Hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan, biar waktu yang menjadi obat.
“Hidup harus terus berlanjut, tidak peduli seberapa menyakitkan atau membahagiakan, biar waktu yang menjadi obat”
Dzaki tersenyum membaca kutipan dalam diari itu. Sebuah diari berwarna biru langit dengan selembar foto latar Elizabeth Tower, menghiasi sampul diari itu. Dzaki tidak sabar untuk bertemu dengan sang pemilik, untuk mengembalikan diari yang ia temukan kemarin di kampus. Setelah berhasil mengontak sang pemilik diari, Dzaki pun setuju untuk mengembalikan diari tersebut di cafe dekat kampus Dzaki.
Lonceng cafe berbunyi, menandakan seseorang tengah bergerak masuk ke dalam cafe. Dzaki menoleh ke arah pintu. Terlihat seorang wanita berjalan ke arah Dzaki. Itu pasti dia, si pemilik diari yang sedang Dzaki tunggu. Ya, seorang wanita berusia sekitar 20an bernama Hana Assyifa. Dan hari ini Dzaki akan meminta klarifikasi dari segala cerita yang tertulis dalam diari itu.
“Hai, aku Hana. Kamu pasti Dzaki kan?” Seorang wanita berdiri dan mengulurkan tangannya ke arah Dzaki, hendak berjabat tangan.
Dzaki balas menjabat tangan Hana. “Tentu, silahkan duduk”
“Kukira aku akan kesulitan menemukanmu, ternyata hanya kau pelanggan di cafe ini” Hana duduk berseberangan dengan Dzaki.
“Mmh.. jangan khawatir, aku selalu jadi pelanggan pertama di sini”
“Benarkah? Awal yang baik untuk memulai hari ya?”
Dzaki tersenyum kemudian menyodorkan diari itu ke arah Hana “Akan kukembalikan diarimu tapi dengan satu syarat”
“Wah.. kukira kau akan mengembalikannya secara cuma-cuma, apa syaratnya?”
“Maukah kau menceritakan seluruh kisah yang tertulis di dalam diari ini”
Hana melirik jam tangannya, waktu menunjukkan pukul 08.35. “Kau beruntung, aku masih punya waktu hingga pukul 10.00”
Dzaki membuka diari biru itu dan menunjuk ke sebuah halaman “Kita mulai dari halaman pertama, tanggal 9 November 2009”.
Hana mengangguk pelan, meneguk espressonya dan memperbaiki posisi duduk. Dan cerita pun dimulai.
***
9 November 2009
Aku tahu semua orang punya mimpi. Dan kurasa kali ini tibalah giliranku. Bolehkan aku bermimpi? Aku tidak perlu membayarkan untuk sekadar bermimpi? Karena jika itu harus berbayar, aku pasti takkan sanggup mendapatkannya.
Malam ini cukup dingin bagi Hana. Ibunya sedang memasak, sementara bapaknya sedang meneguk segelas kopi sambil membaca koran tadi pagi. Hana menghampiri bapaknya, ingin mengatakan sesuatu yang penting. Hana duduk di samping bapaknya dan mengatakan sesuatu yang juga terdengar oleh ibunya.
“Pak, bu, setelah lulus Hana akan kuliah dan menjadi dokter”
Sebuah kalimat terlontar begitu saja dari mulut Hana, membuat ruangan menjadi lengang. Hana menatap orang tuanya. Tenggorokannya tercekat, ia menggigit bibir bawahnya. Ada desiran di hati Hana setelah mengatakannya. Orang tuanya hanya diam, tidak memberikan reaksi apapun. Seakan apa yang Hana katakan hanyalah angin yang lewat begitu saja.
Hana tahu, bagi orang tuanya itu hanya sekadar angan. Tapi tak bisa dipungkiri, Hana sangat menginginkan hal itu. Hana sudah bertekad bahwa bagaimanapun keadaannya dan seperti apapun latar belakang ekonomi keluarganya, Hana harus bisa berkuliah. Hana tidak bisa terus hidup seperti ini, sudah merupakan tanggung jawabnya untuk bisa menaikkan derajat keluarga, meskipun itu harus ditempuh dengan pengorbanan yang tidak sedikit.
Demi mewujudkan tekad, Hana pun mengikuti berbagai macam lomba. Dari mulai lomba menulis, membaca puisi, berpidato, debat hingga lomba sari tilawah pun ia lakoni. Dan syukurlah, hampir seluruh lomba yang Hana ikuti berhasil ia menangkan. Alhasil, Hana pun mendapatkan uang atas kemenangannya yang kemudian bisa ditabung untuk meringankan beban orang tua.
Hana terus berusaha melatih kemampuannya. Inilah saat yang tepat bagi Hana untuk mempersiapkan diri untuk bisa bersaing dan diterima di Universitas yang ia dambakan. Dan agar mimpinya tidak hanya sekadar angan. Untuk membuktikan bahwa berasal dari keluarga petani sekali pun, tidaklah menutup kemungkinan untuk bisa berkarya dan menjadi kebanggaan di Negeri tercinta ini.
31 Oktober 2010
Senja kala itu sangat menyakitkan. Aku ingin menangis sejadi-jadinya, tapi tangisanku kalah oleh hujan pasir yang datang lebih hebat. Aku tidak tahu bagaimana kelanjutan hidupku setelah ini. Segalanya terasa menyesakkan.
Sudah hampir seminggu Hana berada di tenda pengungsian akibat peristiwa meletusnya gunung Merapi. Kala itu, waktu sudah menunjukkan pukul 17.00. Suara sirine menyalak kencang dari atas menara pos pengamatan. Zona awas Merapi yang pada awalnya hanya radius 5 km, diperluas menjadi radius 20 km.
Hana yang saat itu sedang berada di kamar, buru-buru keluar rumah bersama ibunya, sementaranya bapaknya sedang berjaga di pos. Semua orang keluar rumah dan lari berhamburan untuk menyelamatkan diri, begitu pun Hana dan ibunya.
Hana dan ibunya sudah berlari cukup jauh, ibu Hana sudah tidak kuat lagi untuk berlari. Ibunya tau, mereka tak akan sempat. Merapi sudah bersiap untuk memuntahkan lahar panasnya. Saat itulah, layaknya sebuah keajaiban seorang anak laki-laki menggunakan sepeda hendak meluncur melewati Hana dan ibunya. Ibu Hana mencegat anak laki-laki itu dan memaksanya untuk membawa Hana dengan sepedanya. Setelah perdebatan singkat terjadi, anak laki-laki itu pun setuju dengan permintaan ibu Hana. Hana pun duduk di jok belakang sepeda.
“Kamu harus selamat Hana, pergilah dan tetaplah hidup, bukankah kau mau jadi seorang dokter?”
Sepeda mulai bergerak, meluncur menuruni jalan yang menukik bersamaan dengan itu tetes-tetes air jatuh di pelupuk mata Hana “Ibu...”
Setelah bersepeda sekitar 2 km, Hana dan anak laki-laki itu akhirnya menemukan salah satu pos pengamatan di desa seberang. Mereka menumpang mobil dengan para penjaga pos yang juga tengah bersiap-siap menuju ke tempat pengungsian yang cukup jauh dari lokasi Merapi. Hana dan anak laki-laki itu duduk bersebrangan bersama para penjaga pos lainnya di belakang mobil pick up yang melaju cepat menjauhi Merapi.
Tepat sesampainya Hana dan Fadil di tempat pengungsian, Merapi pun meletus. Suara gemuruhnya terdengar hingga 20 km. Hawa panas menguasai atmosfir. Semua orang di tenda menundukkan kepala, berdoa dan berharap nyawa mereka akan baik-baik saja. Tapi tidak dengan Hana, ia justru menatap Merapi yang tengah memuntahkan lahar. Pikirannya tertuju pada nasib orangtuanya yang entah dimana sekarang. Hana hanya bisa berdoa agar orang tuanya baik-baik saja.
Hana tengah duduk di taman. Matanya mulai berkaca-kaca, mengingat orang tuanya. Ia baru mendapat kabar dari salah satu petugas evakuasi korban Merapi bahwa nama kedua orang tua Hana terdapat dalam daftar korban Merapi. Tetes demi tetes air mata jatuh. Hati Hana sakit, tak ada lagi yang tersisa. Ketika Hana telah yakin akan mimpinya, dunia justru menghancurkannya, seakan tak mau berpihak padanya. Hana tidak tahu lagi bagaimana hidupnya selanjutnya. Namun tak peduli seberapa menyakitkan pun, hidupnya harus terus berjalan.
8 September 2011
Aku tidak tahu ini menyenangkan atau menyedihkan? Tentang mimpinya yang mungkin akan menjadi nyata atau justru perpisahan yang akan segera menghampiri. Baik atau buruk, lagi-lagi aku terpaksa merindu.
Hari-hari berlalu sejak peristiwa meletusnya Merapi. Kini Hana tinggal di sebuah panti asuhan bersama dengan anak-anak korban Merapi lainnya. Setiap hari Hana selalu bangun jam 4 pagi, membantu menyiapkan sarapan, kemudian berangkat ke sekolah. Menjelang sore Hana membantu penjaga panti menyiapkan makan malam. Setelah itu, Hana mengajar les privat dari rumah ke rumah di sebuah perkomplekan dekat panti. Hana hampir tak punya waktu senggang. Waktu luangnya hanya setelah pulang sekolah sekitar jam 2 siang hingga jam 4 sore, itupun harus ia gunakan untuk mengerjakan tugas-tugas sekolah.
Satu-satunya hari yang paling Hana tunggu tentu saja hari libur, dimana ia tidak perlu pergi ke sekolah ataupun mengajar les. Seperti hari ini misalnya, Hana tengah duduk di sebuah taman, menikmati hari liburnya yang sangat singkat.
Seorang laki-laki menyodorkan minuman ke arah Hana yang langsung diterima olehnya. Laki-laki itu duduk di sebelah Hana dan meneguk minumannya. Laki-laki yang membawa Hana meloloskan diri dari kejamnya sosok Merapi setahun yang lalu, laki-laki yang begitu baik. Ya, dialah Fadil.
“Kau berniat untuk kuliah setelah ini?” tanya Fadil. Hana mengangguk kecil.
“Dimana?”
“Di kota ini”
Fadil menatap Hana lekat “Aku akan kuliah di luar kota. Ada keluarga yang ingin mengadopsiku dan bersedia membiayai kuliahku di sana”
“Syukurlah, aku sangat senang mendengarnya”
“Setahun lagi dan setelah itu kita akan berpisah. Kuharap kita akan bertemu lagi” ucap Fadil.
Hana hanya tersenyum. Detik-detik berharga bersama Fadil. Kenangan indah yang setahun kemudian tak bisa lagi Hana dapatkan. Dan sekali lagi, Hana terpaksa berpisah dengan seseorang yang berharga. Meskipun begitu, kenangan tetaplah kenangan, biarlah waktu yang menjadi obat. Obat atas kerinduan yang telah ia tahan setelah sekian tahun kemudian.
12 Desember 2013
Berjuang memang melelahkan. Tapi biarlah, biarkan aku memetik buah manis atas pahitnya perjuangan.
Sudah 3 tahun sejak perpisahan Hana dengan Fadil. Kini Hana tinggal di asrama kampusnya. Hana berhasil diterima di Fakultas Kesehatan di sebuah kampus ternama di Yogyakarta. Ini suatu kebanggaan bagi Hana sekaligus tantangan baru yang harus ia lalui.
Hana selalu berusaha meningkatkan prestasinya. Ia terus berjuang, ia bahkan memangkas waktu tidurnya menjadi 4 jam sehari. Banyak hal yang harus Hana kerjakan setiap hari. Dari mulai menghadiri kelas, mengerjakan tugas kuliah, rapat organisasi, membuat berbagai macam karya tulis, mengikuti perlombaan dan juga mengajar les.
Tahun ini Hana berhasil menjadi ketua BEM di Fakultasnya. Ia juga berhasil menjadi Mahasiswa Berprestasi tahun ini. Ia telah membuktikan kepada orang tuanya, bahwa mimpinya bukan hanya sekadar angan. Hana sudah melangkah jauh sekali. Sedikit demi sedikit, ia mulai memetik buah manis atas perjuangan yang telah lama ditanamnya.
28 April 2016
Hari yang dinanti itu kini telah tiba. Setelah semua yang telah kuperjuangkan, aku pantas mendapatkannya kan? Dan kini, jalan hidup yang baru akan segera dimulai.
Ini tahun kelulusan Hana sebagai sarjana. Hari yang begitu dinanti selama 4 tahun silam. Topi toga bertengger manis di kepala Hana, medali kelulusan tergantung di leher mungilnya dan tak lupa selendang bertuliskan kata “Cumlaude” berhasil mencuri pandangan setiap orang yang melihat Hana saat itu. Ya, tentu saja Hana berhasil menjadi lulusan terbaik tahun ini.
Hana menatap langit biru, tetes air mata mengalir begitu saja. Rasa syukur tak henti-hentinya ia ucapkan. Ia akan menempuh jalan hidup yang baru. Mimpinya kali ini akan ia tempuh di tempat yang sangat jauh. Tempat yang belum pernah Hana kunjungi. Dan tempat ini akan menjadi catatan bersejarah hidup Hana selanjutnya.
Bulan depan Hana akan terbang ke kota london untuk melanjutkan S2 di sana. Hana telah diterima sebagai mahasiswa pasca sarjana di salah satu kampus ternama di london, Oxford University. Setelah serangkaian tes yang harus Hana lalui, akhirnya keberuntungan pun berpihak pada Hana. Ia diterima dengan program beasiswa dari pemerintah. Ia tidak perlu memikirkan soal keuangannya di sana. Ia hanya perlu belajar dan menjadi yang terbaik, membanggakan kedua orang tua serta menjadi kebanggaan di Negeri tercinta ini.
***
Dzaki dan Hana meneguk espressonya. Tersisa 20 menit lagi waktu Hana. Isi gelas espressonya tinggal sepertiga lagi.
“Kisah hidup yang luar biasa, setelah segala yang telah kau lakukan tentu saja kau pantas mendapatkan yang terbaik” komentar Dzaki.
Hana tersenyum kecil “Kupikir takdir takkan berpihak padaku, ternyata hanya masalah waktu”
“Ya waktu, dan ini waktu yang tepat untuk bertemu”
Hana menaikkan sebelah alisnya “Bertemu? Apa maksudmu tuan Dzaki?”
“Biarkan aku bertanya sesuatu, apa kau masih ingat dengan anak laki-laki bernama Fadil itu?”
“Tentu saja aku ingat” Hana tidak mengerti mengapa Dzaki malah mempertanyakan hal itu.
“Apa kau ingin bertemu dengannya? Kau merindukannya?” Dzaki menatap Hana lekat, berharap jawaban Hana sesuai dengan ekspetasinya.
Hana memalingkan wajah, menatap ke arah lain. Tatapan matanya tidak bisa membohongi Dzaki bahwa ia memang merindukan anak laki-laki itu.
“Lihat aku Hana, aku merindukanmu” kata-kata itu terlontar begitu saja dari mulut Dzaki, membuat Hana menatapnya kebingungan.
“Aku, anak laki-laki yang 7 tahun lalu melewati peristiwa Merapi itu bersamamu, akulah Fadil, Dzaki Fadillah, tidakkah kau mengenalku?”
Hana menerjapkan matanya berkali-kali, tidak percaya dengan apa yang didengarnya barusan. Bagaimana mungkin, takdir kembali mengantarkannya kepada lelaki itu. Hana ragu-ragu, tapi hatinya berharap bahwa apa yang Dzaki katakan barusan memanglah benar.
“Bagaimana mungkin..” Hana mengerutkan keningnya, menatap Dzaki heran.
“Setelah aku menyelesaikan S1, orang tua angkatku setuju untuk membiarkanku terbang ke kota ini, melanjutkan studi S2 di sini, di kampus yang sama denganmu” terang Dzaki.
“Aku masih ingat perbincangan kita di taman waktu itu, betapa aku tidak ingin berpisah denganmu. Kuharap kita tidak akan berpisah lagi setelah ini”
Hana menaikkan sebelah alisnya “Jadi ini takdir?”
Dzaki tertawa kecil “Kau masih mau mengelak?”
“Tidak, aku bersyukur bertemu denganmu lagi dan terima kasih untuk 7 tahun yang lalu, Fadil” tatapan mata Hana menyorotkan kehangatan.
“Mmh.. pada akhirnya takdir memilih untuk mempertemukan kita kembali setelah sekian tahun berlalu” ucap Dzaki.
Hana dan Dzaki tersenyum. Keduanya mengangkat gelas espressonya masing-masing. 2 gelas itu sengaja ditabrakkan, membentuk pola bersulang. Masing-masing pemiliknya meneguk habis espressonya sambil terus menatap, melepas kerinduan yang telah lama bersemayam dalam hati. Dan waktu berhasil menjadi obat atas keduanya.