"Aku tidak boleh membuat segala sesuatunya menjadi terlambat hingga aku berharap bisa kembali ke masa lalu,"
Hal yang Biasa
Pernah tidak kau bermimpi bisa memiliki kekuatan super?
Bukan kekuatan super seperti Spiderman yang bisa mengeluarkan jala dari jari jemarinya. Bukan juga seperti Flash yang punya kekuatan super cepat. Tapi kekuatan super seperti bisa membaca pikiran. Atau kekutan super seperti bisa memprediksi masa depan. Atau kekuatan super seperti bisa kembali ke masa lalu.
Ya, itu dia! Itu yang aku inginkan! Kekuatan untuk bisa kembali ke masa lalu. Terutama di saat-saat seperti ini. Di saat menghitung hari menuju hari raya, dan aku berdiri termenung sehabis berdoa memandang dua pusara yang berdampingan di hadapanku.
x-x-x
"Ibu, apa yang ibu lakukan pagi-pagi begini?" tanyaku sambil mengucek-kucek mata setelah menutup pintu kamarku dari luar. Sekilas mataku menatap jam dinding yang digantung di dinding ruang makan. Masih pukul 5.30.
"Tentu saja menyiapkan sarapan. Menurutmu apa lagi?" jawab Ibu tanpa menghentikan tangannya yang cekatan mengoseng nasi di atas penggorengan.
Aku pun mengangguk tanda megerti. Memang aneh aku masih bertanya lagi, padahal tiap hari Ibu juga melakukan rutinitas seperti ini. Ah, mungkin ini efek ngantuk. Atau mungkin memang baru kali ini aku bangun jam segini. Biasanya aku bangun pukul 6 untuk bersiap-siap pergi kuliah.
Setengah jam kemudian seluruh makanan sudah tersedia di atas meja. Nasi goreng merah, telur dadar, 3 gelas susu coklat -yang pasti buatku, dan 2 adik kembarku, Nino dan Fino-, serta segelas teh panas yang pasti buat Abah.
Setelah memastikan makanan dan minuman di atas meja sudah tersusun dengan sempurna, aku yang tengah berbaring di sofa ruang tengah sembari memainkan ponsel melihat Ibu berjalan gontai ke teras ruang cuci. Beliau menyiapkan meja seterika lalu mengeluarkan dua lembar baju putih dan 2 lembar celana biru tua yang sepertinya adalah seragam sekolah adik-adikku. Kemudian ia memulai pekerjaan selanjutnya, membuat seragam itu terlihat rapih untuk digunakan.
Pukul 6.30 Nino dan Fino sudah mulai keluar dari kamar mereka mengambil seragam yang digantung ibu di besi jemuran, sedangkan Ibu sendiri sejak tadi sudah beralih menyiram tanaman di teras depan sambil bersenandung kecil.
30 menit lebih telat dari biasanya -tapi kuliahku memang mulai lebih lambat dari yang biasanya hari ini-, aku pun bangkit dari sofa tempatku berbaring, baru mulai bergerak kembali ke dalam kamar untuk bersiap-siap kuliah.
x-x-x
Abah bilang dia akan menjual pianonya. Beliau menyuruhku membantunya memasarkan piano itu di internet atau di teman-temanku, siapa tau ada yang mau beli katanya. Aku awalnya bingung, Abah itu sangat menyayangi piano antiknya itu. Abah itu sangat suka bermain piano di waktu luangnya. Abah itu lebih suka bermain piano dibandingkan bermain kartu dengan tetangga sebelah rumah, atau minum kopi sambil membaca koran di teras depan, ataupun nonton siaran bola tengah malam ditemani teh hangat.
Permainan Abah bagus, bukan jelek tanpa bakat, bukan juga bermain asal-asalan. Setiap Abah bermain piano, jiwanya juga seperti ikut mengalun, beliau seperti berada di dunianya sendiri. Lalu kenapa Abah ingin menjual pianonya? Itulah yang membuatku bingung. Abah bilang tak apa, lagipula ia cukup sibuk sekarang karena sudah naik jabatan di kantor, sudah kurang waktu luang untuk bermain piano.
Terlihat masuk akal memang, Abah bahkan biasanya pulang paling cepat pukul 9 malam, paling hanya cukup untuk makan dan menonton berita, lalu harus segera istirahat karena harus bangun pagi lagi keesokan harinya. Memang tidak ada waktu untuk bermain piano. Hari minggu pun diisi dengan memberes-bereskan rumah atau mengajak kami, anak-anak dan istrinya, untuk jalan-jalan. Memang sudah sulit menemukan waktu luang.
x-x-x
Apakah hati bisa menjadi tumpul? Apakah perasaan bisa menjadi abu-abu karena telah terbiasa? Bukan putih, bukan hitam, tapi abu-abu, datar dan tidak mencolok seperti hitam dan putih, terasa biasa-biasa saja.
Saat orang-orang terdekat-mu, keluarga atau sahabat terdekatmu melakukan sesuatu yang bermakna, entah kenapa yang mereka lakukan itu lambat laun terasa biasa saja, pernahkah kau merasakannya? Ah, mungkin lebih tepatnya bukan lambat laun, memang terasa biasa begitu saja, seperti yang mereka lakukan memang sudah semestinya dilakukan, tidak ada yang spesial.
Mungkin itulah kata-kata yang tepat untuk menggambarkannya. Sudah semestinya. Sudah sewajarnya. Karena sudah terbiasa mendapatkan perlakuan yang sama, hati dan perasaan seperti sudah memakluminya, menyimpannya seperti memori-memori lain, seperti makan, tidur, dan berjalan, sudah terlalu sering dihadapi.
Sudah sewajarnya keluarga kita melakukan itu. Sudah semestinya mereka melakukan hal itu padaku, karena mereka keluargaku, karena mereka sahabatku. Sepertinya itu yang dulu sering bersarang di pikiranku. Padahal ada yang aku lupakan, untuk melakukan hal yang sewajarnya dan semestinya itu, mereka juga membutuhkan pengorbanan. Ada hal yang mereka korbankan dari hidupnya untuk kepentinganku.
Ibu yang harus memasak sarapan dan menyiapkan seragam anak-anaknya harus mengorbankan waktu tidurnya di pagi hari dan mengorbankan energinya untuk bekerja demi anak-anak dan suaminya. Padahal Ibu bisa saja bangun lebih siang, padahal Ibu bisa saja menyuruh anak-anaknya untuk membuat sarapan sendiri, untuk menyeterika sendiri, tapi beliau lebih memilih menjadi Ibu yang bertanggung jawab. Kenapa bisa selama ini aku menganggapnya hal yang biasa saja?
Abah yang menjual pianonya, lambat aku tau, ternyata Abah membutuhkan uang. Uang dari hasil menjual piano, uang yang Abah cari sampai sering pulang malam kerja lembur, adalah untuk membantu impianku melanjutkan S2 di luar negeri. Padahal sudah kubilang aku menggunakan beasiswa. Padahal tanggungan beasiswa-ku sudah cukul, tapi tetap saja Abah bersikeras membantuku, takut anaknya terlantar di negeri orang katanya.
Abah mengorbankan mimpinya, serta tentu saja energinya untuk bekerja di bidang yang mungkin bukan merupakan mimpinya. Abah mungkin saja menjadi pemain piano terkenal jika beliau berpegang pada mimpinya. Menggelar konser piano di seantero negeri, menjadi musisi terkenal, dan mungkin tidak bekerja di perusahaan yang membosankan seperti sekarang. Tapi Abah memilih jalan lain, dibandingkan berpegang pada kegemarannya bermain piano dan memeluk mimpinya sebagai pemain piano yang entah kapan dan bagaimana bisa beliau raih dengan cepat, beliau memilih untuk menjadi pegawai kantoran agar bisa menafkahi anak dan istrinya. Bahkan bermain piano yang hanya sebagai hobi pun kini harus beliau relakan. Menjual pianonya demi pendidikan anaknya. Kenapa bisa selama ini aku menganggapnya hal yang biasa saja?
x-x-x
Sudah tau sekarang kenapa aku ingin bisa kembali ke masa lalu?
Mungkin dulu, sebelum aku dihadapkan pada sepasang pusara di hadapanku ini, aku akan berharap memiliki kekuatan super bisa membaca pikiran. Agar aku bisa tau apa yang ada di pikiran Abah dan Ibu. Meskipun tidak bisa membantu, setidaknya aku bisa menenangkan mereka. Tau mereka tidak baik-baik saja saat mereka dengan yakinnya berkata mereka baik-baik saja, memahami apa yang ada di pikiran mereka saat mereka mulai lelah, atau bahkan memeluk mereka disaat mereka sesungguhnya muak dengan peliknya kehidupan tapi tak ingin menunjukkannya.
Atau aku ingin bisa memprediksi masa depan. Untuk tau berapa lama lagi waktu yang ternyata tersisa untukku bisa bersama mereka. Untuk tau ada jalanan apa yang sebenarnya ada di hadapan kami, jalan mulus beraspal? Atau jalan rusak berbatu-batu? Ataukah mungkin jurang yang bisa menelan beberapa dari kami?
Tapi kini dengan hilir angin yang bertiup menerbangkan beberapa petal bunga yang menghiasi undukan pelengkap pusara, aku hanya bisa berharap untuk memiliki kekuatan kembali ke masa lalu. Aku ingin menganggap setiap hal yang mereka lakukan bukanlah hal yang biasa saja. Menganggap setiap hal yang mereka lakukan bukanlah hal yang yang sewajarnya dan semestinya. Membuat diriku tidak menjadi terbiasa dengan apa yang aku dapatkan dari orangtua-ku setiap harinya, agar hal-hal itu selalu menjadi hal-hal yang spesial. Agar aku selalu mengucapkan terima kasih kepada mereka tiap harinya karena telah memilikiku dan merawatku sejak aku bisa bernafas di muka bumi ini.
Kini aku sadar, bahkan melihat mereka terbangun di pagi hari dan masih bernafas saat itu pun harusnya aku berterima kasih, kepada mereka, kepada Tuhan.
Harusnya aku tidak boleh membuat segala sesuatunya menjadi terlambat hingga aku berharap bisa kembali ke masa lalu.
Harusnya aku mencegah diriku berbuat sesuatu yang kusesali hingga aku berharap bisa kembali ke masa lalu.