Tidak ada satupun yang ada atau terjadi di dunia ini tanpa sebuah alasan. Begitu juga dengan keberadaanmu. Saat waktu sulit itu datang, sesungguhnya yang kamu hanya belum menemukan alasan itu. Jika kamu merasa sudah menemukannya dan kemudian pergi juga darimu, temukan alasan lain yang sudah disiapkan Tuhanmu di depan. Tuhanmu tidak akan membuat sesuatu tanpa sebab, Dia tidak bodoh.
Alasan
Yuspika Ayu
Jalanan pagi ini lengang, hanya satu-dua kendaraan melintas dengan kecepatan sedang. Jauh dari hari biasa yang selalu macet. Mungkin karena libur nasional hanya sehari, orang-orang lebih memilih tinggal di rumah untuk mengistirahatkan diri dari rutinitas kerja yang melelahkan. Ini bak. Setidaknya orang bisa berjalan tanpa terganggu. Tidak ada suara klakson, padatnya pejalan kaki di trotoar dan banyak lagi bagian lain hiruk pikuk kota ini.
Seorang wanita berjalan kaki dengan santai, lagi-lagi menikmati hembusan angin yang terasa amat sejuk. Menuju sebuah perpustakaan di ujung gugusan gedung bertingkat yang memamerkan keindahannya pada setiap pengguna jalan.
Dia tiba, pintu kaca di hadapannya terbuka secara otomatis. Seorang pria tampan yang duduk di balik meja penerima tamu tersenyum lebar begitu melihat dia datang. Dia adalah Peter, yang entah sudah berapa lama bekerja di sini.
“Selamat pagi, Elijah. Kau cantik sekali hari ini. Hari ini tidak kerja, ya? Terima kasih sudah memilih tempat ini untuk berlibur. Have a nice day. ” Sapa Peter.
“Selamat pagi juga, Peter. Terima kasih banyak, pujianmu itu sangat membantu. Ya, aku tidak bekerja dan membuat pikiranku banyak terisi hal-hal yang menjadikan suasana hati tidak begitu baik. Aku harus memenuhinya dengan banyak kalimat dan tidak menyisakan tempat bagi hal yang kurang bagus untuk dipikirkan. Begitu juga denganmu. Semoga kerja di hari libur begini tidak membuatmu tertekan.” Jawab Elijah.
“Terima kasih, kau selalu yang terbaik dalam memahami orang lain.”
Elijah berjalan menuju rak buku dan mencari karya penulis favoritnya, kemudian duduk tempat favoritnya setidaknya enam tahun terakhir. Tempat duduk paling ujung di sisi kanan atas ruang baca, dekat dengan jendela.
Buku yang dibacanya kini, entah sudah berapa kali ada di tangannya. Begitu juga dengan semua kaya penulis ini. Meskipun begitu, setiap kata dalam buku itu selalu mengingatkannya kepada sebuah alasan. Alasan untuk bertahan dengan baik. Hidup dengan keyakinan bahwa sesuatu yang buruk pasti akan berlalu walau tidak diketahui kapan. Dari buku-buku tulisan orang ini juga Elijah selalu memiliki gairah untuk menulis. Membalas yang ditangkapnya setiap hari dari mereka dan tetap melakukannya terus meski sampai kapanpun dia tidak akan memperoleh jawaban kembali.
Orang yang menulis buku itu tidak seperti penulis kebanyakan. Mereka hanya rekan seprofesi yang sesekali bertemu dan mengobrol atau bersaing jumlah penjualan buku. Tapi satu orang ini, dia adalah alasan dari sebagian besar pilihan yang diambil Elijah dalam hidupnya.
Edward, begitu orang menyebutnya. Saat orang ini menduduki masa kejayaannya sebagai penulis, Elijah masih duduk di kelas dua SMA. Pertemuan pertama mereka adalah ketika Edward diam-diam mengunjungi perpustakaan ini untuk mengecek apakah bukunya sudah ada di sini. Saat itu Elijah sedang di tempatnya sekarang duduk, sedang melukai tangannya sendiri sambil membaca. Itu adalah awal dari penemuan alasan bagi Elijah remaja untuk banyak hal.
Elijah remaja adalah gadis yang hampir gila karena menghadapi tuntutan orang lain. Orang tua yang menuntutnya menjadi lebih dari anak lain, sekolah yang menuntutnya menjadi yang terbaik, juga lingkungan yang selalu merubah standar bagaimana orang bisa disebut ‘orang baik’. Masa mudanya menjadi masa terburuk karena disibukkan dengan hal-hal macam ini. Saat Elijah berada di titik lelahnya, gadis ini kehilangan rasanya. Bahkan ketika dia menusuk tangannya dan mengeluarkan banyak darah, dia sama sekali tidak merasa sakit.
Elijah remaja tidak peduli seorang penulis ternama sedang ada di hadapannya dan membalut lukanya tanpa izin. Pikirannya kosong, tidak satupun dari banyaknya perkataan yang keluar dari mulut orang itu masuk ke kepalanya. Kemudian hari itu berlalu begitu saja.
Orang terkenal ini ternyata tidak melupakan Elijah, justru terus mengikutinya dan berusaha membuat gadis itu mendapatkan lagi perasaannya yang hampir hilang. Manusia setengah robot yang terus menerima perintah untuk memiliki suatu kepribadian dan melakukannya tepat seperti yang diperintahkan. Sama sekali tidak hidup untuk dirinya.
Pertengahan musim panas setahun setelahnya, kecelakaan hebat mengambil ayah dan ibu Elijah. Gadis ini kemudian kehilangan pihak yang memberinya perintah, menjadi tidak tahu apa yang harus dilakukan. Ini masa yang tidak mudah bagi seorang siswi kelas tiga SMA, tapi tidak ada seorangpun yang memperlakukannya sebagai orang yang baru saja kehilangan hal paling berharga dalam hidup anak seusia itu. Ketika yang dianggapnya hidup itu sudah tidak lagi dimiliki, tuntutan yang harus dia penuhi justru semakin besar dan lebih banyak orang yang melakukan itu padanya.
Pada akhirnya Elijah menjadi salah satu dari pasien di rumah sakit jiwa. Dunia membuangnya karena dia tidak berhasil menjadi seperti yang diinginkan. Diperlakukan seperti orang gila sungguh bukan sesuatu yang menyenangkan, tapi itu justru baik menurut Elijah. Setidaknya di tempat ini tidak ada satupun orang yang menuntutnya harus bersikap seperti apa atau harus mencapai tingkat apa atau harus memiliki apa untuk dihargai. Selain itu semua, hari Jumat pagi selalu menjadi hari terbaik yang membawa rasa nyaman sepanjang minggu. Sesi konseling dengan dokter yang mengajarinya banyak hal, Edward. Si penulis terkenal yang dulu membalut lukanya.
Pria itu mengajarinya hal-hal baru dan mengatakan banyak alasan kenapa orang harus tertawa atau tersenyum saja atau bahkan menangis dan marah. Dia juga mengajarkan sesuatu yang harus dimiliki itu ada bukan untuk merubah sikap orang lain terhadap diri kita, tetapi itu semua murni untuk diri sendiri, memenuhi kebutuhan akan kenyamanan dan kemudahan. Elijah remaja menjadi lebih manusiawi dan memahami emosi karena pengertian yang diberikan dokter ini.
Setelah Elijah remaja mulai memiliki dirinya sendiri dan belajar menjadi manusia seutuhnya dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang benar, tidak semua yang terjadi setelahnya adalah hal-hal yang baik. Emosi sedih, marah dan banyak lagi yang lain, yang selama ini tidak pernah keluar, muncul ke permukaan secara membabi buta. Elijah bukan hanya tidak tahu apa yang harus dilakukan, tetapi mulai memahami apa itu putus asa dan perasaan ingin menyelesaikan hidup dengan semua urusannya yang tidak pernah mengizinkannya bernapas dengan lega.
Sebagai seorang pasien, masa-masa sulit dapat dilalui gadis ini bersama para dokter yang membantunya. Di jadwal pertemuannya dengan Edward, dokter ini kemudian mulai menjelaskan tentang alasan.
Sesuatu yang dipanggil Tuhan, yang diyakini manusia sebagai sosok pencipta yang maha kuasa atas segala sesuatu dan maha segala dari segalanya tidak membuat sesuatu ada atau terjadi dengan sembarang. Dia memiliki alasan dan tujuan yang jelas kenapa menciptakan manusia, kenapa manusia memiliki semua alat dan organ dalam tubuhnya. Pasti ada sesuatu yang bisa dilakukan manusia dengan baik menggunakan pemberian-pemberian luar biasa itu. Dari situ Elijah remaja tahu, melukai tangannya sendiri juga sama artinya dengan tidak menghargai pemberian Tuhan. Kemudian Edward mengajarinya menggunakan pemberian ini untuk sesuatu yang lebih baik. Memegang buku saja dan membacanya. Atau menulis.
Jadwal pertemuan Elijah remaja dengan dokter Edward semakin berkurang karena kemajuan kondisinya yang berjalan relatif cepat. Ini sama artinya juga dengan waktunya dirawat di tempat ini akan segera berakhir. Sesekali Edward menitipkan catatan kecil melalui perawat yang memberinya obat. Menanyakan kabar dan mengecek apakah aku sudah menemukan alasan untuk melakukan atau menginginkan sesuatu. Pada pertemuan terakhir mereka sebelum Elijah dipulangkan, gadis cerdas yang polos ini mengatakan saja tanpa pikir panjang ketika Edward kembali menanyakan hal yang sama. Membuat dokter muda ini menatapnya sambil tersenyum. Senyum yang belum bisa diartikannya dengan baik waktu itu, dan terasa aneh. Bagaimana senyum orang lain membuat jantung hampir berpindah dari tempatnya?
Meskipun hari itu menjadi kenangan paling memalukan yang dimiliki Elijah, tetap saja itu baik menurutnya. Sampai hari ini di usianya yang tidak lagi bisa dibilang muda, dia masih mengingat setiap kata yang dia katakan atau dengar hari itu.
“Terima kasih, Elijah. Kamu pandai sekali. Tapi bersamaku sama sekali bukan keinginan yang baik. Kamu mungkin akan menyesali keinginanmu atau sedih bahkan sakit.”
“Bukankah dokter bilang itu semua wajar dirasakan manusia?”
“Iya, betul sekali. Manusia memang punya waktu semacam itu. Hanya saja, aku tidak ingin kamu melalui saat seperti itu lagi. Itu karena sesuatu yang kita kenal dengan kepedulian. Atau, pada kasus kita di sini adalah, kasih sayang.”
“Aku tidak paham, dokter.”
“Tidak apa-apa, itu wajar. Aku harap kita bisa bertemu saat kamu sudah dewasa nanti, Elijah. Jika itu bisa terjadi, aku akan sangat bersyukur dan memberimu penjelasan yang mudah dipahami.”
“Kenapa lama sekali, jadi dokter tidak menyukaiku?”
“Apa itu berarti sama? Kamu akan tahu nanti. Setelah keluar dari sini, lakukan yang terbaik sesuai yang kamu inginkan. Jika sempat, sesekali datanglah ke perpustakaan dan baca bukuku. Memang hanya rangkaian kata yang penuh dengan hayalan. Fiktif. Tapi aku harap itu bisa menggantikan jadwal Jumat pagi kita.”
Elijah kembali menjadi bagian dari dunia setelah keluar dari tempat itu. Menjadi lebih baik, diterima dan tidak lagi merasa harus memenuhi tuntutan siapapun. Hidup normal dan menjalani aktivitasnya dengan senang hati meskipun kadang saat sulit tetap datang. Dia selalu berhasil menemukan alasan bangkit setelah jatuh. Di sisi lain, Elijah merasa ada rindu yang membuatnya sangat tidak nyaman, karena sejak hari itu dia tak sekalipun bertemu dengan Edward.
Dengan banyak persiapan yang tak sadar menghabiskan begitu banyak waktu, Elijah memutuskan untuk mendatangi Edward di rumah sakit. Tapi pria itu tidak ada di sana. Perawat yang dulu sering mendatangi kamarnya memberikan alamat rumah Edward. Tempat itu juga tidak memberi jawaban yang diharapkannya. Pembantu di rumahnya memberikan kotak berisi banyak buku Edward. Wanita paruh baya itu mengatakan bahwa tuannya melarang dia mengatakan apapun kecuali menyerahkan kotak itu jika seorang gadis bernama Elijah mencarinya.
Ini adalah akhir dari cinta bertepuk sebelah tangan, setidaknya menurut Elijah yang sedang dalam masa transisi menuju dewasa. Akhir yang memalukan, tentu saja. Buku-buku dalam kotak itu dibiarkannya begitu saja, tak selembarpun dari mereka yang dibacanya.
Kemudian Elijah menemukan alasan untuk setidaknya membaca buku-buku itu. Mereka hanya benda mati, tidak ada hubungannya dengan perasaan bodohnya. Buku-buku itu, mereka berbicara lebih banyak dibandingkan Edward selama ini. Semua memang digambarkan dengan samar, tapi dia tahu betul apa yang sedang Edward ceritakan. Terbitan awal tahun ini. Pria itu tidak sedang menceritakan orang lain.
Buku terakhir menjelaskan paling banyak. Hal konyol yang membuatnya sulit mengenali diri sendiri. Tanpa sadar membiarkan seorang gadis kecil masuk dalam sekali dan tersesat, tidak menemukan jalan keluar. Terlalu dalam di hatinya. Keinginan yang membuatnya begitu serakah sehingga menggunakan kekuasaannya untuk menempatkan gadis ini di dekatnya, memastikan dengan tangannya sendiri gadis itu menjadi manusia seutuhnya.
Dia menceritakan juga tentang sesuatu yang menggerogoti tubuhnya dari dalam, yang kemudian memaksa dirinya mendorong keserakahan itu jauh-jauh. Dia tahu betul apa yang akan terjadi padanya, dan itu membuatnya tidak ingin gadisnya jatuh ke saat tersulit lagi. Tapi dia tidak kehilangan alasannya untuk berharap. Berharap bisa menemui gadis kecil itu suatu hari saat saat kondisinya lebih baik, setidaknya sebaik hari terakhir mereka bertemu.
Setelah halaman terakhir, terdapat selembar kertas. ‘Hanya terbuka jika yang terjadi tidak sesuai harapanku,’ tertulis di bagian depan. Kertas itu berisi tulisan tangannya. Bukan kata spesial, hanya rangkaian kalimat yang sering diucapkannya dulu, di ruang konseling rumah sakit jiwa.
“Hidup memang tidak pernah terasa ringan, selalu ada alasan untuk menyerah atau meninggalkan semuanya atau mati saja. Tapi percayalah, hidup tetap menjadi pilihan terbaik. Berjuang, bertahan dan buktikan bahwa kamu layak untuk ada di dunia ini. Sebab, tidak ada satupun yang ada atau terjadi di dunia ini tanpa sebuah alasan. Begitu juga dengan keberadaanmu. Saat waktu sulit itu datang, sesungguhnya yang kamu hanya belum menemukan alasan itu. Jika kamu merasa sudah menemukannya dan kemudian pergi juga darimu, temukan alasan lain yang sudah disiapkan Tuhanmu di depan. Tuhanmu tidak akan membuat sesuatu tanpa sebab, Dia tidak bodoh.”
Selesai.