Sebuah busur memang menentukan kemana anak panah membidik, tapi anak panah tetap mempunyai hak untuk kemana ia akan tertacap.
AYAH, IZINKAN AKU TETAP MENULIS
Tetes demi tetes embun yang menyejukan mulai berpamitan. Kabut-kabut tipis sahabat pagi sudah pula terkikis dari pandangan. Matahari yang semula jingga separuh lingkaran, lambat laun mulai utuh begitu lantang, warnanya yang menyilaukan hingga tak diketahui apakah ia jingga atau kuning seperti kata orang-orang. Halimun pagi memang selalu sempurna untuk diceritakan.
“Upacara telah selesai, barisan diistirahatkan” ucap sang pembawa acara, seketika bertambahlah kekesalan peserta upacara.
“Sampai kapan upacara ini berlangsung?” keluh Rini.
“Sabar, Rini.” Dinda, gadis berkacamata minus itu menepuk sahabatnya yang cemberut.
“Kepada saudara Dinda Wardhani dari kelas XII IPA 2 dipersilahkan maju ke depan. Atas prestasinya, mengharumkan nama baik SMA Kasih Ibu, sebagai juara 1 Lomba Cipta Puisi tingkat Jawa Tengah yang diadakan oleh Gubernur Jawa Tengah.”
Semua peserta upacara mulai bertepuk tangan. Rini yang semula cemberut kaget tak percaya mendengar pengumuman itu.
Rini menatap Dinda bingung. Dinda tersenyum, segera ia melangkah ke depan dan mengabaikan sahabatnya yang masih tidak percaya. Tepuk tangan semakin menggema ketika Dinda berjalan dengan senyum ramah.
Para guru bergantian memberi selamat kepadanya. Barisan sudah dibubarkan oleh pemimpin upacara. Seketika lapangan itu seperti semut yang dirusak rumahnya.
“Aku masih tidak percaya kau bisa menjadi juara. Memang kapan kamu mengikuti lomba itu?” ujar Rini menghampiri Dinda yang sudah selesai bersalaman dengan para guru.
“Beberapa minggu yang lalu, Rin. Aku sengaja tidak memberitahu siapapun. Tapi entah kenapa sekolah bisa mengetahuinya.”
“Kamu pasti bohong padaku, kan? Pasti semua orang sudah tahu, kecuali aku.” Sembari berjalan, Rini memasang muka sedih karena merasa diabaikan sahabatnya.
“Aku tidak berbohong, Rini. Percayalah. Setelah upacara selesai aku mau memberitahumu.”
Rini paham bahwa Dinda tidak akan melupakan dirinya. Namun, melihat raut wajah Dinda yang merasa bersalah membuat Rini selalu ingin menggodanya.
“Dinda, ayo ke ruang bapak sebentar. Ada yang ingin bapak bicarakan.” Pak Yanto, kepala sekolah menghampiri Dinda dan Rini yang tengah berjalan menuju ruang kelas.
“Baik, Pak. Rini kau duluan saja, ya.” kata Dinda berpamitan dengan Rini. Iapun membalasnya dengan mengangguk dan membungkuk memberi salam kepada pak Yanto.
“Sekali lagi saya ucapkan selamat atas prestasi yang sudah kamu raih, nak.” Pak Yanto tersenyum.
“Terimakasih atas ucapannya, Pak. Tapi saya masih kurang mengerti dimana bapak mendapatkan informasi ini?”
“Oh, iya. Saya melupakan sesuatu. Didepan kamu ini Pak Pur, Ketua Progam Studi Sastra Indonesia di universitas yang ternama di kota ini. Dan beliau merupakan salah satu juri dalam perlombaan yang kamu ikuti.” ujar pak Yanto. Pak Pur dan Dinda saling berjabat tangan.
"Dan saya adalah adik dari Pak Yanto. Melihat salah satu siswanya yang berprestasi, saya juga wajib memberitahunya, bukan? Dan kedatangan saya disini ada perlu dengan Dinda.”
Dinda berfikir, bertanya-tanya dalam hati apa yang akan terjadi pada dirinya. Ia menatap Pak Pur meminta jawaban.
“Saya sangat terkesan dengan puisi yang Dinda buat. Puisi itu mengandung banyak sekali arti yang sangat-sangat mendalam. Besok lusa, pemberian hadiah akan dilakukan. Disana dihadiri oleh banyak orang penting, termasuk dekan dan rektor dari universitas tempat saya bekerja. Para pemenang dipersilakan membacakan puisinya. Dan saya ingin, kamu membaca dengan baik sehingga saya bisa menunjukkan kepada dekan, kepada rektor, bahwa kamu adalah bibit unggul. Dan saya akan meminta beliau menerimamu sebagai mahasiswa di universitas kami tanpa tes dan beasiswa penuh. Bagaimana, Dinda? Kamu sanggup dengan ini?”
Pak Pur tersenyum hangat, begitu pula Pak Yanto. Dinda terbelalak. Ia tak dapat menjawabnya. Sunyi memenuhi atmosfer ruangan itu.
“Tak usah ragu, anakku. Kamu harus bersyukur, tiada orang lain yang bisa menjadi seperti kau. Ini kesempatan yang baik untukmu lebih bisa terbang dengan diksi dan rimamu. Kau boleh berfikir, nak. Itu lumrah. Semoga kau bisa menampilkan yang terbaik lusa nanti. Aku percaya dan yakin itu.” Pak Pur menenangkan Dinda dengan kata-kata lembutnya. Seketika Dinda tersenyum. Tersirat keyakinan yang besar disana.
***
Ujian sudah semakin dekat begitu menghantui para siswa kelas XII. Yang semula tak belajar mulai memaksakan diri untuk belajar, yang semula belajar semakin giat untuk belajar. Dinda bukan siswa yang kurang pintar, bukan pula yang terlalu pintar. Belajarnya tetap seperti biasa, pukul 18.00 WIB hingga pukul 20.00 WIB. Namun percakapan pagi tadi, begitu mengganggu pemikiran Dinda. Ia begitu gelisah.
“Kakak, ayo turun. Berhenti belajarnya, makan sebentar.” Teriak ibu Dinda dari ruang makan.
Ia memejamkan mata. Meyakinkan diri bahwa semua baik-baik. Ia menghela napas berkali-kali. Iya, dia sudah siap. Ia keluar dengan rasa takut yang mendebarkan. Di sana sudah tertata rapi makan malam yang melezatkan, ayah yang duduk di kursi tengah, Reno, adik Dinda yang masih 5 tahun, dan ibu yang sedang mengambilkan piring berisi nasi untuk suaminya.
Dinda duduk di sebelah kiri ayahnya, di sebelah kanannya ada Reno yang tengah lahap makanan yang disiapkan khusus untuknya. Ia melihat sekeliling. Keraguan yang semula hilang, kini mulai datang kembali.
“Apa yang tengah kau pikirkan? Daritadi kuperhatikan kau menarik napas berkali-kali.” Ujar ayahnya mulai menyendok nasi dan lauk untuk ia makan.
“Kemarin Dinda mengikuti lomba, Yah.” Dinda mulai memberanikan diri.
“Lomba? Lomba apa? Matematika? Ipa? Juara berapa?” tanggap Ayah Dinda dengan wajah sumringah. Beliau segera minum air, cepat-cepat ia mendengarkan dengan antusias cerita anaknya.
“Bukan, Ayah. Dinda ikut lomba cipta puisi yang diadakan oleh gubernur Jawa Tengah. Alhamdulillah, Dinda juara satu, dan...”
“Oh, menulis rupanya. Ternyata kau masih menggeluti kegiatan yang tidak jelas itu, ya?”
Ayah Dinda yang semula antusias berubah diam seperti semula. Ia melanjutkan makan dengan muka datar.
“Ayah, itu bukan kegiatan yang tidak jelas. Nyatanya Dinda juara 1, Yah. Dan lusa nanti, penyerahan hadiah akan dilakukan di Gedung Gubernur. Disana dihadiri banyak orang. Jika aku bisa membaca dengan baik, Dinda bisa masuk jurusan Sastra Indonesia tanpa jaluk tes apapun dan mendapatkan beasiswa.” Jelas Dinda kepada ayahnya yang sudah tak peduli itu.
“Betulkah yang ibu dengar ini, Kak? Selamat, ya. Ibu bangga dengan kakak.” Ibu Dinda menatap penuh haru dengan bangga mendengar cerita yang baru saja disampaikan oleh anaknya. Dinda membalas memberi senyum.
“Lalu, di Sastra Indonesia mau jadi apa? Berhentilah bicara omong kosong, Din. Ayah menyekolahkanmu mahal-mahal dengan harapan kau jadi dokter. Buang semua keinginanmu itu! ” titah Ayah Dinda dengan tegas. Dinda terdiam, tak menyangka ternyata ayahnya begitu membenci minatnya.
“Ayah. Mengapa seseorang berhak menganaktirikan jurusan yang lain ketika ia tidak tahu betapa berartinya setiap jurusan pada kehidupan sehari-hari? Ayah, dari awal aku tidak ingin memasuki sekolah ini. Ayahlah yang memaksaku. Biar untuk kali ini aku yang menetukan langkahku, ayah.”
Dinda berusaha dengan sopan berbicara dengan ayahnya, meskipun hatinya begitu hancur. Ayahnya menggebrak meja. Belum pernah mereka saksikan kepala rumah tangga itu begitu marah.
“Aku menyekolahkanmu tinggi-tinggi bukan untuk kamu dengan leluasa mebantah perintah orang tuamu! Semua yang aku arahkan kelak akan menjadikanmu sukses dimasa tuamu. Seorang ayah berhak menentukan kemana anaknya akan berjalan. Ibarat busur seperti orang tua, dan anak sebagai anak panah. Anak panah mampu membidik dengan benar berkat busur. Besok lusa tetaplah di rumah. Tak kuijinkan kau keluar, apalagi pergi ke Gedung Gubernur itu.”
Dinda berdiri. Ia tak tahan lagi mendengar semua itu. Ia melihat ibunya yang berharap untuk segera mengakhiri obrolan ini. Dinda menggeleng.
“Sebuah busur memang menentukan kemana anak panah membidik, tapi anak panah tetap mempunyai hak untuk kemana ia akan tertacap.” Jawab Dinda dengan suara serak.
Dinda berdiri dengan berlinang air mata berlari ke kamar dengan rasa kesal yang mendalam.
Sudah dua hari ini Dinda lebih memilih menyendiri di kamar. Keinginannya yang besar, penolakan ayah Dinda yang tegas begitu menghantui batin dan pikirannya. Sesekali ia mengepalkan tangan, sesekali pula ia meneteskan air mata.
Ia terbangun dari kasurnya. Berjalan dengan gonta menuju kaca besar di samping tempat tidurnya. Ia menghela napas, menatap kosong pantulan dirinya disana. Rambutnya berantakan, kantung mata yang semakin menghitam, dan bibirnya yang pucat seakan tak bernyawa.
“Aku tidak boleh seperti ini.”
Ia keluar kamar, melihat sekeliling yang sepi. Segera ia bergegas menuju ruang makan. Di meja makan sudah tersusun rapi ikan nila yang di goreng kering begitu menggiurkan lengkap dengan sambal terasi, disebelahnya ada mangkok kaca berisi sayur sop yang ditutup agar masih terjaga kehangatnya. Mata Dinda tertuju pada secarik kertas yang menempel di atas mangkok kaca.
Ayah dan ibu pergi mengantar Reno periksa ke dokter, kamu jangan lupa makan.
Dinda tersenyum, merasa Tuhan berada dipihaknya. Segera ia bergegas mandi dan bersiap tanpa menghiraukan sarapan yang sudah disiapkan. Dinda sudah selesai bersiap. Segera ia keluar dari rumahnya. Bayang-bayang amarah ayahnya tak lagi ia pikirkan.
Rumah dinda dekat jalan raya, hanya butuh naik satu kali bus untuk menuju Gedung Gubernur. Ia berdiri di depan rumah. Menunggu bus datang dan was-was jika ayahnya pulang.
Bus tujuan Dinda sudah datang. Segera ia melambaikan tangan tanda ingin menumpang. Bus berhenti dan Dinda segera naik.
Perjalanan tidak begitu jauh, hanya 20 menit dari rumahnya. Bus berhenti di lampu merah perempatan jalan. Ia turun. Didepannya berdiri megah gedung berwarna putih. Butuh 200 meter lagi untuk Dinda sampai ke gedung. Lampu sebentar lagi hijau. Tiba-tiba handphone disakunya bergetar.
“Assamualaikum.” jawab Dinda bergetar.
“Dimana kamu?!” Bentak ayahnya diseberang sana.
“Aku di depan Gedung Gubernur, Ayah. Maafkan aku tak mengindahkan perkataan ayah. Tapi ini mimpiku sejak dulu.”
“Pulang!! Sekali aku melarangmu selamanya kau tak boleh melakukan itu. Ingat, Dinda. Ridho Allah adalah ridho orang tua.” bentaknya sekali lagi.
Dinda paham, ia akan dimarahi seperti ini. Suara makin tidak jelas karena kendaraan berkeliaran. Ia tanpa sadar berjalan melewati zebra cross. Lampu hijau yang dia anggap sebagai tandanya berjalan, rupanya petaka baginya. Tanpa ia sadar mobil dari arah kanannya melaju sangat cepat. Berulang kalo mobil itu membunyikan klakson, namun tak diperhatikan oleh Dinda. Belum sempat sopir itu memijak rem, gadis mungil di hadapannya sudah terhantam.
Darah mulai bercucuran. Dinda meringis menahan sakit. Telepon dari ayahnya masih tersambung. Dinda mendengar teriakan ayahnya namun tak ia rasakan. Pengemudi dari mobil itu turun, semua orang mulai bergerombol. Beberapa orang membopongnya ke tepi.
“Dik. Minum dulu.” Ibu dengan wajah khawatir menyodorkan air minum. Dengan bantuannya, Dinda meminum air dalam botol mineral.
“Dik, ke rumah sakit, ya?” bapak yang menabrak Dinda menawarkan diri.
Dengan sempoyongan Dinda berdiri. Ia menggeleng. Dinda menunduk, memberi salam pada semua yang ada di sana. Semua orang menatapnya iba. Beberapa orang berteriak menyuruhnya berhenti, tetap saja ia berjalan dengan gontai ke arah Gedung Gubernur.
Gedung itu sudah tak jauh lagi, namun keadaan Dinda yang tidak memungkinkan terasa begitu jauh. Setiap ia berjalan, darah dari dahinya menetes jatuh dijalan. Sesekali ia meringis, menahan perih luka. Acara sudah dimulai 45 menit yang lalu. Ia menghela napas, bersyukur acara belum selesai.
“Acara selanjutnya ialah pembacaan puisi oleh pemenang Lomba Cipta Puisi tingkat Jawa Tengah 2017 oleh saudara Dinda Wardhani.”
Semua orang bertepuk tangan. Segera ia berjalan menuju podium dengan wajah pucat dan darah yang mulai berhenti mengalir. Semua orang menatapnya dengan terkejut. Sebagian berusaha mencegah namun diurungkan.
“Dinda!!”
Dinda menoleh begitupun semua orang yang berada di ruang itu. Wajah merah padam ayahnya begitu jelas, ibunya masih saja menangis. Dinda kembali melanjutkan perjalanan menuju podium. Semua hening.
Dinda sudah berdiri diatas podium. Ia melihat didepannya ada Pak Pur yang menatap iba dirinya. Ia melihat kembali ayahnya yang tetap saja menunjukkan ekspresi marah, namun tidak berkutik. Dinda memejamkan matanya sebentar. Dengan kepala pusing dan goresan luka yang terasa semakin perih ia mulai membaca puisinya.
Ayah, Izinkan Aku Tetap Menulis
Aku berjalan gontai diatas setumpuk kewajiban
Dengan mata tertutup kulalui bingkai-bingkai perintah yang begitu memuakan
Sesekali kuingin meraih bintang
Namun malam-malamku terlalu gelap tertutup ayahan
Puisiku mati saat sukmaku tak lagi berdiksi
Puisiku musnah saat mimpiku mulai goyah
Puisiku binasa saat harapku tak lagi berima
Puisiku malang, puisiku usang
Ayah...
Begitu banyak bintang yang menghiasi
Izinkan aku tetap berpuisi
Begitu banyak janji-janji manis
Izinkan aku tetap menulis
Semua orang berdiri. Bertepuk tangan dengan amat keras. Ketika Gubernur datang ingin memberi selamat kepadanya, Dinda terjatuh.
***
Dinda terbujur lemas diatas kasur ruang UGD. Darahnya sudah tak lagi menetes. Tangan kirinya sudah terpasang saluran infus, sedangkan tangan kanannya digenggam lembut oleh ibunya. Tangan kanan yang digenggam ibunya sedikit bergerak. Ibu Dinda tersentak, segera ia melihat anaknya.
Dinda mulai membuka matanya secara perlahan. Pelan-pelan yang semua buram menjadi lebih jelas. Ibunya menangis.
“Dinda. Anakku. Alhamdulillah kamu sudah sadar, Nak.” ibunya bangkit. Dengan sigap ia peluk dan cium putrinya itu.
Dinda tersenyum. Dalam keadaan dipeluk, Dinda menyaksikan ayahnya yang berdiri memperhatikan dirinya tengah menyeka air mata.