“Karena tersenyum dan tertawa dapat dilakukan dengan cara yang sederhanaâ€
“Jadi anak-anak sudah pada mengerti semua kan? Kalau sudah pada mengerti jangan lupa dikerjakan ya tugasnya.” Ucap pak Adi.
“iya pak guru......” jawab anak-anak serentak.
Pa Adi pun pergi meninggalkan kelas. Kelas pun mulai ricuh. Ada yang sedang bermain kejar-kejaran ada yang hanya duduk di bangkunya, ada yang membaca dan juga ada yang sibuk ngobrol. Ya beginilah kondisi kelasku ketika guru tidak ada. Namaku Ririn, aku adalah siswa kelas 4 Sekolah Dasar, dan kebetulan aku terpilih menjadi ketua kelas, aku juga tidak habis pikir mengapa aku menjadi ketua kelas. Aku hanya menerimanya saja.
“Rin gimana tugasnya mau ngerjain bareng ga?” tanya Roy kepadaku.
“Hem.. gatau liat nanti.” Ucapku sekenanya.
“Yaudah terserah,, orang ngajak ngerjain bareng malah gamau..”
“Bawel ih,, iya.. iya entar kita ngerjain bareng. Ajak yang lain juga..”
“Yang lain siapa?”
“Ya siapa lagi temen-temen lah. Kan susah tugasnya kalo ngerjain berdua doang..”
“Ohh gitu yaudah entar aku ajak yang lain juga deh..”
Ya dia adalah Roy teman sekelasku, sebenernya kami cuma teman biasa saja, bukan sahabat juga. Tapi terkadang kami sering sekali main bersama dan dia sangat jahil kepadaku. Pernah suatu ketika ketika ada pelajaran seni budaya ia menggunting rabutku. Aku pun marah dan aku mencakarnya. Terus juga pernah suatu ketika aku sedang naik sepeda tiba-tiba ia berada dibelakangku dan dengan sengaja memegang belakang sepedaku sehingga aku terjatuh dan rantai sepedaku lepas, ia hanya berlari sambil tertawa melihatku jatuh. Terkadang aku rasanya ingin menjahilinya balik, tapi aku buka tipe orang yang jahil. Jadi yasudahah terserah saja dia mau apa. Sering sekali kami bertengkar hanya karena hal sepele.
Pulang sekolah pun kami seringkali pulang bersama, satu hal yang sering dilakukan setelah pulang sekolah adalah nongkrong dibawah pohon ceri dan manjat pohon ceri. Pernah kami pulang sekolah berpetualang hanya untuk menjelajahi pohon-pohon ceri yang tumbuh di lingkungan kami. Selain itu kami juga sering mencari pletekan. Itu adalah semacam tumbuhan yang jika buahnya dimasukan kedalam air maka beberapa saat kemudian buah tersebut akan pecah dan bijinya akan terlempar kemana-mana. Kami sering kali bermain dengan menghitung mundur kapan buahnya akan pecah. Itu adalah keseharian yang sangat menyenangkan bagiku.
“Ririn.. ririn... main yuk..” terdengaran suara teriakan beberapa orang didepan rumah.
“Iya. Iya..” Akupun berjalan keluar rumah.
“Rin ayo,, katanya mau ngerjain tugas..” ucap Roy
“Lah tadi bukannya ngajak main.” Kataku.
“Ya sambil main juga, kan kita mau cari ulat bulu nah kita harus nyari ke pohon-pohon, sekalian main lah..”
“Iya-iya yaudah aku ambil sepeda dulu..”
Kami berempat aku, Roy, Kiki dan Oci naik sepeda mengelilingi jalan sambil mencari ulat bulu. Oh iya tugas yang diberikan kami adalah mata pelajaran IPA yaitu untuk memelihara ulat bulu, setiap hari kami harus menulis bagaimana perkembangan ulat bulu tersebut sampai berubah menjadi kupu-kupu. Sepanjang jalan yang kami lakukan adalah bernyanyi sambil bercanda. Disetiap ada pohon jeruk atau pohon yang sekiranya ada ulat bulu kami pun menghampirinya.
“ah jangan yang ini cari yang lain aja, ulat bulunya banyak durinya. Seremm.” Ujar Kiki sambil pergi meninggalkan salah satu pohon.
“iya ni kok dari tadi ga nemu-nemu ulat bulu yang ga ada durinya ya..” ucap Oci.
“Iya nih kemana lagi nyarinya...”Kataku
“Ehhh ini ada ulat bulu bagus warna hijau ada motifnya gitu. Kalo jadi kupu-kupu kayanya bakal bagus” Roy berteriak dari arahh kejauhan.
“Eh mana.. mana?” aku bersama Kiki dan Oci berlari menghampiri Roy.
“Ini bagus kann?” ucap Roy sambil menujuk salah satu daun.
“Ihh iya bagus..” Jawab kami bertiga.
“Terus jadinya buat siapa ulat bulunya?” kata Oci.
“Buat Roy lah...kan dia yang nemu. Jadi kita harus nyari lagi...... huahh..” kata Kiki sambil berpura-pura menangis.
“Ga ah aku ga terlalu suka. Buat Ririn aja..”
“Ciye dikasihnya buat ririn.. Ciye..” Kiki da Oci meledekku
“Eh apaan sih kan Roy bilangya ga terlalu suka. Yaudahh ayo kita lanjut cari lagi” Ucapku sambil malu.
Hari itu pun kami mencari ulat bulu sampai sore hari. Aku pun meletakan ulat bulu itu kedalam sebuah toples yang diatasnya diikat dengan kain kasa. Aku memberikan beberapa daun pada ulat tersbut dan ia memakannya dengan lahap. Ih lucu sekali makannya lahap. “Cepet tumbuhh jadi kupu-kupu ya ulat...” ujarku.
Beberapa minggu telah berlalu, ulat telah berubah menjadi kupu-kupu. Aku, Oci, Roy dan Kiki saling menunjukkan kupu-kupu kami masing-masing. Kami bercerita tentang perjuangan kami mendapatkan ulat itu. Setelah itu kami melepaskan kupu-kupu kami masing-masing ke alam bebas. Sebelum kami melepaskannya kami saling berbicara sambil terus mengucapkan kata perpisahan. Sebulan kemudian sekolah kami akan mengikuti lomba pramuka.
“Ahhh cappek banget... mana panas lagi..” ucap asebagian teman-temanku
“Yaudah istirahat dulu ya.... “ ucap Ka radit.
Ya kami sekelas sedang latihan pramuka. Jadi sebentar lagi ada perkemahan sabtu minggu dan kami latihan untuk lomba gerak jalan. Sudah tiga minggu ini kami latihan setap akhir pekan. Seminggu lagi kami akan camping. Rasanya kami semua sangat senang karena ini untuk pertama kalinya camping. Kami terus latihan ya walaupun terkadang rasa letih muncul. Namun itu tidak menyurutkan semangat juang kami untuk bisa menang loomba gerak jalan
“Tu wa ga pat, tu wa ga pat. Teratai go teratai go teratai go go srek. Bum alakalakabum alakalakastik alakalaka bum.. bas... tik.. bum bastik oke..” itulah sekiranya beberapa lagu gerak jalan yang kami teriakan dengan penuh semangat.
Hari perkemahan pun tiba kami menaiki mobil losbak dan benar-benar seperti merasa sendirian dan kami saling mengandalkan satu sama lainnya. Karena ini untuk pertama kalinya kami berkemahhh dan yang mendampingi hanya ada pembimbing kami. Jalan yang di lalui benar- benar sulit, samping kanan kirinya adalah sungai kecil dan jalanannya naik turun, apalagi ditambah jalanan yang rusak membuat adrenalin kami terpacu. Disatu sisi kami takut tapi disisi lainnya kami senang dan tertawa karena benar-benar tidak sabar apa yang menunggu kami disana.
Setibanya ditempat tujuan kami hanya terdiam dan bingung harus melakukan apa. Begitu banyak sekolah-sekolah lain yang tidak kami kenal dan juga banyak tenda-tenda yang didirikan. Aku mengambil tenda dan menyuruh untuk segera memasang tenda. Percobaan pertama, kedua gagal, ketika berhasil memasang tenda, tenda tidak terlihat seperti tenda. Aku dan semua temanku tertawa bersama karena tenda itu.
“Rinn... aku iri deh sama tenda sebelah.” Oci menghampiriku.
“Kenapa?” jawabku sambil latihan mengikat tali tambang karena sebentar lagi lomba ikat tali tambang akan segera dimulai.
“Liat deh mereka semua berwarna pink dan terlihat rapih, bahkan mau ke kamar mandi saja mereka berbaris didepan tenda. Mereka semua juga punya ember kecil berwarna pink. Bukankah mereka sangat kompak?”
“Ohh..”
“Ih kok jawabnya oh doang, rin emang kamu ga iri? semua temen kita juga begitu tau dari tadi ngomongnya tenda sebelah bagus. Tenda kita itu miring terus kaya mau rubuh...”
“Sebenarnya aku juga sedikit iri sama tenda sebelah, tapi masa iya harus ngomong-ngomong kalo aku iri. Aku juga merasa aku belum berhasil jadi ketua kelas, buktinya aku belum bisa tanggung jawab ngejaga kalian apalagi tadi Leni yang terluka waktu masang tenda. Ga baik ah masa banding-bandingan sama tenda lain. Udah ah jangan diomongin lagi ya ci, takut yang lainnya down. Lagi pula aku senang kok dengan yang kita miliki saat ini, dengan cara yang sederhana. Kita tetap sama-sama juga kan. ya walaupun tendanya emang keliatan mau rubuh sih....”
“Iya ih kok jadi sedih udah kok kamu udah berhasil jadi ketua kelas, buktinya semua anak kelas kita ikut camping disini kan?...”
“Hemm. Yaudahh yuk lomba tambangnya mau mulai tuh...”
Kami semua pun mulai mengikuti lomba satu persatu. Lomba gerak jalan, lomba tambang dan lain-lain. Tidak terasa waktu sudah sore. Kami pun akan pergi untuk mandi.
“Ah ga mau mandi lah..” ucap sebagian teman-teman.
“Kenapa??” ucapku.
“ Liat tuh ngantri. Rame banget. Bisa-bisa kebagian malem” ucap Alya.
“Wah kalo kaya gini bisa-bisa ga mandi...” Ucapku dalam hati.
Aku kemudian mengajak Oci untuk pergi mandi dan aku berinisiatif untuk menumpang mandi di tempat lain. Kemudian..
“Itu apa? di bak mandi kok gerak-gerak.. kok kaya ikan” ucap Oci.
“Mana??? Eh iya itu ikan ada di bak mandi...” kataku.
Akhirnya kami tidak jadi mandi karena takut dengan ikan yang berada di dalam kamar mandi. Malamnya hujan turun cukup deras. Didalam tenda kami terus berdoa agar tenda tidak rubuh. Suasanya pun tegang karena dengan kondisi gelap dan juga hujan turun dengan deras. Aku berusaha untuk menenangkan teman-temanku untuk tidak panik Akhirnya hujan pun berhenti. Kami pun tidur dengan nyenyak. Waktu pun terus terlewati kami memenangkan lomba gerak jalan. Kemudian pulang dengan hati riang dan bercerita satu dengan lainnya sepanjang jalan..
“Ririn sini... jangan ngelamun disitu aja. Mau foto nih. Lagi ngapain sih? Ucap Roy.
“Eh iya-iya bentar-bentar..”
“Liat kekamera ya 1,2,3 cekrek...”
“Aku pulang dulu ya.. mau mampir ga? Eh kappan-kapan bikin acara ini lagi ya?.” Ucap beberapa orang dan terdengar suara riuh ditelingaku.
“Mau aku anterin pulang ga?” Ucap Roy
“Ga usah, soalnya aku pulang bareng Oci..”
‘Oh gitu..”
“Iya...”
“Yaudah samapai ketemu lagi ya...”
Itu adalah acara reuni yang berakhir dengan canda dan tawa. Sudah lebih dari 15 tahun kami baru berkumpul kembali. Sejenak aku kembali kemasa kecil dimana senyum, tawa, canda dan kenangan yang kami buat di masa kecil. Hal itu kami lakukan dengan cara-cara yang sederhama. Aku belajar bertanggung jawab, belajar menghargai teman, mendapat pengalaman baru. Ahh rasanya aku benar-benar kembali kemasa kecil bersama mereka semua. rindu..... aku begitu rindu dengan masa kecil dengan segala kekonyolan kami dimana tidak ada satu hal pun yang dikhawatirkan. Aku melihat langit yang dipenuhi bintang dan berkata. “seandainya aku bisa kembali ke masa kecil, aku ingin mengukir kisah-kisa lainnya yang belum pernah aku buat..”