azkiyaqiky

"Hidup ini rumit, kawan. Hanya segelintir di dunia ini yang mampu menerimanya. Aku memang tidak bisa menerimanya. Tapi setidaknya, aku bisa menjalaninya."

 

“Mamaaa!”

“Aduh, ada apa nak? Jangan buat jantung mama copot dong!” kata mama sambil memonyongkan bibirnya. Tangannya masih sigap mengaduk adonan kue.

“Hehe, maaf, ma! Oh iya, aku menang lomba cipta puisi, ma. Lihat ini! Akhirnya aku punya laptop!” aku berteriak bahagia.

“Wah, Impianmu terwujud nih. Bapakmu pasti bangga,” ucap mama sambil memelukku, meninggalkan adonan. 

“Iya dong! Anak mama gitu, lho. Kalau punya laptop, aku bisa bantu mama dan bapak mencari uang,” balasku sambil bergemul manja di dalam pelukan mama.

Tepat saat aku masih larut dalam kesenangan, tiba-tiba seorang pemuda tanggung mendatangi kami berdua sambil berteriak kalap.

“Bu.. bu Inah, itu.. itu..” pemuda itu terbata-bata.

“Ada apa, Salih?” kata mama sambil melepas pelukannya.

“Pak Sa.. Samad..”

“Ada apa dengan suami saya?” tangan mama gemetar.

“Pak Samad pingsan di sawah!”

***

Aku punya impian. Impian seorang anak yang ingin berbuat baik kepada orang tua. Aku ingin mama dan bapak bahagia.

Tapi pagi ini, hancur sudah kesenanganku. Impianku hancur. Tidak, bukan begitu. Aku masih bisa membantu mama. Tapi aku tidak akan pernah bisa membantu bapak.

Enam jam berikutnya, jenazah bapak sudah dikuburkan bersama anganku. Pagi tadi, setelah mendengar kabar, mama pontang panting melekatkan tudung seadanya dan terbirit-birit menyusul bang Salih. Aku tak kalah cemasnya. Di sana, warga sudah banyak yang membantu mengangkat tubuh lemas bapak. Bapak mengerang tidak jelas. Bapak pun segera diboyong pemuda-pemuda desa untuk dibawa ke UGD.

Tapi takdir tak bisa dilawan. Bapak bahkan sudah membisu sebelum dimasukkan ke dalam ambulan. Di situlah, bapak menghembuskan nafas terakhirnya.

Mama yang melihatnya langsung, tercekat. Aku tahu, mama berusaha untuk bersabar. Tapi sebesar apapun kesabaran mama, setulus apapun ibu-ibu kampung mengelus punggung mama, berbisik bahwa ini adalah takdir, akhirnya mama menangis. Tampak sekali dari raut wajahnya bahwa dia tidak mau menerima kenyataan. Seorang dokter juga telah berbaik hati mencoba meredakan tangis mama, menjelaskan apa penyakit bapak selama ini. Tapi aku tidak yakin mama akan mendengarnya.

Hatiku perih melihat mama.

Suasana berkabung mengurung kami satu tahun lamanya.

***

Mamaku tersayang.

Maafkan aku yang tiba-tiba pergi. Sungguh maafkan aku. Bukannya aku tega membiarkan mama menanggung semua rasa sakit sendirian. Tapi justru aku tidak ingin membuat mama bertambah sedih melihatku karena aku mirip dengan bapak. Aku tahu, belakangan ini mama berusaha menghindar menatapku. Mama selalu mencari kesibukan untuk melupakan bapak. Miris sekali.

Sebetulnya, aku juga sakit diperlakukan mama seperti ini. Maafkan anak lelakimu yang lancang. Tapi aku sudah memutuskan untuk pergi. Aku akan melanjutkan impianku yang telah lama terkubur. Mohon doa restu dari mama.

Aku akan membahagiakan mama dan juga bapak di sana.

 

Salam sayang

 

Anakmu

 

Ya, aku akan pergi. Aku sigap meletakkan surat ini di bawah tempat tidur sambil menghapus gumpalan air di mataku. Tidak, aku tidak boleh menangis. Kalian tahu? Aku bahkan tidak menangis ketika bapak meninggal dulu.

Aku segera memasukkan semua barang-barang. Kemudian aku memecahkan celengan ayamku. Aku yakin, uang ini cukup untukku sendiri selama di perjalanan nanti. Tahun ini aku sudah lulus SMA. Jadi aku tidak perlu repot-repot memikirkan biaya sekolah.

Pukul tiga dini hari, setelah selesai mengepak barang yang kuperlukan, aku berangkat. Aku tidak akan melewati pintu depan. Decitannya akan mengusik mama yang masih terlelap. Aku akan lewat jendela kamarku sendiri.

Akhirnya, setelah kumantapkan hatiku, aku melompat menuju halaman rumah. Masih terlalu pagi. Belum ada warga yang bangun. Kukencangkan tas gendongku dan berlari kecil menyusuri jalanan yang keras. Keras pada kehidupan.

***

“Adik mau nge-kos ya? Mari dilihat dulu,” ajak seorang wanita lima puluh-an dengan ramah.

Aku mengangguk. “Iya bu, alhamdulilah ketemu juga.”

Sebelumnya, terik sinar matahari terasa menyengat. Puluhan kali aku menyeka peluh yang mengalir dahsyat di dahiku. Meskipun aku lega dapat keluar kampung tanpa masalah, masalah kembali muncul.

“Di mana aku akan tidur?” aku bertanya pada diriku sendiri. 

Aku tidak mengenal tempat yang kukunjungi. Alhasil, aku menghabiskan waktu empat jam untuk bertanya kepada penduduk di mana aku bisa menyewa kamar. Akhirnya setelah menyapa seorang gadis yang usianya kurang lebih 5 tahun di bawahku, aku mendapatkan informasi yang kutunggu-tunggu.

“Mas Farhan cari tempat nge-kos, ya? di ujung gang ini juga ada kok! Tante aku yang punya,” kata gadis itu dengan ramah setelah menanyakan namaku.

“Wah, terima kasih, dik! Mas langsung aja, ya?” kataku sambil melambaikan tangan.

“Adik tahu tempat ini dari siapa?” tanya ibu kos memecah lamunanku.

“Dari gadis kecil, bu. Katanya dia keponakan ibu, ya?”

“Oh, iya. Gadis yang rambutnya dikucir itu kan? namanya Lisa.”

“Adik masih sekolah atau kuliah?” lanjut ibu kos.

“Ah iya. Saya sudah lulus SMA, bu. Tapi belum lanjut kuliah. Saya ingin bekerja dulu.”

Aku melihat-lihat sebentar. Lalu tanpa banyak bertanya lagi, aku segera menyewa kamar sederhana ini.

 Malamnya aku tidak keluar kamar walau hanya menghirup udara. Aku akan beristirahat malam ini dan mencari pekerjaan besok. Aku akan mencoba menghalau wajah mama di dalam benakku.

Wajah mama yang pucat ketika menemukan surat kepergianku.

***

Tidak ada.

Tidak ada satu pun yang mau menerimaku dengan berbekal ijazah SMA. Susah payah aku berkelana mengunjungi bangunan satu per satu. Mulai dari toko kecil, minimarket, perusahaan, bangsal-bangsal hingga perbankan yang gedungnya menjunjung tinggi.

Jika aku tidak meninggalkan laptop di rumahku dulu, aku tidak akan seperti ini. Aku bisa lebih fokus kepada hobi menulisku. Oh, aku naif sekali.  

Rasa letih, haus, dan lapar bercampur aduk. Namun, ketika  tanganku kebas mengelap peluh ratusan kali, hampir putus asa, akhirnya aku mendapatkan imbalannya.

“Permisi, bu,” ucapku dengan ramah kepada pemilik sebuah toko baju.

“Iya, ada apa nak?” seorang ibu ramah bertanya. Ialah pemilik toko ini.

“Saya ingin melamar pekerjaan, bu. Sudah seminggu saya pontang panting mencari lowongan. Apakah ibu berkenan menerima saya? Pekerjaan apa saja yang ibu berikan pasti saya terima, asalkan saya bisa makan,” ucapku dengan nada memelas.

Ibu itu mengangguk. Aku senang bukan main.

“Terima kasih banyak, bu,”  ucapku senang sembari membungkukkan badan.

Ibu itu tersenyum, lantas memperkenalkan dirinya.

“Hari ini kamu istirahat saja dulu. Besok pagi datang lagi. Kebetulan, ibu sedang mencari seseorang untuk menjaga toko ibu selama 2 minggu. Soalnya ibu mau pulang kampung,” terang ibu yang mengaku bernama Aminah itu.

Besoknya, saat matahari masih malu-malu menampakkan cahayanya, aku sudah berangkat. Aku harus bekerja hari ini.

***

Waktu dua minggu yang diberikan tak kusangka membuat ibu Aminah mempercayakan tokonya kepadaku. Ia memutuskan untuk menjadikanku sebagai karyawannya. Ia terkagum dengan kegigihanku dalam berjualan. Selain itu, ibu Aminah juga sudah tidak kuat menjaga toko setiap hari. Aku tersenyum sumringah. Dengan begini, gajiku akan memadai.

Semakin lama, toko baju ibu Aminah semakin ramai. Aku berinisiatif untuk memperbesar toko ini. Maka atas persetujuan ibu Aminah, aku mengadakan renovasi.  Awalnya, tahap persiapan berjalan dengan lancar. Biaya dan keperluan sudah diatur oleh beberapa buruh yang disewa suami Ibu Aminah.

Namun suatu peristiwa terjadi.

Malam ketika aku masih terlelap, telepon berdering amat nyaring.

“Nak, maaf mengganggu,” itu suara ibu Aminah. Nada suaranya seperti ketakutan.

“Ada apa bu?” tanyaku sambil menguap kecil.

“Toko kita dibobol, nak.”

Aku terlonjak.

“Ke.. kenapa, bu? Apa yang terjadi?” aku bertanya cemas.

Ibu Aminah menjelaskan semuanya. Sepertinya, ada maling yang masuk melalui loteng toko. Lotengnya memang dibongkar karena sudah bocor. Tapi aku tidak mengerti mengapa para buruh tidak memperbaikinya sebelum malam. Barang-barangnya juga hampir tak bersisa. Lenyap begitu saja.

Aku mendesis benci.

***

Sudah dua bulan aku kembali berkelana mencari pekerjaan. Aku tidak bekerja pada bu Aminah lagi. Kejadian waktu itu membuatku merasa bersalah padanya. Gaji yang diberikan bu Aminah untukku selama setengah tahun tidak cukup untuk menggantinya.  Aku menghela nafas perlahan.

Tiba-tiba aku melihat sebuah brosur yang membutuhkan seorang agen mobil. Seketika aku berlari menuju alamat yang tertera pada brosur itu.

Ini kesempatan kedua!

***

Aku diterima menjadi agen. Hatiku bersorak senang. Namun, menjadi seorang agen tidaklah mudah. Aku harus berkeliling untuk menarik minat masyarakat. Tapi aku mampu melakukannya. Hanya soal waktu aku bisa menjual beberapa mobil kepada orang-orang. Ya, aku berhasil.

Secercah harapan timbul dalam benakku. Wajah mama yang riang kembali membuatku rindu. Namun aku sudah bertekad. Sebelum aku mampu mengumpulkan uang untuk mama, aku tidak akan pulang. Aku akan menjalani pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh

Tapi, ketika genap satu tahun aku bekerja, harapanku kembali padam.

Dipadamkan oleh majikanku yang seorang koruptor.

***

Aku benci, benci sekali. Mengapa ketika aku sudah melihat harapan, tiba-tiba dirnggut begitu saja?

**

“Hai, Farhan! Kamu merantau?”

Aku menoleh. Faisal, teman sekolahku dulu ternyata ada disini.

“Kamu sudah punya pekerjaan? Soalnya aku sedang mencari seseorang untuk membantuku mengajar di yayasan milikku,” kata Faisal.

Tentu saja aku mengangguk. Aku sudah bosan membantu ibu kos mengerjakan pekerjaan rumah.

“Baiklah, kalau begitu besok kamu datang ya!”

Singkat cerita, aku yang sebelumnya amat terpuruk menjadi sumringah ketika mengajar besoknya. Aku memang tak pernah mengajar, tapi setidaknya aku bisa mendongeng. Hal ini pasti disukai anak-anak.

Dua tahun aku mengajar di yayasan milik Faisal, ia memberiku ide untuk membangun yayasan sendiri. Aku setuju. Uang tabunganku selama ini cukup untuk membangun rumah kecil untuk anak-anak. Dua bulan selanjutnya, rumah kubuat itu dibuka. Banyak anak-anak yang mendaftar. Sebetulnya rumah itu bisa untuk kutempati, tapi hatiku menolak. Aku tidak tahu mengapa.

Teman, aku tidak akan berleha-leha lagi menceritakan proses mengajar sekarang ini. Karena kalian pasti bisa menebak apa yang terjadi selanjutnya.

Ya, kejadian yang entah mengapa selalu mengikutiku.

Rumah yang aku buat itu sudah ditimbun tanah pagi tadi. Jadi inilah mengapa hatiku menyuruhku untuk tetap tinggal di kosan.

Longsor itu menyeret semuanya. Harapanku, usahaku, sebagian besar barangku, termasuk modalku. aku benar-benar terpuruk saat ini.

***

Impianku sederhana saja. AKU INGIN MAMA DAN BAPAK BAHAGIA. Tapi mengapa seolah-olah dunia tidak mengizinkanku? Aku sangat marah.

Tiba-tiba aku tercenung. Ada sesuatu yang terlintas di otakku. Sesuatu yang abai untuk kupahami. Apa arti bahagia?

***

“Mas! Ada surat untuk mas Farhan, nih!” teriak Lisa. Sepertinya ia berkunjung ke rumah tantenya.

“Dari siapa?” aku bertanya datar.

Lisa mengangkat bahunya.

Aku mendesah pelan. Kubuka perlahan amplop yang menyelimuti isinya. Lalu aku mengeluarkan isinya dengan malas. Ketika aku membaca baris pertama, mataku tiba-tiba terbelalak.

Surat yang kutunggu bertahun-tahun.

Surat dari mama.

***

Untuk jagoan mama.

Bagaimana kabarmu sekarang?

Mama tahu cepat atau lambat kamu akan pergi. Jadi jika kamu masih khawatir, maka sekarang tenanglah. Mama sudah merestui kepergianmu. Maafkan mama jika  menyakiti hatimu yang sudah terluka karena kepergian bapak. Mama hanya menambah kepedihanmu, bukan?

Mama sengaja tidak mengirimimu kabar karena takut kamu selalu memikirkan mama. Tapi menurut naluri mama, sepertinya kamu malah sedih karena mama sama sekali tidak memberi kabar, ya? Tidak, jangan salahkan dirimu yang tidak pulang-pulang. Mama tahu itu. Kamu adalah anak yang tak mau mengecewakan siapapun dengan melanggar janjinya.

Mama yakin, kamu masih seorang anak laki-laki yang pendiam dengan mimpi-mimpi di pangkuannya. Mimpimu untuk membahagiakan mama dan juga bapakmu.

Tapi Farhan, apakah kamu tahu arti bahagia?

Bahagia menurut mama adalah ketika bapak meminang mama dahulu. Ditambah dengan tangisan merdu seorang anak laki-laki yang lahir dari rahim mama. Bukan uang melainkan kasih sayang. Mama sudah bahagia.

Dan terakhir, pesan mama, sesusah apapun hidupmu, serumit apapun masalahmu, jangan pernah merutuk takdirmu. Kerahkanlah kemampuanmu untuk hidup. Tidak ada yang mudah. Tidak ada. Tapi kerja keras-lah yang membawa kepada kemudahan. Lanjutkan hidupmu, meskipun tanpa mama.

Sekali lagi, maafkan mama yang sudah berhenti memberikan kasih sayang kepadamu.

 

Salam sayang

 

Mama

 

Pecah sudah air mataku.

***

“Hei! Kamu mau mengantarku ke warnet?” kataku sambil menepuk pundak Faisal.

“Lho, Farhan? Bagaimana dengan yayasan itu? Apakah ada yang tersisa?” Faisal terlihat terkejut dengan kedatanganku.

“Tidak sama sekali,” aku menjawab santai.

“Tapi bagaimana kamu bisa bersemangat seperti ini? Bukannya kamu sudah menghabiskan modalmu untuk itu?” tanya Faisal sambil menggaruk kepalanya.

Aku mengangkat bahu.

“Justru itu. Aku akan mencari pekerjaan yang lain. Mungkin aku akan membuka toko kue. Jadi aku mau mencari resep-resep kue di internet. Jangan salah, keren-keren begini aku bisa masak, lho!” aku tersenyum sumringah.

“Wow! Ya sudah, kalau begitu ayo aku temani!”

Faisal menghidupkan motornya. Bunyi deruman motor terdengar nyaring. ia memberikan sebuah helm kepadaku.

“Sungguh, aku kagum denganmu Farhan! Kamu baru saja tertimpa musibah, tapi kamu bisa menerima dengan lapang dada kejadian tadi,” ucap Faisal diantara bunyi bising kendaraan.

“Hidup ini rumit, kawan. Hanya segelintir di dunia ini yang mampu menerimanya. Aku memang tidak bisa menerima. Tapi setidaknya, aku bisa menjalaninya.”

Ya. Meski berliku, aku akan terus menempuh perjalanan hidupku. Aku akan mengerahkan seluruh amunisiku sampai habis. Aku akan mengingat pesan mama, sampai kapanpun

TAMAT