karinavania

The trouble is you think you have time

“ELL bangun! Yaampun kebiasaan deh! Ini hari pertama kamu sekolah nanti telat lagi loh..”.

Suara itu membangunkan Noel dari dunia mimpinya dimana ia sedang menjadi pahlawan dalam peperangan musim dingin. Suara itu jugalah yang membawanya dalam kenyataan bahwa waktu sudah menunjukan pukul 06.45. Dengan nyawa yang masih setengah tertinggal dalam peperangan itu Noel terlompat dari kasurnya dan berlari ke kamar mandi.

“Ma seragamku dimana?” teriak Noel dari arah kamar mandi.

“Mama kan selalu bilang siapkan semuanya dari kemarin, kamu tuh kebiasaan deh apa-apa ditunda-tunda besoknya terburu-buru” gerutu mamanya karena kebiasaan buruk anaknya itu.

“Hehehe maaf yah ma, itu namanya belajar melatih kecepatan di pagi hari, ma.. Aku pergi dulu yah mama cantik”. Noel berlari keluar rumah sambil memanaskan motornya dan melambaikan tangan kearah mamanya yang hanya bisa menghela nafas melihat sikap anak semata wayangnya itu.

Itulah Noel Wicaksono. Seorang remaja biasa kelas 2 SMA. Sifatnya yang ceroboh, suka menunda-nunda dan yang paling membuat pusing kepala mamanya adalah selalu terlambat. Namun pesonanya, wajahnya yang tampan dibalut kulit hitam manisnya ditambah lagi cara bicaranya yang selalu bisa meluluhkan hati, selalu membuat mamanya kehabisan kata-kata.

***

Noel baru saja pindah ke Bandung. Hari ini adalah hari pertamanya sekolah. Namun di hari pertamanya saja ia sudah datang terlambat.

“Aduh telat nih gue. Gede banget lagi sekolahnya gue harus kemana nih” Tanya Noel pada dirinya sendiri. Noel memang belum pernah datang ke sekolah itu. Ia yang memperhatikan jam tangannya berlari-lari tak karuan samapai… “Bruugggg” tubuh Noel dan seorang gadis di depannya sudah terhempas di lantai dengan buku-buku berserakan dimana-mana.

“Eh sorry-sorry gua ga lihat lo gapapa?” Tanya Noel sambil membantu membereskan buku-buku itu.

“Gapapa ko gua juga ga lihat-lihat tadi.” Jawab seorang gadis di depannya.

Noel memberikan buku-buku itu ke gadis itu dan dengan ragu ia bertanya

“Lo anak sini kan? Hehe sorry gua anak baru terus gua telat dan kayaknya gue tersesat mau bantu gua ga?”  Tanya Noel sambil tersenyum manis.

“Oh lurus aja terus di depan belok kiri nanti lo bakal ketemu ruang guru, lo tanya-tanya aja disitu. Gue lagi buru-buru sorry yah.” Jawab gadis itu sambil berjalan segera ingin meninggalkan Noel.

“Oke thankyou, Tricia!”

Gadis yang baru saja mau berlari itu mengehntikan langkahnya dan menoleh dengan bingung.

“Tricia? Maksud lo? Ohhh, loh ko lu tau nama gue?”tanya gadis itu dengan bingung.

“Itu nama lo jelas-jelas ada” kata Noel sambil menunjuk nama di seragam gadis itu yang bertuliskan Patrcia Widiarto.

“Oh asataga.. Pat aja ga biasa gue dipanggil Tricia, Lo siapa?” kata patricia .

“Gue sukanya yang beda dari orang lain, gua Noel salam kenal!”

Gadis itu tersenyum manis dan melambaikan tangannya ke arah Noel lalu bergegas pergi. Tersirat senyum manis di wajah Noel tanpa ia sadari. Ia pun mengikuti arahan gadis itu dan sampai di ruang guru.

***

Noel berbicara dengan seorang guru dan menjelaskan apa yang terjadi. Noel diantarkan ke kelasnya dan mengikuti pelajaran seperti biasa. Dikelasnya Noel bertemu dengan Rando yang begitu cepat akrab dengannya dan banyak membantunya di sekolah. Termasuk bersosialisasi dengan teman-teman baru dan lingkungannya yang baru.

Keesokan harinya pada saat jam isitrahat Noel memilih berkeliling sekolah untuk melihat tempat-tempat baru. Rando yang sibuk menghabiskan makanannya di kantin tidak ikut dengannya. Noel berjalan menyusuri taman sampai di ujung taman ia memasuki lorong yang berisi ruangan-ruangan.

Noel tertarik memasuki salah satu ruangan di lorong itu. Di dalam ruangan itu ada hal yang menarik perhatiannya. Sesuatu yang sangat dicintainya. Piano. Noel memang mendapat les privat piano sejak kecil. Dimulai dari situlah kecintaanya pada piano bertumbuh. Bakatnya sudah tak perlu diragukan lagi berbagai konser piano sudah pernah menjadikannya salah satu bintang dalam pertunjukannya.

Grand Piano berwarna putih dengan sedikit ukiran di sampingnya itu langsung ia mainkan dengan indahnya. Alunan harmoni indah memenuhi ruangan itu, Noel terus bermain seakan ia tenggelam dalam keindahan dentingan piano itu sampai seseorang yang sebenarnya sejak tadi sudah memperhatikan permainannya itu dari luar masuk dan berdeham kecil. Jari-jari lincah Noel terhenti seketika.

“Gue sampai-sampai gabisa ngomong apa-apa pas lo main.. speechles keren banget!” kata seorang gadis yang baru memasuki ruangan itu.

“Eh Tricia?” jawab Noel sambil kebingungan.

Patrcia memang sering mengunjungi ruangan itu. Ruangan itu memang jarang dikunjungi oleh murid-murid lainnya. Namun bagi murid-murid pencinta musik seperti Patrcia ruangan itu adalah surga.

Akhir-akhir ini Patrcia memang sedang rajin-rajinnya mengunjungi ruang musik itu karena sekolah akan mengadakan Festival musik Classic yang sangat terkenal dari sekolah itu. Patrcia menjadi panitia dari acara itu tahun ini.

“Kebetulan banget nih El gue lagi cari partner duet piano sama gue buat acara festival sekolah nanti. Pas ngeliat lo main gua tau lo orang yang tepat. Lo mau yah please…” pinta Patrcia

Tak ada alasan bagi Noel untuk menolak. Ia begitu mencintai musik terutama piano dan jujur saja sebenarnya ia begitu antusias dengan tawaran Patrcia itu.

***

Berawal dari situlah Patrcia dan Noel menjadi sangat dekat. Banyak waktu mereka habiskan bersama, tentunya untuk berlatih. Namun dari situlah mereka mengenal satu sama lain lebih banyak. Patrcia ternyata seorang gadis yang sangat menyenangkan dan ia adalah kakak kelas Noel tetapi umur mereka sepantar. Kecintaan Patrcia pada musik juga sangat besar bakatnya luar biasa, Noel selalu terpukau melihat penampilannya, walau mungkin bukan karena hanya penapilannya tetapi juga paras cantik Patrcia yang seakan berlipat gan ketika sedang bermain piano. Keseriusannya juga terlihat jelas, ia bahkan akan melanjutkan studi musiknya di salah satu universitas seni terbaik di London.

***

“Triciaaa!” sapa Noel sambil terengah-engah.

“Dari 10 kali kita latihan bareng kayanya Cuma 2 kali deh lo dateng on time. Terus mana buku yang gua minta pasti lo lupa lagi kan udah dari minggu lalu gue minta” gerutu patrcia

“Heheeh maaf dong lain kali ga lagi deh, aduh iya bukunya gue lupa lagi jangan marah yah kan festivalnya juga masih lama hehehe”.

“Yauda iya ayo mulai aja” balas Patrcia.

Piano mulai berdenting dengan indahnya. Waktu pulang sekolah merupakan waktu favorit Noel saat itu karena ia akan berlatih berdua bersama Patricia. Tentunya diawali dengan omelan Patrcia karena Noel yang selalu terlambat namun menjadi hiburan tersendiri bagi Noel. Tak bisa dipungkiri Noel menumukan kecocokan dengan Patrcia. Perlahan tapi pasti ia mulai jatuh hati pada Patrcia dan tanpa perlu dijelaskan dengan kata-kata pun semua orang pasti tahu Patrcia juga merasakan hal yang sama. Rasa diantara mereka tumbuh tanpa perlu diungkapkan dengan kata-kata namun tumbuh dengan indahnya seperti alunan melodi yang indah. Mereka tak  pernah terikat secara pasti namun hati mereka saling memiliki.

Rando sangat mengetahui gerak gerik temannya yang sedang jatuh cinta itu. Menurutnya Noel tidak perlu terburu-buru tapi harus pasti karena walaupun banyak lelaki di sekolah itu yang menyukai Patrcia tidak ada satu pun yang diresponnya. Apalgi setelah hatinya terluka oleh mantannya yang brengsek ia tidak pernah membuka hatinya sampai ia bertemu dengan Noel.

***

Tibalah hari dimana Festival Musik Classic dimulai. Tentu saja Patrcia sangat gugup tentang acara itu, takut segala sesuatu tidak berjalan baik. Namun keraguannya hilang sudah ketika semua orang begitu puas dengan festival itu. Berbagai acara yang ditampilkan begitu luar biasa terutama duet antara dirinya dengan Noel. Semua orang begitu terpukau bahkan guru musik mereka sampai menitihkan air mata. Limpahan pujian menghujani Patricia dan Noel.

Noel yang tadinya biasa saja menjadi sangat popular di sekolah. Banyak adik kelas yang tergila-gila dengannya. Banyak adik kelas yang mendekatinya secara agresif. Tak bisa dipungkiri beberapa dari para adik kelas itu menarik perhatian Noel. Namun tetap saja hatinya hanya untuk Patricia. Penapilannya yang memukau, fans yang kian hari kian bertambah memang mebuat Noel bahagia. Namun satu hal yang membuatnya sedih, tak ada lagi waktu pulang sekolah kesukaanya saat bersama Patrcia ditambah lagi setelah festival itu adalah liburan tengah semester yang berarti waktunya bersama Patrcia atau hanya sekedar melihatnya di sekolah semakin berkurang.

Menurut Rando saat itulah yang tepat bagi Noel untuk menyatakan perasaanya. Agar ada kejelasan di anatara mereka karena sebentar lagi Patricia akan sibuk dengan ujian dan waktunya di sekolah tinggal berumur beberapa bulan. Sehingga sebelum Noel kehilangan waktu-waktu bersama Patricia inilah saatnya. Namun entah mengapa Noel begitu santainya begitu terlena akan ketenarannya sekarang. Mungkin sikapnya hanya sekedar untuk berbuat ramah namun dimata orang lain Noel seakan sangat menikmati ketenarannya dan terlena. Menurutnya tidak perlu tergesa-gesa masih banyak waktu untuknya bersama Patrcia, karena kita tahu kita saling menyayangi maka keyakinan satu sama lain lah yang terpenting. Rando tak bisa berkata apa-apa lagi tentang temannya itu, ia setuju dengan temannya itu tetapi menurutnya memberi kepastian itu lebih baik.

Benar saja apa yang dikatakan Rando setelah libur tengah semester Patrcia sibuk dengan ujian-ujian. Entah mengapa semakin hari semakin jauh juga hubungaanya dengan Noel. Hal itu bukan sekedar tidak apa-apa tetapi sebenarnya begitu menyakitkan. Noel yang merasa semakin sulit mencari waktu bersama Patricia begitu merindukan dirinya namun juga masih terlena dengan dunianya. Patrcia yang begitu lelah dengan ujian-ujiannya dan semakin tersiksa melihat Noel yang terlihat begitu bahagia dengan dunia barunya. Mereka berdua masih saling menyayangi, bahkan sangat dalam rasa sayang itu. Namun seakan tak punya hak apa-apa keduanya tak bisa saling memprotes tentang perasaan mereka satu sama lain. Hanya bisa diam dan menelannya bulat-bulat.

Waktu berjalan begitu cepat. Tibalah hari kelulusan. Noel sendiri terkejut waktu berjalan secepat itu. Noel mulai gusar sebentar lagi Patrcia akan pergi ke London tak ada waktu lagi untuk menyatakan perasaanya. Niatnya ia ingin menyatakannya saat kelulusan namun Rando yang tak bisa menemaninya datang kewisuda membuatnya gugup dan tak berani datang sendirian. Sehingga saat hari kelulusan itu ia hanya mengirimkan sebuket bunga mawar yang sangat cantik ke rumah Patrcia dengan surat di dalamnya. Surat itu mengatakan bahwa ia akan menumui Patrcia besok di bandara sebelum Patricia berangkat.

Surat yang menggantung itu tetap membuat hati Patrcia senang, senyuman manis terlukis di wajahnya tak sabar menunggu pertemuannya dengan Noel. Ia berbicara dalam hatinya walaupun mungkin akan menjadi pertemuan terakhir untuk sementar tetapi biarkanlah menjadi pertemuan yang indah.

Namun malam itu Noel terpaksa menemani salah satu fansnya yang tiba-tiba datang ke rumah sampai larut malam. Sehingga Noel terpaksa mengantarkan fansnya itu kembali ke rumahnya. Noel pun baru kembali ke rumah tengah malam.

Seperti yang sudah diduga kesokan harinya Noel terlambat. Kemacetan tanpa ampun seakan memang ingin menghalangi pertemuan mereka. Patricia yang duduk terdiam menggu Noel dengan hati yang gusar akhirnya menangis karena kecewa. Patricia akhirnya pergi dengan hati setengah marah dan kecewa. Noel baru tiba di bandara 2 jam setelah pesawat Patrcia berangkat. Tiada ampun baginya atas segala kebodohan dan keterlenaan yang ia lakukan.

***

7 tahun berlalu. Mereka sudah tumbuh dan hidup di dunia mereka masing-masing. Namun yakinkah perasaan itu sudah hilang? Entah bagaimana Patrcia namun Noel masih terus berusaha mencarinya. Namun tak kunjung membuahkan hasil. Patrcia seakan tidak menginggalkan satu jejak pun bahkan keluarganya pun sudah tak ada lagi di Bandung.

Sampai suatu hari Patrcia mendapat kiriman tiket konser dari kakaknya yang menjadi pantia di konser itu. Konser itu adalah konser musisi Indonesia, mereka membuat tour dunia salah satunya ke London. Sebenarnya Patricia tidak terlalu menggemari konser ia lebih menyukai opera dan semacamnya, namun untuk mengisi waktu luang pikirnya.

Patrcia datang ke konser itu menikmati alunan musik disana. Salah satu musisi baru yang paling digilai juga hadir disana. Ia membawakan lagu tentang kebodohan dirinya melepas seseorang yang dicintai dengan tanda tanya. Mendengar lagu yang dimainkan Patricia tersentak sejenak, hilang dari keramain untuk sejenak lalu kembali lagi. Sampailah pada penghujung acara lagu terakhir dibawakan dan saat itulah di tengah kermaian terdengar suara yang memanggilnya “Tricia?”. Tak salah lagi Patrcia kenal suara itu, ia tahu satu-satunya orang yang memanggilnya begitu, Noel.

Satu-satunya respon yang bisa diberikan Patricia adalah menagis begitu dalam.

“Aku minta maaf membuatmu menunggu jika kamu memang masih mengguku. Tetapi aku selalu mencarimu. Aku memang bodoh. Melepas seseorang yang aku cintai dengan tanda tanya.”kata noel sambil memandang Patricia

 “Mengapa kamu selalu terlambat Noel? Bahkan di titik terlelah aku menunggumu bertahun-tahun aku masih bersabar. Aku masih mengharapkan keterlambatanmu di hadapanku. Namun mengapa kali ini begitu terlambat? Sampai ketika hati ini masih begitu menginginkanmu hingga detik ini tetapi mengapa kamu harus hadir ketika aku mulai belajar melupakanmu karena aku akan segera menikah dengan orang lain?”

Malam itu di tengah kermaian tetapi hati mereka begitu sunyi dan sepi. Cerita cinta yang indah diakhiri tanda tanya yang dilukis oleh kesedihan dan ketidakpastian.