Tak ada yang tau bagaimana akhir dari cerita yang kita lalui,jangan pernah takut memiliki harapan yang tinggi,jangan takut menunggu sesuatu yang tak pasti,karena awan tak kan menangis tanpa matahari yang mendorongnya.
SEINDAH SEANDAINYA
Denting yang berbunyi dari dinding kamarku,sadarkanku dari lamunan panjang. Malam kian larut tapi mata ini masih enggan untuk terpejam. Hari ini kulihat lagi keindahan atas karunia-MU, cahaya itu datang ditengah kegelapan yang menyelimuti gemerlapnya dunia. Gemerlap akan indahnya macam-macam rupa cahaya yang tertata rapi pada tempatnya, dentingan gelas-gelas kaca yang terikat rapi pada jemari-jemari yang indah yang membuat pemiliknya terhipnotis akan nikmatnya surga dunia. Entah mengapa sepenggal masa laluku tiba-tiba terlintas dipikiran.Masa kelam yang membuatku bisa menjadi setegar ini. Tak jarang rasa tak percaya masih saja menyelinap dalam hati. Aku bukanlah seseorang yang terlahir dari keluarga harmonis,bahkan selama 15 tahun hanya hidup bersama kakakku,dia yang selalu berusaha ada disampingku setiap saat. Hingga saat itu datang,orang tuaku tiba-tiba berdiri di depan pintu rumah kami, dan merubah semua yang ada.
§§§§§
Hari demi hari telah berlalu, musim demi demi musim telah berganti, dan tahun demi tahun terlewati begitu saja. Semuanya hilang, apa yang dia punya semuanya sirna, itu semua sejak dia kehilangan sesuatu yang merupakan segalanya baginya, kakaknya adalah separuh jiwanya kini tidak lagi bersamanya. Saat hari itu datang dimana orang tuanya menjemput paksa kakaknya agar tinggal bersama mereka, disitulah dia merasa hancur, separuh jiwanya telah pergi bersama orang yang dirindukannya selama ini. Jika diibaratkan, bunga pun tetap diam walau terluka, bunga pun tetap diam walau dia terbuang. Bunga itu indah tapi rapuh, ya itulah dia. Dia ingin tegar, dia ingin bahagia, tapi dia tidak bisa. Karena dia tidak memliki kebutuhannya, yaitu keberanian. Andai dulu dia memiliki keberanian itu, dia takkan kehilangannya, andai dulu dia bisa mencegah, pasti kakaknya masih bersamanya. Andai dulu ada yang berpihak padanya, pasti sekarang kebahagiaan sudah bersamanya.
Disa Saraswati, dia bukanlah orang yang sempurna, dia juga bukan hal buruk yang harus disisihkan, dia adalah bunga di musim semi, begitu kokoh dan indah walau dalam kebekuan, dan ketika bunga itu hilang musim semi juga telah sirna, digantikan musim berikutnya.
Hari ini tanggal 30 hari terakhir bulan ke sebelas, dia terbangun ketika mendengar kegaduhan dari arah dapurnya, tidak salah lagi itu adalah ulah kakaknya Farhan Fajri yang setiap pagi memasak sarapan untuk mereka, dan biasanya akan berakhir dengan kekacauan dimana-dimana. Dengan memakai seragam sekolahnya Disa bermaksud menghampiri kakaknya tapi ketukan pintu membuat Disa mengurungkan niatnya, dia berbalik arah menuju pintu depan dengan perlahan dia membukanya. Disa terdiam beberapa saat, hingga suara deheman dari tamu tersebut menyadarkannya, “Ehem, bolehkah kita masuk?” ayahnya membuka suara, ya tamu tersebut adalah orang tua Disa, tanpa berkata apapun Disa memberikan mereka jalan untuk masuk, tidak ada sapaan kerinduan, serta pelukan hangat, ataupun senyuman bahagia diawal pertemuan mereka, seperti yang sudah Disa harapkan selama ini, tapi dia berpikir positif mungkin orang tuanya masih capek, jadi ia memutuskan untuk menyusul mereka keruang tamu. “Ayah, ibu….” belum sempat dia melanjutkan kalimatnya tetapi sang ibu sudah terlebih dahulu memotongnya “Dimana kakakmu, suruh dia kesini sekarang!” Disa pun segera berlalu menuju dapur dimana kakaknya sedang duduk di meja makan menunggunya untuk makan bersama. “Dis siapa yang datang sepagi ini?” tanya kakaknya. “Itu kak, ayah sama ibu pulang” “benarkah?” Tanya sang kakak dengan sedikit keterkejutan yang mana hanya dijawab dengan anggukan kecil dari Disa.
“Ayah, ibu kalian pulang?” Sapa kakak Disa dengan senyumnya, “Farhan anakku” papa berdiri sambil memeluk kakaknya. Disa iri dengan perlakuan orang tuanya kepada Farhan. “Farhan sekarang kamu kemasi pakaian kamu dan barang-barang yang menurut kamu penting saja!” perintah ibunya.”Memangnya kita mau kemana?” “Kamu akan ikut kita ke Malaysia, dan kita akan menetap disana” Jelas ayahnya dengan wajah datar. Fajar menatap Disa kemudian menggandeng Disa untuk mengemasi pakaiannya juga. Tetapi langkahnya terhenti ketika sang ibu berbicara “Hanya kamu yang ikut kami, Disa akan tetap tinggal disini” “Bagaiamana mungkin bu, Disa itu masih kecil untuk tinggal sendiri bu” Fajar menjawab dengan sedekit heran. “Ya, bukan berarti dia tidak bisa mandiri kan?” Jawab ayahnya dengan kelewat datar. “Ya, tapi kan yah Disa itu adik Fajar, anak ayah dan ibu juga” suara Fajar sedikit meninggi. “Sudahlah Jar, apa susahnya sih, tinggal mengemasi baju kamu, kemudian kita berangkat, beres kan?” Jawab ibu dengan nada sinisya. “Tapi kan bu, Fajar sama Disa itu tiap hari sama-sama. Lagi pula apa susahnya sih mengajak Disa bersama kita, toh Disa juga darah daging ayah dan ibu sendiri”.Farhan mulai marah dengan keputusan orang tuanya.”Sudahlah han tinggal nurut papa susahnya sih!” “Tapi kan yah…”, belum selesai Farhan berkata Disa sudah menyela “Sudahlah, kak aku tidak apa-apa, kakak pergi saja” “Tapi Dis kakak nggak bisa ninggalin kamu gitu aja, kita sudah biasa melakukan apapun sama-sama”.Farhan pun menghampiri adiknya. “Tidak apa-apa kak Disa bisa sendiri, Disa sudah besar” Disa menguatkan kakaknya, dia tidak bisa berbuat apa-apa, ini sudah keputusan orang tuanya, juga selama ini Disa bukan tipe anak yang manja, “Tuh Han, Disa saja sudah bersedia tinggal sendiri, apalagi yang kau takutkan,?”.Ucap sang ibu, “Dis dengarkan kakak, apapun yang terjadi nanti kakak akan berusaha hubungin kamu, kakak akan berusaha buat cepat-cepat kembali kesini, jaga kesehatan kamu, jaga sholat kamu dan doakan supaya ayah dan ibu berubah pikiran”. “Kamu itu ngomong apasih Han, orang jelas-jelas keputusan ayah cuma bawa kamu, sudahlah nggak usah pikirin Disa, ayah mau lihat bisa nggak Disa hidup nggak bergantung sama kamu”, Ayahnya berkata dengan sinis, “Yah Disa itu nggak bergantung sama Farhan, memang ini sudah kewajiban kakak kepada adik”. Farhan terus berusaha membela adikknya, sedangkan Disa hanya mampu menunduk sambil menahan air mata. Sejenak Farhan menatap sang adik, dia bimbang, haruskah dia meninggalkan adiknya, Disa memang sudah besar, tapi ikatan batin antara kakak adik. “Ayo Han waktu kita tidak lama” Ucap sang ibu. Farhan memeluk adiknya dengan erat, sedangkan yang dipeluk sudah tidak dapat menahan air matanya. “Kamu jaga diri baik-baik ya, jangan benci ayah sama ibu, kamu hati-hati dirumah, jangan nangis”. Disa tak mampu berucap apapun, “Kakak hati-hati juga ya, jaga kesehatan, jaga ayah dan ibu,” .Disa kembali terisak dalam rengkuhan kakaknya. “Kakak pergi, tunggu kakak kembali”. Dan saat itulah tangis keduanya pecah, kebersamaan yang mereka bangun selama ini telah sirna oleh dua orang pusat kerinduan mereka, Disa dan Farhan sama-sama kehilangan separuh jiwa mereka.Orang tuanya sudah berada dimobil,Farhan pun masuk juga,dan tak lama mobil tersebut berjalan dan menghilang dibelokan depan. Kini tinggalah Disa sendiri dengan air mata kehampaan, dan kesepian. Tapi dia berjanji dalam dirinya seburuk apapun orang tuanya dia tak akan membencinya.
“Seburuk apapun orang tuamu, sebenci apapun ia padamu, percayalah itulah caranya mendidik dirimu agar lebih kuat lagi, dan jangan berbalik membenci mereka, yakinilah kita ada karena cinta kasih mereka”
Hari ini hari pertama dibulan terakhir tahun ini. Mentari mulai memunculkan diri dari persembunyiannya, kicauan burung di pagi hari adalah alarm terindah yang Tuhan ciptakan. kelopak mata itu perlahan bergerak ketika otaknya memberi alarm untuk bangun dari tidur nyenyaknya. Dengan langkah terseok dia melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, dia melihat cermin untuk memperhatikan penampilannya saat ini, mata sembab dengan kantung mata tebal, bibir pucat. Hari ini pertama kalinya dalam hidup dia tinggal sendiri, semuanya sepi, tapi dia menguatkan hatinya dia bisa, dia mampu melewati semua ini sampai kakaknya kembali. Dan mulai detik itu juga ia mulai kehilangan senyumannya. Malam pun datang bersama gerimis Disa semakin terisak dalam kesendiriannya menatap indahnya ciptaan Tuhan dari jendela kamarnya,dalam keterdiamannya dia berjanji akan berusaha sekuat tenaga menjadi orang sukses untuk membuat orang tuanya bangga dan mau memandangnya.
Dia bersekolah seperti biasanya, namun hanya satu hal yang membuat teman-temannya bertanya-tanya, senyuman itu bukan senyuman biasanya, senyuman itu memancarkan duka mendalam dari pemiliknya, Disa lebih tertutup, bahkan dia sama sekali tidak pernah terlihat lagi kekantin saat istirahat,dia lebih banyak menggunakan waktunya untuk belajar, belajar dan belajar. Hari pun berlanjut, kemajuan pesat Disa di sekolah membawanya mengikuti berbagai olimpiade dan berhasil menjuarainya. Seluruh bagian sekolah tidak ada yang tidak mengenalnya, tetapi semuanya tetap sama, mereka tidak pernah melihat senyum itu lagi.
Tiga tahun berlalu begitu cepat dan disinilah Disa, ia berhasil mengukir banyak prestasi disekolahnya, dia berhasil mendapat beasiswa diluar negeri, dan disinilah dia sekarang, di atas panggung kelulusan tanpa orang tua, dan tanpa siapapun. Dia mampu meraih nilai terbaik, tapi untuk siapa itu ditunjukkan, kepada kakaknya yang berjanji kembali tak kunjung kembali, orang tuanya yang ia harapkan datang menyaksikan kesuksesannya tidak ada disampingya. Semuanya tersenyum bahagia hari itu, terkecuali Disa, senyumannya terasa asing dan penuh luka. Sebagai lulusan terbaik dia diberikan kesempatan untuk mengucapkan pesan dan kesan, dia hanya mengucapkan beberapa kalimat tapi mengena mampu membuat semua terdiam,
“Ceritaku tak berjalan seperti skenario yang kubuat, semuanya hancur bersama dengan kepergiaannya, aku sendiri tanpa siapapun saat itu, tapi aku bisa membuktikan bahwa aku bisa meski dalam kesendirianku, jangan merasa takut saat kalian merasa sendiri, karena kesendirian tak membuat kita merasa tak berarti, jangan pernah takut dengan sebuah harapan yang tak pasti, jangan takut dengan kata seandainya, yakinlah kata “seandainya” adalah batas awal pencapaian kesuksesan kita. Jadi bagaimanapun akhir cerita kita nanti, semua akan indah pada waktunya”.
Waktu berlalu begitu cepat, kerja keras Disa untuk bisa menjadi seorang dosen dan penulis membuahkan hasil yang sangat baik. Dia menjadi dosen tetap di universitas negeri ternama. Dan tahun ini Disa akan mengadakan launching buku ketiganya yang berjudul “Istana Tanpa Dasar”. Seperti tahun sebelumnya dia masih sendiri tanpa siapapun, dia masih tinggal di rumah yang sama, dengan harapan yang sama dan tanpa mengenal cinta dan kasih sayang, karena dia menutup rapat dirinya dari kedua hal itu, hingga suatu hari dia mendapati tiga orang berdiri didepan rumahnya sosoknya begitu familiar, akankah doanya selama ini terkabul atau memang halusinasinya saja. Ketika mereka semua berbalik Disa meyakinkan dirinya ini nyata, mereka ada disini untuknya, Disa berlari memeluknya. Tangis bahagia tersemat di antara mereka, ayahnya mengakui terlalu malu untuk menemuinya. Ibunya pun sama ia malu pada dirinya sendiri, seharunya ia yang merawat Disa menemani Disa sampai sesukses seperti saat ini, kakaknya meminta maaf karena tidak bisa menepati janjinya. Semua itu tidak ada apa-apanya dengan kebahagiaan Disa saat ini, tak bisa terlukiskan dengan kata-kata. Inilah akhir skenario yang Disa inginkan, meskipun terlambat tapi semuanya akan berakhir indah.
§§§§§
Tak ada yang tau bagaimana akhir dari cerita yang kita lalui,jangan pernah takut memiliki harapan yang tinggi,jangan takut menunggu sesuatu yang tak pasti,karena awan tak kan menangis tanpa matahari yang mendorongnya.
Matahari menampakkan diri dengan malu-malu, aku terbangun dengan teriakan ibu yang selama ini kurindukan, hari ini hari pertama bulan ke dua belas, hari ini gerimis datang lagi tapi kali ini berbeda karena aku tak sendiri lagi, mereka semua sudah kembali, berkumpul bersama dalam bulan yang penuh kenangan, mengakhiri tahun dengan untaian harapan yang sama. Aku tak pernah menyangka bahwa akhir ceritaku lebih indah dari yang sudah kutulis. Terima kasih pada Sang Maha Pemberi Cinta telah menyematkan rasa cinta pada hati kami semua, Aku percaya bahwa Sang pengatur kehidupan telah mengetur dengan rumit kehidupan ini agar semuanya terasa indah dan berarti tepat pada waktunya.
By : Ella Trisya