rafliest

Terkadang rejeki itu datang dari tempat, waktu dan orang yang tak pernah kita duga

Russian Roulette


Malam sudah menunjukan pukul sebelas, Dennis dan keluarga kecilnya masih berkelut dalam kelaparan, mereka miskin, itu ringkasnya. Dennis sendiri sudah genap dua bulan tidak memiliki pekerjaan, terakhir ia telah didepak dari pekerjaannya sebagai buruh pabrik, sekarang kemiskinannya makin menjadi-jadi.

Sebagai kepala keluarga, tentu sangat menyedihkan melihat anak dan istrinya memegang perut mengganjal lapar. Anaknya baru berumur 4 tahun, istrinya masih cantik belum menua, tapi memiliki pengalaman sengsara yang luar biasa.
Jika ada pekerjaan yang punya syarat masuk pengalaman miskin selama bertahun-tahun, maka mereka sekeluarga mungkin bisa melamar kerja disana.

Tak perlu ragu akan kemampuan mereka, sang legenda miskin yang tetap bertahan dari segala bahaya kekurangan. Sebenarnya ia hanya takut anak dan istrinya berubah jadi ganas dan menyantapnya menjadi sup ayah tak bertanggung jawab.
Ia memutuskan untuk keluar dari gubuk kecilnya dan mencari cara agar keluarganya bisa makan, apapun caranya.

Melewati tiap daerah kumuh, berharap ada yang berbaik hati menawarkan sebongkah roti atau sekantung beras. Namun, harapan tinggallah harapan, semua manusia di daerah sini miskin , ia tak akan mendapatkan apa-apa disini selain komunitas sesama kelaparan. Bulan menatapnya nanar, bintang ikut merasa iba terhadapnya.


"Aku harus keluar dari daerah ini dan mencari cara agar dapat makan," tukasnya sambil melangkahkan kaki keluar dari daerah kumuh ini.

Bunyi besi yang beradu antara rel dan roda kereta mengisi jalan malamnya, ia harus berjalan menyusuri rel kereta untuk mencapai daerah sebelah, entah sudah beberapa batu ia tendang. Menembus kegelapan malam dan kelaparan kelam, tak tahu kemana tempat yang akan ia tuju, yang pasti tujuannya untuk mencari rezeki.

Tak lama seorang pria berjubah coklat dan bertopi hitam menghampirinya, dari pakaiannya terlihat bahwa ia orang yang berada. Dennis bersemangat, lalu mendekatinya perlahan.

"Permisi tuan, apakah ada yang bisa hamba lakukan? Keluarga hamba kelaparan, bisakah tuan membantu memberikan secercah rezeki nya?" tanya Dennis sambil mengharap belas kasih.

"Apa yang bisa anda lakukan untukku?" Pria berjubah itu menanyanya kembali.

"Apa saja, agar perut kami bahagia hari ini."

"Tepat sekali, kalau begitu anda harus ikut denganku." Pria itu kemudian mengajak Dennis untuk mengikutinya dari belakang.
Tak lama mereka berjalan, mobil limosin berwarna hitam terlihat berhenti dihadapan mereka berdua, ternyata benar, pria berjubah itu memang orang kaya. Dennis segera masuk ke dalam mobil, duduk di kursi belakang yang empuknya bukan main. Bahkan lebih empuk dari kasurnya dirumah, yang hanya berbentuk karpet.

"Anda tinggal dimana?" tanya pria itu.

"Saya tinggal di kawasan Vancouver," jawabnya dengan tersenyum, membayangkan ia dan keluarganya akan segera makan lagi.
Tangannya hanya tersisa tulang dan kulit yang membungkus, tak ada daging, seraya menjadi identitas kemiskinannya yang melegenda. 

Tak lama kemudian, mereka sampai di depan rumah yang sangat besar, catnya berwarna coklat kegelapan, tamannya terlihat luas dan hijau. 

"Silahkan masuk ke dalam," perintah lelaki berjubah tersebut, sepertinya ia hanya salah satu pegawai dari pemilik rumah ini.
Dennis melangkahkan kakinya ragu, belum pernah ia memasuki rumah sebesar ini, terlebih rumahnya diawasi sekitar lima orang bersenjata diluarnya, "pasti ini kediaman gangster kota ini," pikirnya dalam hati.

Tertulis pada pintu kayu yang tingginya dua kali tubuhnya, kediaman Tuan Mikhailov, Dennis tak mengenalnya, yang ia tahu bahwa orang ini kaya luar biasa. Ia melangkahkan kakinya di dalam rumah, patung-patung, mural, dan lampu berlapis emas mengisi luasnya rumah mewah ini.
Lalu muncul seseorang berpakaian serba hitam, memakai kacamata hitam, badannya tinggi tegap, dan cukup atletis. "Selamat datang di kediaman tuan Mikhailov, anda pasti butuh uang jikalau kemari, benar?" ucapnya seolah mendikte.

"I-iyaa benar."

"Baik, tepat sekali, tuan Mikhailov sedang ingin bermain!"

"Bermain?" Kata-kata itu membuatnya kebingungan, ada apa sebenarnya? Bukannya ia akan segera mendapatkan uang? Bermain? Sepertinya Mikhailov memberikan hartanya tidak secara cuma-cuma, ada sebuah permainan. Dennis tergeleng kebingungan, tapi demi uang dan keluarganya, ia rela melakukan apa saja.

"Iya, jika anda mau hadiah, anda harus menjadi bagian dari permainan."

"Permainan macam apa?"

"Sudah ikuti aku saja," tukasnya sambil berjalan, Dennis pun mengekorinya dari belakang.
Mereka berhenti di suatu ruangan besar, lantainya ditutupi karpet merah, beberapa perempuan duduk disamping seseorang yang sedang merokok diatas singgasana kecilnya, wajahnya ganas dengan tato di sebelah kirinya. Lelaki tadi kemudian berbisik-bisik dengannya.

"Baik, jadi seperti ini peraturannya, tuan Mikhailov akan melakukan permainan Russian Roulette, dan anda yang akan menjadi sasarannya, tak perlu khawatir, jika anda mati, uang tetap akan dikirimkan untuk keluargamu."

"Apa!? Jadi aku dipersiapkan untuk mati?" Matanya melotot, tak percaya dengan apa yang dikatakan lelaki itu. Sewaktu kecil dahulu ia pernah menonton film dengan adegan Russian Roulette, yakni sebuah permainan pertaruhan nyawa dengan bergantung pada pistol revolver yang diisi 3 peluru dari 5 lubang peluru yang tersedia, lalu tempat peluru revolver diputar dan siap ditembak, jika beruntung, peluru tak akan keluar.

"Terserah padamu, jika butuh uang ya lakukan saja."

Setelah berpikir sedemikian rupa, Dennis menyerah pada keadaan, ia lebih memilih mengorbankan dirinya untuk keluarganya.

"Baik! Jadi akan ada 3 kesempatan tembakan, jika tertembak kami akan memberikan uangnya kepada keluargamu, tapi jika anda selamat, uang lebih banyak akan kamu bawa pulang."

Dennis sudah menyatakan kesanggupannya, Mikhailov juga sudah mengambil revolvernya. Senjata yang siap untuk membelah kepalanya menjadi dua dan jatuh ke lantai. Peluru sudah diputar, moncong senjata mengarah ke kepalanya. 

Ibarat kematian yang segera datang menghampirinya, memori-memori indah masa kecil terlintas di kepalanya. Saat dirinya dan sang ayah bermain di taman, meluncur di perosotan, saat kehidupan belum sesulit sekarang. Ayahnya pernah berkata, "walau kita miskin, jangan pernah mencuri dari yang kaya." Ya seperti itulah kehidupannya sedari dahulu, tak punya apa-apa. Bedanya, saat itu ia masih kecil, tak memikirkan apapun selain bermain, mengganggu kupu-kupu, dan mencabuti rumput taman.
Pelatuk sudah ditarik, dan ternyata peluru kosong yang keluar. Dia masih selamat, setidaknya ia bisa hidup lebih lama sebentar, tersisa dua tembakan lagi.
Isi peluru kembali diputar, siap menembakan kedua kalinya.
Waktu berjalan seakan melambat, kini ada bayangan istri dan dia dipikirannya. Saat mereka pertama kali bertemu, di depan stasiun kota, ia sedang cuti mengemis saat itu, ketika mata mereka saling menatap lalu hati mereka menetap. Istri yang tetap tabah bagaimanapun keadaan mereka, yang mereka tahu cinta itu membuat mereka tetap hidup sampai saat ini.
Kunang-kunang berterbangan, cahayanya terlihat mencerminkan sang istri yang mengeluarkan air mata menahan lapar. Jika ia mati hari ini, setidaknya air mata itu tak akan keluar lagi, kenangnya.

Namun peluru kedua juga kosong, Dennis tetap hidup, dirinya masih diliputi dewi fortuna sampai saat ini.
"Kau sungguh sangat beruntung, biasanya yang berdiri di tempatmu itu sudah mati saat peluru kedua ditembakan," ucap Mikhailov sambil menyiapkan tembakan ketiga atau terakhir.

"Mungkin ini hari keberuntunganku."

"Kita lihat saja."

Isi peluru sudah diputar, tembakan yang terakhir atau ketiga telah disiapkan, Dennis tahu orang seperti Mikhailov tak akan membiarkannya kekuar selamat sambil berteriak kegirangan mendapatkan uangnya, jadi ia pasrah, yang penting ia sudah berjanji akan memberikan keluarganya uang itu.

Tembakan ketiga siap dilepas.

Di detik terakhir hidupnya, pikirannya kembali memutarkan memori masa lalunya. Kali ini memori saat sang anak terlahir kedunia, tangis memecah kesunyian rumah sakit kala itu diwaktu dini hari. Ia berada diantara senang dan sedih saat itu, senang karena mendapatkan buah hatinya yang pertama, sedih karena ia tak tega sang anak akan menderita kemiskinan, kelaparan, juga kesedihan yang ia alami selama ini.
Melihatnya merangkak, mulai berbicara, sampai lancar berjalan adalah penyembuh luka kemiskinannya selama ini. Lelah yang didapat saat masih bekerja seakan hilang tatkala melihat tawa anaknya lepas. Kali ini ia harus pamit, karena pamit adalah satu-satunya cara untuk melihat keluarga dan anaknya bahagia.
Mikhailov terlihat memejamkan matanya dan mengeluarkan sedikit air mata yang tak tahu mengapa, dan tiba akhirnya pelatuk ditarik.

Peluru ketiga itu kosong.

Mikhailov terlihat menarik napas panjang dan memompa napasnya cepat, Dennis tak tahu apa penyebabnya, yang pasti ia bahagia dapat pulang dengan selamat.

"Bawa uang itu dan temui keluargamu!" ucap Mikhailov, lelaki yang mengantarnya tadi kemudian membawanya keluar dan memberinya dua karung uang. 

Fajar hampir tiba, Dennis pulang berjalan kaki, psikisnya lelah akibat permainan yang hampir membuatnya mati. Namun, ia masih bingung tentang apa yang terjadi, pikirnya Mikhailov adalah orang jahat yang akan membunuh siapapun secara mudah.
Karena ia sudah mendapat uang yang sangat banyak, dia pun memilih pulang dengan menaiki kereta, jalannya terlihat lunglai. 
Gerbong masih sepi karena masih pagi, ia duduk di pojok sebelah pria tua baya yang mengenakan jaket berwarna krim. 

"Kau terlihat lelah, darimana?" tanya pria tua itu.

"Bermain Russian Roulette."

"Oh tuhan, bersama Mikhailov?" Entah mengapa pria tua itu mengenalnya juga.

"Bagaimana anda tahu?"

"Percayalah, aku juga pernah bermain permainan sepertimu. Mikhailov itu bangsawan yang sangat dermawan, ia bisa dibilang juga seorang pesulap dan pembaca pikiran ulung. Caranya bersedekah juga tak biasa, ia akan membawa korbannya bermain Russian Roulette seperti yang anda lakukan, lalu ia membaca pikiranmu, ia ingin mengetahui apa yang ada dalam pikiran korbannya sesaat sebelum kematian menimpa. Mengenai peluru, ia sangat ahli memilah peluru yang akan ia tembakan, saat sang korban ia baca pikirannya ia akan menentukan apakah sang korban layak untuk hidup dan mendapatkan uangnya." Pria tua baya itu menjelaskan secara panjang lebar.

Dirinya terhentak kaget, ternyata Mikhailov bukan gangster seperti yang ia duga-duga sebelumnya, melainkan seorang bangsawan yang sangat dermawan. Kini ia bersyukur dipertemukan oleh orang sepertinya, ternyata rejeki bisa datang disaat kapanpun, dalam keadaan apapun, dan oleh siapapun. Kereta berjalan cepat, membawanya kembali menuju keluarganya yang tekah sabar menunggunya dirumah, tenang saja, seakarang ia kaya.