Aku adalah sesuatu yang engkau tulis. Sedangkan engkau adalah sesuatu yang tidak pernah aku baca
Thank You for All
Kesibukan adalah cara terbaik untuk melupakan segalanya, membuat waktu seakan melesat dengan begitu cepat.
Seperti biasa aku menghabiskan waktu di pagi hari dengan berkumpul bersama anak jalanan. Bercerita, mengenalkan mereka kepada dunia pendidikan serta menanamkan harapan agar mereka tidak menyerah dengan kondisi yang mereka lalui.
“Pagi adik-adik, uda pada sarapan belum” Semua anak-anak menjawab sapaku dengan berkata “Sudah”. Betapa senangnya bisa melihat senyuman para malaikat kecil ini. Hal inilah yang membuatku terus bersemangat untuk tetap mengajar di komunitas ini, walau aku tidak pernah menerima gaji sama sekali.
“Ok adik-adik, kali ini kakak mau bercerita, ada yang mau dengerin nggak?” Semua mengangguk dan mulai duduk dengan rapi untuk mendengarkan cerita yang hendak aku sampaikan.
“Baik kakak mulai ya”.
Kali ini aku hendak mengisahkan perjalanan seorang gadis buta yang menapaki kejamnya kehidupan di dunia.
Sebut saja Zulfah. Gadis kecil berumur 12 tahun yang telah mengalami kebutaan sejak 4 tahun silam. Kecelakaan itu, kecelakaan yang tidak akan pernah ia lupakan. Kecelakaan yang merenggut segalanya. Ayah, bunda dan mimpinya.
Merangkai kembali kepingan kehidupan memang tidaklah mudah. Apalagi jika kepingan itu sudah menghilang dari kehidupan kita. Dan di saat keterpukan melanda hal yang bisa menjadi obat hanyalah, mencari sebuah kepingan baru yang telah hilang, agar kepingan itu bisa tergantikan dan kita bisa merangkainya, walau rangkaian itu tidak sesempurna seperti sediakala.
Senja itu, senja yang menjadi saksi pertemuan antara keputusasaan dan harapan. Entah apa yang merasuki pikiran Zulfah hingga ia ingin sekali mengakhiri hidupnya.
“Tuhaaaaaaaaaan, kenapa kau tidak adil kepadaku? Kenapa kau merenggut kebahagiaanku? Apa salahku? Kenapa kau tidak sekalian merenggut aku? Apa kau senang meliahat aku menderita?” Zulfah melangkahkan kakinya ke bibir jurang.
Saat terjatuh tangan Zulfa telah digengam oleh seseorang. Dengan sekuat tenaga ia menahan tubuhnya serta gengamannya agar Zulfah tidak jatuh.
“Cepat naik” Kata lelaki yang menggenggam tangan Zulfah.
“Lepaskan, lepaskan aku. Tidak ada gunanya aku hidup jika terus tenggelam dalam penderitaan”.
“Apa kau sudah gila? Apa kau sudah tidak memiliki harapan lagi?” Tanya lelaki itu yang semakin mengeratkan genggamannya. Tidak ada jawaban dari diri Zulfah.
“Ok, beri aku kesempatan. Aku akan mencoba buktikan ke kamu jika pendapatmu itu tidak benar. Aku.... a.. aku akan men.. coba menja...di pelangi dalam... ke..hi..dupanmu”. Suara lelaki itu semakin parau. Sepertinya ia sudah tidak kuat lagi menahan genggamannya. “Ple...a..se kasih aku kesempatan” Pintanya. Zulfah memberikan tangan kanannya. Lelaki itu tersenyum dan memberikan instruksi agar ia memanjat dinding tebing, sementara ia akan menariknya.
Syukurlah tidak ada korban saat kejadian itu. Lelaki itu memberikan jaket yang ia kenakan kepada Zulfah. Menuntunya ke mobil dan mengantarkannya kembali ke rumah.
Malam telah menyelimuti cakrawala. Zulfah duduk di tepi jendela terbuka. Membiarkan angin malam menyibak rambut hitam panjangnya. Damai. Andaikan ia masih bisa melihat. Mungkin malam ini ia masih bisa menikmati putihnya cahaya purnama. Ah, sudahlah itu hanya akan menjadi angan saja. Kini alunan melodi malamlah yang menjadi gantinya.
Lelaki itu. Apa benar yang ia katakan? Atau itu hanya menjadi pembujuk saja? Dan apakah hanya sebatas kasihan ia menolongnya? Entahlah, tapi dalam hatinya ia sangat berterimakasih kepadanya. Berkatnya ia sadar bahwa kebahagiaan mungkin akan bisa ia rangkai kembali.
***
“Kak, siapa lelaki itu? Dan kenapa dia mau menolong Zulfah?” Tanya Dimas disela-sela aku bercerita. Aku hanya tersenyum melihat tingkah anak-anak yang memberikan isyarat “Sssst.” kepadanya agar ia tidak merusak suasana.
“Baik kakak lanjutkan”.
Seminggu setelah kejadian. Zulfah mulai merangkai kembali sisa harapannya. Lelaki itu. Hemmm.... ia belum juga datang untuk melihat keadaannya. Setiap sore Zulfah menghabiskan waktunya hanya duduk sendiri di teras. Menunggu, menunggu harapan yang telah Tuhan pertemukan kembali padanya.
“Non, masuk yuk, sudah mau petang kita sholat maghrib bareng”. Tanya Bi Indah yang membuyarkan lamunan Zulfa. Ia hanya tersenyum, mengangguk dan beranjak bersama Bi Indah untuk menunaikan panggilan sang Ilahi.
Zulfah menengadahkan tangannya. Menghadapkan wajah cantiknya ke atas. Menenggelamkan diri dalam balutan do’a. Di setiap untaian do’a ia berharap agar Tuhan menjaga selalu kedua orang tuanya, membahagiakan mereka dan dapat mengumpulkan mereka kembali seperti sediakala. Juga, tentang dia. Dia, yang menolong dan memberikan potongan kehidupan baru untuknya. Semoga keajaiban akan mempertemukannya dengan, dia.
***
Siang itu Zulfah menghabiskan waktunya dengan menikmati hembusan angin di bawah pohon belakang rumahnya. Saat itu ia tertawa lepas, merasakan kembali hangatnya kebersaamaan yang mulai memudar. Bi Indah, satu-satunya keluarga yang ia miliki. Atau lebih tepatnya orang tua kedua yang ia miliki. Walau kenyataannya ia hanya pembantu yang sudah lama bekerja di rumahnya.
“Non, bibi ke dalam sebentar, ya”. Zulfah hanya mengangguk, menyandarkan tubuhnya ke pohon sambil menikmati alunan musik dari radio kecil.
Dan di siang itu juga Tuhan telah mengabulkan do’anya. harapan yang selama ini ia tunggu kembali hadir. Bak fajar di pagi hari yang menyibak gulitanya malam. Ia mengobrol sebentar dengan Bi Indah. “Ngobrol dengan siapa Bi Indah?”. Tanya Zulfah dalam hati. Dari kejauhan ia tersenyum melihat Zulfah yang tengah duduk dengan damai. Ia memutuskan untuk melangkah mendekatinya, duduk dan memperhatikan dengan seksama.
“Hai, kamu apa kabar?” Tanyanya. Suara itu. Zulfah mencari ke kanan dan ke kiri merabah segala benda yang ada di dekatnya.
“Kamu siapa? Apa kamu seseorang yang datang waktu itu? Jika iya, mohon katakan dimana kamu?” Tanya Zulfah panik. Lalu lelaki itu menarik tangan Zulfah mengarahkan tangan lembut itu ke arah wajahnya. “Kamu..” Kata Zulfa dengan nada nan parau.
Zulfah menangis. Andaikan aku bisa melihat mungkin engkaulah orang kedua yang ingin aku pandang. Lelaki itu menyeka buliran air yang menetes. Memeluknya dan membiarkan Zulfah menumpahkan rasa sedihnya. “Terima kasih”. Ungkap Zulfah dalam dekap peluknya.
`***
Nasrul, begitulah panggilan lelaki itu. Hari demi hari dilalui Zulfah dengan penuh warna. Bak warna pelangi yang menghiasi mendungnya langit. Nasrul, ia mengenalkan banyak hal yang tidak pernah dirasakan Zulfah sebelumnya.
Seminggu sudah kebersamaan mereka berdua. Seperti biasa ia mengajak Zulfah pergi ke surau. Disana mereka disambut oleh para murid yang sedang belajar bersama. Surau itu adalah tempat belajar bagi para anak jalanan dan mereka yang kurang mampu. Tempat itu didirikan oleh Nasrul beserta kawannya. Semua itu mereka lakukan hanya untuk membimbing adik-adiknya agar mereka tidak putus harapan dan bisa menjadi generasi penerus bangsa.
“Adik-adik, kali ini kak Zulfah ingin menyampaikan sebuah cerita kepada kita. Adik-adik mau tidak mendengarkan?” kata Nasrul sambil menuntun Zulfah duduk di depan semua.
Zulfah menarik tangan Nasrul. Ia gugup karena ini adalah pertama kali ia bercerita di depan umum. Nasrul tersenyum lalu ia berbisik aku ada disisimu. Zulfah mengangguk lalu menarik nafas dan mulai bercerita.
Lima belas menit berlalu, semuanya bertepuk tangan, tersenyum dan kagum terhadap apa yang disampaikan oleh Zulfah.
“Kamu hebat, kamu bisa menunjukan kepada kita semua kalau kamu bisa”. Sambut Nasrul sambil membantu Zulfah berdiri. Zulfah tersenyum dan beranjak dari tempat duduknya. Berjalan dan bergabung dengan yang lain. Keluarga, mungkin itulah yang tengah ia rasakan. Hal yang pernah menghilang. Dan kini semua itu mulai muncul kembali, menghiasi hari-hari yang akan ia lalui.
***
“Selamat siang semua” Sapa kak Umi kepada anak-anak. “Kali ini kak Umi membawa kabar gembira. Tunggu sebentar”. Kak Umi lari menuju parkiran dan beberapa menit kemudian ia kembali sambil membawa selembaran kertas.
“Teman-teman, kakak ada pengumuman penting. Salah satu sanggar seni mengadakan lomba mendongeng tingkat nasional. Dan alhamdulillah, surau kita juga mendapat undangan. Dan kita akan mengirimkan 3 peserta untuk perlombaan itu”. Anak-anak menyambutnya dengan sukaria.
Seleksi dilakukan oleh para kakak Pembina. Akhirnya 3 peserta telah diputuskan. Dan ternyata di antara peserta itu adalah Zulfah. Awalnya ia menolak, namun Nasrul berusaha meyakinkan kalau ia pasti bisa.
“Kemenangan itu tidaklah penting. Namun yang terpenting adalah bagaimana kita bisa memberikan yang terbaik dengan kemampuan kita”. Ia tersenyum sambil mengusap rambut Zulfah.
Hari demi hari dilalui dengan latihan. Dan besok adalah hari yang penting untuk Zulfah. Hari untuk menunjukkan kalau ia bisa menjawab tantangan yang disajikan kehidupan untuknya.
Setiap sore Nasrul selalu datang menemani latihan Zulfah. Ia membacakan banyak dongeng yang memotivasi. Dan tidak lupa ia merekamnya agar Zulfah bisa mendengarkan setiap saat.
***
Sore itu mentari tidak menampakkan cahayanya. Gemericik air mulai membasahi kota. Hingga orang-orang menghentikan aktivitasnya sejenak. Menepikan kendaraan dan memilih mencari jajanan untuk menghangatkan diri.
Nasrul masih menikmati sup ayam miliknya. Sejenak ia tersenyum melihat Zulfah yang tengah meragakan isi dari dongeng yang hendak ia tampilkan.
“Kamu kok, bisa mendongeng sih?” tanya Nasrul. Zulfah diam tersenyum dan menarik nafas. Pertanyaan ini membuatnya teringat dengan sosok seorang ibu.
“Dulu ibu sering sekali menceritakan dongeng sebelum aku tidur”. Jawabnya sambil tersenyum. “Bahkan aku sampai hafal dengan berbagai macam dongeng anak. Apalagi dongeng yang sering kamu dengarkan ke aku”. Terusnya sambil melemparkan senyum pada Nasrul.
Nasrul melirik jam tangannya. Jam setengah lima sore. Waktunya mengantarkan Zulfah kembali. Mereka berjalan beriringan meninggalkan bangku dan tiba di depan pintu.
Mobil putih itu melaju, menerobos buliran air hujan. Canda dan tawa mewarnai perjalanan itu. Dan kala itu juga, hujan menjadi saksi akan perpisahan yang tidak pernah terduga.
Di tengah perjalanan Nasrul sempat merasa sakit. Ia menepikan mobilnya dan berhenti sejenak.
“Kok, berhenti?” Tanya Zulfah keheranan.
“Maaf, kita isi bensin sebentar” Jawabnya dan langsung lari ke gubuk kecil.
Nasrul kesakitan. Dalam hati, ia memohon agar ia dikuatkan. Ia tidak mau membuat rasa sakit baru pada anak perempuan yang ada di mobilnya.
Ia meraih ponselnya. Mengetik beberapa pesan dan dikirimkan kepada Rendy sahabatnya. Sejenak, pandangan Nasrul kabur. Dan awan putih mulai menyelimuti dunia yang ia lihat.
***
Hari yang dinanti telah tiba. Gugup, mingkin itulah yang tengah dirasakan seorang Zulfah. Karena ini kali pertama ia mengikuti perlombaan mendongeng.
Semua orang berkumpul di aula perlombaan. Para sahabat Surau, guru pembina dan juga Bi Indah. Namun, sejak tadi ia gelisah. Satu orang belum ditemukan olehnya. Nasrul. Kemana orang itu?.
Ia bertanya kepada Kak Umi. Dan Kak Umi mengatakan kalau sebentar lagi ia pasti datang. Beberapa menit kemudian Kak Umi menerima panggilan. Kemudian memberikannya kepada Zulfah.
“Zulfah, aku minta maaf, ya karena aku tidak bisa datang”. Mendengarnya Zulfah merasa kecewa.
“Tapi aku janji, kalau kamu menang aku akan memberikan hadiah istimewa kepadamu”.
“Iya, aku akan memberikan yang terbaik buat kamu”.
“Gitu dong, oke kalau gitu aku tutup ya”. Zulfah menghela nafas dan menghembuskannya perlahan. Mungkin ia benar-benar sibuk. Seperti tau apa yang dirasakan Zulfah, Kak Umi menghiburnya agar ia tetap semangat.
Lomba dimulai sampai akhirnya tibalah giliran Zulfah untuk tampil. Kak umi membimbingnya menaiki panggung. Membantunya duduk dan membisikkan agar ia tidak gugup.
Dua puluh menit berlalu. Tepuk tangan penonton riuh saat Zulfah selesai menyampaikan ceritanya. Zulfah senang begitu juga Kak Umi saat melihat penonton kagum pada sosok Zulfah.
Tiba akhirnya pengujung acara. Pengumuman dibacakan dan alangkah terkejutnya Zulfah berhasil merebut peringkat pertama. Ia maju dan menyampaikan beberapa pidato.
Kehidupan adalah anugerah dari Maha Kuasa. Jangan menyerah walau Ia mengambil segala yang kalian cintai. Tetaplah semangat dan yakinlah Tuhan akan selalu ada dikala kalian membutuhkannya.
Sekali lagi Zulfah berhasil membuat para penonton kagum. Dan hari itu adalah hari yang tidak pernah terlupakan oleh sosok Zulfah. Hari dimana senja kembali mewarnai hidupnya.
***
Seminggu kemudian Zulfah melakuakan operasi mata. Betapa senangnya ia akan bisa kembali melihat dunia. Terutama dia. Seminggu sudah ia tidak memberikan kabar kepadanya.
Operasi berjalan lancar. Dan kini Zulfah bisa menjalani harinya dengan lebih berwarna.
Waktu berlalu dengan cepat. Kini Zulfah telah menginjak umur 20 tahun. Banyak prestasi yang telah diukir dari rangkaian tulisannya. Hingga tulisan itu mengantarkan Zulfah ke seluruh dunia.
***
Cerita telah usai dengan akhir nan bahagia. Semua anak-anak beranjak pergi meninggalkan aku sendiri.
Tidak terasa air mata sudah membasahi wajahku. Kisah itu adalah kisah perjalananku saat aku menapaki hari yang penuh kegelapan hingga mencapai kesuksesan.
Nasrul. Dia telah pergi meninggalkan aku sendiri. Meninggalkan hadiah nan indah. Seperti janjinya, ia akan selalu mewarnai duniaku. Meski saat itu ia tergerogoti oleh kanker kronis. Dan kedua mata ini adalah peninggalan berharga darinya.
Kini aku sudah berdiri di depan pusaranya.
Sahabat, terima kasih atas semua warna yang engkau berikan dalam hidupku. Seperti yang engkau tulis pada buku ini, aku adalah hal yang selalu engkau tulis. Namun engkau, adalah hal yang tidak akan pernah aku baca.
Walau demikian aku bersyukur karena bisa melihat dunia milikmu. Dunia yang menuntun setiap orang dalam kegelapan.
Sekali lagi aku hanya bisa meminta maaf kepadamu. Dan, hanya untaian do’alah yang bisa aku hadiahkan untukmu.
Dan buku ini adalah pemberian yang akan selau aku kenang selamanya.