kenyataan itu menyakitkan. tapi mengapa kau mampu bertahan ? tusukan kaca itu akan terus mengoyak hatimu tiada henti
TUSUKAN DALAM HATI PECAHKAN BELATI
Cemara
“Permisi, Pak! Ada yang ingin bertemu dengan bapak.” Pandanganku yang awalnya fokus mengaduk kopi kini beralih pada seorang pria yang baru saja memasuki warungku.
“Siapa? Suruh dia kesini!.”
Tumben sekali ada orang ingin bertemu dengan ku menggunakan izin. Ku pandangi pria tadi yang berjalan menuju sebuah mobil sport silver. Tampak seorang pria lain dengan pakaian lebih formal keluar dari mobil. Dari penampilannya bisa ditebak bahwa ia orang kaya. Atau mungkin hanya cover nya saja seperti itu. Jika memang kaya, kenapa harus ngopi di warung kecil seperti ini? Biasanya orang sebangsa itu akan datang pada sebuah warung mewah bertingkat yang biasa mereka sebut cafe. Di situ mereka rela membayar secangkir kopi dengan harga selangit.
“Apakah Anda tidak ingin mengetahui alasan saya datang kemari? Jika Anda terus-terusan berbicara, kapan kesempatan saya untuk berbicara?,” ucapan pria tersebut membuatku langsung menyadari kelalaian yang telah ku lakukan. Segeralah beribu maaf terlontar dari mulutku.
"Saya ingin mengundang anda untuk hadir pada acara yang akan saya selenggarakan lusa. Saya harap anda berkenan hati menyampaikan sepatah dua patah kata motivasi untuk tamu undangan.” Tak disangka seorang pengaduk kopi bisa diundang dalam acara yang orang kaya selanggarakan. Bahkan jika dipikir dengan akal, ini semua mustahil, kecuali kuasa Tuhan. Ini hadiah Tuhan pada ketekunanku.
Beberapa menit kemudian mobil mewah itu melesat melewati rumah-rumah tetangga diiringi tatapan tajam orang desa. Hingga kini, tak jarang orang yang datang ke warung hanya sekedar menanyakan orang kaya bernama Mr. Genmay.
Setelah kedatangan Mr. Genmay kemarin, aku memutuskan membeli baju yang lebih menarik untuk mendatangi acara yang diselenggarakan besok. Tak butuh waktu lama, kabar warung kopi `pena usaha` didatangi orang kaya melesat hingga telinga kampung sebelah.
“Terima kasih. Ini berkat ketekunanku beribadah kepada Tuhan. Kalian semua harus meniruku. Kalian nanti pasti akan mendapatkan banyak hadiah dari Tuhan.” Awalnya, aku ingin membeli baju di toko modern. Namun, seorang pria datang memberikanku sepasang kemeja dan celana lengkap dengan jas dan dasi.
“Terimakasih. Baju ini sangat indah, tapi sayang aku tak punya sepatu yang cocok dengan pakaian ini.” Ucapku dengan nada sedikit berharap.
“Tak apa, aku punya banyak sekali sepatu orang kota di toko. Kau bisa mengambil salah satu dari itu. Ingat! Kau itu akan pergi ke kota. Tempat itu bukan tempat bermain. Janganlah kau permalukan kampung kita ini,” ucap parus.
Esok hari, dengan pakaian yang aku dapatkan kemarin aku sudah bersiap di depan cermin. Ketika mobil sport silver yang dua hari lalu datang, siang ini datang kembali. Seseorang keluar dari dalam mobil itu. Bukan Mr. Genmay. Tapi lelaki suruhannya. Lelaki itu membukakan pintu penumpang untukku. Seperti orang lelaki dan perempuan yang tengah di redam kasmaran.
Ketika memasuki nya hawa dingin dari seluruh penjuru mobil menyambutku. Aneh sekali, mobil ini mirip dengan kulkas. Teknologi jaman sekarang itu digabung-gabungkan. Pintu mulai ditutup, dan mobil pun melaju perlahan meninggalkan kampung. “Hidup Pak Gemin! Hidup Pak Gemin!” suara itu mengiringi langkah mobil di sepanjang jalanan.
“Mas, mobilnya bagus. Ini mobil mas sendiri atau milik Mr. Genmay? Kira-kira ini harganya berapa ya, Mas? Seratus juta? Atau lebih?” tanyaku. Tampak lelaki itu menarik sudut bibirnya sedikit.
“Ini milik saya, Pak! Mobil ini mungkin harganya sekitar lima ratus juta. Tapi saya tidak membelinya. Karena Mr. Genmay memberikan gratis pada seluruh asistennya sebagai tanda saya bekerja di tempat Mr. Genmay.” Jawab lelaki tersebut dengan santai. Tak sadar bahwa dirikku telah membeku di tempat dari tadi.
Beberapa menit kemudian mobil mulai berbelok pada sebuah rumah. Mungkin ini tidak bisa disebut rumah, karena ukurannya terlalu berlebihan untuk seukuran rumah. Biasanya anak kecil yang suka menonton film Barbie menyebut bangunan ini dengan istana. Padahal ukurannya lebih luas dari pada Istana Negara.
Tampak di depan istana tersebut puluhan mobil mewah berjajar di sana. Terdapat dua orang wanita sexy memakai baju kekurangan bahan berwarna merah menggandengku memasuki ruangan. Musik menderai anggun di penjuru ruangan. “Hadirin sekalian, tamu yang kita tunggu, kini telah tiba. Berikan tepuk tangan yang meriah.”para tamu-tamu undangan yang awalnya sibuk berbincang-bincang, kini beralih menatap kedatangan ku. Diiringi suara gemuruh dari tepukan tangan-tangan para tamu aku melangkah menemui Mr. Genmay.
“Selamat siang dan selamat datang, Pak Gemin! Izinkan saya memmperkenalkan keluarga saya. Yang di sebelah saya ini adalah istri saya. Panggil saja dengan Mrs. Genmay. Dan dua anak kecil yang sedang bermain disana adalah putra-putri saya. Panggil saja mereka Genmay Boy’s dan Genmay Girl’s,”ucap Mr. Genmay. Aku menyukai sebutan dalam keluarga Mr. Genmay. Iris mata biru dan hidung mancung memperkuat dugaanku bahwa istri Mr. Genmay bukanlah orang Indonesia. Mungkin ia keturnan orang Amerika.
“Mari ikut saya ke atas panggung. Izinkan saya memperkenalkan diri Anda pada tamu udangan,” ucap Mr. Genmay. “Para hadirin sekalian, mohon luangkan sedikit waktu untuk mendengarkan sedikit pengarahan dari Bapak Gemin ini,” ucap Mr. Genmay sembari memberikan mic kepadaku.
“Selamat siang semuanya. Saya tidak tahu kenapa saya bisa diundang pada acara sebesar ini. Menurut orang-orang iman saya itu kuat, padahal saya itu merasa biasa-biasa saja. Sebenarnya saya suah dilatih dari kecil oleh orang tua saya. Hingga terbawa sampai saya sudah besar......" Aku pun langsung bergegas turun dari panggung.
“Pak Gemin, 10 menit lagi temui saya di lantai lima. Uangnya sudah saya siapkan di sana,” ucap Mr. Genmay yang ku balas dengan tatapan tak percaya. “Mari kita semua bepesta !” teriakan itu langsung di sambut dengan ruangan yang tiba-tiba menggelap. Beberapa saat kemudian music remix mulai mengalun. Orang-orang di dalam ruangan tersebut mulai bergerak dengan bebas tanpa beban.
Seorang wanita menghapiriku dengan membawa nampan berisi tiga gelas mini berisi air di dalamnya. Aku mulai meneguknya. Ketika cairan itu masuk ke dalam mulutku rasanya sangat aneh. Air itu seperti mengikat lidah dan tenggorokan ku. Tubuh ku tak dapat tegap kembali. Tiba-tiba dipikiranku terlintas tumpukan uang berserakan di lantai. Aku langsung bergerak memasuki lift yang terdapat di sudut ruangan. Kutekan angka lima.
Pintu lift yang semula tertutup, kini terbuka secara perlahan. Samar-samar aku melihat Mr. Genmay. Iya membantuku duduk di kursi yang…tunggu, ini empuk sekali. Pantatku tidak terasa sakit saat aku menghujamkannya.
Aku melihat meja dengan koper warna hitam. Mr. Genmay membuka koper tersebut. Menampakkan tumpukan kertas kecil berwarna merah senilai seratus ribuan. Mataku yang semula kabur tak tampak apapun, kini mulai jernih dan jelas. “Sesuai dengan apa yang saya janjikan. Silahkan anda menghitungnya terlebih dahulu untuk memastikan.”
“Tidak perlu. Saya percaya dengan anda. Melihat uang sebanyak ini menurut saya sudah lebih dari cukup. Terima kasih banyak Mr. Genmay,” ucapku dengan sedikit menahan rasa sakit di kepala. Aku langsung bergegas menuju lift dan turun ke lantai bawah.
Aku berlari menuju tukang ojek di depan gedung. Setelah menaiki ojek aku baru berpikir, dengan membawa sekoper uang aku hanya pulang dengan menggunakan ojek. Tak lama, ada taksi yang datang ke arah ku. Aku langsung menaiki taksi. Di tengah perjalanan, taksi yang aku tumpangi berhenti mendadak. Sopir taksi itu meminta maaf pada ku bahwa mobilnya kehabisan bensin. Akhirnya, aku menaiki becak menuju rumah. Situasi itu memakan banyak sekali waktu. Petang hari aku memasuki rumah. ”Besok aku akan mengajak orang satu desa berbelanja di gedung-gedung megah.”
Pagi harinya, dengan pakaian santai sedikit formal aku mengumumkan ke seluruh warga agar bersiap untuk pergi ke kota. Saat itu juga, aku tengah menelfon Pak RT yang memiliki kendaran lengkap untuk aku sewa. “Saya akan mentraktir seluruh warga berbelanja di kota. Jika Pak RT berkenan untuk ikut, saya tidak keberatan. Saya sudah siapkan seluruh uangnya,” ucapku melalui telfon.
Seluruh warga Kampung Sejahtera sudah siap di atas kursinya masing-masing. Di bagian depan, di duduki oleh ku, Pak Kepala Kampung dan Pak RT. Kami pun mulai meluncur tinggalkan kampung.Tampak sebuah gedung tingkat tiga yang sangat megah.
“Dasar orang kampung ! Nge-Mall itu dandan yang cakep, naik kendaraan yang pantes dikit. Udah ke sini naik kereta buntut kek giu, pakaiannya compang-camping lagi. Gak banget, deh !” Mendengar ucapan orang tak beradab itu sluruh warga langsung diam di tempat. Pak RT langsung mengajak kita untuk segera memasuki gedung.
Lama menunggu, akhirnya sampai juga pada tugasku. “Total belanjaannya semua, yaitu Rp 583.023.700,00 ” Segera ku buka kopernya dan perlihatkan tumpukan uang seratus ribuan. Tiba-tiba satu kalimat pernyataaan datang tak terduga. “Maaf, tapi ini uangnya palsu. Kami tidak mau menerimanya.”
Seluruh warga segera keluar tinggalkan gedung itu. Aku masih bersama dengan seorang penjaga kasir. Kulontarkan beribu-ribu kata maaf. Aku segera berlari keluar gedung. Tampak kereta kelinci yang kutumpangi tadi melesat jauh meninggalkanku. Kembali ku raih koper berisi uang palsu itu yang sempat ku tinggalkan di atas meja kasir. Tujuanku kini hanya satu, menemui Mr. Genmay.
Dengan kecepatan maksimal aku sampai di rumah yang itu. Tidak ada yang berbeda dari rumah itu. Hanya saja kemarin lebih tampak ramai, namun sekarang tampak sangat sepi. Berulangkali aku memencet bel rumah, namun tak ada satu jawaban sama sekali. Seorang satpam menghampiriku. “Maaf, mas mau cari Mr. Genmay ? Aduh ! Maaf mas, baru tadi pagi keluarga beliau memutuskan untuk pergi ke rumah neneknya di Korea Selatan, “ucapan satpam tersebut benar-benar membuat ku merasa sangat bersalah pada semua orang.
.’Seminggu kemudian…
Keadaanku kini berbeda sangat jauh dengan sebelumnya. Seluruh tubuhku megalami pembengkakan. Dan kini, badanku berubah membesar seperti raksasa. Warga sekitar tak ada yang tau. Hanya aku dan sahabat karibku, Ucong. Banyak sekali Ucong datangkan dokter atau pun tabib untuk mengobatiku. Tak ada salah satu dari mereka yang berhasil menemukan penawar dari penyakit ini. Namun, dari semua dokter dan tabib yang datang, mereka sama-sama berkata tidak tau.
“Pak Gemin, saya mendapat info dari teman saya bahwa di desa sebelah terdapat tabib yang dapat mengobati segala macam penyakit. Tapi tabib itu tidak bisa untuk diundang kemari. Izinkan saya mencari cara untuk membawa anda ke tempat tabib itu. Jaraknya tidak terlalu jauh.mungkin hanya sekitar 3 km dari sini.”setelah ucong mengucapkan seperti itu ia langsung berbalik badan.
Tak lama setelah itu, Ucong datang kembali ke rumah. Namun, tak seperti saat ia pergi tadi, kali ini ia pulang dengan membawa sebuah kotak yang disertai roda. Apa yang akan dilakukannya ?
“Pak Gemin, setelah saya pikIr-pikir mungkin ini isa membantu. Anda bisa masuk ke dalam gerobak itu, sedangkan saya akan menariknya dengan sepeda motor.”
“APA? DASAR KURANG AJAR ! AKU ITU BUKAN SAMPAH !”hatiku tak terima dengan idenya.
“Bukan begitu maksud saya. Tidak ada cara lain selain ini.”
Sekarang aku berada di suatu kotak dengan selimut merah yang menutupi seluruh tubuhku. Setelah perdebatan sengit antara aku da Ucong, akulah yang harus mengalah. Tak jarang tubuhku terombang-ambingkan di dalam gerobak. Bahkan, berulang kali kepalaku menghantam dinding gerobak.
Hingga tak terasa gerobak yang aku tumpangi tidak memutarkan roda lagi. Selimut yang menutupi kepalaku perlahan mulai terbuka.
“Dasar munafik ! Kau telah membuat tuhan marah. Tubuh besar itu wujud alkohol yang telah memasuki tubuhmu. Apa kau sudah merasa lebih pandai dari-Nya hingga kau berani berbuat dosa ?” ku lihat sesesorang berpakaian putih dengan kedua alinya yang telah menyatu. Ia langsung menghamppiri ku dan mencekam kuat kepalaku. . Aku tak kuasa menahan kelopak mata ku yang mulai memberat. Semua terjadi di luar kinerja otakku.
Dengan malas aku membuka mata. Ku lihat sekelilingku, sepertinya aku mengenali ruangan ini. Tampak sebuah foto berbingkai dengan gambar anak remaja berpakaian biru putih terpa,pamg di sana. Ini… oh rupanya kamarku. Mengapa aku bisa ada di sini ? padahal aku tak suka tidur di atas kasur dengan menggunakan… selimut. Bagaimana bisa ? Padahal aku sangat membenci benda itu. Otak ku tidak bisa mengingat apa yang terjadi kemarin.
“Syukurlah Pak Gemin sudah sadar. Seminggu sudah anda terbaring di sini.” Ucong tiba- tiba masuk dengan raut muka yang sepertinya ia terkejut. Namun, tak lama setelah itu wajahnya berseri-seri mentapku.
“Apa yang terjadi ?”hanya kata itu yang keluar dari bibir keringku.
“Anda tidak perlu memikirkannya. Yang penting sekarang tubuh anda tidak sebesar raksasa lagi,” aku baru menyadari tubuhku kembali mengecil. “Ini semua berkat tabib itu dan ramuan yang ia berikan. Anda harus meminum ramuan ini sekali lagi, karena ini yang terakhir.” Aku menuruti permintaan Ucong yang menyerahkan segelas cairan berwarna kuning kecoklatan.
“Pasti ramuan ini terbuat dari tanaman herbal yang masih segar. Sehingga reaksinya sangat cepat.” Ucapku setelah meneguk habis ramuan yang Ucong berikan.
“Hmmm… sebenarnya itu terbuat dari air seni kuda dan usus biawak. Tabib itu hanya menyerahkan resepnya. Saya sendiri yang meraciknya.