HANNAH

“KITA BISA TAHU APA ITU TERANG KARENA PERNAH MERASAKAN APA ITU GELAP”

Di sebuah studio stasiun TV, seorang penulis terkenal bernama Karen Nadisha sedang dalam wawancara. Karyanya yang begitu terkenal bukanlah tentang karya fisik yang sedang populer melainkan sebuah buku yang mungkin membantu orang banyak. Dia juga tidak menyangka bahwa bukunya akan seterkenal ini. Banyak orang terbantu akan bukunya. Perjuangannya untuk mencapai prestasi ini tidaklah mudah. Banyak orang yang menertawakan dan menganggapnya tidak masuk akal, hingga sebuah penerbit mencoba untuk menerbitkannya.

“Kembali bersama kami di acara Talk to Me, bersama bintang tamu hari ini pengarang buku fenomenal ‘SAVE YOURSELF FROM SUICIDE’ kita sambut Karen Nadisha.” ujar pembawa acara.

“Silakan duduk Kak Karen. Kak Karen darimana kakak dapat inspirasi untuk menulis buku ini? Kita tahu kebanyakan buku-buku laris zaman sekarang adalah karya fiksi, namun kakak memilih menulis buku seperti ini.” lanjut pembawa acara.

“Aku hanya berpikir banyak sekali fenomena orang yang bunuh diri dan rata-rata orang disekitarnya tidak menyadari atau bahkan tidak mau tahu. Kebanyak masyarakat hany menghakimi orang yang bunuh diri dengan kata-kata akan dihukum di neraka, tidak takut dosa, dan sebagainya. Ini benar. Namun, ini hanya menambah beban orang yang sudah depresi. Sebagai masyarakat yang harus ditanyakan adalah ‘Mengapa?’ bukan ‘Apa akibatnya?’ Selain itu juga yang menginspirasi saya menulis buku ini adalah buku terkenal ’13 Reasons Why’ yang dijadikan acara televisi itu.”

“Dari buku ini, dapat disimpulkan orang yang akan bunuh diri dapat diselamatkan pertama sekali oleh dirinya sendiri. Mengapa anda berpikir seperti itu?”

“Pemikiran untuk mati, menghilang, pergi, dan sebagainya pertama kali muncul adalah dari diri sendiri. Diri sendiri lah yang memunculkan pemikiran tersebut. Itu terjadi juga bukan tanpa sebab. Banyak sebab seperti masalah yang sangat berat, hutang, malu atau harga diri, dan lingkungan membuat orang itu menyerah untuk hidup. Orang lain tidak akan tahu dia berpikiran seperti itu, mengapa? Karena itu pikiran tergelap dia. Kalau pun dia menceritakan jarang orang yang menganggap itu serius. Maka dari itu selain Tuhan pastinya, gunakan diri sendiri untuk mencegah hal tersebut terjadi.”

“Baik, terimakasih atas jawabannya Kak Karen. Itulah jawaban dari Kak Karen. Semoga dapat menginspirasi dan memotivasi untuk mencegah bunuh diri.” tutup sang pembawa acara.

Beberapa jam kemudian Karen tiba di apartemennya. Dia mengganti baju dan menju kamarnya. Ia merebahkan dirinya di atas kasur. Ia berpikir banyak orang-orang yang menganggapnya hebat namun, yang orang-orang tidak tahu bahwa dia pernah berpikir untuk bunuh diri namun, bisa teratasi. Itulah yang membuat dia tahu rasa dan pemikiran orang-orang yang berpikir untuk bunuh diri.

...

“Gelap. Dimana aku? Tolong aku. Tolong aku. Tolong aku. Pasti ada yang mendengar.”

Pagi hari seperti biasa, Karen bangun dari tidur. Dia bukan pelajar, bukan juga pekerja. Dia sudah lulus SMA tiga bulan yang lalu. Dia ingin kuliah namun, apa daya dari sekian ujian masuk perguruan tinggi tidak ada satu pun yang menerimanya. Dia hanya pasrah ketika disuruh menganggur setahun. Bukannya tidak mau bekerja tapi tenaga tubuhnya sangat minim.

“Aku harus rajin belajar agar tahun depan aku lulus,” pikirnya. Yap, pikiran yang sama dalam beberapa bulan ini.

“Gelap. Dimana aku? Tolong aku. Tolong aku. Apakah ada yang mendengar?”

Siang hari di restoran siap saji di sebuah kota, Karen dan Putri berbincang.

“Gila. Senior aku galak banget. Padahal aku nggak salah apa-apa,” kata Putri. “Namanya juga maba pasti ditargetin sama senior,” balas Karen.

“Lalu apa saja yang kamu lakukan selama menganggur? Les?” balas Putri.

“Aku belajar online saja. Kemarin kan sudah les, tidak ada uang. Masalah ekonomi.” kata Karen.

“Oh, ya sudah. Semangat ya. Kamu yakin mengambil jurusan kedokteran lagi?” tanya Putri.

“Entahlah.” balas Karen.

“Gelap. Dimana aku? Tolong aku. Tidak ada yang mendengar”

Karen melamun.

“Kamu masuk kedokteran, nanti kamu bisa bantu usaha ayah. Kalau kamu dokter kamu tidak akan kelaparan. Kamu pinter pasti bisa. Tapi ayah tidak memaksa .”

“Kamu mampu mengambil jurusan itu?”

“Ayah, mau coba jurusan psikologi.”

“Itu beda, belum tentu kamu dapat kerjaan.”

“Ayah, aku cadangin sastra Inggris ya.”

“Kamu mau kerja apa?”

“Banyak.”

“Pokoknya tidak.”

Karen tersadar dari lamunannya. Ibunya menghampiri.

“Apa yang kamu pikirkan, nak?”, tanya sang ibu.

“Ibu, kenapa ayah harus dipecat sewaktu aku mau kuliah? Apalagi karena menolong orang. Orang itu juga tidak tahu terimakasih. Pusing mah. Semuanya jadi serba salah. Aku merasa tidak berguna. Kalau aku bekerja pasti keteteran belajarnya. Lalu ayah banding-bandingin sama temen seangkatan aku yang kuliah tapi tak bisa kusalahkan. Aku juga diledek adik-adik. Aku tuh seperti ditempat gelap tidak ada yang menarik tidak ada yang mendorong.” kata Karen sambil menangis.

“Lalu, aku juga tidak kumpul dengan teman-teman seangkatanku yang menganggur. Aku hanya bertemu sahabatku. Yang sampai saat aku lulus tidak ada yang tahu kalau ayahku dipecat. Aku bingung, bu. Sangat bingung.” Lanjut Karen.

“Gelap. Dimana aku? Ah sudahlah.”

“Ada ya orang yang mau bunuh diri. Aneh bisa kepikiran begitu.” pikir Karen sebelum melihat “13 Reasons Why?” Setelah melihatnya, dia termenung “Yaiyalah, itu lihat masalahnya berat banget.” Tapi disatu sisi dia berpikir, “Harusnya tidak. Semua orang juga punya masalahnya masing-masing.”

“Kamu tuh malas banget sih. Kerjaannya menonton terus. Bagaimana mau sukses? Udah kamarmu itu saja ya penjaramu. Sudah berapa bulan ini? Kamu tidak ada perubahan. Kalau begitu terus Ayah jamin kamu tidak akan masuk perguruan tinggi. Malas ayah juga biayain kuliahmu kalau kamu seperti itu.” teriak sang ayah.

Karen hanya terdiam mendengar omelan ayahnya. Dia terlihat kuat. Namun yang orangtuanya tidak tahu, Ia tidak tidur semalaman. Ya, dia menangis sepanjang malam.

“Kalau aku tidak ada gimana ya?”

Gelap”

“Sudahlah aku mati saja. Tidak ada bagus di hidup aku, bu. Kerapian, kecantikan, dan lainnya, ibu selalu bilang aku cantik. Aku tahu. Tapi mengatai juga aku jorok, tidak suka merawat diri. Aku bukannya tidak bisa, bu. Aku tidak punya uang, bu. Uang dari ayah hanya cukup beli makanan tidak cukup untuk ditabung. Setidaknya kalau memberi uang pas , tolong lengkapi kebutuhan lain. Mana ada anak 18 tahun lain yang tidak punya peralatan kecantikan sendiri. Aku kurang sosial. Ya iyalah bu. Aku tidak punya benar benar teman di kelas. Kenapa? Tiap aku berbicara mereka tidak mengerti. Entah mereka kurang paham, atau topiknya beda. Aku tidak tahu, bu. Sahabat-sahabatku itu bukan dari kelas dan sekolah yang sama. Ternyata aku juga korban bullying sewaktu SMP, aku tidak tahu, bu sampai mau lulus SMA karena aku kurang peka atau sebagainya. Selain itu, bu, mana ada anak berumur 18 tahun masih dilarang menonton di bioskop. Ayah keterlaluan banget. Selama ini aku menonton juga kabur-kaburan. Kalau aku terlalu monoton juga bisa mati stres. Aku sudah pusing. Urusan percintaan, ibu kan tahu aku tidak pernah pacaran atau merasakan senang karena cinta. Tahu kenapa? Buat mereka aku tuh cupu. Aku pernah bertanya di sosmed tanpa orang tahu itu aku hasilnya hinaan semua.” ucap an Karen dengan frustasi.

“Aku lelah, bu. Lelah.” lanjut Karen.

“Cahaya apa itu?”

Ibu Karen terdiam sejenak mendengar ucapan Karen. Ia kaget. Ia tidak menyangka kalau hidup anaknya seberat ini. Selama ini memang Karen tidak pernah mengadu dan yang ia tahu anaknya adalah anak yang tegar.

“Nak, ibu selalu ada disini. Kamu dengar apa kata ibu. Tidak usah kamu pedulikan apa kata orang kalau tidak membangun. Ibu bantu kamu apapun. Ibu akan berusaha menarik dan mendorong kamu menuju terang. Kamu harus percaya. Kamu harus berjuang. Ibu sayang sama kamu.” balas ibu.

“Wah, terangnya!”

Hampir 6 bulan sejak kelulusan SMA, Karen sudah lebih tenang dan mulai menata rencananya. Ia berniat untuk kuliah jurusan Sastra Inggris. Ia tahu apa yang ia alami. Ibu dan temannya mendukung apapun keputusannya. Ia mulai belajar giat dan akhirnya lulus dalam tes perguruan tinggi. Ia merasa senang.

Ketika ia sedang kuliah, ia merenungkan apa yang terjadi selama dia menganggur. Dia memulai menulis apa yang dia pikirkan saat mau bunuh diri dan apa yang dia pikirkan untuk mencegahnya terjadi. Ia mulai menyusun kata-kata dan tahapan-tahapan. Ia mulai berharap buku itu dapat membantu orang lain. Ia juga membuat buku tersebut dalam bahasa Inggris. Ia mulai mencari penerbit.

“Ini tidak akan laku.”

“Ah. Sok tahu kamu menulis ini.”

“Kamu kan bukan psikologi, jangan sok tahu.”

“Alah, mana ada orang berpikir seperti ini.”

Karen hampir menyerah. Namun dia mencoba lagi. Dia menemukan penerbit kecil di pinggir kota.

“Ada yang bisa saya bantu, mba?”tanya pemilik penerbitan bernama Pak Budi.

“Pak, saya ingin menerbitkan buku ini. Coba bapak lihat ini.”

“Saya baca dulu ya.”balas Pak Budi.

Tak beberapa lama Pak Budi membaca naskah itu, dia terkesan. Pak Budi pun mau menerbitkan buku itu. Karena penerbit kecil dan kurang terkenal, Karen sendiri menjual dan membantu promosi di berbagai toko buku. Usaha Karen berhasil, bukunya laris dan dia pun terkenal. Ia tidak menyangka ia akan sukses seperti ini.

...

Dia bangun dari tidurnya dia menatap ke sekelilingnya. Ada tempelan cara-cara untuk menyelamatkan diri sendiri.

“Pertama, pikirkan Tuhan dan dosa yang akan ditanggung karena melangkahi. Namun, ini biasanya tidak dipedulikan orang tersebut. Kedua, pikirkan apa yang akan terjadi pada orang yang akan merasa sedih atau bersalah akan kematian mu. Ketiga, bayngkan dengan imajinasimu jika semua masalahmu yang berat sudah berakhir, bayangkan bahagianya kamu saat itu terjadi.“

Dia pun menoleh sisi yang lain. Menatap kata-kata terakhir dari bukunya yang dia berikan bingkai. Selain kata-kata itu membangun, kata-kata itu juga memenangkan penghargaan “Kutipan Terbaik” tahun lalu.

“Kita bisa tahu apa itu terang karena pernah merasakan apa itu gelap”