Sekuat apa pun kita menahan, jika Tuhan telah berkata ‘Inilah saatnya,’ tak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali pasrah. Dan, sekeras apa pun kita berusaha untuk menjadi sosok yang tegar, pasti tetap akan ada hal-hal yang membuat kita rapuh. Karena sejatinya, manusia hanyalah manusia—tetap memiliki kelemahan.
Hari ini adalah hari pertama semester ganjil kelas sembilan. Biasanya, hari istimewa seperti ini hanya akan diisi dengan ta’aruf atau perkenalan antara guru mata pelajaran dengan siswa-siswinya.
“Eh, jam pertama nanti apa, sih?”
Aku mendengar Mawar yang baru datang berteriak menanyakan jadwal pelajaran pada teman-teman. Karena tadi malam aku tidak belajar, aku tidak tahu apa mata pelajaran yang mengisi jam pertama. Aku akhirnya mengambil jadwal pelajaran di tasku dan membacanya.
“WOI, MELATI!”
“PPKn‼!” Sontak aku kaget dan meneriakkan apa yang kubaca itu dengan sangat keras. Seisi kelas pun tertawa melihatku. Tapi, aku tahu kalau mereka sudah memaklumi segala tingkah lakuku. Aku sudah dikenal sebagai siswi yang mudah kaget. Ya, setidaknya, aku bisa sedikit menghibur teman-teman dengan sikapku ini.
Semua tawa temanku langsung lenyap ketika melihat seorang guru yang masih asing bagi kami masuk.
***
“Nama saya Apik Setyaningrum. Kalian semua bisa memanggil saya Bu Apik, Bu Setya, atau Bu Ningrum, terserah kalian. Saya guru PPKn yang mengajar seluruh kelas sembilan, termasuk kelas kalian. Ada yang ingin ditanyakan tentang saya?”
“Hmm, Bu Setya sangat pantas jadi guru PPKn. Wajahnya terlihat tegas, apalagi caranya berjalan—amat berwibawa. Cara bicaranya pun menarik. Sepertinya, beliau akan menjadi guru favoritku di kelas sembilan ini.” gumamku dalam hati seraya terus memandang Bu Setya.
***
“Mami, kapan Adek bisa pulang?”
“Sebentar lagi, Dek. Adek harus kuat dan segera sembuh biar bisa pulang.”
Aku mencium dahi putraku yang masih berusia lima tahun itu, Rama. Dia adalah anak yang tanggap, cerdas, rajin, dan sangat disiplin. Dia sangat berbeda dengan kakaknya, Reno, yang keras kepala dan pemalas. Tentu saja, aku amat menyayangi Rama. Belas kasihku semakin bertambah ketika dia menderita demam berdarah.
Aku menatap dalam-dalam wajahnya saat ia tertidur. Kulihat rona biru pucat tersamar di wajahnya lalu semburat itu menghilang, datang lagi, dan menghilang lagi. Tangan kiriku menggenggam tangannya, sementara tangan kananku mengelus kepalanya. Terasa panas-dingin suhu tubuhnya, seperti suhu hatiku, persis. Air mata ini tiba-tiba menggelinang dan jatuh mengenai tangan anakku. Ia terbangun.
“Mami, aku udah boleh pulang?”
Aku menghapus air mataku dan mencoba tersenyum untuknya.
“Sebentar lagi, ya, sayang. Kamu istirahat dulu, ya.” tuturku meyakinkannya.
“Nanti kalau Pak Dokter bilang Adek udah boleh pulang, Mami cepetan bangunin Adek, ya!”
Aku mengangguk dan meninabobokan dia.
Keesokan paginya, ketika aku menyuapinya, ia merengek kesakitan, “Mami, badan Adek sakit semua.”
“Sarapannya dihabiskan dulu, ya. Nanti kalau sarapannya sudah habis, pasti badannya lebih segar.”
Setelah sarapan habis, dokter datang untuk memeriksa. Kemudian, dokter berkata bahwa ingin bicara denganku di luar. Aku pun keluar dan bercakap-cakap dengan dokter.
“Rama termasuk anak yang kuat, Bu. Meskipun dia telat dibawa ke rumah sakit, dia mampu bertahan sejauh ini. Walau keadaan belum membaik, dia tetap kuat menahan rasa sakitnya.”
“Belum membaik, Dok? Tetapi, harapan untuk sembuh besar ‘kan, Dok?”
“Semoga saja, Bu. Ibu harus banyak memberi motivasi kepada Rama agar dia tetap semangat dan kuat melawan penyakitnya. Juga, Ibu jangan lupa meminta kesembuhan Rama pada Yang Mahakuasa.”
“Iya, Dok. Itu pasti saya lakukan. Saya juga mohon pada dokter supaya berusaha maksimal demi kesembuhan anak saya.”
“Pasti, Bu. Kesehatan pasien adalah prioritas kami.”
Obrolan kami berakhir, aku memasuki kamar Rama kembali. Kulihat suamiku sedang menghibur Rama yang tampak gelisah. Aku menghampirinya.
“Hari ini, aku harus menemani Pak Bos survei lokasi, Mi. Tidak apa ‘kan kalau Ayah tinggal sehari?”
“Iya, Yah. Tapi, Reno siapa yang jemput?”
“Nanti Ayah jemput Reno dulu, baru berangkat ke kantor. Hmm, Reno nanti menemani Mami di sini saja, ya?”
“Reno itu susah diatur, Yah, maunya menang sendiri. Kalau dia di sini, bukannya malah memperbaik suasana, tapi malah memperumit keadaan. Biar Reno di rumah saja sama Bibi.”
“Adek kangen Kakak, Mi. Adek pengin Kakak di sini.”
Kutatap wajah Rama yang sepertinya benar-benar merindukan kakaknya. Semua itu membuatku mempertimbangkan usulan suamiku kembali.
***
“Kakak!‼”
Aku tersenyum melihat mereka berpelukan. Hampir seminggu mereka tidak bertemu.
“Reno, ganti baju dulu!”
“Iya, iya, Mi. Ini juga mau ganti baju,”
Aku mempersiapkan makan siang buat Rama dan Reno.
“Mi, Adek nggak makan, ya, siang ini.”
“Kenapa? Katanya, Adek mau sembuh, kok nggak mau makan?”
“Adek capek, mau tidur.”
“Ya sudah. Makannya nanti setelah bangun tidur saya, ya,”
***
Kulihat waktu sudah menunjukkan pukul empat lebih lima belas menit, tetapi Rama belum juga bangun dari tidurnya.
“Reno, jangan main game terus. Mandi dulu!”
“Bentar lah, Mi. Lagi asyik, nih.”
“Kamu itu kalau disuruh Mami nggak pernah nurut. Kapan kamu bisa nurut sama Mami, Reno? Mami capek, ya, kalau perhatian mami diabaikan kayak gini. Kalau nggak mau nurut sama Mami, nggak usah tinggal sama Mami, tinggal saja sama Eyang sana. Masa disuruh mandi saja nunggu nanti-nanti.”
“Ah! Kalah, ‘kan … Mami nggak seru, ih! Apa sih susahnya nunggu bentar daripada ngomel nggak jelas gitu, nggak penting banget. Udah, ah, Reno mau ke rumah Eyang.”
Reno berlari ke luar kamar dan aku pun tidak bisa mencegahnya karena Rama terbangun.
“Mami ...”
“Iya, Sayang.”
“Sakit, Mi. Badan Adek nggak enak.”
“Adek pasti kuat. Ayo makan dulu. Kalau Adek tadi siang makan, pasti nggak kayak gini, ‘kan?”
Ketika aku mengambil makanan di meja, aku melihat obat-obatan Rama. Deg! Aku lupa memberi obat pada Rama sejak semalam. Padahal, kata dokter, obat ini tidak boleh sampai kelewatan sekali pun. Aku benar-benar bingung memikirkan akibatnya nanti. Aku menaruh makanan dan memanggil suster. Aku sangat panik. Ketika kembali ke kamar, aku melihat wajah Rama sangat pucat. Tangan dan kakinya dingin. Dia merengek ingin AC dinyalakan. Suaranya serak, amat serak. Suster yang tadi aku panggil pun ikut panik dan keluar memanggil dokter.
Tiga menit berlalu. Rama merintih keskitan. Aku tidak tega melihat wajahnya. Aku berlari menuju pintu dan berteriak, “Dokter ... Dokter!!!”
“Mami, Mami ... Peluk Adek, Mi. Peluk Adek … Adek takut,”
Aku kembali ke samping Rama. Kulihat lagi tubuhnya yang semakin melemah. Sungguh, air mata ini tak sanggup lagi ditahan. Aku memeluk tubuh mungil Rama sambil menangis. Tak lama, dokter datang dan langsung membawa Rama ke ruang ICU.
***
Rama koma …
Sejam, dua jam, kurasa lama sekali. Sehari, dua hari, aku hanya mampu berdiam diri, duduk di depan ruang ICU, menguatkan hati.
Tiga hari berlalu, akhirnya dokter memberi kabar bahwa Rama sudah sadar dari komanya. Rasanya seperti ada sesuatu yang kembali ke dalam jiwaku. Aku sudah merasa sedikit tenang.
Aku melihat Rama dipindah dari ruang ICU ke kamar rawat biasa. Kulihat matanya masih terpejam. Masker oksigen membantunya menghadapi sulitnya hidup. Aku beranjak dari tempat dudukku. Suamiku memegang tanganku erat seakan-akan ia mentransfer energi padaku.
***
“Mi, kata Ibu, Reno tidak di rumahnya.”
“Aduh, Yah, Reno itu ya … kok nggak bisa sekali saja nggak merepotkan. Selalu nggak nurut, keras kepala, egois pula! Mami itu capek nasehatin Reno. Kali ini, Ayah aja yang ngurusin Reno. Mami pusing!”
Belum sampai lima menit aku selesai bicara, Bu Arsy, orang tua teman Reno datang. Di belakangnya ada Vero—anaknya— dan … Reno! Ia menyalamiku dan berkata, “Bagaimana keadaan Rama? Maaf, selama tiga hari ini, Reno di rumah saya. Saya tidak memberi kabar kepada Bu Setya karena memang Reno yang melarang.”
“Oalah, nggak papa, Bu. Maaf, saya jadi merepotkan.”
“Tidak kalau merepotkan kok, Bu. Ya, setidaknya, saya bisa membantu meringankan beban Bu Setya. Pasti Bu Setya sangat sibuk karena keadaan Rama yang seperti ini.”
“Terima kasih sebelumnya, Bu. Tiga hari lalu, Rama koma, baru bisa keluar dari ICU hari ini.”
Selama setengah jam aku dan Bu Arsy bercakap-cakap. Memang, Bu Arsy adalah orang tua dari teman Reno yang paling akrab denganku. Kami sudah biasa saling mencurahkan isi hati. Tak lama kemudian, Bu Arsy pamit. Reno dan suamiku menjemput ibuku yang katanya ingin menjenguk Rama sehingga sekarang aku sendirian di rumah sakit. Aku mencium kening Rama. Tangan dan kelopak matanya tiba-tiba bergerak. Aku memanggilnya pelan, “Adek … Ini Mami, Dek.”
Rama membuka matanya. Aku mencoba mentransfer energi dengan mengelus hangat tangannya. Sekarang berbeda dengan empat hari lalu ketika belum ada infus di tangannya. Rama memberi kode padaku untuk melepas masker oksigennya. Aku pun memanggil suster. Kemudian, suster mengganti masker oksigen Rama dengan selang oksigen yang hanya dipakai di hidung saja.
Tidak lama kemudian, Ibu datang. Aku mencium tangan Ibu. Lalu, Ibu menuju tempat di mana Rama berbaring dan berkali-kali mencium kening, mengelus rambut, serta memeluk tubuh mungilnya.
Malam ini, Ibu yang akan menemaniku menjaga Rama. Reno dan ayahnya pulang.
***
Ibu tidur di sofa. Sebenarnya, ada kasur lipat untukku, tetapi aku memilih tidur di kursi samping ranjang Rama agar tetap dekat dengannya. Tiba-tiba, aku terjaga dari tidurku ketika Rama memanggilku, “Mi,”
Aku melihat jam menunjukkan pukul lima pagi. Ibu sudah bersiap-siap.
“Ibu mau ke mana?”
“Ibu mau cari sarapan dulu di pasar. Nanti, kalau kesiangan, pasti kejebak macet.”
“Oh, iya. Ibu hati-hati, ya,”
Ibu pun berangkat ke pasar. Aku menuju kamar mandi untuk membersihkan diri, mungkin tidak lebih dari sepuluh menit. Aku lupa bahwa Rama tadi terbangun lalu memanggilku. Setelah keluar dari kamar mandi, aku langsung menghampiri Rama. Tiba-tiba, terdengar pintu terbuka. Reno dan ayahnya.
Reno berlari dan memelukku dari belakang. Aku mendengar suara tangisannya.
“Kenapa, Ren? Jangan cengeng gini, ah. Mami nggak suka.” tanyaku seraya mengusap air matanya.
“Reno mimpi Adek meninggalkan kita semua, Mi,”
Aku kaget mendengar cerita reno. Spontan, aku menamparnya. Lalu, aku menutup mulutku. Bulir-bulir air mataku berjatuhan. Inilah kelemahanku, aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri ketika mendengar atau melihat sesuatu yang tidak aku kehendaki.
Suamiku memeluk Reno. Kemudian, aku duduk di samping ranjang Rama. Aku mengelus tangannya sambil menangis. Aku merasa seakan-akan mimpi reno akan terjadi. Kutatap wajah Rama. Entah kenapa, wajah Rama semakin tampan. Kucium keningnya kemudian dia membuka mata perlahan.
“Mi … Adek capek.”
“Capek kenapa, Dek?”
“Adek capek di sini terus. Adek capek sakit terus.”
Aku benar-benar tidak bisa menahan tangisku. Kulihat Ibu datang kemudian beliau memelukku. Sakratulmaut menghampiri Rama. Aku memeluk tubuh Ibu erat. Aku tak kuasa melihat Rama kesakitan. Samar-samar kudengar ibu dan suamiku menuntun Rama ke peristirahatan selanjutnya.
***
Bu Setya melepas kacamata dan mengusap air matanya. Beliau menceritakan kejadian yang membuat dirinya begitu rapuh seakan-akan separuh nyawanya telah hilang, pergi tidak akan pernah kembali. Beberapa temanku menangis ketika mendengar cerita Bu Setya.
“Sekuat apa pun kita menahan, jika Tuhan telah berkata ‘Inilah saatnya,’ tak ada lagi yang bisa kita lakukan kecuali pasrah. Dan, sekeras apa pun kita berusaha untuk menjadi sosok yang tegar, pasti tetap akan ada hal-hal yang membuat kita rapuh. Karena sejatinya, manusia hanyalah manusia—tetap memiliki kelemahan.”
Aku bertepuk tangan sambil berdiri. Teman-temanku pun mengikutiku. Aku melihat Bu Setya tersenyum.
Kring‼!
Bel jam kedua berbunyi. Bu Setya pamit dan keluar kelas. Kami tersenyum, menanti cerita beliau lain kali.