"Jodoh pasti bertemu?"
Probabilitas
Jemari Dewi beradu cepat di atas keyboard laptopnya. Sesekali matanya melirik jam di ujung bawah monitor. Empat puluh menit lagi menuju jam sembilan dan ia masih belum mandi. Perutnya yang lapar menambah penderitaannya pagi itu. Yah, siapa sangka tugas esai yang ia perkirakan akan selesai dalam dua jam ternyata butuh waktu lebih lama. Sebelumnya Dewi tak pernah berpikir bahwa seribu kata jumlah yang cukup banyak.
“A-a-aaaa! Flashdisk!” teriak Dewi panik.
Seketika gadis dengan rambut seperti sarang burung itu melompat dari kursi. Ia baru ingat kehilangan benda itu tempo hari.
Tok Tok Tok
Dewi mengetuk pintu kamar teman kosnya gusar. “Ca, punya flashdisk nggak? Boleh pinjem?” tanyanya begitu Caca, penghuni kamar itu membukakan pintu.
“Sebentar,” Caca masuk ke dalam kemudian mengambil sesuatu di mejanya. “Nih!”
“Pinjam dulu ya, Ca! Thanks!” kata Dewi begitu Caca menyerahkan flashdisk dengan gantungan manik-manik putih.
Nada dering marimba terdengar begitu Dewi mencapai kamarnya. Foto seorang gadis berjilbab dengan pipi tembam tersenyum di layar ponselnya. Dewi segera menerima panggilan itu kemudian menekan tombol loudspeaker.
“Halo, Dew! Udah berangkat belum?”
Dewi menancapkan flasdisk pada laptop kemudian jemarinya kembali bergerak lincah di atas keyboard.
“Belum, Vid.”
“Mau nitip bawain hekter dong.”
Mata Dewi menjelajahi meja saat Vidya menyebutkan benda itu. Tangan kirinya mencabut flasdisk sementara tangan kanannya mengaduk kotak ATK. “Ah! Ini dia!”
“Dewi naik apa?”
“Ojek online paling.” Dewi menjawab singkat, kini kedua tangannya sibuk memasukkan barang-barang ke dalam tas.
“Udah pesen?”
“Mandi aja belum,” kata Dewi setengah kesal. Ingin rasanya ia segera mematikan ponselnya.
“Ih, buruan atuh! Jangan mepet-mepet!”
Mau tak mau Dewi tersenyum saat logat Sunda gadis itu muncul. “Ho’ooh.. Udah ya Vid!”
Dalam sekejap Dewi masuk lalu keluar dari kamar mandi. Masalahnya tak ada baju yang sudah disetrika. Akhirnya Dewi memilih kaos yang terlihat cukup rapi meskipun baru diangkat dari jemuran. Rambutnya disisir asal-asalan lalu dicepol dengan jepit.
“Ah, pesen ojek dulu.”
Setelah mendapatkan driver, Dewi beralih ke cermin. Ia hanya sempat menyapukan pelembab dan lip balm karena ponselnya segera memberi notifikasi bahwa driver-nya telah tiba. Tanpa sempat memakai kaos kaki, Dewi pun segera keluar dengan flat shoes coklat andalannya.
“Teh Dewi?” tanya driver itu.
Dewi mengangguk dan segera menerima uluran helm dari laki-laki beperawakan tinggi kurus itu. “Dipati Ukur ya, pak.”
Dewi sedang mengirim chat ke Vidya, memeriksa apakah dosennya sudah masuk, saat laki-laki itu tiba-tiba bersuara. “Jurusan apa, teh?”
“Bahasa Inggris, ak.” jawab Vidya setelah melihat bayangan laki-laki itu di kaca spion.
@vidyaya: belum
@dewidwi: kelas udah rame?
Dewi tak begitu memperhatikan lagi karena sibuk chating dengan Vidya. Ia tak menyadari laki – laki yang memboncengnya diam – diam memperhatikan tingkahnya lewat kaca spion.
“Angkatan berapa?” suara bass yang lembut itu memaksa Dewi kepalanya sebentar lalu kembali sibuk menatap layar ponselnya.
“Lima belas.” jawab Dewi datar.
“Teh suka berangkat jam segini?” laki-laki itu bertanya lagi.
“Iya.” Dewi menjawab singkat.
“Saya habis antar adik saya tadi. Adik saya sekolah deket sini juga. Kebetulan ada order.”
“Oooh.”
Dewi menanggapi tanpa berpaling dari ponselnya.
@vidyaya: udah. dewi sampe mana?
Dewi mendongak, matanya melebar saat menyadari motor yang ia tumpangi bahkan belum keluar dari kompleks perumahan kosnya.
“Dari mana teh?”
Dewi terdiam sebentar. “Apanya?”
“Asal.”
“Jawa,” kata Dewi cuek.
“Jawa mana?” tanya laki-laki itu lagi.
“Tengah.”
“Tengahnya sebelah mana?”
“Deketnya Solo.” jawab Dewi gemas.
“Mananya?”
Jalanan cukup sepi tapi motor itu tetap melaju pelan. Tak terhitung berapa banyak pengguna jalan lain yang mendahului mereka. Dewi meulai geram, ia sedang dikejar waktu.
“Geyer,” ujarnya sewot.
“Oooalah, Geyer.”
Alis Dewi terangkat, ia langsung menatap bayangan laki–laki itu di kaca spion. Jika telinganya tidak salah laki-laki itu baru saja bicara dengan logat daerah yang lama tak ia dengar.
Lampu merah menyala dan motor itu semakin melambat hingga akhirnya berhenti di perempatan.
“Saya juga dari Geyer, mbak.” Laki-laki itu menengok ke belakang, tersenyum melihat Dewi yang semakin terkejut.
“Oh ya?”
Tanpa sadar ujung bibir Dewi naik. Memperlihatkan senyum yang lebar. Sulit sekali menemukan orang Geyer di kota besar ini. Bahkan hanya ada sepuluh orang di kampusnya, kebanyakan sudah tingkat akhir yang menunggu wisuda. Beberapa bahkan sudah bekerja.
“Ibu saya orang Geyer. Dulu saya tinggal dan sekolah di Geyer. SMA saya pindah ke Bandung.”
“Ooooh.”
Lampu hijau menyala. Motor kembali melaju, lurus melewati perempatan. Dewi tertegun. Harusnya mereka berbelok, lurus artinya memutar. Namun Dewi menenangkan dirinya sendiri, menjauhkan dari prasangka buruk, mungkin menghindari macet.
“Saya kuliah juga mbak. Swasta tapi. Satu tingkat di bawah mbak.”
“Oooh, anak kecil.” pikir Dewi.
“Tapi saya angkatan 14 mbak lulus SMA nya.”
Dewi membiarkan laki-laki itu bercerita, sementara dia menikmati angin yang menerpa wajahnya. Beberapa tiang lampu asing tampak di mata Dewi. Sejak kapan jalanan itu punya tiang-tiang lampu antik seperti di luar negeri? Tiba-tiba rasa kesalnya karena harus memutar jalan hilang.
“Sempet kerja dulu setahun, jadi saya masuk kuliahnya di bawah mbak.”
“Ooh.”
“Saya orangnya nekat mbak. Masih ada adik yang sekolah, udah sempet kerja juga waktu itu. Tapi saya nekat.”
Dewi menoleh karena suara laki-laki itu terdengar getir.
“Lhoo, nggak pa-pa mas. Saya juga nekat. Nggak punya saudara di sini tapi jauh-jauh ke sini. Punya adik juga.” tuturnya berusaha memberi dukungan.
“Tapi mbak hebat ya bisa kuliah di negeri.”
“Ah... saya malah salut sama yang sempet berhenti belajar satu tahun tapi masih bisa lanjut lagi.”
“Kalau aku sih males,” lanjut Dewi dalam hati.
Hening. Gerbang kampus mulai terlihat. Dewi melirik jam di layar ponselnya. Lima menit lagi. Sepertinya ia harus berlari ke kelasnya.
***
“Ya elah, Wi. Masa kamu baper sama driver ojek?” celetoh Caca setelah Dewi menceritakan kejadian tadi pagi.
“Nggak!” sangkal Dewi buru-buru. “Kan jarang gitu aku ketemu orang yang sedaerah.”
“Ganteng nggak mas nya?” goda Caca.
Dewi diam sebentar, mengingat-ingat. “Nggak tahu.”
“Yaaah, kok gitu?”
“Udah lupa, nggak begitu lihat.” Dewi berkata terus terang. Ia memang tak pernah bisa memandang wajah orang lain, apalagi laki-laki. Ia tak seberani Caca yang selalu menatap mata lawan bicaranya secara langsung.
“Lagian juga, nggak bakal ketemu lagi,” pikir Dewi dalam diam.
***
“Dewi!” teriakan Caca membangunkan Dewi dari tidur lelapnya. “Kamu nggak kuliah?”
“Hah?” Dewi menggeliat di dalam selimutnya. “Jam berapa?”
“Jam setengah sembilan.”
Sontak Dewi langsung terduduk, ia melemparkan selimutnya ke samping tempat tidur. Caca yang sedari tadi berdiri di sana kewalahan saat selimut Chelsea itu mengenai dirinya. “Bukannya kamu UAS ya pagi ini?”
Dewi mengangguk pasrah, sepertinya ia ketiduran lepas subuh tadi. “Ca, makasih ya udah dibangunin.” ujarnya menyahut baju ganti dan langsung bergegas masuk ke kamar mandi.
Caca menggelengkan kepalanya heran, “Siapa juga yang kesini buat bangunin kamu. Aku mau pinjem charger HP.”
“Oh! Haambil ajja di meijaa!” teriak Dewi tidak jelas. Dari suaranya Caca tahu gadis itu sedang sikat gigi.
“Dimana?” tanya Caca tak melihat apapun di meja.
“Meja!” Bunyi guyuran air terdengar sahut menyahut dengan kerasnya.
Caca menyingkap lembaran kertas fotokopian yang berserakan di atas meja kemudian menemukan charger beserta HP Dewi di sana.
“Udah ketemu, Ca?”
Caca mengangguk meski Dewi juga tak bisa melihatnya. “Udah!”
“Ca, tolong pesenin ojek online dong!”
“Oke.”
Lima belas menit kemudian, Dewi keluar dari kosan dengan tergesa-gesa. Di depan gerbang, tampak seorang laki-laki duduk di atas motor hitam siap mengulurkan helm untuk Dewi. Dewi tersenyum saat menerima helm itu, “Dipati Ukur ya Pak.”
“Siap.”
Dewi menggeser layar ponselnya, melihat jam. Aman. Ia punya cukup waktu untuk tiba di kelas.
“Mbak berangkat jam segini lagi?” laki-laki itu bertanya tiba-tiba.
Dewi mendongak, keningnya berkerut. “Ya?”
“Yaah, driver yang mangkal sekitar sini banyak. Yang tinggal di kosan itu juga banyak,” ujar laki-laki itu seperti hendak bermain tebak-tebakan.
“Ah, punten ak. Maksudnya?” tanya Dewi kebingungan.
“Mbak jurusan Bahasa Inggris ‘15 kan?”
Kening Dewi makin berkerut, “Kok tahu?”
“Iya, coba deh mbak kenapa.”
“Hmm, dulu pernah anter juga ak?” tebak Dewi.
“Nah!”
“Yang mana ya,” Dewi berkata pelan.
“Yaaaah, padahal driver di sini kan banyak ya mbak. Kalau dipikir-pikir probabilitasnya kecil.” tutur laki-laki itu masih memancing Dewi untuk menebak.
Dewi menghela nafas, “Punten ak, saya orangnya pelupa. Langsung aja.”
Otaknya sedang tak bisa berpikir lebih jauh lagi setelah digunakan semalaman. Ia sedang tak ingin main tebak-tebakan. Motor itu melaju melewati perempatan dalam diam. Dewi melirik ke kaca spion. “Mas yang habis nganter adiknya itu ya?” tanyanya hati-hati.
“Iyaa, tadi juga habis nganter adik.”
Ada nada kecewa dalam suara laki-laki itu.
“Oooh. Masih inget saya aja mas,” kata Dewi asal. Tiba-tiba merasa tidak enak, seolah-olah ia sudah melakukan kesalahan.
“Iya.” Laki-laki itu melirik ke kaca spion. “Saya inget suaranya tadi.”
Dewi terkesiap, bibirnya tersenyum tipis.
***
“Wi, please!” rayu Caca.
“Aku tuh udah lupa materi anak SMP, Ca.” Dewi bersikeras menolak. “Nggak, deh.”
“Ada bukunya kok, ujian SMP kan nggak susah-susah banget.” bujuk Caca.
“Ih, lagian kenapa sih Raka mesti ngajak kamu keluar? Dia tahu kan kamu ada jadwal nge-privat anak orang!”
“Wi, ini tu bukan sembarang ‘keluar’. Raka mau ngenalin aku ke ibunya.”
Dewi melongo, “Ibunya?”
Caca mengangguk. “Ya? Please! Anaknya baik kok, penurut. Tempatnya juga nggak jauh-jauh amat. Nanti aku anterin deh bentar.”
“Ya udah deh.” kata Dewi akhirnya setuju.
Begitulah Dewi terdampar di depan rumah asing dengan teras kecil yang dipenuhi tanaman dalam pot. Namanya Putri, siswi SMP kelas tiga yang secara privat les persiapan ujian pada Caca. Sejenak Dewi ragu untuk mengetuk pintu tapi kemudian seorang wanita cantik keluar dari sana.
Wanita itu mengerutkan kening, “Cari siapa?”
“Saya penggantinya Caca, guru les Putri.” jawab Dewi kikuk.
“Oh,” wanita itu melongok ke dalam. “Putri! Put! Guru les kamu nih!”
“Iya, kak!” seorang gadis kecil dengan rambut dikepang menyembul dari salah satu bilik kamar. Dewi membatin, imut sekali.
“Silakan masuk,” kata wanita tadi.
“Putri, nanti kalau Mas Angga balik bilangin kalau aku pulang dulu ya?” katanya pada Putri.
“Mbak Ratna udah mau pulang?” tanya Putri.
“Iya.” Wanita yang dipanggil Ratna itu menepuk bahu Putri. “Jas buat akad minggu depan aku taruh di kasurnya Mas Angga. Tolong ingetin Mas Angga buat nyoba ya?”
Putri mengangguk, “Siap!”
“Mbak pulang dulu ya.”
“Tadi itu kakaknya Putri?” tanya Dewi basa-basi.
“Bukan,” Putri menggeleng. “Kakak Putri laki-laki.”
“Oooh,” Dewi membalik buku di tangannya pelan. Benar, kata Caca memang ada anak laki-laki di rumah ini. Sebenarnya itulah yang membuat Dewi ragu untuk menggantikan Caca.
“Mas Angga lagi dapat order.” kata Putri tiba-tiba. “Paling bentar lagi balik.”
Dewi membuka tutup spidol bersemangat, “Jadi mau mulai dari mana?”
“Ah, tadi ada PR!” kata Putri setelah mengingat-ingat. “Mau bahas itu aja, kak.”
“PR?” Dewi mengerucutkan bibir. “Oke.”
“Sebentar, Kak! Aku ambil dulu bukunya.”
Gadis kecil itu melesat masuk ke salah satu kamar. Dewi menghela nafas. Matanya memperhatikan dinding yang mengelilingi ruang tamu. Ada foto keluarga di sana. Dewi bisa menebak mana orang yang dipanggil Angga oleh wanita tadi.
Suara mesin motor mendekat.
“Ratna! Sorry tadi ada order masuk.” seorang laki-laki masuk tanpa melepas helm khas penyedia layanan ojek online.
Dewi mengganguk dengan hormat ke laki-laki yang ia yakini juga penghuni rumah itu. Laki-laki itu balas mengangguk.
“Mbak–”
“Ah, saya pengganti guru lesnya Putri. Nama saya Dewi.” potong Dewi.
Laki-laki itu mengangguk paham.
***
Angga masuk dan langsung menghempaskan diri di tempat tidur. Ia menghela nafas. Dibukanya aplikasi berikon G dengan warna khas hijau itu. Ada yang harus ia pastikan. Untung ia belum menghapus riwayat orderannya.
Sudah lama sejak terakhir kali, wajar saja perempuan itu lupa. Bahkan Angga sempat lupa tadi kalau tidak mendengar suaranya.
“Waah, benar.” Angga terkesima saat menemukan nama yang ia cari di daftar riwayat.
Triiing!
@ratnaYY: jas ada di kasur.coba trus kirim fotonya ya! 
Angga menoleh. Setelan jas hitam terbungkus plastik rapi di sebelahnya. Benar, pasti bertemu belum tentu ‘jodoh’.