"You get depressed because you know that you're not what you should be." -M. Manson
KLISÉ
"You get depressed because you know that you're not what you should be." -M. Manson
--
Tirta
Cita-citaku dari dulu hanya satu, yaitu aku ingin tinggal di luar negeri. Jangan salah, bukannya aku tidak mencintai Indonesia, justru aku bangga akan status WNI-ku, tapi memang sejak dulu aku penasaran bagaimana rasanya tinggal di negara lain. Rumput tetangga memang selalu lebih hijau, bukankah begitu peribahasanya? Mungkin aku hanya ingin merasakan budayanya, ingin mengalami apa yang dialami orang-orang di film-film. Aku tahu mungkin itu terdengar bodoh, tapi memang begitu adanya. Aku ingin mendalami bagaimana rasanya benar-benar tinggal di negara dengan kebiasaan-kebiasaan dan norma-norma yang berbeda dari Indonesia.
Mungkin orang berkata, "Ah itu berarti kamu suka traveling, bukan ingin tinggal di luar negeri.' Iya, aku suka traveling tapi keinginanku itu lebih dari sekedar singgah di negeri orang, aku ingin menetap di negara manapun itu, Amerika, Australia, Inggris, pokoknya negara manapun yang berbudaya barat. Aku ingin tinggal dan mencoba untuk mengadu nasib disana. Mencoba untuk bekerja dan membangun hidupku sendiri, benar-benar memulai segalanya dari titik nol, itulah yang aku mau.
Ah, aku baru sadar. Sepertinya aku daritadi sudah cukup banyak bicara tapi aku bahkan belum memperkenalkan diriku sendiri. Maaf. Halo semuanya, namaku Tirta. Aku berusia 20 tahun dan saat ini aku sedang tengah berkuliah di salah satu universitas yang cukup prestis dan ternama namun -- sayangnya -- di Indonesia. Padahal kalau dipikir-pikir lagi, sebenarnya aku sudah pernah mendapatkan kesempatan untuk tinggal di luar negeri. Dulu menjelang saat-saat lulus dari SMA, aku sudah sempat terpikir untuk berkuliah di luar negeri. Di Amerika Serikat. Di kota impianku, kota yang tak pernah tidur, New York. Tapi lalu ibu berkata bahwa Amerika terlalu jauh.
"Nanti kalau ada apa-apa kan susah. Kita juga kalau mau datang berkunjung terlalu jauh." Tak rela apabila anak satu-satunya tinggal berjauhan darinya.
Jadi aku mengalah. Sempat juga terpikir untuk berkuliah di Australia, karena jaraknya yang cukup dekat dengan Indonesia. Tapi kemudian timbul masalah kedua, perihal mau berkuliah apa. Bisnis? Sepertinya aku bukan tipe entrepreneur. Mengolah keuangan sih bisa, tapi berbicara dengan orang bukanlah salah satu kelebihanku dan kita semua tahu bahwa pebisnis harus jago yang namanya ngomong. Jadi tidak, pastinya bukan bisnis.
Lalu apa? Teknik? Psikologi? Perhotelan? Tidak ada yang cocok dengan minat dan bakatku. Mungkin kalian berpikir, "Ya sudahlah, kan katanya mau tinggal di luar negeri, pokoknya asal kuliah saja, pilih saja jurusan terserah apa." Tapi aku tidak enak pada orang tua ku. Meskipun aku sangat ingin tinggal di luar negeri, bukan berarti aku bisa seenaknya saja menghambur-hamburkan uang yang telah mereka dapatkan dengan jerih payah.
Kalau aku akan berkuliah di luar negeri dan menghabiskan modal besar, setidaknya aku harus bisa menghasilkan uang yang sama besar sehingga balik modal, begitulah tekadku.
Ditengah kebingunganku memilih jurusan perkuliahan, ayah mengusulkan, "Gimana kalau kamu kuliah hukum saja?" Ayah tidak memaksa, ia hanya sekedar memberikan masukan, tapi pertimbangan-pertimbangan yang ia berikan bersama usulannya itu cukup masuk akal.
"Kalau kamu kuliah hukum, nanti kamu bisa jadi notaris. Teman ayah ada yang sudah jadi notaris, enak lho kerjanya fleksibel tapi cukup menghasilkan banyak. Tinggal tandatangan sudah dapat uang."
Tinggal tandatangan sudah dapat uang -- anggapan stereotipikal orang-orang tentang notaris. Menjadi notaris membutuhkan ketelitian yang sangat besar dan pastinya menanggung tanggungjawab yang besar juga, setidaknya itu yang sekarang aku ketahui. Tapi memang jujur saja, pada waktu itu tawaran tersebut cukup masuk akal bagiku. Akhirnya kandas sudah mimpi untuk berkuliah di luar negeri. Daripada berkuliah yang tidak jelas arahnya kemana, lebih baik memilih yang pasti-pasti saja. Lagipula dengan begitu aku dapat tetap menjaga ayah dan ibu.
-
Dela
Namaku Dela. Saat aku masih menduduki bangku SD, aku tak ingat tepatnya pada kelas berapa, guruku dikelas menyuruh kawan-kawan dan aku untuk menulis suatu esai pendek. Mungkin ia sedang kehabisan ide untuk tugas atau memang sedang ingin mengetes kemampuan berbahasa kami, aku pun tak tahu. Tema untuk menulis kami bebas alias tak ditentukan. Kami dapat menulis tentang apapun yang kami mau. Entah saat itu aku berpikir apa, tapi aku malah menuliskan tentang hamster yang saat itu sedang kupelihara. Lalu setelah kehabisan kata-kata untuk menjabarkan tentang hamster tersebut, aku mulai menulis tentang donat kentang yang dibuat oleh tetangga sebelah rumahku, dan betapa enaknya rasa donat kentang buatan rumahan.
Tema yang aneh -- maklum saat itu aku masih SD -- namun sukses membuatku dikirim ke kantor kepala sekolah. Bukan untuk dihukum, tidak, aku diberikan pensil dan penghapus kecil, sebagai hadiah.
"Esai kamu ini bagus nak, terus dikembangkan ya," senyum kepala sekolah yang berwajah penuh kebapakan itu.
Aku merasa biasa saja mendengar pujian tersebut, pikiran kanak-kanakku yang cuek tidak terlalu peduli mendengar hal semacam itu. Aku hanya merasa senang karena telah mendapatkan hadiah. Lumayan. Namun kejadian semacam itu terulang beberapa kali. Bukan, bukan aku mendapatkan hadiah dari kepala sekolah berulang kali -- yang berulang adalah kejadian tulisanku mendapatkan apresiasi. Sejak itu aku tahu bahwa aku memang ada kemampuan untuk menulis.
Timbulah kegemaranku. Bermodalkan buku kecil dan sepotong pensil, aku memulai menulis jurnal. Isi jurnalnya? Apapun yang terjadi dalam hidupku yang saat itu masih sederhana. Kejadian yang membuatku senang, kejadian yang membuatku sedih, hal-hal yang akhirnya menginspirasi cerita-cerita pendek yang memenuhi buku kecilku. Sempat terpikir untuk menjadi penulis, namun semakin usiaku bertambah semakin aku paham bahwa menjadi penulis tidaklah mudah.
"Nasib penulis di Indonesia tidak begitu baik. Sebaiknya jangan dijadikan karir," kata orang-orang dewasa dalam keluargaku. Jadi, kegemaranku untuk menulis hanya menjadi itu, suatu kegemaran yang dilakukan saat ada waktu luang.
Seiring berjalannya waktu, kesibukan bersekolah semakin memadati hidup dan waktu luang untuk menulis juga semakin berkurang. Singkat kata realita terjadi, hingga keinginanku untuk menjadi penulis kian terpendam dan akhirnya... terlupakan.
-
Kisah klasik sekali -- tentang orang yang memiliki suatu cita-cita, namun karena satu dan lain hal, impian tersebut jadi tak tersampaikan. Klisé bukan? Namun di setiap klisé pasti mengandung suatu kebenaran, sesedikit apapun kebenaran itu.
Dari hasil pengamatanku selama berdekade, perjalanan menggapai mimpi itu seperti jalan yang berliku-liku panjang. Setiap berpikir sudah mau mencapai ujungnya, ternyata masih ada kelok satu lagi. Teman-teman dan keluarga, yang seharusnya dapat menjadi pendorong untuk menggapai cita-cita, sering kali malah menjadi penghalang. Sebagian besar dari mereka bahkan tak menyadari bahwa mereka menghalang cita-cita. Perasaan bersalah, dan rasa ragu-ragu yang mereka timbulkan dalam diri, pada akhirnya menyebabkan orang urung niat.
Di saat itulah orang-orang semacam ini akan mulai mengalami perjumpaan-perjumpaan denganku. Tidak ada yang spesial, hanya papasan-papasan singkat yang kerap kali tak terasakan dan bahkan mungkin terabaikan. Namun, seiring berjalannya waktu, perjumpaan denganku menjadi semakin sering. Lama-lama mereka tersadar dan setelah itu tidak dapat menghindariku lagi. Mereka tak kan mampu mengabaikanku.
Mungkin kalian bertanya-tanya siapakah aku ini. Bersabarlah denganku, sebentar lagi kalian akan mengerti sendiri.
Mari kita percepat ke tahun-tahun kedepan kehidupan mereka.
Saat ini ketika kita sedang berbicara, Tirta telah membangun keluarga. Beberapa tahun yang lalu ia telah bertemu dengan seseorang yang membuatnya jatuh cinta. Mereka menikah dan kehidupan mereka dapat dikatakan bahagia. Di suatu pagi di tempat kerja, Tirta sedang mengaduk kopi ketika ia merasakan sesuatu yang janggal.
Pertemuannya yang pertama denganku.
Sekarang mari kita pergi melihat keadaan Dela.
Seperti yang dapat kalian lihat, Dela bertumbuh menjadi mahasiswi yang aktif di kampus. Ia disegani oleh rekan-rekannya karena etos kerjanya yang baik, namun oh – apa ini? Setiap sesampainya dirumah ia selalu menemuiku. Memang itulah kehandalanku. Aku mampu mengusik kehidupan orang melalui cara-cara yang tidak kentara.
Pada suatu malam, Dela memutuskan untuk membereskan kamar tidurnya yang sudah lama berantakan. Siapa yang tahu, malam itu ternyata menjadi salah satu malam yang paling menentukan hidupnya.
Ia tidak sengaja menemukan kembali buku kecil penuh kenangan. Membolak-balik halaman buku yang mulai menguning, nostalgia dan rasa rindu membanjiri.
Ia memutuskan untuk mencoba menulis lagi.
Sejak ia menemukan kembali buku tersebut, pertemuannya denganku menjadi semakin jarang. Aku memakluminya. Ia terlalu sibuk menulis. Akhir yang bahagia, dan akupun turut merasakan bahagia, meskipun pada akhirnya ku harus berpisah dengan Dela.
Bagi beberapa, pertemuan mereka denganku memaksa mereka untuk membuka kembali 'kotak impian'. Membuat mereka bertanya-tanya, “Jika saja sewaktu itu aku melakukannya, kira-kira akan menjadi seperti apa hidupku saat ini?”
Sebagian orang akan mencoba kembali memperjuangkan mimpi mereka, dan dalam beberapa kasus hal tersebut akan membuahkan hasil. Kesiapan yang bertemu dengan kesempatan dan waktu yang tepat akan melahirkan keberhasilan.
Namun seringnya, aku terus melekat dalam kehidupan mereka.
Apakah kalian sudah mengetahui aku siapa? Ya, aku adalah rasa penyesalan. Perasaan “Hanya begini sajakah hidupku?”
-
Tirta
“Sayang, bagaimana kalau kita pindah ke luar negeri?” tanyaku ringan diatas makan malam. Aku berusaha membuatnya terdengar sesantai mungkin, seakan ide tersebut baru saja muncul di kepalaku dan bukannya sudah kupikirkan selama berminggu-minggu.
“Boleh, yuk kita berkemas sekarang juga,” candanya, terus menyuapi si kecil.
“Tidak, aku serius,” meskipun ikut tersenyum. “Bagaimana menurutmu?”
Ia mendongak menatapku. “Kenapa tiba-tiba… Apakah terjadi sesuatu di tempat kerja?”
“Tidak ada apa-apa." Aku membelalakkan mata dengan tangan separo terangkat, menunjukkan mata anak anjing andalanku. "Hanya saja tidakkah menurutmu akan menyenangkan untuk tinggal di… misalkan Amerika?”
“Iya tapi tidak mungkin kita pindah begitu saja juga.” Tergelak. “Bagaimana dengan orang tua kita? Sekolah Danny? Si kecil juga sudah akan memulai TK. Kita sudah membayar uang sekolahnya, ingat?”
"Tapi pasti akan menyenangkan -- seperti berpetualang. Danny suka petualangan, ya kan Dan?" Aku mengacak atas kepala anak sulungku, mengacaukan rambutnya, dengan harapan akan setidaknya menumbuhkan antusiasmenya.
"Danny nggak mau pindah kemana-mana. Danny nggak mau pisah sama Sarah," rengeknya.
"Siapa itu Sarah?" Giliran aku yang kebingungan.
"Sarah itu teman baik Danny di sekolah," jelas ibunya. "Teman baik." cengirnya mengedip sebelah mata.
Oh.
"Wah anak ayah sudah besar ya," godaku, membuat tampang Danny langsung memerah.
Aku memutuskan untuk menghentikan topik itu untuk sementara waktu.
-
Tirta
Ketika anak-anak sudah tertidur dikamar mereka dan kita telah membersihkan diri, istriku bertanya sekali lagi.
"Jujur, apa sebenarnya alasan kamu tiba-tiba mengajak pindah ke luar negeri?" ia meletakkan kedua tangannya di pundakku, menatap seakan mencari jawaban di kedua mataku.
"Tidak ada apa-apa kok, aku hanya berpikir perubahan suasana pasti bagus untuk saat ini.”
Ia tersenyum. "Tirta, aku sayang kamu, kamu tahu itu kan? Tapi kita tidak bisa tiba-tiba saja pindah dan menelantarkan kehidupan kita di Indonesia."
Jujur aku merasakan kekecewaan, namun aku tetap berusaha menutupinya. “Iya aku tahu… mungkin aku sedang mengalami apa yang mereka katakan krisis paruh baya,” candaku.
"Aku juga sayang kamu." Aku memeluknya. “Yuk, kita tidur. Sudah mulai larut malam.”
Ya, aku sayang istriku -- sangat sayang bahkan. Dan aku sayang keluargaku. Aku tidak perlu pindah ke luar negeri untuk merasa bahagia, kebahagiaanku disini, bersama mereka.
Sejak awal sebenarnya aku sudah tahu bahwa kemungkinannya kecil. Nalarku yang selalu berjalan juga mengatakan bahwa tiba-tiba pindah ke luar negeri adalah ide yang sangat konyol. Aku sudah berusia 35 tahun. Aku sudah memiliki keluarga dan anak-anak. Sudah saatnya aku berdamai dengan diriku sendiri dan menerima fakta bahwa cita-citaku tak akan menjadi kenyataan.
Namun mengapa aku masih merasakan sesak di dada setiap kali memikirkannya?
--