kosame

"Kau hanya perlu keluar dari loop kehidupan dan hidup dengan caramu sendiri."

-a loophole-

 

Semua itu bermula ketika ia berpikir bahwa hidupnya akan berakhir di angka dua puluh satu, entah bagaimana pun caranya. Ditabrak mobil mungkin? Sebab, ya, ia pernah ingin tahu bagaimana rasanya mati tertabrak mobil.

Sementara dunia berputar di sekelilingnya, ia memilih untuk bungkam. Melipat kedua tangan pada sisi kiri jembatan, sembari menatap kosong pada sungai yang mengalir deras di bawahnya.

Bunyi denting bel dari kafe di sisi kanan jalan terdengar nyaring. Satu pelanggan masuk melewati pintu depan, dan yang lain melenggang pergi. Bersama derap langkah kaki yang tak sama, barisan nada tak beraturan, angin bertiup riuh seolah berteriak.

Namun ia tetap bungkam, tetap bergeming, dan tak ada satu pun langkah kaki yang berhenti apalagi menghampirinya. Ia tetap bisu, berpura-pura membiarkan angin mencuri suaranya, mewakilkannya untuk bergemuruh laksana topan.

Dan ia akan bebas mengudara.

***

Sepertinya tidak akan selesai….

Nina berulang kali membiarkan pikiran negatif itu menenggelamkannya, membuatnya tercekik dan terkadang mati rasa. Dalam satuan jam yang terasa begitu cepat berlalu, ia sering menghabiskan waktu di depan laptop hitamnya hanya untuk merenung, dan memikirkan berbagai hal ekstrem yang entah akan benar-benar ia lakukan atau tidak bila tugas akhirnya tidak selesai.

Kalau pun selesai, itu akan menjadi karya terburuknya sepanjang masa.

Sambil membaca paragraf yang sama berulang kali, jari-jemarinya sibuk menari-nari di atas keyboard dengan simbol huruf alfabet dan tombol backspace. Berulang kali, berulang kali hingga ia tidak juga mencapai halaman berikutnya. Sesekali tangan kanannya akan meraih gelas biru berisi kopi instan yang sudah mendingin. Bila ia tidak lagi dapat menemukan tetes terakhir di dalam gelasnya, ia akan bangkit untuk menyeduh kopi instan yang baru di gelas yang sama.

Itu adalah gelas ketiganya, dan temannya pernah mengatakan bahwa kopi itu baik, tetapi kopi sungguhan, bukan kopi instan. Hanya saja, ia tidak peduli pada apa yang terjadi pada tubuhnya, selama tugas itu selesai. Setelah menyelesaikan tugas itu barulah ia dapat benar-benar bernapas lega.

Ia berpacu dengan waktu. Semuanya begitu. Jam pasirnya hampir habis. Waktunya dapat ia hitung dengan jari. Kalau ia tidak dapat menyelesaikan tugas akhir itu tepat waktu, hidupnya akan berakhir. Mungkin efeknya akan lebih parah daripada efek samping kopi instan.

Maka, ia tidak akan berhenti. Ia tidak boleh berhenti. Meskipun ia tidak lagi tahu apa lagi yang harus ia tulis? Ya. Penelitiannya itu masih jauh dari kata sempurna. Bahkan konsepnya masih terlalu luas dan tidak jelas….

Ah, ia benar-benar payah kalau menulis karya ilmiah…. Ia benci dengan formatnya yang kaku, yang terlalu banyak aturan. Seolah pikiran manusia dapat dijabarkan dengan mudahnya seperti barisan angka dalam deret.

Ia dapat merasakan rasa nyeri dan panas di kedua matanya. Pandangannya memburam, tetapi ia segera mengusapnya dengan punggung tangannya.

Ketika ia merasa stuck, seorang penulis menyebutkan sebagai writer block, dan ia akan berhenti. Namun, ia hanya boleh berhenti sejenak. Ia tidak dapat hiatus atau memilih untuk tidak melanjutkan tulisannya seberapa pun ia enggan. Maka, ia menyebutkan sebagai sebuah jeda. Jeda sesaat yang diisi dengan lagu pop yang diputar kencang dari laptopnya, sementara isakan demi isakan meluncur bebas membasahi keyboard-nya.

Ketika semua itu berakhir, ia akan melanjutkan tugas akhirnya kembali. Terkadang, bibirnya akan menciptakan lengkung senyum lebar sembari menyembunyikan kedua matanya yang sembap di balik poninya yang berantakan bila ia bertemu dengan anggota keluarganya. Lalu mereka akan bergurau, bercanda, tertawa, hingga saatnya ia harus kembali ke depan laptop-nya lagi.

Tidak ada yang menyadari semua itu. Toh, detailnya sama sekali tidak penting. Yang terpenting adalah hasil akhirnya, bukan?

Maka, hal yang sama selalu terjadi, berulang kali, seperti sebuah loop yang tidak akan pernah berakhir.

***

Tentu saja itu salah.

Loop yang berhubungan dengan tugas akhir mahasiswa S1 akan berakhir ketika mereka telah menyelesaikannya. Lalu mereka akan dinyatakan lulus, menghadiri upacara wisuda, dan… apa?

Apa yang harus ia lakukan setelah itu?

Nina tidak benar-benar mengetahui apa yang ingin ia lakukan setelah lulus nanti. Namun, ia tahu apa yang harus ia lakukan. Sebagai lulusan salah satu universitas terbaik di negerinya, ia harus melanjutkan studi pascasarjana atau bekerja di perusahaan ternama dengan tawaran gaji yang tinggi. Itu adalah sebuah keharusan. Seperti sebuah tanggungjawab yang harus ia tunaikan sebagai bagian dari masyarakat.

Sebab, itu adalah bagian dari siklus kehidupan manusia. Setelah menamatkan sekolah, mereka harus sekolah lagi atau bekerja. Sebagai tambahan bagi dirinya yang berasal dari universitas terkemuka, ia harus mendapatkan pekerjaan yang … sesuai dengan gelar sarjananya.

Ia tidak boleh hanya sekedar menjadi kasir atau penjaga toko buku. Atau penerjemah freelance, atau pekerjaan dengan gaji tidak tetap lainnya.

“Kan, sayang. Kamu sudah sekolah tinggi-tinggi,” jelas orang tuannya suatu hari ketika ia mengungkapkan keinginannya untuk bekerja sebagai penjaga toko buku.

Ia sudah dapat menebak jawaban itu karena ia tahu persis bagaimana siklus kehidupan berlangsung. Maka, ia pun memilih untuk diam dan hanya berandai-andai.

Loop itu tidak akan pernah berakhir selama manusia masih hidup.

***

“Kenapa kau tidak keluar saja melalui loophole?”

Nina menaikkan sebelah alisnya sambil memperlihatkan ekspresi tidak terkesan. Ia tidak mengerti dengan pertanyaan itu.

“Loophole. Kau tidak tahu loophole?”

Salah satu hal yang cukup membuatnya jengkel adalah nada merendahkan seperti itu. Seolah ia adalah orang bodoh yang tidak berpendidikan. Tentu saja ia berpendidikan. Ia adalah sarjana dari universitas terkemuka.

“Apa hubungannya dengan semua ini?” ucapnya tanpa sedikit pun menyembunyikan perasaan kesalnya. Ia sudah berlaku tidak sopan dan kekanak-kanakkan, sebenarnya. Ia harus meminta maaf setelah itu.

Namun, semua tentang jembatan dan sungai itu terasa begitu mistis. Semuanya.

Aneh. Asing. Bahkan tawa renyah seorang pemuda misterius yang terngiang di telinganya.

“Pantas saja banyak orang begitu ingin mati.”

***

Dosen pembimbingnya terlihat hanya membaca selewat. Skimming yang berlangsung tidak sampai sepuluh menit itu diawali dengan jantungnya yang berdetak kencang, dan, “Berarti sudah semua ya?” juga bubuhan tanda tangan pada beberapa lembar pernyataan mengenai tugas akhirnya.

Ia menghirup napas lega sebab dengan ini semuanya telah berakhir. Ia tidak perlu mengkhawatirkan kemungkinan ia tidak dapat lulus kuliah di semester itu. Ia dapat tidur dengan nyenyak dan melupakan sejenak semua pikiran negatif yang senantiasa hilir mudik di dalam kepalanya selama beberapa bulan terakhir.

Tetapi, entah kenapa ia masih merasakan sesuatu yang mengganjal. Seperti duri yang menyangkut di tenggorokan dan terasa sakit bila ia mencoba menelan ludah.

Nina berjalan tanpa arah dan tujuan melewati jalan kecil di antara pohon-pohon rindang, membeli es krim rasa green tea di sebuah kafe kecil pinggir jalan yang pernah direkomendasikan temannya, kemudian kembali berjalan ke sebuah daerah asing yang dibelah oleh aliran sungai sambil sesekali menarik rapat jaket cokelatnya untuk menghalau tiupan angin dingin yang berembus di sekitar tempat itu.

Untuk beberapa saat, ia bergeming menghadap barisan pilar pembentuk pegangan di sisi kiri dan kanan jembatan. Kedua matanya terarah pada arus deras di bawahnya, tetapi pikirannya melayang jauh ke tempat lain. Terlalu banyak hal yang ia pikirkan, terlalu banyak emosi yang terasa meletup-letup, seperti sebuah kembang api yang ingin cepat-cepat meluncur ke angkasa. Sebuah kombinasi yang aneh mengingat semua kekhawatirannya seharusnya telah berakhir tepat ketika dosen pembimbingnya mengatakan, “Selamat ya,” dengan lengkung senyum ramah khasnya.

Namun, ia tetap gelisah dan merasa bersalah. Ia merasa tidak pantas mendapatkan ucapan itu ketika dosennya bahkan terlihat begitu bosan dan enggan membaca tugas akhirnya yang berantakan. Itu benar-benar berakhir sebagai karya terburuk, seperti yang telah ia duga sebelumnya. Maka, ia yang seharusnya mampu menghasilkan karya yang lebih baik lagi, merasa tidak puas.

Benarkah? Benarkah hanya karena itu?

Nina meremas kopian tugas akhirnya dengan tangan kanannya yang bergetar ketika tiba-tiba saja angin berembus semakin kencang hingga membuat lembaran kertas itu terlepas dari genggaman tangannya. Kedua matanya terpejam kuat untuk beberapa detik sementara jantungnya berdegup kencang, lebih kencang dari yang pernah ia ingat hingga ia pikir jantungnya akan keluar dari tulang rusuknya.

Sebab, entah bagaimana ia merasakan tubuhnya ikut terangkat bersama tiupan angin. Kedua tangannya berusaha menggapai apa pun yang dapat ia jadikan sebagai pegangan, tetapi hasilnya nihil. Tubuhnya semakin condong ke depan, ke arah apa yang ia tahu sebagai sungai dengan aliran air yang cukup deras.

Ia akan jatuh, dan ia akan mati.

Ia takut.

Takut, takut, takut, takut

***

Ia sering bertanya-tanya, apakah orang biasa yang sebenarnya hidup berkecukupan seperti dirinya pernah memiliki pikiran seekstrem dirinya? Seperti … ingin mencoba mati tertabrak mobil?

Mungkin ia hanya stres atau depresi. Mungkin ia bosan. Mungkin ia hanya ingin mencoba menjadi drama queen.

Sebab, ia tidak memiliki alasan untuk stres apalagi depresi. Nilai-nilainya cukup bagus. Rumahnya memang sederhana, tetapi ia memiliki laptop touch screen dan ponsel pintar yang cukup mahal. Ia tidak hidup miskin, tidak berasal dari keluarga broken home juga.

Jadi, ia hanya berlebihan, dan berlebihan bukanlah sesuatu yang baik. Maka, ia harus berhenti. Biarlah pikiran-pikiran ekstrem itu terpendam di dalam kepalanya. Suatu saat, ketika ia sudah benar-benar menjadi orang dewasa yang bertanggungjawab, ia pasti akan berhenti memikirkan hal-hal seperti itu.

Ia harus belajar menjadi orang yang lebih kuat lagi.

***

“Hei!”

Nina sontak membuka kedua matanya dan menemukan pandangannya memburam. Air matanya tumpah. Entah sejak kapan, tubuhnya sudah bersandar ke salah satu pilar di sisi kiri jembatan. Kedua matanya membelalak lebar sementara jantungnya tak berhenti memompa darah dengan sangat cepat hingga ia merasa pusing.

Ia tidak dapat bernapas. Ia tenggelam. Ia akan mati.

Tolong, tolong, tolong

“Hei, hei, tenanglah! Kalau kau tidak berani lompat, ya, jangan coba-coba!”

Apa?

Nina mendongakkan kepala dan menemukan wajah pucat seorang pemuda seumurannya, juga cahaya matahari yang bersinar terik di musim kemarau. Tidak ada hujan, apalagi gemuruh awan mendung. Tidak ada alasan bagi angin musim kemarau di sore hari untuk membuat sekujur tubuhnya menggigil.

Namun, ia benar-benar tidak dapat menghentikan tubuhnya yang bergetar, atau isaknya, atau bangkit berdiri dengan kedua kakinya. Ia hanya dapat menangis sembari menundukkan kepala.

Menangis, dan menangis seperti seorang anak kecil.

***

Nina pernah mencapai sebuah puncah kejayaan ketika ia tidak pernah mendapatkan peringkat di bawah ranking tiga di kelas. Namun, itu adalah cerita lama dari masanya di sekolah dasar. Meskipun tidak mampu meraih peringkat yang tertinggi, ia masih dapat mempertahankan peringkat sepuluh besar di SMP terbaik di kotanya. Namun, itu pun juga bagian dari masa lalu, ketika ia tidak dapat membayangkan bagaimana bisa ia ragu akan masa depannya bila ia memiliki nilai-nilai yang bagus seperti itu?

Semua itu adalah bagian dari masa lalu. Semuanya. Seperti sebuah peristiwa yang pernah menjadi begitu penting di masanya, tetapi kini tidak lebih dari sekedar cetakan huruf tanpa perasaan di buku sejarah yang berdebu. Itu juga akan terjadi pada dirinya bila ia tidak dapat memenuhi ekspektasi yang diberikan orang-orang.

Ia akan menjadi tidak berguna, tak ubahnya sampah masyarakat.

Benar.

Itu bukan tentang menjadi kuat atau menjadi lebih dewasa.

Ia hanya takut untuk menjadi tidak berguna dan pada akhirnya disingkirkan. Ia takut tidak dapat memenuhi segala ekspektasi dari siklus kehidupan yang telah digariskan padanya. Ia takut untuk keluar dari loop itu dan menghadapi segala konsekuensi yang ada hingga ia tidak menyadari bahwa loop kehidupan memiliki loophole—celah.

Maka, ia tidak perlu menjadi seperti yang orang lain katakan bila ia merasa tidak mampu menjalani kehidupan seperti itu. Ia tidak perlu memaksakan diri menjadi yang terbaik, yang terpintar, yang terkaya bila ia cukup bahagia dengan melakukan apa yang ingin ia lakukan.

“Mereka tidak mengenalmu. Kaulah yang paling mengenal dirimu sendiri,” kata seorang pemuda misterius yang pernah ia temui di jembatan itu. Ia harus bangga dengan pencapaiannya selama ini meskipun itu tidak menempatkan dirinya pada posisi “yang terbaik”.

Namun, apakah memang semudah dan sesederhana itu?

Nina lagi-lagi kembali ke jembatan itu untuk yang kesekian kalinya. Setelah lulus program sarjana, ia terlalu takut dengan pekerjaan-pekerjaan yang menuntutnya untuk banyak berinteraksi dengan orang lain hingga akhirnya ia pun menganggur selama tiga bulan. Tetapi, tidak apa-apa. Tidak masalah.

Take your time, kata pemuda itu lagi, hingga kau mampu menghadapi semua hal yang membuatmu takut dan khawatir.

Pada akhirnya, ia tidak dapat benar-benar melepaskan diri dari loop kehidupan dan segala ekspektasi masyarakat terhadapnya. Hanya saja, ia kini belajar untuk benar-benar hidup dan menjalani kehidupannya dengan caranya sendiri.

***