Saat hidupmu berada di ujung senja, percayalah masih ada fajar yang akan menyingsing.
Beranda
Aku berbalik dan mendapati seorang pria yang tidak kukenal. Entahlah, mungkin murid baru. Penampilannya tidak berbeda dengan murid lainnya. Berseragam rapi, ransel di punggung, serta membawa beberapa buku tebal. Dilihat dari wajahnya, jelas sekali dia sosok yang genius dan astaga!
***
Usiaku enam belas tahun saat pertama kali memasuki sekolah pengurangan risiko bencana alam bernama The Risk Camp. Meningkatnya kerusuhan alam di kotaku membuat diktator merekrut banyak anak untuk bergabung dengan sekolah itu . Aku hanya salah satunya.
Sudah hampir setahun di kotaku tidak turun hujan. Tanahnya kering, menyisakan terlalu sedikit air bersih untuk digunakan. Hal ini menambah angka luas bahaya menjadi 161.121.774 Ha. Jumlah terbesar menurut urutan pekan ini dan kemudian menjadi alasanku dalam memilih kelas mata air sebagai program studi.
“Sudah berapa persen, Harm?” Gideon bertanya saat plastik di tanganku mengembun.
Aku tahu persamaan kimia untuk memproduksi air. Hanya perlu sedikit bantuan Gideon dalam perhitungan mol. "Sembilan delapan," jawabku singkat.
Ini adalah metode ketiga kami untuk mengatasi kekeringan. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan banyak air jika sekadar tetes per tetes. Pohon terlalu sulit ditumbuhkan. Aku berbalik dan pergi bersama Gideon menuju tempat pengecekan persediaan air. Sejak sepekan lalu, kadarnya di bawah garis merah. Demikian halnya dengan hari ini.
"Apa metode keempatmu?"
Aku tidak ingin memikirkannya sekarang. Belum. "Entahlah, G."
Gideon adalah satu-satunya orang yang kupercaya. Aku mengenalnya sejak kami ditugaskan meneliti tanah tandus di area timur kota. Ada sesuatu di telinga kiri Gideon, sebuah kubus kecil hitam terpasang di tulang telinga terluar.
“Apa itu?” aku menunjuk benda tersebut.
“Oh ini,” Gideon memegangnya. “Ini alat bantu pendengaranku,”
“Kau ada masalah dengan telingamu, ya?”
“Begitulah. Pasca gempa dua tahun lalu, gendang telingaku rusak parah,”
“Aku sungguh menyesal,” ujarku berbela sungkawa.
Gideon hanya tersenyum, “Tak apa, itu sudah berlalu.”
Gempa dahsyat dua tahun lalu adalah momen bersejarah yang tidak akan pernah dilupakan. Bencana itu mengamuk dan memporak-porandakkan kota. Sehari setelah kejadian itu, diktator membentuk The Risk Camp. Satu tahun setelahnya, mereka mengumumkan bahwa siapa saja yang dapat menurunkan persentase risiko bencana, akan dikirim ke sebuah tempat di seberang perbatasan, dimana hanya sedikit penghuninya. Diktator menjadikannya sebagai Kota Percobaan. Siswa dengan metode terbaik akan melanjutkan sekolah disana. Hingga saat ini sudah ada sekitar 500 siswa yang dikirim ke tempat itu. Aku meyakinkan diriku sendiri bahwa Kota Percobaan memberikan banyak harapan, mengembalikan beranda-beranda hijau di seluruh kota. Salah satu cara yang dapat kulakukan untuk kesana adalah dengan menaikkan kadar air hingga di atas garis merah, setidaknya 50%.
Demi mencapai Kota Percobaan, aku bersungguh-sungguh menekuni program studiku. Tak ingin menjadi sekadar rekrutan diktator, justru aku ingin merekrut banyak pelajar pantang menyerah untuk turut mengembangkan Kota Percobaan kelak. Meskipun demikian, tidak semua metodeku berhasil. Terkadang justru tak ada air yang dihasilkan, bahkan penggabungan senyawa-senawa murni di salah satu aliran kecil yang ku lakukan dengan Gideon malah menyumbat sebagian besar alirannya. Kami pun harus menata ulang rumus dan persamaan senyawa lain untuk mengembalikan aliran seperti semula. Memang tidak mudah, tapi itulah tantangannya.
“Aku jadi ragu apa masih ada metode yang kemungkinan besar bakal berhasil, Harm,” Gideon berbisik.
“Tenanglah, pasti ada,” ujarku santai.
“Seperti?”
“Kita lihat saja nanti.”
Buku-buku lama di perpustakaan masih menjadi sumber rujukan utama – sebagian besar telah kubaca. Secara teori, tidak sulit menaikkan kadar air hingga 50%. Tapi aku tidak pernah melakukannya.
Aku sedang mengerjakan skema pergerakan air bawah tanah saat malam tiba-tiba dingin dan membuatku menggigil. Suhu ekstrem terus terjadi belakangan ini, membuat angka luas bahayanya meningkat menjadi 167.582.476 Ha. Gideon mematikan lampu di mejanya, "Aku ingin pulang cepat dan segera beristirahat." Aku berdiri dan merapikan mejaku, "Ya, kalau begitu aku juga."
Pukul 9 tepat aku dan Gideon meninggalkan ruang kelas, sementara beberapa anak masih tetap disana. Kelas terbuka 24 jam. Selain peralatan program studi mata air, ruangan berukuran 7 x 7 meter itu memiliki fasilitas lain seperti sofa, dua lemari baju, kulkas kecil, kamar mandi, dan meja kerja setiap siswa. Tak jarang beberapa anak tidur disana.
Aku dan Gideon berjalan tanpa bicara apapun. Sesampainya di asrama putri, Gideon berhenti untuk mengucapkan selamat tinggal. Kemudian, dia perlu berjalan sekitar 1 km lagi untuk sampai di asramanya. Tepat ketika membuka pintu, aku teringat bahwa laporan metodeku tertinggal di kelas. Saat berbalik hendak kembali ke kelas, aku melihat Gideon berbelok ke arah kanan, jalan yang seharusnya tidak dia lewati jika ingin menuju asramanya. Dia hendak pergi kemana ya malam-malam seperti ini, gumamku heran. Lalu kuputuskan untuk mengikutinya diam-diam, dan aku terkejut saat dia membuka pagar kantor diktator. Siswa seharusnya tidak sembarangan masuk ke tempat sakral itu, apalagi saat jam malam. Gideon masuk ke dalam kantor, tak lama kemudian dia keluar dengan membawa sebuah map. Aku beringsut di balik semak-semak dan melihat Gideon berjalan ke luar. Sepertinya ruangan itu kosong dan selepas Gideon pergi, aku memasukinya.
Memang benar. Tak ada orang disana. Layar-layar menampilkan berbagai grafik yang tidak kupahami. Aku lantas membaca subjeknya: pola pikir otak dari gaya bicara, data percakapan lengkap, sistem F39, rencana Kota Percobaan, riset dari data H.Wallen. Aku tidak tahu apa yang terjadi, jelas ada sesuatu yang tidak beres. Komputer di ruangan ini menyimpan riset dari data seluruh murid. Tapi untuk apa dan bagaimana mereka bisa mendapatkannya? Tidak ada kamera tersembunyi yang bisa merekam percakapan lengkap setiap orang. Lagipula, selama ini aku jarang sekali berbicara kecuali dengan Gideon. Penasaran membuat sangsi lenyap malam itu. Aku mengutak-atik layar, mencoba menemukan beberapa titik terang. Dimana-mana hanya grafik, aku hampir muak dan meninggalkan layar itu ketika tiba-tiba bola mataku tersorot oleh ikon kecil di pojok kanan bawah halaman layar. Setelah mengklik ikon itu, aku mendapati gambar sebuah benda kubus kecil hitam. Tunggu, bukankah ini alat bantu dengar Gideon?
Kantor diktator sedari tadi senyap sebelum akhirnya aku menekan tombol loudspeaker di bawah gambar. Suara robot yang keluar dari layar mengagetkanku. "Masukkan kode untuk memulai perekaman. Pasang 'kotak dengar' di telinga anda dan chip akan bekerja saat objek di sekitar anda berbicara. Data akan tersimpan secara otomatis. Klik hasil untuk melihat pemetaan grafik pada layar."
Bungkam. Aku langsung teringat sesuatu. Di kantor diktator terdapat pusat pengendalian informasi kadar kebutuhan, aku segera membuka portal kadar air. Tepat seperti yang kubayangkan. Data asli menunjukkan kadar air diatas garis merah, hampir 65%. Diktator sengaja mengubahnya. Untuk alasan apa, itu yang aku tak tahu.
Terdengar suara pintu terbuka di tengah keheningan ruang. Aku berbalik dan dua sosok muncul sebagai siluet di remang cahaya.
"Harmony?" aku mengenali suara itu. "Apa yang kau lakukan disini?"
Gideon datang bersama kepala diktator. Terlalu banyak hal mengejutkan malam ini. Aku mengamati sorot mata mereka yang tampak tak senang. Mr. Hans, kepala diktator kami, mengepalkan tangannya erat-erat.
"Keluarlah Nak," Mr. Hans memerintahku. Aku menggeleng, "Tidak sebelum kalian menjelaskan semuanya," ucapku tegas.
"Apa maksudmu? Aku tidak ingin ada masalah, jadi sebaiknya kau keluar,"
Gideon menghentikan langkah Mr. Hans yang hendak menarikku keluar. "Tunggu sebentar, Ayah. Tolong--"
Ayah? Gideon tidak meneruskan kalimatnya sebab dia tidak ingin aku tahu bahwa kepala diktator yang kuduga membohongiku ini adalah ayahnya. Ayah dari satu-satunya orang yang kupercaya. Tapi dia sudah terlanjur membongkar rahasianya sendiri. Aku sudah tidak bisa lagi menerima kenyataan-kenyataan lain yang tidak kupahami. Alih-alih, aku memilih pergi. Gideon menahan lenganku dan berbisik, "Dengarkan aku. Jika kau ingin tahu semuanya, temui aku di Tower Camp, besok pukul 4 pagi." Aku tidak ingin mendengarkannya tapi entah mengapa sebagian naluriku berkata bahwa aku harus memercayainya.
Pukul 4 pagi dan aku tahu Gideon tengah menunggu di Tower Camp. Setelah mengenakan sepatu kets putih, aku bersiap-siap dan berjalan dan berlari dan berlari dan berlari. Pagi itu aku berlari kencang dan tidak berhenti. Omong-omong, aku tidak sedang menuju Tower Camp.
Gapura perbatasan sekolah sudah 2 kilometer di belakangku. Aku membungkukkan badan, memegang kedua lutut. Sekelebat cahaya mercusuar yang berpendar-pendar membuatku tersentak dan tiba-tiba terpikir akan satu hal: The Risk Camp sendirilah yang merupakan Kota Percobaan. Aku tahu diktator sudah gagal dan aku sudah berusaha menjalani semuanya dengan tidak menyerah. Tapi tiba-tiba sesuatu yang asing menyergap tubuhku dan masuk ke dalamnya. Aku sudah berhenti berlari sejak tadi, sebab aku ingin kembali.
***
“Harmony Wallen?”
Usiaku enam belas tahun saat mengetahui aku bisa melihat kehidupan masa depan. Sederet gambaran yang selalu terbesit membuatku seolah-olah menjalaninya secara nyata. Kemampuan itu terasa sangat mengerikan. Kota yang kotor dan penuh bencana. Masa depan yang menolak langit menurunkan kebebasan, sebab setiap orang akan senantiasa diawasi. Diam, persaingan, dan tidak percaya siapapun. The Rise Camp, sekolahku saat ini yang berubah menjadi The Risk Camp di kehidupan masa depan.
Terlepas dari semuanya, aku merasa benar-benar pulang ketika hujan deras mengguyur beranda halaman The Rise Camp. Aku terpaku, padahal hanya 1 jam saja kilasan-kilasan masa depan itu membawaku, namun seolah-olah aku sudah bertahun-tahun disana. Ketekunan dan kepercayaanku pada harapanlah yang membawaku kembali. Seandainya aku berhenti, pasrah, dan menggantungkan segalanya atas kekacauan The Risk Camp, aku akan kalah dengan kaleidoskop maya. Orang-orang takut kehilangan beranda-beranda hijau yang selalu memanggil mereka untuk pulang ke rumah. Kelebihan yang kumiliki itu menyisakan terlalu banyak keganjilan yang belum ingin kuceritakan pada siapapun. Mungkin aku sudah terlalu lama berdiri menatap hujan di koridor sekolah, hingga seseorang menepuk pundakku.
“Harmony Wallen?” ulangnya.
Aku berbalik dan mendapati seorang pria yang tidak kukenal. Entahlah, mungkin murid baru. Penampilannya tidak berbeda dengan murid The Rise Camp lainnya. Berseragam rapi, ransel di punggung, serta membawa beberapa buku tebal. Dilihat dari wajahnya, jelas sekali dia sosok yang genius dan astaga! Ada sebuah kubus kecil hitam di telinga kirinya. []