pun pergi. Aku hanya menghela napas dan ada rasa yang mengganjal di dallam atiku. Kenapa tadi aku tidak memulai pembicaraan. Padahal kami hanya berdua tadi. Ahhh sudahlah....
Tiba pada keesokan harinya, aku dan teman-temanku di rias, menggunakan kostum yang telah disediakan. Kami pun merasa senang karena kami bisa bersama-sama melakukannya setelah latihan yang cukup panjang. Acara perpisahan kelas 12 pun dimulai dengan suasana pun campur aduk berada di gedung itu. Aku merasakan bahwa ada rasa senang, sedih, haru di ruangan tersebut. Tugasku bersama teman-temanku sudah selesai. Kami pun berfoto untuk mngabadikan momen itu. Aku melihat sekeliling. Dimanakah dia? Kenapa tidak ada? Padahal tadinya aku berharap bahwa kami setidaknya bisa berfoto bersama dengan teman-teman yang lainnya juga. Aku benar-benar tidak bisa menyembunyikan perasaanku. Aku benar-benar menunjukkan kesedihanku saat itu.
Hari pun berlalu. Perasaanku masih sama. Aku masih tetap menyukai dirinya. Bahkan hanya melihatnya dari kejauhan membuatku senang. Suatu hari aku baru turun dari angkot yang kunaiki dan tiba-tiba aku melihatnya juga turun dari angkot lainnya. Aku mengikutinya dari belakang. Jarak kami hanya sekitar dua meter. Kami pun menyeberang jalan. Aku mengikuti langkahh kakinya, melihatnya, tapi entah mengapa aku merasa seperti sedang berjalan bersamanya. Aku tersenyum hanya dengan melihat balik punggunya saja. Perasaan ini selalu ku pendam. Aku hanya berharap bisa menjadi temannya saja setidaknya. Tapi bahkan aku belum pernah berbicara padanya sekalipun. Yang kurasakan setiap harinya hanyalah memendam perasaan ini dan hatiku begitu sakit dan sesak hanya karena melihatnya saja. Mataku dan matanya memang seringkali bertatapan, ya walupun aku tahu itu terjadi hanya karena ketidaksengajaan kami yang saling memandang. Tetapi aku merasa ada sesuatu yang berbeda walupun aku tidak tahu apa itu.
Tidak terasa tiga tahun berlalu dengan cepat, sampai saatnya tiba di hari kelulusan kami. Aku benar-benar kembali ke memori tiga tahun yang lalu dimana sekelumit kisah pernah terjadi disini. Aku tidak berharap banyak apapun itu, karena aku tahu ini adalah untuk terakhir kalinya aku bertemu dengannya. Tidak terasa tiba-tiba air mataku mengalir membasahi pipiku. Walaupun seperti itu, aku pun tersenyum melihat dirinya dari kejauhan. Aku tidak tahu entah kapan bisa bertemu lagi dengannya. Aku hanya berharap dirinya baik-baik saja dan bisa meraih impiannya. Yang aku tahu “Walaupun aku hanya mencintaimu dalam diam, aku tidak pernah menyesali itu”