ditamaswan

Hidup memang kejam tapi setiap orang harus tetap bertahan, karena seperti halnya kotak Pandora, hidup masih menyimpan satu hal, yaitu harapan.

Rintik hujan mulai berguguran. Samantha berkelana dengan sepatu kecilnya. Melihat sekeliling tak ada yang mengenal dirinya. Samantha tersesat, dalam sebuah perjalanan dan pencarian. Dan Samantha hanya sendiri ditemani bintang-bintang.

Samantha adalah seorang gadis kecil. Samantha berumur tujuh tahun. Tapi perjalanan hidupnya sepuluh kali lipat dari usianya. Samantha tinggal di Panti Asuhan. Setidaknya hingga hari ini. Samantha memutuskan untuk lari dari Panti Asuhannya. Pengurus Panti bukanlah peri yang bisa membantunya sewaktu-waktu. Samantha tak tahu kemana orang tuanya pergi. Yang dia tahu, pengurus Panti selalu berkata bahwa dia adalah anak terbuang, tak ada satupun yang menginginkannya, bahkan ibunya sendiri membuangnya. Pengurus Panti adalah satu-satunya orang yang kasihan dan mau menampungnya. Karena itu, Samantha harus patuh dan turut pada pengurus Panti.

Tapi Samantha tak ingin dikasihani. Ia juga tak ingin menjadi beban. Samantha lelah harus terus menjadi anak yang patuh dan penurut. Samantha adalah Samantha.

Pengurus Panti cuma benar tentang satu hal, bahwa Samantha memang anak yang dibuang. Belum genap dua tahun peristiwa itu terjadi. Saat itu Samantha diajak oleh ibunya untuk pergi ke Taman Bermain. Samantha sangat bahagia. Ini pertama kali sepanjang hidupnya, ibunya mengajaknya ke Taman Bermain. Samantha bermain dengan gembira. Saking gembiranya, Samantha baru sadar bahwa ibunya tidak berada di sampingnya. Samantha ketakutan. Dia tak pernah berada di keramaian sendirian. Kemudian datanglah seorang wanita menghampirinya dan mengatakan bahwa ibunya meminta wanita itu untuk mengantar Samantha. Samantha menurutinya dan sekarang disinilah Samantha berada. Di sebuah Panti bersama anak-anak lainnya. Saat itulah Samantha tahu mengapa ibunya membawanya ke Taman Bermain padahal selama ini ibunya bahkan tak pernah membelikannya mainan. Samantha telah dibuang.

Samantha menyadarinya ketika dia menemukan sejumlah besar uang disaku celananya yang masih disimpannya hingga sekarang dan selembar surat yang tak pernah ia baca karena Samantha tak bisa membaca. Maka tekad Samantha telah bulat. Ia ingin bertemu dengan ibunya dan bertanya mengapa ibunya membuangnya sehingga ia tidak perlu membaca surat itu lagi.

Maka dimulailah perjalanan Samantha. Tanpa arah juga tanpa panduan, tapi dengan satu tujuan, menemukan ibunya. Samantha masih dapat mengingat seperti apa rumahnya, tapi dia tak tahu bagaimana menuju kesana. Yang dia ingat hanya kenangan-kenangannya saja. Samantha terluntang-lantung di jalanan.

Samantha tidak asing dengan kerasnya kehidupan jalanan. Pengurus Panti memang tak sungkan untuk mengeksploitasi anak-anak pantinya. Mereka disuruh mengemis, sementara hasilnya diberikan kepadanya. Begitulah Samantha menjadi bersahabat dan terbiasa dengan hiruk pikuk kota. Tapi kali ini Samantha tak mau mengemis lagi. Ibunya pernah berkata,“Sesulit apapun hidupmu, jangan pernah mengemis kepada orang lain. Cukup ibu yang mengemis.”

Samantha tak mengerti maksud ibunya. Tapi jika ia ingin diterima oleh ibunya, maka ia harus mematuhi ibunya. Maka Samantha tak akan pernah lagi mengemis. Cukuplah ia mengemis kepada Tuhan saja, ayahnya yang tak pernah ia tahu wujudnya.

Samantha memang tak memiliki ayah dan ia tak pernah tahu siapa ayahnya. Setiap Samantha bertanya kepada ibunya, Samantha selalu mendapat jawaban, “Ayahmu adalah Tuhan dan Tuhan adalah ayahmu. Jangan bertanya lagi.” Sehingga Samantha selalu berpikir bahwa Tuhan adalah ayahnya. Bahkan saat ibunya membuangnya, ia berkata kepada anak-anak Panti bahwa ayahnya bernama Tuhan akan segera menjemputnya. Tapi itu tak pernah terjadi. Teman-temannya selalu mengoloknya. Mereka berkata bahwa ibu Samantha selalu berbohong padanya seperti saat ia membawanya ke Taman bermain. Mereka juga berkata jika Samantha ingin Tuhan menjemputnya maka dia harus mati dulu. Lama-kelamaan, Samantha tahu siapa Tuhan sebenarnya dan ia tahu ibunya tak pernah berbohong. Tuhan adalah satu-satunya ayah yang akan menyayanginya disaat tak ada satupun ayah di dunia yang mau mengakuinya sebagai seorang anak, juga seorang manusia.

Samantha tidur di Taman Kota. Baginya ruang terbuka yang dingin jauh lebih hangat daripada kamar pantinya. Setidaknya disini Samantha bisa melihat langit dan bintang dengan tenang. Esoknya Samantha bangun tanpa tahu ia harus kemana. Samantha hanya ingin menikmati dunia dan menghirup udara secara bebas seolah ia tak memiliki beban. Ia membiarkan angin menuntun langkah kakinya yang kecil dan melihat orang-orang sekeliling dengan aktivitas mereka masing-masing. Samantha selalu bertanya dalam dirinya apa yang sedang mereka pikirkan? Adakah orang yang bernasib sama seperti dirinya? Adakah orang yang memikirkan apa yang orang lain pikirkan seperti yang ia lakukan? Mengapa Samantha hanya bisa melihat mereka beraktivitas dan mengapa Samantha menjadi Samantha dan bukan menjadi mereka?

Tapi setiap orang berjalan dengan ritmenya tanpa ada yang memperhatikan bahwa Samantha memikirkan banyak hal di kepalanya yang mungil. Mungkin hanya orang yang pernah merasakan hidup seperti dirinyalah yang akan bertanya seperti dirinya. Dan Samantha bersyukur dan berdoa kepada Tuhan, cukup satu orang yang bernasib seperti dirinya, yaitu Samantha.

Samantha harus mencari uang. Dulu, Samantha suka bernyanyi. Ibunya tak pernah membelikannya mainan, tapi ibunya selalu memberikannya nyanyian. Suara lembut yang lebih berharga daripada mainan manapun di dunia yang sudah dua tahun tak pernah ia dengar. Maka Samantha mulai bernyanyi, bernyanyi dengan lembut, nyanyian yang selalu dinyanyikan oleh ibunya sebagai pengantar tidur.

 

Tak pernah ada kata susah

Ketika kau tak menyerah

Tak pernah ada kata sedih

Ketika Dia selalu di hati

 

Tak pernah ada kata kufur

Ketika Kau slalu bersyukur

Mukjizat pasti akan datang

Pada hamba yang bersabar

 

Indah Dunia…

Damai jiwa….

Suara kehidupan

Berpacu dengannya

Sgala kuasa-Nya

 

Tak disangka-sangka orang-orang mulai berdatangan mendengar suara indah Samantha. Seluruhnya hanyut dalam lagu yang ia nyanyikan. Andai saja air mata Samantha tak habis oleh tangis yang telah dituangkannya selama ini, mungkin dia akan menangis saat ini. Semua orang bertepuk tangan.  Topi Samantha pun sudah penuh dengan uang yang terus dimasukkan.

Dengan uang yang didapatnya, Samantha ingin membeli makanan. Tapi ia teringat bahwa ia harus menabung. Perjalanannya mungkin akan panjang. Samantha mengurungkan niatnya. Ia hanya duduk di sebuah restoran cepat saji sembari menunggu. Samantha mendengar sebuah percakapan.

“Aku berharap aku bisa pulang Natal ini.”

“Lantas, mengapa tak pulang saja?”

“Ada banyak pekerjaan yang harus kuselesaikan. Sementara tiket pulang juga sangat mahal.”

“Ah, sayang sekali. Natal seharusnya dihabiskan bersama keluarga.”

“Ya, meskipun tetap bahagia menghabiskan Natal bersama teman-temanmu di perantauan. Tapi menghabiskan waktu di hari Natal bersama keluarga adalah sesuatu yang berbeda. Terutama saat malam tahun baru. Pecah sudah segala tangis dan rasanya hangat saat bisa memeluk mama dan menangis di pelukan mama.”

“Tahun depan Kau harus pulang!”

“Ya, aku tak akan melewatkan Natal tahun depan.”

Samantha hanya diam mendengarnya. Natal sebentar lagi akan tiba. Dekorasi Natal telah menghiasi seluruh kota. Setiap orang ingin menghabiskan Natal bersama keluarga. Tapi tidak untuk Samantha. Samantha tak bisa merindukannya. Karena Samantha tak punya keluarga. Apalagi menangis di pelukan mama. Samantha tak memerlukannya karena ia tak memiliki raga seorang mama untuk dipeluk. Di hari Natal, orang-orang bergembira. Mereka membawa pasangan dan keluarga. Dan Samantha hanya akan membawa dirinya sendiri. Maka Samantha berjanji dalam dirinya, sebelum Natal tiba, dia akan menemukan ibunya.

Setelah dua orang itu selesai menyantap makanannya, barulah Samantha kesana. Samantha bersyukur masih banyak makanan tersisa. Samantha mengambil dan membawanya keluar kemudian melahapnya. Belum selesai Samantha menyantap makan malamnya, ada seorang wanita yang menghampirinya.

“Nak, bukankah kamu anak yang menyanyi tadi? kenapa kamu makan makanan sisa?”

Perempuan itu memakai jaket musim dingin yang sangat bagus. Dia juga membawa tas yang bagus.

“Lebih baik makan makanan sisa daripada mengemis,” jawab Samantha.

“Kalau begitu, jangan dua-duanya. Ini makanan untukmu. Ibu memberikannya secara sukarela.”

Samantha melihat mata wanita itu. Mata wanita itu berbeda dengan mata Pengurus Panti. Kata orang, mata manusia tidak pernah berbohong.

“Terima kasih,” kata Samantha.

Samantha menaruh makanan itu didepannya dan melanjutkan makan makanan sisa.

“Kenapa kamu masih memakan makanan sisa itu?”

“Dengan memakan makanan sisa ini, saya bisa membantu mengurangi dosa orang yang telah menyia-nyiakannya. Ini rezeki dari Tuhan.”

Perempuan itu kaget. Bagaimana bisa anak sekecil ini memikirkan hal seperti ini? Bahkan dirinya sendiri sering menyia-nyiakan makanan dan tak pernah menganggap itu sebagai hal yang besar. Tapi seorang anak kecil sudah mengerti tentang konsepsi sebuah rezeki.

“Siapa namamu Nak?”

“Samantha.”

“Dimana kamu tinggal?”

Pandangan Samantha tertuju pada sebuah tempat di layar billboard.

“Disana. Rumahku disana.”

Samantha menunjuk pada sebuah berita tentang lokasi prostitusi yang akan segera digusur. Wanita itu menatap Samantha dalam-dalam.

“Dulu aku tinggal disana,” jelas Samantha.

Wanita itu kemudian terus mengajukan pertanyaan kepada Samantha dan Samantha menjawabnya. Dia berharap wanita itu dapat membantunya untuk menemui ibunya.

“Jean, kamu bicara dengan siapa?”

Seorang laki-laki mendatangi perempuan itu. Wanita itu berbisik kepada lelaki itu. Samantha hanya melihat mereka. Dia heran kenapa orang dewasa suka berbicara dengan berbisik seperti yang dulu selalu dilakukan ibunya setiap ada laki-laki yang datang ke rumah mereka.

“Tolong bawa aku kesana,” pinta Samantha. Ia lupa pada janjinya untuk tidak pernah mengemis lagi.

“Kamu sungguh ingin kesana?”

“Iya.” Jawab Samantha dengan tegas.

 

Jean akhirnya membawa Samantha ke tempat lokalisasi itu. Jean menggenggam erat Samantha. Andrew, laki-laki yang bersamanya, menemani mereka. Samantha melihat ibunya. Ia amat riang dan hampir melepaskan genggaman Jean. Tapi Jean menggenggamnya lebih kuat. Alangkah kagetnya Samantha. Ia hanya berdiri terpaku. Ibunya tak seperti kenangan yang selama ini dimilikinya. Jean dengan cepat menutup mata Samantha. Andrew menggendong Samantha dan mereka pergi dari sana.

“Nak, dengarlah! Mulai hari ini aku akan menjadi ibumu. Lupakanlah semua hal dan kenangan pahit. Mengerti?”

Samantha mengangguk. Malam itu adalah malam Natal. Jean memeluk Samantha erat. Dan tepat di hari Natal, Samantha diberikan berbagai hadiah. Samantha melupakan ibunya dan melupakan semua hal pahit yang pernah dialaminya. Samantha bahagia.

Jean dan Andrew sebenarnya adalah turis asing yang datang berlibur. Maka setelah liburan mereka selesai, mereka membawa serta Samantha untuk kembali ke negara mereka dan mengadopsinya. Dan tinggallah Samantha dengan keluarga baru dan tempat yang baru. Samantha terlahir menjadi orang yang baru dengan kenangan yang baru pula.

Selama ini Samantha tak tahu kapan hari ulang tahunnya. Ibunya tak pernah merayakan bahkan mengatakan padanya.

“Jangan tanyakan hari itu padaku lagi,” selalu sang ibu berkata demikian setiap ditanya tentang hari itu.

Di hari Natal, di saat Jean dan Andrew menyelamatkannya, Samantha telah terlahir kembali. Maka Samantha memutuskan hari Natal sebagai hari ulang tahunnya.

Samantha hidup dengan lebih baik. Ia disekolahkan di sekolah musik. Jean dan Andrew sangat menyayangi Samantha. Samantha kini telah bisa membaca. Ia teringat pada surat ibunya. Meski ia telah mencoba melupakannya, tapi Samantha merasa harus tetap membaca surat itu. Samantha membacanya.

“Samantha sayang, saat Kau membaca surat ini, itu pertanda Kau sudah cukup dewasa. Ibu akan mengatakan semuanya. Hari lahirmu tepat di hari Natal. Karena itulah ibu selalu membenci Natal. Ibu benci kenapa Kau harus terlahir dari wanita hina seperti ibu. Ibu membenci hari lahirmu karena ibu sangat mencintaimu. Ibu takut Kau mungkin akan berakhir seperti ibu. Jangan bertanya tentang ayahmu, karena ibu pun tak tahu siapa dia. Maafkan ibu, Kau berhak untuk kecewa. Maka dari itu, jangan hidup seperti ibu, Nak. Pergilah yang jauh dan carilah keluarga yang baru yang lebih sempurna untukmu. Ibu membuangmu karena ibu mencintaimu. Hiduplah dengan luar biasa dan lupakan ibu.”

Sebuah surat yang menyakitkan tapi penuh kasih sayang. Hidup terasa sulit bagi Samantha, tapi mungkin lebih sulit bagi ibunya. Sebagian orang mengeluh untuk sedikit kesulitan dalam hidupnya, sementara sebagian lagi merasakan kematian di hidupnya. Hidup memang kejam tapi setiap orang harus tetap bertahan, karena seperti halnya kotak Pandora, hidup masih menyimpan satu hal, yaitu harapan.

Kini Samantha mengerti mengapa ibunya membuangnya. Ia tak marah juga tak sedih karena ia tahu ibunya mencintainya. Ibunya bukanlah seorang penjahat. Ibunya adalah malaikat. Malaikat dari surga yang terpaksa membuangnya jauh ke bumi karena surga tak selamanya indah. Samantha kemudian mengambil sebuah kertas dan menulis sebuah surat.

“Teruntuk, ibuku sayang. Sesuai dengan permintaan ibu, Samantha sekarang hidup dengan luar biasa. Samantha mendapat keluarga baru, Mama Jean dan Papa Andrew merawat Samantha dengan baik. Tapi ibuku sayang, tidak ada keluarga yang sempurna. Karena itulah, setiap anak dilahirkan untuk membuatnya sempurna. Meskipun Mama Jean dan Papa Andrew sangat baik, tapi yang melahirkan Samantha tetaplah Ibu. Jadi, seperti halnya Ibu yang mengorbankan diri ibu agar hidup Samantha menjadi sempurna, Ibu pun harus hidup dengan sempurna. Mari bertemu disaat Samantha telah benar-benar menjadi dewasa. Dan ketika saat itu tiba, Samantha ingin melihat Ibu hidup dengan lebih baik dan bahagia. Dan jangan pernah minta Samantha untuk melupakan ibu. Samantha mencintai Ibu. With Love, Samantha.”

Samantha mengakhiri suratnya. Ia tak tahu kemana ia harus mengirim surat itu. Tapi seperti saat dulu ia di jalanan dan Tuhan menolongnya, Samantha yakin surat itu akan sampai ke tangan ibunya, asalkan ia percaya, kepada Tuhan tentunya.