topiabu2

Ketika hatimu telah kau teguhkan dalam satu tujuan, sudah semestinya kau terselamatkan dari godaan-godaan termasuk yang menghancurkan. Jika kau tidak terselamatkan dan masih terjatuh, barangkali hatimu memang belum teguh.

Wah, akhirnya tiba juga hari sabtu! Hari di mana asrama diliburkan dan para santri diberi izin keluar asrama. Walaupun waktu yang diberikan cuma empat setengah jam, tapi itu juga sudah cukuplah untuk melepaskan sejenak beban pikiran yang kami pikul selama enam hari sebelumnya ketika dikurung di penjara suci itu. Di hari ini juga para santri boleh menggunakan handphone yang sebelumnya dikumpulkan pada guru di asrama. Jadi santri yang berasal dari daerah yang jauh pun dapat berkomunikasi lagi dengan keluarganya pada hari ini. Pokoknya hari ini memang waktunyalah untuk pelepasan stres dan bersenang-senang. Bagai surga sesaat para santri.

Aku dan beberapa santri lainnya telah bersepakat untuk jalan-jalan ke mal hari ini. Berhubung hari ini masih bulan puasa, kami tidak akan makan-makan seperti biasanya di sana. Kali ini kami cuma ingin melihat-lihat barang-barang di sana saja. Mungkin kalau ada yang sesuai harganya dengan kantong dan sesuai selera juga, bisa jadi kami angkat langsung. Maklum santri yang jarang berinteraksi dengan dunia luar, biasanya punya nafsu yang lebih besar dari pada orang-orang yang sudah terbiasa. Sekalipun begitu, tidak semuanya seperti itu juga sih.

Pun demikian dalam perjalanan kami ke mal. Setelah turun dari angkot yang mengantarkan kami sampai di persimpangan sebelum mal tersebut, kami pun harus berjalan kaki lagi untuk dapat tiba di mal itu. Satu hal pernah ku dengar tentang daerah antara mal dan persimpangan jalan ini. Yaitu isu rawannya pencurian di daerah ini. Entah benar atau pun tidak, kami sebenarnya sudah bersiap siaga untuk hal-hal seperti itu seandainya memang terjadi. Namun ternyata permainannya benar-benar sulit di tebak. Yang dengan tak sengaja bisa membuat kami terpikat dan mendatangi sebuah permainan catur di pinggir jalan itu.

Sebenarnya semua berawal dari teman kami yang berjalan paling depan diantara kami. Ketika itu dia berjalan sambil kami mengekor di belakangnya. Mungkin karena seperti yang aku bilang sebelumnya tentang pribadi santri yang jarang bersentuhan dengan dunia luar, atau apakah karena faktor lain, tiba-tiba saja dia berhenti di sebuah permainan catur jalanan. Kami pun yang tepat mengekor di belakangnya otomatis juga berhenti. Di luar rencana, secara bersama-sama pula kami pun menyaksikan permainan catur aneh ini.

Aneh! Kenapa aneh? Karena jika dilihat dari permainannya, memang tidak seperti permainan catur biasa. Salah satu pecatur hanya menggunakan sekitar tiga atau empat dari buah catur saja yang diletakkan di sudut papan catur dengan posisi memojokkan lawannya yang hanya menggunakan satu bidak dan raja. Jika melihat ke kedua pecatur itu pun, tampilan mereka terlihat seperti preman-preman di sekitar. Dan setelah aku melihat dan mendengar percakapan antara kedua pecatur tersebut tentang sistem permainannya, barulah aku sadar kalau ini termasuk permainan judi.

Di antara kedua pecatur tersebut sebenarnya satu orang adalah bandar yang menyediakan permainan. Dan yang satunya lagi tentu penantangnya. Si bandar yang hanya bermodalkan satu bidak dan raja membuat aturan tiga langkah mati. Jadi si penantang yang mempunyai sekitar empat buah catur hanya boleh melangkah tiga kali untuk mengalahkan si bandar. Apabila si penantang berhasil, maka modal yang dipertaruhkannya akan di bayar sepuluh kali lipatnya.

Aku yang telah menyadari ini sebuah perjudian, mengukuhkan betul-betul hatiku pada saat itu untuk tidak akan terlibat masuk dalam permainan. Mengingat hari itu juga adalah bulan puasa dan apalagi kami ini adalah santri, aku sudah benar-benar berniat tidak akan ikut campur dalam permainan maksiat itu. Namun ternyata teman-temanku tidak demikian. Dan kejadian sial pun menimpa kami.

Ketika permainan berlangsung, terjadi semacam silat lidah antara kedua pemain itu. Penantang yang mengikuti permainan itu telah menang dari si bandar tapi si bandar tidak punya modal untuk membayar si penantang tersebut sehingga cekcok antara mereka pun terjadi. Entah bagaimana cara dan kata-kata yang dikeluarkan pecatur-pecatur itu saat mereka bercekcok waktu itu sampai bisa memintai dari kami satu-satu uang secara langsung tanpa paksaan. Apakah ini cuma pembodohan berencana dengan trik yang rapi atau memang sebuah hipnotis yang mistis, yang jelas si pecatur itu berhasil mendapatkan uang teman-temanku. Mungkin berkat niatku yang sudah kuteguhkan sebelumnya, pada saat itu otomatis saja rasanya aku langsung tersadar ini sebuah penipuan saat si pecatur meminta uang kami. Spontan aku langsung menjauh dari permainan itu dan hanya bisa menarik satu teman ku yang berada tepat di sampingku saat itu sambil berkata, “Eh ayo Waf, pigi! Ini penipuan!”. Sementara teman-temanku yang lainnya telah menjadi korban.

Bingung dan ketakutan, aku dan satu temanku yang berhasil keluar dari perangkap itu sedikit panik akibat kejadian ini. Kami berdua berpikir bagaimana caranya mengeluarkan teman-teman kami itu dan mengambil kembali uang mereka. Namun setelah melihat sekitar, yang kebanyakan adalah para preman-preman jalanan, kami berniat hanya akan menarik teman-teman kami saja. Karena dari perkiraan kami pun, preman-preman di sekitar sini juga mungkin adalah orang-orangnya bandar catur itu. Begitu juga kedua pecatur itu. Kuat dugaan kami mereka telah bersekongkol dari awalnya.

Setelah sepakat, aku dan Wafi mendatangi lagi teman-teman kami yang masih menunggu jalannya permainan di sana. Mereka masih tampak berharap mendapat untung dari permainan itu atau setidaknya uang mereka kembali. Tapi begitu kami datang menepuk pundak mereka sambil membisikkan, “Udah wey! Gak balik lagi uang kalian itu! Ayo pigi kita!”, mereka seakan baru tersadar dan tampak seperti terlepas dari sebuah paksaan. Dan setelah berjalan agak menjauh dari permainan catur itu, mereka baru bisa mengiakan kalau ini adalah penipuan. Seakan logika mereka baru berkerja saat itu. Sungguh kejadian aneh yang mengesalkan!

Setelah kami semua berkumpul kembali, sambil bercanda kami hanya bisa saling menertawakan satu sama lain dan mengikhlaskan kejadian ini. Melawan para penipu itu sama saja melawan segerombolan preman di daerah itu. Melapor polisi pun kami tidak punya bukti yang cukup untuk itu. Ditambah lagi buruknya hukum di kota ini menjadikan tidak mudah untuk kami yang hanya anak-anak tak berduit bisa diproses laporannya. Jadi kami memutuskan untuk langsung kembali ke asrama tanpa jadi pergi ke mal. Karena waktu kami pun juga sudah tinggal sedikit. Demikian pula uang kami. Habis sudah!

Mungkin aku tidak mengalami kehilangan uang seperti beberapa temanku yang tertipu itu. Tapi kami yang sudah cukup lama hidup satu atap dalam asrama ini, juga merasakan kehilangan dan kesulitan yang sama akan hal ini. Ada satu pelajaran juga yang bisa di dapat dari pengalaman ini. Terutama bagiku yang mengalaminya langsung, mungkin akan sangat berguna untuk ke depannya. Ketika hatimu telah kau teguhkan dalam satu tujuan, sudah semestinya kau terselamatkan dari godaan-godaan termasuk yang menghancurkan. Jika kau tidak terselamatkan dan masih terjatuh, barangkali hatimu memang belum teguh.