Josekane

SESEORANG BOLEH MELUPAKAN KEJADIAN DAN KENANGAN BURUK DI MASA LALU TAPI TIDAK DENGAN PELAJARAN DIBALIKNYA

Pelajaran yang Dilupakan

Jose Kane

                Namaku adalah Clareta, seorang ibu yang sudah menikah dua kali. Kuakui saja kesalahanku dari pernikahan yang pertama adalah kurang bisanya diriku memilih seorang lelaki untuk mendampingi hidupku sampai tua. Tapi aku yakin, pilihan yang kedua ini tidak akan salah lagi. Pernikahan pertamaku sudah meninggalkan satu anak bernama Adi dan satu anak lagi dari pernikahanku yang kedua bernama Jeremy. Suamiku sangat sayang pada mereka sampai – sampai membelikan sebuah sepeda motor yang tidak terbilang murah pada anak pertamaku walaupun itu bukan anak kandungnya. Memang bisa dibilang anak pertamaku ini tidak ada lebihnya sama sekali, bukan maksudnya menjatuhkan dia tapi sudah kucoba dia disekolah yang berbeda tetap saja hasilnya sama. Tinggal kelas adalah hal yang biasa dalam kehidupannya disertai lagi pemanggilan orang tua yang tak ada hentinya karena perkelahian dengan teman atau pun gurunya. Tapi yaa... bagaimana pun juga dia adalah anak kandungku sendiri sehingga tetap kurawat dia walau dengan berat hati.

                Kami tinggal di rumah kontrakan yang tidak terlalu besar dan tentu saja keadaan ekonomi pun hanya secukupnya saja. Suamiku bekerja sebagai mandor bangunan yang tak menentu kerja dimana dan tak dapat ditebak waktunya. Semuanya berjalan baik – baik saja sampai anak pertamaku melanggar larangan diriku yang sudah lama dan sudah sering aku peringatkan.

“ EH! ADI! Berani ya sekarang kamu bawa pacarmu itu ke rumah! Sudah lupa kalau mama tidak suka kamu pacaran apalagi kalau sampai di bawa kemari?!” Teriakku padanya dengan kencang.

“ Udah diem dulu ma, enggak enak didenger, nanti dia illfeel sama aku lagi.” Jawabnya sambil berjalan pada suamiku yang baru saja pulang dari luar kota. “Pa, minta uang dong buat jajan, kan baru pulang kerja pasti duitya banyak kan?” Tambahnya lagi.

“ EHHH!!! Mama ngomong ini ! Wah.... udah kurang ajar kamu Adi! Papa, jangan dikasih uang anak itu. Sekolah enggak malah nyusahin aja terus! Nyiksa tau enggak ?!”

“ Mama diem aja deh enggak usah ikut campur, ini kan uang papa jadi dia yang ngatur lah bukan mama yang malah ikut – ikutan.” Kata Adi sambil menengadahkan telapak tangannya di depan muka suamiku.

“ Iya bener tuh, kamu sekolah udah pindah beberapa kali tapi masih tinggal kelas terus, sekarang malah enak – enakan pacaran.” Kata suamiku sambil mendorong tangan Adi dan pergi ke dapur.

“ Ah sia – sia punya orang tua gini mah. Sampah pisan lah ! Pelit ! Kenapa sih masih idup aja !” Teriaknya sambil menutup pintu rumah dengan sangat kencang dan pergi lagi bersama pacarnya.

Terkejut lah diriku mendengar perkataan anak kandungku pada diriku yang sudah susah melahirkan dan merawatnya hingga besar. Bahkan air mataku sudah membanjiri kedua sisi pipiku seketika mendengar perkataannya yang mengherankan mengapa diriku masih hidup. Aku pun pergi berbaring di kasur tempat tidurku, melihat pada langit – langit dengan pandangan kosong, tak jarang juga aku mengusap air mataku yang terus keluar membanjiri sebagian bantalku. Hanya satu pertanyaanyang terus berputar dalam benakku. “ Kenapa anak kandungku sendiri bisa berkata demikian pada diriku?” Tanya hati dan pikiranku tak henti – hentinya.Kemudian aku pun mencurahkan semua isi hatiku pada saudara perempuanku lewat telepon

“ Ka, kenapa saya punya anak yang kurang ajar banget ya. Memang sih dari dulu dia sudah begini tapi baru kali ini dia keterlaluan. Hanya karena tidak diberikan uang untuk pergi bersama pacarnya, dia berani mempertanyakan mengapa saya masih hidup padahal kan saya itu ibuuuunnyaa sendirii.... Dosa apa saya selama ini sampai diberikan anak durhaka ini. Harus apa lagi saya ...” Aku bercerita sambil terus menangis.

“ Clareta, seperti yang kaka pernah bilang, dari awal kami keluarga tidak pernah setuju kalau kamu menikah lagi. Mengapa demikian? Karena kami merasa kamu belum bisa menentukan laki – laki yang tepat untuk dirimu sendiri. Tapi tetap saja kamu bersikeras untuk menikah lagi dengan laki – laki yang sama buruknya. Sebenarnya yang patut disalahkan atas kelakuan anakmu itu adalah dirimu sendiri terutama kedua suamimu yang tidak berbeda jauh. Mungkin yang kedua ini menunjuka kasih kasih sayang dengan membelikan anakmu sepeda motor. Tapi apakah itu perlu? Tidak! Sama sekali tidak. Dia bukan sayang tapi dia tidak peduli dengan anak kandungmu. Wajar saja seseorang lebih baik mengorbankan uang daripada harus lelah dan stres menasihati seseorang yang sudah pasti tidak mendengarkan. Sadarkah kamu itulah kesalahanmu dari yang lalu juga? “ Balas saudaraku dengan sedikit nada naik.

“ Kok kaka jadi ikut nyerang saya sih?! Di sini kan yang sedang menderita saya ? Bukannya malah menolong tapi malah ikut – ikutan dengan anak enggak tau diri itu. Pake bawa – bawa suami saya lagi. Udahlah enggak ada gunanya ! “ Teriaku sambil menutup telepon dan melemparnya pada tembok.

Karena kesal yang tak tertahankan lagi aku pun menendang tumpukan kertas dan buku yang sudah lama diam di pojok kamarku. Lemas rasanya tubuh ini setelahnya, tak kuat lagi kaki menahan tubuh, aku terduduk bagai anak kecil dan menangis sekencang – kencangnya. Sempat terlintas dalam benakku ,” Apa aku mati saja? Anakku sudah tidak membutuhkanku, bahkan keluargaku sendiri mungkin membenci diriku karena mengabaikan peringatan yang mereka berikan padaku. Ya... mungkin inilah jalan terakhir yang aku punya.”

                Masih terduduk di lantai dengan pandangan yang buram karena mata yang sudah ku usap tak terhitung lagi jumlahnya ditambah air mata yang tak kunjung berhenti mengalir aku melihat foto mantan suamiku. Dengan perlahan aku mengambilnya dan membalik ke halaman belakang yang berisikan tulisan tanganku sendiri.

“ Clareta, ingatlah suamimu berikutnya haruslah sayang dan peduli pada dirimu terutama anakmu. Bukan sekedar memberikan barang tapi juga ikut menuntun kemana arah anakmu berjalan. Memang pada pernikahan pertama ini kamu telah gagal, Clareta! Tapi kesempatan ,asih terbuka lebar didepan matamu! Masa – masa kelam sudah berhasil kau lewati. Surat cerai sudah ditandatangani suamimu dan kamu siap untuk menempuh jalan hidup yang lain. Semangat dan jangan putrus asa, Clareta!” Begitulah tulisan yang tertera dibelakang foto yang sudah sedikit sobek.

Setelah membaca itu, air mataku perlahan berhenti mengalir lagi. Aku menyadari bahwa selama ini aku dan suamiku yang salah mendidik anakku sendiri. Mungkin bisa kami bertahan dengan cara kami yang seperti ini tapi anak kedua kami tidak akan jauh berbeda dengan kesalahan saya pada anak pertama. Dari situ saya menyadari bahwa SESEORANG BOLEH MELUPAKAN KEJADIAN DAN KENANGAN BURUK DI MASA LALU TAPI TIDAK DENGAN PELAJARAN DIBALIKNYA. Keluarlah aku dari kamarku dan bermusyawarah dengan suamiku tentang bagaimana cara mendidik anak – anak kami di hari mendatang dengan argumen dari diriku yang sangat bahwa dia harus sayang dan peduli pada anakku , bukan sekedar memeberi apa yang dia inginkan tapi juga menuntunnya ke jalan yang benar. Dari kejadian ini aku sadar bahwa seburuk apapun masa lalu yang pernah engkau alami, pasti ada pelajaran dibaliknya yang tidak boleh engkau lupakan.