Orion

Kehidupan ini seperti sebuah puzzle. Memang sekarang kepingan-kepingan yang belum disusun masih terlihat berantakan. Tetapi nanti, setelah puzzle selesai disusun, kita akan melihatnya: keindahan—yang telah dipersiapkan oleh Tuhan. Meski tanpa impian, tak usah risau. Teruslah berjalan dan temukan impianmu di sepanjang perjalanan.

                                                                                             PUZZLE

 

Hari ini saat mataku membuka, pekatnya jelaga masih kembali menjelma cahaya. Cahaya itu merembes pelan-pelan melalui jendela yang dibiarkan sedikit terbuka dan mulai memenuhi ruang dengan terang yang menyilaukan.

Tirai menguak, mengundang semakin banyak terang. Semilir angin dan aroma embun pagi mengabarkan perihal hari demi hari yang kian datang silih berganti. Juga perihal perjalanan demi perjalanan yang  telah dilalui. Meski begitu, meski Bumi tak henti berotasi, rasanya seperti aku masih tetap berada disini—titik yang sama seperti sebelumnya. Sangat membosankan.

Ah, tapi setidaknya hari ini berbeda. Bukankah sudah kuputuskan untuk menghalau rutinitas yang biasa? Menepis kegelisahan, kusambut hal di luar kebiasaan yang biasa kulakukan.

Hari ini akan berbeda...

                                                                                              ***

Hari itu, kami berdua bertemu pada sebuah kegiatan dimana aku menjadi sukarelawan. Dari sekian banyak orang yang hadir di sana Tuhan menakdirkan kami untuk duduk bersisian. Saat itu ia menyapaku dengan senyuman dan aku langsung tahu bahwa ia adalah orang yang menyenangkan.

Namun selayaknya awal pertemuan yang diawali dengan kecanggungan, saat itu untuk beberapa saat hening menggelayuti udara di antara kami berdua. Sepi, meski di sekitar kami orang-orang riuh berlalu-lalang. Padahal ada banyak sekali hal yang ingin kutanyakan namun aku takut salah bicara karena adanya perbedaan dalam bahasa dan budaya. Saking sibuknya dengan sejumlah skenario yang ada di kepala aku bahkan lupa memperkenalkan diri. Ia yang pertama kali memulai pembicaraan.

So, you are the one who’ve been assigned to help me, right?

Yes. I’ll do my best to help you.

 Setelah itu kami saling memperkenalkan diri. Pembicaraan mengalir, mulai dari bercerita tentang makna di balik masing-masing nama hingga akhirnya—entah bagaimana, kami sampai pada pembicaraan tentang impian di masa depan. Ah. Kenapa topik ini selalu ada dimana saja? Aku bosan mendengar tentang itu.

Bagiku, masa depan adalah momok yang menakutkan. Ia diliputi ketidakpastian. Hal-hal yang sudah direncanakan sedemikian rupa bisa berubah begitu saja—hanya dalam sekejap mata. Tidakkah itu menyesakkan?

Karena itulah aku lebih memilih menenggelamkan diri dalam indahnya kenangan masa lalu atau sekadar menyibukkan diri dengan gaduhnya masa sekarang. Perihal impian dan sketsa-sketsa tentang masa depan, pikiranku selalu berubah setiap hari. Seperti rembulan yang saban hari mengubah rupa.

 “So, you’re currently in your last year of college? What do you want to be later?”

Well...”

Sejenak, aku bungkam. Ia menunggu. Aku benar-benar bingung harus menjawab bagaimana. Akhirnya kuputuskan untuk memberinya jawaban klasik; betapa aku sendiri masih belum meyakini.

Ya. Aku memang masih bingung memikirkan jalan seperti apa yang akan kuambil selepas lulus kuliah nanti.

Aku mengamati wajah Cal—orang yang tadi bertanya. Kutatap matanya dalam-dalam sambil mencoba menaksir apa yang sedang ia pikirkan. Apa ia kebingungan melihatku yang kebingungan? Atau malah merasa kasihan?

Why?” Ia bertanya lagi.

Ah, kenapa, tanyanya. Entah kenapa, pertanyaan-pertanyaan sulit selalu saja diawali oleh ‘mengapa’. Karena tidak memiliki jawaban maka yang bisa kulakukan saat itu hanyalah membingkaikan seulas senyuman.

Give it a thought. You should start from now.”

Memikirkan? Tentu saja aku memikirkan soal itu. Selalu. Tapi pada akhirnya, aku tetaplah hanya si peragu. Seketika pikiranku melayang kepada pintu-pintu yang selama ini kubuka dengan ragu-ragu: pilihan serta jejak-jejak langkah yang ambigu dan tak menentu.

Cal tidak sepertiku. Sejak awal ia tahu benar apa yang diinginkan. Kehidupannya diwarnai oleh perencanaan-perencanaan yang teratur dan rapi. Matanya bersinar ketika menceritakan perihal impian dan hal-hal hebat yang berhasil ia wujudkan. Ia sungguh mengagumkan.

Kami berdua benar-benar berbeda. Aku iri sekali padanya. Karena, tidak seperti Cal yang memilih setia pada pilihan-pilihan yang sudah sejak lama ia tentukan—hidupku dipenuhi ketidakjelasan. Menjalani dan mempelajari berbagai hal yang tak saling berhubungan memang cukup menyenangkan. Tetapi dengan konsekuensi: hidupku kehilangan orientasi. Di saat Cal—dan juga teman-temanku yang lain, sudah melukiskan nirmana-nirmana yang mulai terlihat maknanya, yang kutorehkan tak lebih dari sekadar abstraksi. Bukan garis-garis rapi, namun coretan-coretan semrawut yang memusingkan.

Bukan karena aku tak berpendirian. Hanya saja, dari beberapa pilihan aku tak tahu pasti apa yang kuinginkan, sementara sang waktu menuntut untuk terus berjalan. Maka sambil tersuruk penuh kebingungan aku terpaksa berjalan. Hingga akhirnya saat tersadar aku sudah tersesat entah dimana. Rasanya seperti menyusuri sebuah jalan panjang dan yang bisa kulakukan hanyalah terus maju karena tidak ada pilihan untuk mundur ke belakang.

Lalu sekarang, saat sudah hampir sampai di penghujung jalan, kutolehkan wajah ke belakang dan bertanya-tanya. Apakah semua yang kulakukan saat ini sia-sia saja? Akan jadi seperti apa hidupku seandainya memilih jalan yang berbeda?

Lama, aku memikirkannya. Tersesat dalam labirin yang ada dalam kepala sampai kemudian sebuah kesadaran menamparku. Keras sekali.

Aku menghela napas. Tidak, tentu saja semua ini tidak sia-sia. Bagaimana bisa kemungkinan itu menghampiri pikiranku? Orang-orang yang kutemui di tengah perjalanan hidupku, makna-makna kehidupan yang telah mereka kiaskan...

Semua itu adalah hadiah dari Tuhan. Seandainya aku mengambil jalan yang berbeda, tentu aku tidak akan pernah bertemu dengan mereka di tengah perjalanan hidupku ini. Aku pasti akan jadi orang yang berbeda.

Tuhan pasti punya alasan untuk mempertemukan kita dengan orang-orang yang sekarang ada di hidup kita. Karena, pertemuan bukanlah sekadar kebetulan. Pertemuan adalah hal yang sudah sejak lama ditakdirkan. Maka dari itu setiap orang yang Tuhan pertemukan—setiap orang yang mengisi ceruk-ceruk kehidupan, pasti memiliki peran. Entah itu untuk memberi pelajaran kehidupan yang berharga, memberi inspirasi dan lain sebagainya. Bukankah Tuhan telah memberi lebih banyak dari yang diharapkan?

Don’t worry,” bersamaan dengan suara itu, lamunanku terhenti. Di sampingku, Cal membingkai sebuah senyum. “Just keep walking. Soon, when you reach the end of your path, you’ll arrive at your destination.”

You’re right. Thanks...”

Kubalas senyumnya setulus yang aku bisa. Kata-katanya itu sungguh memberi hatiku kehangatan. Kata-kata itu juga memberi sebuah pemikiran, bahwa kehidupan ini tak ubahnya seperti sebuah puzzle. Memang sekarang kepingan-kepingan yang belum disusun masih terlihat berantakan. Tetapi nanti, setelah puzzle selesai disusun, kita akan melihatnya: keindahan—yang telah dipersiapkan oleh Tuhan.

Ya, benar yang dikatakan Cal. Tak usah risau. Teruslah berjalan. Karena nantinya, di akhir jalan itu, kau akan sampai juga pada tujuanmu. Tapi...

“But, you know, simply walking will not lead you anywhere. You have to walk with purpose. If you don’t know what your purpose is, then find your purposes along the way.”

Baru saja aku akan mengatakannya. Berjalan tanpa tujuan adalah hal yang sangat melelahkan. Tapi untuk menemukan tujuan—bagaimana caranya?

Benarkah tujuan akan ditemukan sepanjang perjalanan? Selama berjalan, tentu saja aku menemukan berbagai macam impian yang ingin kuwujudkan. Tetapi tidak semudah itu. Aku tidak benar-benar yakin akan diriku. Apakah itu benar-benar tujuanku atau tidak.

“Cal...All this time...even now, I’m really, really confused. I don’t really know what to do with my life. It might be because there are many things that I’d like to achieve...or...”

 “That’s better, you know! Life’s boring without goals. We should have even more goals. Even if not all is realized, some will probably be. Right?”

Ini bukan pertama kalinya aku bertemu dengan orang seoptimis dirinya. Tetapi dia benar-benar membuatku kagum.

“Someday...will I be as amazing as you?”

Cal tidak mendengar bisikanku. Dan aku memang tidak ingin ia mendengarkan. Biar ini jadi perjanjian antara aku dengan diriku sendiri.

                                                                                              ***

“Setelah berbicara dengannya hari itu rasanya aku seperti menemukan tujuan baru. Aku ingin menjadi seorang humanitarian.”

Temanku tertawa mendengar pernyataan itu. Kami sedang makan siang bersama dan aku sedikit teringat pada hari itu. Pada Cal, orang yang telah menguatkanku. Jadi kali ini kami kembali membahas masalah klasik itu: impian.

“Humanitarian? Hah? Apaan tuh? Semacam vegetarian? Kalau vegetarian makan sayur, humanitarian makan...eh...manusia?”

“Aduh, bukan. Itu sebutan untuk...hmm...seseorang yang membantu orang-orang lainnya? Seseorang yang menebarkan banyak manfaat demi kemanusiaan.”

“Wah.”

“Keren kan. Makanya kita rajin-rajin ikut komunitas sosial gitu yuk...jadi relawan dan sebagainya. Kan bagus untuk pengalaman. Menyenangkan juga kan kalau bisa berguna bagi yang lainnya? Kita harus merencanakan mulai dari sekarang. Mumpung masih ada waktu.”

“Trus gimana dengan cita-cita jadi guru TK? Jadi penulis? Jadi yang lain-lain juga?”

“Itu juga, tenang aja.”

“Yakin bisa disambi semuanya?”

“Insya Allah!”

Ya, kalau Tuhan mengizinkan sesuatu untuk terjadi, tentu hal itu akan terjadi. Manusia hanya bisa bermimpi. Dan tentu saja—berusaha mewujudkan mimpi-mimpinya.

 

                                                                        Segeralah berlari, kejar impianmu! 

                                                                                          

 

                                                                              Susun puzzle kehidupanmu