Manusia selalu beranggapan: masih banyak waktu untuk saling menyayangi, tak perlu terburu-buru. Faktanya, waktu terlalu singkat untuk disia-siakan dan akhirnya justru berujung pada penyesalan.
Sudah hampir dua tahun keluarga kami memiliki anggota keluarga baru. Orang itu menggantikan posisi Ayah yang sudah pergi untuk selamanya empat tahun yang lalu.
Aku memanggilnya Om Ridwan. Hingga kini aku memang belum bisa menyematkan panggilan ayah pada dirinya, aku hanya tidak ingin posisi Ayah digantikan oleh orang lain. Bagiku ayah adalah Ayah. Cukup dia, Ayah yang selalu merawatku sejak kecil dan membesarkanku hingga aku berada di usia ini. Syukurlah Om Ridwan tak pernah mempersalahkan hal itu, meskipun Ibu seringkali mengomeliku agar mau terbiasa memanggilnya dengan sebutan ‘Bapak’.
Aku sangat menyayangi Ayah. Kepergiannya yang begitu cepat membuatku sangat sedih dan terpukul. Saat Ibu memutuskan akan menikah dengan Om Ridwan, aku memberontak. Aku menuduh Ibu sudah melupakan Ayah, aku membenci Ibu yang mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang. Maklum, saat itu aku belum dewasa.
Padahal Ibu hanya menginginkan yang terbaik bagiku, karena setelah Ayah pergi kondisi ekonomi keluarga kami sangat memprihatinkan. Berbulan-bulan aku dan Ibu berada dalam kondisi yang terpuruk, hingga suatu hari Om Ridwan datang memberikan bantuan. Waktu yang terus berjalan akhirnya membawa kepada takdir pernikahan Ibu dan Om Ridwan. Aku tak bisa menolak apa yang sudah digariskan Allah, hanya saja aku berharap semoga Ibu tak salah memilih orang sebagai imam di keluarga kami.
Belum bisa menerima kehadiran Om Ridwan sepenuhnya, bukan berarti aku membencinya. Kuakui Om Ridwan adalah orang yang bertanggung jawab, pekerja keras, dan selalu berusaha menjadi ayah sekaligus suami yang baik.
Aku akan membiarkan waktu yang menumbuhkan rasa sayangku pada Om Ridwan. Aku akan memanggilnya ‘bapak’ ketika saatnya tiba.
* * *
Aku sudah selesai berhias diri saat hujan tiba-tiba turun. Malam ini aku akan menghadiri acara pengumuman juara lomba melukis, setelah tiga hari yang lalu aku dan temanku, Dhea, berpartisipasi dalam lomba tersebut mewakili sekolah.
Rencananya aku akan pergi kesana bersama Dhea menggunakan motor, namun sepertinya hujan menggagalkan semuanya.
Aku keluar kamar, bingung harus bagaimana. Menunggu hujan reda? Bisa-bisa acaranya sudah selesai.
"Gimana berangkatnya, Put? Hujan begini tetap jadi naik motor sama Dhea?" Ibu yang sedang menonton televisi di ruang tengah, langsung menanyaiku.
"Putri juga bingung, Bu. Kalo nggak datang, Putri penasaran pengen tau siapa juaranya." jawabku sambil duduk disamping Ibu.
"Loh, Putri mau kemana, kok rapi sekali?" tanya Om Ridwan yang sepertinya baru selesai mandi sepulang kerja tadi.
"Mau ke acara pengumuman lomba, Om."
"Oh, lomba melukis yang waktu itu kamu ikuti? Ayo Om antar, kita naik mobil." ajak Om Ridwan kemudian yang langsung kutolak cepat-cepat.
"Nggak usah. Om baru aja pulang kerja, pasti capek. Putri nunggu hujan reda aja."
Meskipun sudah kutolak, Om Ridwan bersikeras ingin mengantarkanku sekaligus menyaksikan acara tersebut. Ditambah Ibu yang menyuruhku turuti saja, membuatku tak bisa menolak lagi.
"Kalian berdua aja ya, Ibu di rumah nunggu kabar gembira dari Putri. Semoga juara!" ucap Ibu sebelum aku masuk mobil. Aku tahu maksud Ibu menolak untuk ikut. Ibu ingin aku lebih banyak menghabiskan waktu bersama Om Ridwan seperti anak dan ayah pada umumnya.
Di perjalanan, suasana sangat canggung. Aku memilih berdiam diri, sedangkan Om Ridwan fokus mengemudi.
"Putri, Om nanya boleh, kan?" Tak lama kemudian Om Ridwan membuka pembicaraan.
"Boleh. Nanya apa, Om?" tanyaku.
"Kamu, kan, hobi melukis, hal apa yang pengen sekali kamu lukis?"
Aku berpikir sejenak, "Putri pengen melukis momen saat Putri di wisuda pakai baju toga terus bawa buket bunga, ada Ayah dan Ibu."
Sebelum melanjutkan ucapanku, aku menoleh untuk melihat reaksi Om Ridwan. Ekspresi wajah yang tadinya terlihat sumringah ingin mendengar jawabanku, berubah sedih, mungkin karena mendengar kata 'ayah' disebut. Om Ridwan mungkin merasa kata itu bukan kata untuk mewakili dirinya.
"Tapi karena Ayah pergi duluan, keinginannya Putri ganti. Putri pengen melukis momen saat Putri di wisuda pakai baju toga terus bawa buket bunga, ada Om Ridwan dan Ibu." lanjutku.
Kulihat Om Ridwan tersenyum. Entah kenapa aku merasa senang saat melihatnya.
"Sebentar lagi kamu lulus SMA, insya Allah keinginan kamu terkabul."
"Itu pasti, Om, bukan insya Allah. Putri pasti lulus kok, habis itu di wisuda." Aku meyakini Om Ridwan dengan penuh percaya diri, membuat Om Ridwan mengusap pelan kepalaku.
"Iya... Putri Om pintar, pasti lulus."
Ah, aku jadi ingat Ayah. Ayah dulu juga sering menyemangatiku sambil mengusap kepalaku.
Aku jadi rindu Ayah...
Tak lama kemudian, kami tiba di tempat acara dan sepertinya acara baru saja dimulai. Aku dan Om Ridwan mengambil tempat duduk disamping Dhea yang sudah datang bersama kakak laki-lakinya.
Menunggu selama hampir lima belas menit, akhirnya tibalah pengumuman juara lomba. Peserta lomba melukis ini adalah siswa-siswi SMA sederajat se-kota Jakarta. Meskipun banyak saingan yang tak bisa diremehkan begitu saja, aku tetap berharap bisa menjadi salah satu juara diantara 5 orang yang terpilih.
Juara 3, 4, dan 5 sudah diumumkan, namun namaku belum juga disebut. Aku gelisah, bertolak belakang dengan Dhea yang sudah lega berdiri diatas panggung sana sebagai peraih juara 4.
Aku sangat berharap namaku dipanggil sebagai juara kedua. Sadar masih banyak orang lain di luar sana yang memiliki kemampuan melukis lebih hebat dariku, membuatku tak berharap banyak bisa meraih juara pertama.
Kepercayaan diriku menguap saat mendengar lagi-lagi bukan namaku yang disebut oleh pembawa acara. Kurasa keinginan Om Ridwan yang ingin menyorakiku sebagai juara takkan terjadi malam ini. Aku kecewa pada diriku. Aku ingin cepat-cepat pulang. Ibu, maafkan aku tidak bisa memberi kabar gembira saat pulang nanti.
“Juara pertama diraih oleh... Putri Anandita dari SMA Negeri 1 Jakarta!”
Aku tercengang setelah mendengar namaku disebut sebagai peraih juara pertama. Tepukan tangan disertai sorakan seluruh penonton terdengar riuh, yang paling heboh terdengar dari Om Ridwan disampingku. Aku melangkah hampir berlari menuju panggung, saking senangnya. Terima kasih ya Allah, sudah memberiku rezeki dan kebahagiaan hari ini.
Om Ridwan langsung memelukku erat setelah aku turun dari panggung dengan membawa piala dan map berisi sertifikat serta uang pembinaan. Aku mematung, sebelum akhirnya cepat-cepat membalas pelukan Om Ridwan.
Setelah sekian lama, kini aku kembali merasakan hangatnya pelukan seorang ayah. Meskipun berasal dari orang yang berbeda, pelukan ini tetap terasa hangat dan mendamaikan.
Di perjalanan pulang aku tak bisa berhenti tersenyum. Hampir saja aku lupa untuk memberitahu kabar gembira ini pada Ibu jika saja Om Ridwan tidak mengingatkan. Aku langsung meraih ponselku di saku celana lalu menekan layanan video call untuk menghubungi Ibu.
“Ibuuu... Alhamdulillah Putri menang, Bu, juara satu. Pialanya bagus, kan, Bu?” Aku langsung berucap penuh semangat sambil menunjukkan piala kemenanganku saat wajah Ibu muncul di layar ponsel.
“Alhamdulillah. Anak Ibu memang jago. Iya, pialanya bagus.” Ibu menunjukkan jempolnya padaku. Kebahagiaan terpancar jelas di wajahnya.
“Bu, tadi Om Ridwan sorakannya yang paling heboh loh.” ucapku sambil mengarahkan layar ponsel pada Om Ridwan.
Terdengar tawa Ibu dari seberang, “Gimana hebohnya, Pak? Ibu mau lihat.” ucap Ibu pada Om Ridwan.
“Nggak bisa diulang, Bu, tadi itu spontan.” Om Ridwan juga tertawa sambil sekilas melihat ke arah layar ponsel yang masih kuarahkan padanya.
Tiba-tiba di depan sana kulihat cahaya terang yang semakin lama semakin menyilaukan, seakan bergerak mendekat ke arah mobil kami. Tak lama kemudian terdengar suara klakson berbunyi panjang disusul dengan suara benda besar saling bertubrukan. Bersamaan dengan suara nyaring itu, tubuhku terdorong ke depan dengan kepala yang membentur dashboard mobil. Kurasakan sesuatu seperti pecahan-pecahan kaca berhamburan menjatuhi kepala dan tubuhku.
Dengan tubuh lemas dan mental yang baru saja terguncang, aku menyadari mobil yang aku dan Om Ridwan tumpangi terlibat dalam kecelakaan. Meskipun penglihatanku begitu buram, kupaksakan menoleh ke samping untuk melihat kondisi Om Ridwan. Om Ridwan tak bergerak dengan tangan yang masih mencengkeram kuat setir. Terdapat banyak darah di wajah dan sekujur tubuhnya. Aku ingin membangunkannya.
“Ba... pak...” Hanya suara parau seperti bisikan yang keluar dari mulutku, mengucapkan kata itu untuk pertama kalinya.
Sedetik kemudian tubuhku terasa begitu ringan, lalu semuanya menjadi gelap. Apakah aku akan menyusul Ayah? Haruskah aku mengucapkan selamat tinggal pada dunia?
* * *
Aku membuka mata perlahan. Cahaya lampu yang menyilaukan diatas sana membuatku harus mengerjapkan penglihatan beberapa kali. Ruangan serba putih menjadi hal yang pertama kulihat, setelah itu kulihat Ibu yang tengah duduk di sisi kanan ranjang. Ada raut lega sekaligus kekhawatiran yang terpancar dari wajahnya.
“Alhamdulillah, kamu sudah sadar, Put.” Ibu menggenggam erat telapak tanganku. Genggaman Ibu seakan memberiku kehangatan dan kekuatan, membuatku tersenyum.
“Ibu... Om Ridwan... Om Ridwan mana?” tanyaku dengan suara lirih. Meskipun sudah berusaha mengeluarkan suara yang normal, tetap saja hanya suara seperti bisikan yang keluar dari mulutku.
Pikiranku melayang mengingat kecelakaan yang kualami bersama Om Ridwan malam itu, sudah berapa hari berlalu sejak kejadian itu?
Ibu hanya diam, seperti tak berniat menjawab pertanyaanku. Entah kenapa tiba-tiba kurasakan air muka Ibu berubah. Ia terlihat sedang menahan kesedihan. Firasatku mengatakan sesuatu yang buruk telah terjadi. Tidak, tidak. Semua pasti baik-baik saja.
“Ibu kenapa diam? Om Ridwan dimana, Bu? Putri mau minta maaf. Semua ini salah Putri. Om Ridwan jadi kecelakaan karena Putri. Putri selalu ngerepotin dan bikin masalah... Putri mau datangin Om Ridwan sekarang, mau minta maaf...” Aku memaksakan diri untuk bangun, meskipun sudah dilarang Ibu agar jangan banyak bergerak. Bukannya berhasil bangun, aku malah mengerang kesakitan. Seluruh tubuhku benar-benar terasa nyeri saat digerakkan.
"Putri, kamu mau sampai kapan manggil Bapak dengan sebutan Om? Dia bapakmu. Sekarang kamu nggak bisa lagi panggil dia Bapak, sudah terlambat..."
Ibu mengatakan itu sambil terisak. Air matanya mengalir cepat tanpa bisa dibendung. Melihat Ibu begitu, aku yakin firasatku benar. Hal yang kutakutkan sepertinya benar-benar terjadi. Tapi tetap saja...
"Kenapa nggak bisa, Bu? Kenapa terlambat? Om Ridwan ada di rumah sakit ini juga, kan? Om Ridwan baik-baik aja, kan?" Aku sengaja memberondong Ibu dengan banyak pertanyaan.
Kulihat Ibu menggeleng, "Bapak... sudah pergi... Allah lebih sayang sama Bapak dibanding kita..."
Ibu memberikan jawaban mengejutkan. Tubuhku tak bertenaga, seakan ada beban yang sangat berat dari atas sana jatuh di pundakku. Mataku seketika berkaca-kaca, berusaha menahan agar air mataku tak tumpah.
Tapi akhirnya air mata itu tumpah, disertai dengan perkataanku yang memberontak pada takdir.
"Kenapa takdir kejam sama kita, Bu? Kenapa Putri harus kehilangan ayah lagi? Apa karena Allah nggak sayang sama Putri?"
"Ssttt... Kita nggak boleh protes sama takdir, nggak boleh berprasangka buruk sama Allah. Di setiap ujian yang dikasih Allah pasti ada hikmahnya. Putri udah dewasa, pasti bisa ngerti." nasehat Ibu.
"Ini ada surat dari Bapak, buat kamu." Ibu menyodorkan secarik kertas yang tadi diambilnya di atas meja.
Aku sesenggukan, memaksakan diri agar jangan menangis lagi. Kuambil kertas itu dengan tangan bergetar, lalu mulai membacanya dalam hati.
Untuk Putri...
Ini Bapak, yang selama ini kamu panggil Om Ridwan. Ketika kamu baca surat ini, Bapak pasti sudah pergi jauh. Tapi meskipun Bapak sudah pergi, Bapak sudah menitipkan hadiah dari Allah untuk Putri. Bapak harap dengan hadiah itu, Putri bisa melihat dunia lebih luas untuk dilukis. Bapak sengaja kasih hadiah itu biar keinginan Putri yang pengen melukis momen di hari wisuda terkabul dan juga biar Putri bisa baca sendiri surat dari Bapak ini. Jaga baik-baik ya hadiah titipan Allah itu.
Maafkan Bapak kalo selama ini belum bisa jadi bapak yang baik untuk Putri dan Ibu. Maaf juga tulisan Bapak yang jelek dan susah dibaca ini. Pesan Bapak, kamu jangan sedih dan juga jangan biarkan Ibu sedih. Tetap jadi Putri Bapak yang selalu kuat dan ceria. Semoga Putri sukses dan bisa membanggakan Bapak, Ayah, dan Ibu.
Terima kasih sudah membiarkan Bapak mendengar kamu bilang 'Bapak' waktu itu. Meski hanya suara samar yang Bapak dengar, Bapak tetap bahagia dan sangat bersyukur. Bapak sayang Putri dan Ibu...
Aku menangis kencang setelah membaca semuanya.
Aku buta akibat kecelakaan itu. Mata ini, mata yang kugunakan untuk melihat sejak sadarku beberapa saat lalu, ternyata pemberian dari Om Ridwan yang ikhlas dititipkannya padaku agar aku bisa terus melihat dunia dan melukiskannya. Betapa baik sosoknya dan sejauh ini aku baru menyadarinya. Dia sangat berharga, seharusnya aku bisa lebih menyayanginya sejak dulu.
Penyesalan merayapi diriku. Mengapa aku selalu melewatkan waktu dan merasa sulit hanya untuk memanggilnya dengan sebutan 'Bapak'? Mengapa aku selalu beranggapan masih banyak waktu untuk menyayanginya?
Faktanya, waktu terlalu singkat untuk disia-siakan.
"Bapak, maafin Putri..." lirihku dalam dekapan Ibu yang tengah berusaha menenangkanku, "Putri sayang Bapak..."
Seandainya bisa, aku ingin kembali ke masa lalu untuk memperbaiki kesalahanku. Aku ingin melanjutkan hidup tanpa rasa penyesalan.
Ayah, Bapak...
Terima kasih sudah hadir dihidupku. Kasih sayang kalian tak akan pernah tergantikan.