HannaBezalia

"...setiap manusia punya warnanya masing-masing. Kita tak harus menjadi sewarna dengan orang lain, tapi jadilah warnamu sendiri." -Wibisono

Lukisan
Setahuku, satu-satunya manusia di dunia ini yang ingin hidup menjadi lukisan adalah Iru. Cara pikirnya rumit, tidak sesederhana namanya yang cuma terdiri dari 3 huruf dan kemudian diakhiri titik. Dia laki-laki. Seorang bocah, sama sepertiku. Kira-kira umurnya 18 tahun. Dimana dengan usia itu seharusnya dia sudah berada di tingkat 3 sekolah menengah atas, tapi nyatanya, dia masih terjebak di tingkat 2 karena suatu hal yang nantinya akan kuketahui. 

Kami berkenalan di suatu persimpangan jalan. Bukan sengaja. Kamu tahu, itu seperti kebetulan yang tak terduga. Kami berpapasan ketika sama-sama akan memulai perjalanan. 

"Oh, hai!" Dia mengacungkan tangan. "Siapa namamu?"

"Wibisono." Aku menjabat tangannya. 

"Wibisono? Bolehkah kupanggil Wib? Namamu terlalu kuno untuk anak seusiamu."

Aku terperanjat dan sedikit mengangguk, "tentu."

Kami mulai berjalan. Saling beriringan. Tapi terasa canggung. Ini kali pertama bagiku berjalan dengan orang asing yang baru kukenal. Dan sepertinya Iru tidak merasakan hal yang sama. Kalau iya, mana mungkin dia berceletuk, "anggap saja aku seperti teman yang sudah lama tak kamu jumpai." Lalu dia terkekeh seakan-akan ingin meruntuhkan tembok tebal diantara kami. 

"Tentu! Aku bukan hanya akan menganggapmu sebagai teman lama, tapi sebagai sesepuh."

Dia terkekeh lagi. "Wah, selera humormu bagus juga."

Disitulah pertemanan kami bermula. Kami membicarakan banyak hal, karena kami tahu banyak hal, dan kami suka berbagi banyak hal. Seperti ketika aku membahas tentang "mengapa anak-anak gadis sering pakai make up?" Yang dijawab Iru dengan blak-blakan, "itu karena mereka tidak mau terlihat jelek. Lagipula, masyarakat kita lebih menghargai orang yang rupawan, makanya mereka pakai make up."

"Apa?"

"Ya, maksudku, coba kamu pikir, adakah manusia di dunia ini yang ingin diciptakan buruk rupa? Kurasa tidak. Setiap orang pasti ingin dipuji bahwa dirinya tampan atau cantik. Seperti suatu kebutuhan estetika untuk tampil serupa dengan apa yang orang lain inginkan. Kamu tahu 'kan 8 motif kebutuhan manusia menurut Maslow?"

"Oh! Ya-ya!"

"Tidak, kamu tidak tahu."

Ya, aku tidak tahu karena aku adalah seorang siswa tingkat 3 di sekolah menengah atas. Meskipun Iru adalah siswa tingkat 2. Mulanya aku mengira kalau dia adalah mahasiswa. Alasannya, dia kenal Maslow, sedangkan aku tidak (mendengar namanya pun baru kali ini). Dia juga menyebut sebuah teori yang kurasa guru-guru pun tidak pernah mengajarkannya di sekolah. Meski sebenarnya dia pernah gagal naik kelas, tapi nampaknya dia cuek. Terlihat jelas pada gestur tubuhnya, cara bicaranya, terutama sudut pandangnya terhadap objek-objek. 

"Dimana sekolahmu?" Itulah hal pertama yang membuatku penasaran. Iru adalah sosok yang unik. Dia berwawasan luas, tapi di sisi lain dia pernah tidak naik kelas. Makanya aku penasaran. 

"Haruskah aku menjawab?"

Kudengar dia mendesah. Mungkin sedikit kesal. "Kalau tidak keberatan sih."

"Aku tak habis pikir kenapa orang-orang selalu bertanya 'dimana sekolahmu? Bagaimana nilaimu? Peringkat berapa kamu?' meskipun itu cuma pertanyaan basa-basi. Apa kamu tidak merasa kalau itu suatu bentuk diskriminasi terhadap ketidaksamaan?"

"Ya? Tapi 'kan kamu hanya perlu menjawab, lalu selesai."

"Menurutmu begitu?"

Aku mengangguk. 

"Kamu sendiri, dimana sekolahmu?"

"Uhm... Di SMA yang ada di Jalan Merbabu."

"Ah, maksudmu SMA Bina Mandiri?"

"Ya, benar."

"Wow! Kenapa kamu tak mengatakannya dari tadi?"

Aku menjelaskan padanya, kalau orang bertanya tentang sekolahku dan aku menjawab bahwa aku bersekolah di sekolahan elit, mereka pasti akan menyangka kalau aku adalah orang yang cerdas dan kaya. Padahal, kedua orangtuaku hanya pegawai negeri biasa yang penghasilan per bulannya pas-pasan untuk menghidupi 5 anggota keluarga. Lagipula, aku juga tidak termasuk dalam golongan anak-anak cerdas. Aku hanya rajin belajar dan mungkin beruntung. Jadi, ketika orang-orang mulai bertanya dimana aku bersekolah biasanya aku tak langsung menjawab nama sekolahku supaya mereka tidak berprasangka dahulu kepadaku. Itu bisa membuatku kesal. 

"Apa kamu merasa seperti diberi label oleh orang-orang sekitarmu? Label anak pintar, anak kaya, anak dari kelas atas. Seperti itu?"

"Yap!" Aku setuju. 

"Nah, seperti itulah yang kurasakan ketika kamu bertanya dimana aku sekolah. Seperti perasaan 'apa urusanmu? Kamu tidak tahu apa-apa tentang diriku! Demi apa, kamu tidak berhak menilai diriku!' Tapi aku tidak mengatakannya, meskipun sejujurnya aku ingin. Biasanya aku cuma membatin." 

"Tapi kamu baru saja mengutarakannya."

"Ah, masa?" Dia tertawa, agak kikuk. "Sepertinya karena kita senasib."

Hari itu, perjalanan kami terasa panjang. Jalanan yang kami lewati bagai tak berujung. Entah mengapa hal itu mengingatkanku pada hidup. 

"Pernahkah kamu memberontak?"

"Aku pakarnya." Dia menjawab dengan nada angkuh. Seperti suatu kebanggaan. 

"Selama 18 tahun, belum pernah sekalipun aku memberontak. Aku selalu mengikuti arus sistem masyarakat, menjadi sama dengan mereka, dan menjadi bagian dari mereka. Sulit untukku keluar dari sana. Aku terlalu takut untuk keluar dari sistem yang terus berputar dan melilit hidupku itu. Kecuali kalau kamu ingin dikucilkan dan tak dianggap. Dan aku tak mau hidupku berakhir menyedihkan." 

"Kamu gelisah?" Dia menebak, tapi tepat sasaran. "Kenapa kamu harus mengkhawatirkan hal-hal seperti itu?"

"Entahlah. Mungkin karena aku pecundang."

"Bukan, kurasa bukan karena itu. Apa yang kamu khawatirkan adalah hal yang wajar dialami oleh semua anak muda. Menakutkan hal-hal tidak penting, mempertanyakan diri sendiri, tapi seharusnya kamu memberontak. Sayang sekali kamu tidak melakukannya."

Aku benar-benar terkejut dengan jawaban Iru. Terdengar seperti nasihat, tapi di sisi lain juga seperti menjerumuskanku ke arah keburukan. 

Lalu dia meyakinkan, "perjalanan kita masih panjang, kawan. Kamu tak harus jadi sama dengan mereka. Karena pada dasarnya manusia itu diciptakan berbeda. Begini saja, ayo ikut aku! Akan kutunjukkan satu hal yang luarbiasa."

Maka, sore itu aku tak jadi pergi ke tempat les. Iru mengajakku ke suatu tempat, sehingga pada akhirnya kami memutuskan untuk berbelok ketika ada persimpangan jalan di depan kami. Aku tak tahu, apa yang terjadi bila aku tak jadi ikut dengannya. Apa yang terjadi bila saat itu aku memutuskan berpisah dan memilih jalan yang lain. Barangkali kejadiannya tak akan seperti ini. 

Kami tiba di Kota Tua ketika hari menjelang petang. Langit sudah mulai gelap, tapi aku masih bisa melihat Iru mengeluarkan barang-barang dari tasnya. Ada kanvas ukuran 20 × 30 cm, kuas berbagai ukuran, cat minyak, palet, dan barang-barang lain yang tak aku kenal. Dengan sigap ia menatanya bagaikan seorang profesional. 

"Akan kulukis wajahmu."

Mendadak wajahku tegang, leherku kaku, urat-uratku mengeras. Aku belum pernah dilukis sebelumnya. Dan bagaimana semestinya ekspresi wajah yang akan dilukis itu? Aku tidak tahu. 

"Santai saja, kawan. Tak perlu tegang begitu. Mari kita mengobrol."

"Mengobrol apa?"

"Apa saja." Mulutnya terus berceloteh seperti tangannya yang tak berhenti memainkan pensil, kuas, dan cat minyak. "Coba tebak kenapa aku suka melukis?"

"Karena hobi?"

"Benar. Tapi alasan sesungguhnya adalah karena aku ingin mencoba sesuatu yang berbeda, sesuatu yang melawan arus. Bukankah terlihat menyenangkan? Disaat anak-anak lain belajar, aku malah giat melukis."

"Wah, kamu gila! Kamu bisa dicap bodoh." Tiba-tiba aku teringat tentang ini, "apa itu sebabnya kamu tidak naik kelas?"

Dia terbahak-bahak, "ya." Lanjutnya, "justru itu yang kumau. Kenapa harus takut dicap? Ini diriku. Aku yang tahu diriku, dan orang lain tak berhak menilai diriku. Kalaupun mereka menilai, aku tak peduli. Beginilah caraku menjalani hidup. Sejauh aku tak merugikan orang lain, so what?"

Pada titik itu aku berdecak kagum. Anak ini benar-benar nekat. 

"Lihat ini!" Dia menunjukkan hasil lukisannya. Sangat berwarna. Indah. Wajah seorang laki-laki yang dilukis dengan tak biasa. Entah apa nama alirannya. "Ini keren!"

"Aku terinspirasi dari lukisan Picasso. Pernah dengar?"

"Pernah, tapi tidak begitu kenal."

"Dia seniman panutanku, termasuk filosofi hidupnya. Aku kagum dengan cara pandangnya yang tak pernah membatasi ruang lingkup dari berbagai aliran lukisan. Dia selalu mencoba hal-hal baru. Setiap lukisannya selalu dilukis dengan gaya berbeda. Lebih hebatnya lagi dia melukiskan gambaran dari orang-orang yang tertekan, dan beberapa diantaranya menggambarkan keadaan yang mengerikan dari kemiskinan, penyakit, dan orang-orang yang terbuang dari masyarakat."

Aku jadi tersinggung, "itu sebabnya kamu melukis wajahku? Karena aku orang yang tertekan, terbuang dari masyarakat?"

"Sejujurnya itu menggambarkan diriku sendiri."

Masa muda, masa dimana kamu merasakan berbagai gejolak. Kupikir hanya aku yang merasakannya. Ketidakpastian, pertanyaan tentang hidup, pencarian jati diri, kegelisahan pada hal-hal tak terduga, serta ketakutan pada rasa sepi dan sendiri. Ternyata dunia kita telah berubah. 

"Hei, Wib! Aku ingin menjadi lukisan." Katanya tiba-tiba. 

"Apa?"

"Lukisan warna-warni."

"Kenapa?"

"Karena lukisan itu akan terasa hidup kalau berwarna."

Hei, kawan! Aku baru sadar, kalau kata-katamu waktu itu mengandung makna, bahwa setiap manusia punya warnanya masing-masing. Kita tak harus menjadi sewarna dengan orang lain, tapi jadilah warnamu sendiri. Karena dengan begitu, hidup akan terasa lebih indah.