“Selama ini pemuda hanya disibukkan dengan trend masa kini, hingga lupa untuk berkarya bagi bangsa. Sadarlah wahai pemuda, jangan biarkan zulmat moral menghiasi negeri nan tahir ini.â€
ZULMAT MORAL
Praaaaangg..! (suara piring pecah). “Kamu yang tidak becus mengurus anak, sampai-sampai Dodit kecanduan dengan minuman keras. Kalau saja kamu bisa menasihatinya, pasti semua ini tidak akan menjadi aib bagi keluarga kita.” Suara itu terlontar dari ayah Bayu sebagai pelampiasan amarahnya kepada anaknya. Kegaduhan selalu saja mengawali hari Bayu, terutama semenjak ulah kakaknya yang semakin hari semakin membuat kedua orangtuanya kalut. Sinar mentari di pagi hari yang seharusnya menghangatkan bagaikan pancaran ribuan jarum yang melesat cepat dan menikam tubuhnya. Kicauan-kicauan burung yang seharusnya menjadi penghias di pagi harinya berubah menjadi cacian-cacian bagi dirinya dan kutukan bagi keluarganya.
Ibu Bayu sangat menyayangi anaknya, bahkan ia selalu sabar menghadapi Dodit yang sering membuat kacau di desanya. Kakak Bayu pecandu minuman keras, Bayu tidak tahu seperti apa nasib kakaknya kelak yang selalu enggan mendengarkan nasihat ibunya. Sebenarnya bukan ibunya yang tidak bisa menasihati kakaknya, tetapi memang kakaknya lah yang telah terlanjur masuk ke dalam kubangan dosa, pergaulan bebas yang tidak dibatasi dengan moral dan syri’at agama, hingga perbuatan yang anarki pun sudah biasa dilakukan. Bayu tahu betul pergaulan teman-teman kakaknya, bahkan beberapa dari mereka masuk penjara karena telah mencabuli anak di bawah umur.
Desa Dieng, sebuah desa yang diwarnai dengan pergaulan muda-mudi masa kini, lumpur-lumpur kemaksiatan yang menyebar di segala penjuru desa ini, nilai moral yang sudah mulai terabaikan. Di desa ini Bayu selalu diolok-olok oleh teman-temannya perkara perbuatan kakaknya yang sudah keterlaluan. Perilaku kakaknya yang telah mencerminkan betapa rusaknya generasi bangsa ini. Bahkan dunia kelabing sudah menjadi hal yang biasa bagi kakak Bayu dan teman-temannya. Minuman-minuman haram yang sudah menjadi konsumsi sehari-hari.
***
Pada pagi itu, pertengkaran antara ayah dan ibunya belum mereda. Akhirnya Bayu pergi ke sebuah rumah pohon yang sunyi, Bayu terbiasa merenungkan nasibnya tinggal di Desa Dieng. Ia bersandar pada dinding rumah pohon itu. Dinding-dinding yang menjadi saksi akan setiap persoalan hidup yang menghampirinya, dinding-dinding yang menjadi teman curhat yang selalu bersedia mendengarkan keluh kesahnya. Pada dinding-dinding itu tertempel lembaran-lembaran yang terisi penuh dengan tulisannya. Mulailah dikeluarkannya kembali lembaran kertas putih kosong itu dari tasnya. Penanya pun telah siap menggoreskan tinta kehidupan. Ia tumpahkan segala sesuatu dalam pikirannya ke lembaran kertas putih kosong itu.
Bangsa ini telah merdeka, tapi kehidupan di desaku bagaikan negeri yang masih terjajah. Budaya-budaya barat yang sudah mulai mendominasi menyebabkan degradasi moral terjadi di sana sini. Bahkan budaya-budaya barat itu telah berdampak buruk bagi perilaku kakakku; menyebabkan perselisihan selalu menghiasi pagiku.
Pena Bayu pun terhenti, ia menatap jauh apa yang telah dialaminya selama ini. Memang sangat terekam jelas dalam memorinya ketika ia melihat perbuatan-perbuatan kriminal yang dilakukan oleh orang-orang di desanya, belum lagi ia sering diolok-olok karena perbuatan kakaknya yang keterlaluan. Itulah yang membuat Bayu tak kuat menahan penderitaan hidupnya karena olokan-olokan yang terlontar dari bibir-bibir pedas teman-temannya. Olokan-olokan itu bagaikan senapan yang terus memuntahkan bubuk mesiu di medan peperangan, tiada hentinya. Rasa sakit tak berujung bak sirkulasi air yang terus mengalir mencari titik yang tak pernah berujung hilir.
Sementara itu, matahari sudah mulai bergulir naik lebih tinggi, sinarnya sedikit lebih menyengat kulit, panasnya akan mengundang peluh keluar dari pori-pori para petani Desa Dieng yang sedang membajak sawahnya. Untungnya desahan angin yang berhembus melalui lubang-lubang ventilasi mengurangi pengapnya suasana di dalam rumah pohon itu. Desahan angin itu membelai rambut Bayu yang panjang dengan manja. Sepertinya hembusan angin itu membujuk Bayu untuk melupakan sejenak kepedihannya; mencoba menenteramkan hatinya yang gaduh; menciptakan perdamaian dalam jiwanya yang gemuruh.
Pena Bayu pun masih belum beranjak dari tangannya. Agaknya pena itu enggan berpindah dari tangan pemuda itu, atau barangkali ia paham ihwal mirisnya moral di desa Bayu. Dan pena itu terus menggoreskan cairan hitamnya di atas kertas.
Mereka yang berbuat kisruh, berbuat onar, bertingkah laku seenaknya tanpa dilandasi dengan moral, mereka benar-benar membuat negeri ini kalut-marut. Sementara perbuatan-perbuatan kriminal hampir terjadi setiap saat, pembunuhan, pemerkosaan, penganiayaan, pencurian terjadi hampir di setiap sudut menghiasi desaku. Bisa dibayangkan betapa bobroknya moral di desa ini.
***
Tidak lama kemudia Bayu mendengar suara gemuruh dari kejauhan. Bayu telah menduga bahwa itu ialah ulah kakaknya bersama dengan teman-temannya. Suara itu terdengar semakin dekat hingga pena yang digenggamnya pun turut merasakan getarannya. Oh tidak, suara itu semakin lantang, lantang dan sangat lantang.
Dor, dor, dor (suara tembakan). “Semua yang berada di dalam segera keluar”. Demikian yang mereka katakan dengan bahasa mereka. Suara itu membuat Bayu tersontak kaget. Dugaannya salah, suara gemuruh itu bukan perbuatan yang dilakukan kakaknya bersama dengan teman-temannya, melainkan para penjajah yang tiba-tiba menginvasi desa Bayu. Ia pastinya sudah paham dengan bahasa asing tersebut, karena selama ini ia sering mendengarkan kisah neneknya ketika di zaman penjajahan Belanda. Beralih pada suara yang menggetarkan bulu kuduk Bayu. Hampir saja suara yang menggelegar itu membuat jantungnya berhenti berdetak. Situasi ini benar-benar membuatnya linglung. Di situasi yang semula sunyi tiba-tiba saja suara bising senapan dan dentuman periuk api itu muncul tanpa permisi merusak segala prasarana yang ada di sekitar Desa Dieng.
Dengan langkah gontai dan pikiran waham, Bayu pun mencoba melihat keluar dan mendatangi orang-orang asing itu. Sebuah situasi yang sangat mencengangkan, ia mendapati orangtuanya, kakaknya dan penduduk sekitar desa tengah disandera oleh orang-orang asing itu. Tampak gagah sekali penampilan mereka. Dengan mengenakan pakaian seperti pasukan elit dan persenjataan yang lengkap, Bayu mengira ia tengah masuk ke dalam ruang waktu di zaman penjajahan, sekitar hampir satu abad yang lalu. Namun sepertinya ini nyata. Sangat jelas di hadapannya terdapat sekumpulan kompeni dengan persenjataan lengkap berdatangan membawa kendaraan berupa infantry fighting vehicle dan land rover militer. Dengan tatapan kacau ia tak bisa berkata apa-apa. Suasana hening kembali tercipta, seraya diibaratkan bumi berhenti berputar, air tak mau mengalir, angin tak mampu berhembus, udara pun terasa sesak karena oksigen telah habis. Hanya bisa memasrahkan segala situasi yang terjadi saat itu sebagaimana air sungai mengalir, atau sebagaimana terjangan ombak besar yang memorak-poranda kota-kota di tepi pantai, tidak bisa ditahan atau ditunda, semua yang terjadi biarlah terjadi.
Bayu mengalihkan pandangannya ke arah ibunya dan menatap seakan penuh tanya, ada apa gerangan dengan situasi ini. Setelah beberapa saat suasana limbung menciptakan kesunyian, tidak lama kemudian salah satu dari sekumpulan kompeni itu membuka mulut dan menjadikan suasana tegang kembali. “Akhirnya, tanah ini bisa kami kuasai kembali setelah beberapa tahun lamanya. Dan kami akan melakukan hal yang sama seperti dulu, kami akan kembali melakukan intervensi terhadap negeri ini”. Dari ucapan kompeni itu, Bayu seakan tidak percaya dengan semua ini. Pikiran-pikiran wahamnya terus mengundang banyak pertanyaan. “Bukankah negeri ini telah merdeka? Mengapa mereka bisa menjajah kembali negeri ini? Siapa yang salah dan siapa yang mau disalahkan dengan situasi seperti ini?”, tanyanya dalam hati.
Sementara itu terdapat beberapa orang tengah mengeluh kesakitan karena jeratan tali yang diikatkan ke tangan-tangan dan kaki-kaki mereka yang begitu erat hingga menimbulkan luka lecet yang membekas. Sementara anak-anak kecil merengek kesakitan dan mungkin mereka pun bingung dengan semua ini. Tanpa belas kasih, siapa pun yang berani memberontak, patrun-patrun akan melesat dengan cepat ke kepala mereka. Juga tak pandang bulu, siapa saja yang membelot, senapan akan dengan sigap memuntahkan isinya ke arah mereka. Meskipun mereka anak-anak, laki-laki atau perempuan, separuh baya, atau tua renta sekalipun, orang-orang kompeni itu tidak akan segan-segan menarik pelatuknya hingga tubuh mereka pun siap menjadi santapan empuknya.
Bayu masih terus membatin, apakah waktu untuk bangkit bagi bangsa ini telah habis, hingga kisah penjajahan yang sudah menjadi sejarah pun terlahir kembali. Mungkinkah tulisannya siang ini telah terkabul menjadi segenap do’a, atau ini adalah teguran dari Tuhan untuk penduduk Desa Dieng yang sudah mulai berkurang kesadaran moralnya. Mungkinkah zulmat akan kembali bersarang menghantui negeri ini. Kegelapan akan menyingsing dan mulai memadamkan cahaya dari lentera kebangkitan bangsa ini. Mungkinkah masa-masa kelam harus diputar ulang hingga negeri ini akan tersadar.
Tiba-tiba Bayu pun dipaksa untuk ikut serta dengan mereka yang tengah disandera. Ia memberontak dengan sekuat tenaga, ia tidak ingin ada penindasan di negeri ini. Namun apalah dayanya, orang kompeni itu memukul kepalanya dengan pistol hingga keluarlah darah dari dahinya yang membuatnya semaput. Ia tak sadarkan diri hingga orangtuanya dan para penduduk desa pun merasa khawatir.
Sementara itu, Dodit merasa sadar apa yang telah diperbuatnya selama ini kepada kedua orangtuanya. Perbuatannya yang selama ini telah menjadi akar permasalahan dalam keluarganya, membuat kacau di desanya. Ia merasa menyesal, bukan memikirkan bagaimana membuat negeri ini semakin maju, tetapi malah berlarut-larut dalam perbuatan-perbuatan kriminal yang merusak generasi bangsa.
***
Beberapa saat kemudian, Bayu pun tersadar. Ia terbangun dengan kondisi tubuh yang sangat lemah tak berdaya. Dengan menahan rasa sakit di kepalanya dan juga luka memar di sekujur tubuhnya, ia pergi mencari keluarganya. Tanpa sepengetahuan para kompeni itu, ia berhasil lolos dari kerangkeng mereka. Dengan langkah terpincang-pincang, ia terus menjauh dari markas para penjajah menuju ke tengah hutan yang rimba. Entah kemana ia harus pergi, sementara ia tak tahu dimana keluarganya berada. Kemanakah tujuan yang harus ia tuju, sementara negeri ini telah dikuasai kembali oleh penjajah-penjajah itu.
Mentari pun akan bersinggah dari peredarannya walaupun saat itu lembayung senja masih menghiasi langit-langit biru. Meski dalam keadaan tubuh yang sangat lemah dan letih, Bayu terus melangkah dan memanggil-manggil orangtuanya. Ia terus melangkah meski lara yang dirasakannya sangat nyeri. Ia terus berteriak meski suaranya terdengar sangat lirih karena keadaannya yang letih. Mau kemana lagi ia harus mencari keluarganya di tengah-tengah hutan yang rimba. Mencari mereka bagaikan mencari emas permata yang hilang di antara tumpukan jerami.
Hingga langit yang semula jingga pun kini telah berganti menjadi gelap. Di tengah-tengah kesulitan, sepertinya Bayu menemukan secercah harapan. Akhirnya ia menemukan kedua orangtuanya. Ia melihat samar-samar kedua orangtuanya dari kejauhan. Ia pun semakin dekat, hingga terlihat jelas bagaimana keadaan kedua orangtuanya.
Perasaan yang membuat Bayu bahagia, meski ia tidak melihat kakaknya disana. Ia terus berlari mendekati ibunya meski harus menahan luka di kakinya.
***
Namun inikah yang dinamakan kismat, sepertinya cahaya harapan yang hampir terlihat terang kini memudar kembali malah menjadi kegelapan. Betapa tidak, yang Bayu lihat bukan orangtuanya yang dalam keadaan baik-baik saja, ia melihat ayahnya kelelahan yang terus dipaksa rodi, sedangkan sekujur tubuh ibunya terlihat berlumuran darah. Sepertinya ayah Bayu juga tahu keadaan istrinya yang sudah tidak bernyawa, namun ia hanya bisa pasrah karena tubuhnya yang penuh luka lebam tak mungkin bisa melakukan perlawanan.
Akhirnya Bayu pun memberanikan diri menampakkan batang hidungnya meski tubuhnya nanti jadi santapan empuk peluru sang penjajah. Namun benar-benar ganjil, keadaan yang sangat aneh. Tiba-tiba semua seakan diam, waktu bagaikan berhenti berputar dan hanya Bayu yang bergerak menjalani proses kehidupan. Namun ia tidak menghiraukan keadaan sekitar, ia terus menangis tersedu-sedu melihat jenazah ibunya yang tidak bernyawa. Ia terus memanggil ibunya meski hanya kesunyian yang menjawabnya.
***
Setelah sekian lama hanya kehampaan yang hadir menghiasi peristiwa itu, lagi-lagi hal ganjil muncul kembali ditengah-tengah derasnya telaga air mata Bayu yang mengalir. Bayu seperti mendengar suara lirih yang memanggil namanya. Sepertinya ia kenal dengan suara itu. “Nak, kamu kenapa?”. Suara itu berulang-ulang memanggilnya dari segala arah. Bayu semakin bingung apa yang telah dialaminya.
Bayu tak menghiraukan suara itu meski nampaknya makin lama suara itu makin terdengar jelas. “Nak, sudah cukup. Bangunlaaah..”, dan akhirnya meledaklah suara itu hingga membuat Bayu terbangun dari tidurnya.
Bayu tersadar dan masih dalam keadaan linglung. Ia melihat di hadapannya ada sang ibu dengan ekspresi bingung. “Sudah berapa lama aku tertidur, bu?” tanya Bayu dengan suara yang masih parau. “Kamu sudah berada di rumah pohon ini hampir seharian, nak.?”. Tanpa menjawab pertanyaan ibunya, Bayu segera memeriksa tulisannya, ternyata kalimat terakhir yang ia tulis masih sampai pada kalimat “Bisa dibayangkan betapa bobroknya moral di desa ini”, merenungkan isi tulisannya sampai-sampai ia tertidur lelap.
Setelah beberapa lama Bayu termangu dengan tatapannya yang kosong, ia memeluk ibunya dengan erat-erat hingga kemudian ia menjelaskan mimpinya.
***
Mimpi yang Bayu alami bagaikan refleksi bagi nasibnya di kehidupan nyata. Selama ini desanya telah dijajah. Memang bukan penjajahan fisik, melainkan penjajahan moral. Moral yang makin lama makin rusak dengan budaya-budaya barat yang tak terfiltrasi. Sampai-sampai pergaulan bebas menjadi gaya hidup sehari-hari.
Setelah beberapa lama Bayu menceritakan mimpinya kepada ibunya, ia kembali menuliskan isi hatinya di atas kertas putih.
“Selama ini pemuda hanya disibukkan dengan trend masa kini, hingga lupa untuk berkarya bagi bangsa. Sadarlah wahai pemuda, jangan biarkan zulmat moral menghiasi negeri nan tahir ini.”