noideaforsure

Even your worst day has only 24 hours

Even your worst day has only 24 hours

Kalau boleh jujur, bukan sekali-dua kali saya dengar quote macam begini. Jangan biarkan seharian yang buruk membuatmu menganggap hidupmu tidak bahagia--Lumayan sekelas, bukan? Sebuah penyadaran yang sederhana, dan kalau diungkap dengan kata-kata, kadang menyudutkan kita pada pemahaman tentang rasa syukur. Is it really a bad day or is it a bad 5 minutes that you mumbled about all day? Sebuah tamparan lagi, ketika jari men-scroll Instagram, dengan sebuah quote page terpampang di explore. Membuat saya mau tidak mau meninggalkan sebuah merah hati dengan dua tap. Tap tap!

Lantas, dari sekian banyak quote hebat senada, apa yang membuat saya mengambil quote yang tercantum diatas? Hmm, mari putar waktu, biar saya ingat-ingat dulu.

Sebenarnya, hal sederhana saja. Quote satu itu juga saya temukan menyempil diantara postingan lama di kronologi orang, dan lantas terlempar lah saya dalam mesin waktu yang membawa saya pada Jl. Kenari, suatu waktu di masa saya masih pelajar dulu.                     

Segala tentang rasa syukur dan bentuknya.

Marilah, Kawan, kuceritakan kronologisnya: Sebab bukan facebook saja yang bisa bermain kronologi.

Kalau tak salah, saat itu matahari sedang terik-teriknya. Panas membakar dan kepala saya terasa dipanggang entah arang macam apa itu. Satu detik yang lalu, saya masih di sekolah, sudah babak-belur oleh pelajaran, dan berharap akan cepat sampai rumah dengan tenang--ternyata tidak ada yang bisa menjemput, kata orang rumah saya. Tentu tak pernah terpikir di benak saya bahwa hari yang saya harap akan berakhir bahagia itu dapat jungkir-balik menjadi sial. Tapi, wah, namanya juga hidup.

Jadi, hari itu saya kebobolan harus berjalan kaki sampai rumah. Harus melewati beberapa perumahan lagi! Duh! Sudah panas begini, tambah gosong pula kulit. Tapi, mau tak mau saya harus menerjang panas, sebab bagaimanapun juga, saya ingin sampai di rumah.

Saat itulah rasa emosi mulai membakar. Entahlah, tapi namanya juga baru pulang sekolah.

Di tengah jalan, tepat sebelum ada tanjakan, saya melihat seorang ibu berbaju lusuh dengan anak kecil yang juga berbaju agak lusuh, tapi kesannya agak dilusuh-lusuhkan saja. Namun, keduanya tidak mendapat perhatian lebih dari saya, sebab bagaimanapun tampilan seperti itu wajar ada di perumahan macam ini. Keduanya tak lebih dari sekedar ibu dan anak yang sedang jalan-jalan siang dan lebih suka pakai daster blesekan tapi enak dipakai... sampai saya agak dekat dengan mereka untuk sekedar mendengar percakapan itu.

“Nanti, kamu tengadahin tangan kamu...”

“Terus?” Si Anak berpikir keras, tidak mengerti sedari tadi ibu itu bicara apa.

“Terus, nanti kamu tutup mata, biar Ibu yang nuntun”

“Maksudnya, Bu?”

“Yaudah, pokoknya kamu nggak usah ngapa-ngapain, cukup bilang, ‘Pak... minta Pak’ gitu aja, ya?”

Deg!

Rasanya itu, kalau mau tahu, seperti matahari panas mendekat sejengkal dengan ubun-ubun sehingga emosi makin meningkat. Sejenak saja hanya dapat berjalan membisu sambil menatap aspal, masih belum percaya apa yang baru saya dengar. Maksudnya, serius?

Di jaman modern ini?

Masih ada orang seperti itu?

Dan, Kawan, aku tidak mau beberkan padamu apa nama perumahan itu. Tapi, kalau kalian pernah mengunjungi, kujamin, itu bukan perumahannya orang miskin.

Itu bukan perumahan dimana rumah susun yang biasa dibangun oleh pemerintah ada.

Perumahan itu, lumayan necis, meski tidak mewah-mewah amat, namun masih ada beberapa rumah mewah di dalamnya.

Jadilah sepanjang jalan itu diriku menggerutu sendiri.

Menyalahkan ibu-ibu itu, menyalahkan pengemis gadungan, menyalahkan negara, sampai menyalahkan perumahan yang saya injak tadi. Nyambung gak, sih?

Beberapa ratus meter kemudian masuk lah saya ke perumahan baru. Itulah perumahan saya.

Dan, masih terdengar ocehan saya di kepala, tentang betapa negri ini butuh penyadaran moral, betapa hari ini makin tambah buruk mengetahui rusaknya mental orang yang tinggalnya masih berdekatan tentang rumah saya itu, betapa--

Eit, seorang kakek melintas di hadapan saya.

Di pundaknya terdapat kayu, yang kedua ujungnya masing-masing mengikat keranjang bambu. Begitu berat, begitu melengkung. Ingin rasanya saya ringankan beban itu, sebab ketika saya tengok ke dalam keranjangnya, masih banyak jualan tersisa disana.

Jualannya pun klasik sekali: pisang.

Banyak jumlahnya.

Jarang yang beli, entah kenapa.

Kalau tidak salah, ini bukan kali pertama saya berjumpa dengan kakek tersebut.

Maka, saya ingat-ingat lagi. Suasana di halaman depan rumah. Suara pekikan adik-adik dan tetangga. Jejaknya yang rapuh menjajakan jualan. Ia selalu tampak keletihan hingga jalannya tidak seimbang. Kakek itu, yang berpeci hitam dengan batik tak pernah diganti. Yang matanya sudah terlalu buram dan keriputnya pun menyembunyikan rahasia umurnya.

Ha, entah sudah berapa tahun kakek itu berusaha menyalurkan tenaganya untuk uang yang halal.

Kembali, saya teringat lagi pada letihnya sekolah, panasnya hari ini, dan ibu-ibu dengan ajarannya yang tidak bermutu pada sang anak tadi. Tiba-tiba saya merasa telah berdusta, mengkhianati diri sendiri, betapa saya tidak mensyukuri nikmat bahwa hari ini saya masih bisa hidup dan bahagia. Saya menatap kakek tua di hadapan saya tersebut. Tak terasa, sambil berpikir tentang betapa bedanya mental sang ibu tadi dengan kakek ini, saya merogoh uang saya.

Uang jajan pelajar, pasti tahulah. Jumlahnya kecil.

Saya mengulurkan benda itu kepada kakek.

Hingga hari ini, tak akan saya lupakan binar matanya, kerling senyumnya. Betapa bahagianya ia, Kawan, aku pun tak dapat ungkapkan dengan kata. Ia tampak bahagia sekali!

Senyumnya, yang kemudian diikuti dengan ucapan terimakasih dan rasa syukur yang tinggi. Tak habis-habis. Padahal hanya uang segitu, ya ampun, itu jumlah yang sangat kecil. Namun, saya melirik keranjangnya kembali dan berpikir, berapa sih keuntungan yang bisa ia dapat dari jualan seperti itu? Cukup kah untuk makannya sehari?

Jadi, jelaslah darimana sikap syukur itu ia dapatkan.

Sampai akhirnya saya harus berjalan di depannya supaya ia tak melihat mata saya yang berkaca-kaca. Ya Allah, what a lesson! Hari saya yang buruk kemudian diputar menjadi sesuatu yang baru. Terkadang kita hanya lupa bersyukur, bukannya hidup kita memang sial. Saya jadi teringat quote lain yang mengajarkan untuk melihat kebawah, jangan sering melihat ke atas. Jadilah orang yang bersyukur. Jadilah orang yang bersyukur.

Syukurilah hari ini, Kawan, jangan sampai beberapa menit gerutuan dibawah terik matahari membuat persepsimu tentang segala hal jadi buruk. Jangan seperti diriku.

Tadinya, sudah terbayang diriku akan sampai rumah sambil ngomel-ngomel, tentang kenapa tidak dijemput di sekolah, kenapa saya harus jalan kaki! Namun, hari itu saya tutup dengan senyuman simpul dan tatapan yang tergugu akan jalannya hidup ini.

Kisah lama itulah yang terlintas di pikiran saya ketika melihat quote diatas tadi, Even your worst day has only 24 hours. Bahkan hari terburukmu itu cuman terdiri dari 24 jam! 24 jam saja! Jadi, go on. Move on. Bersyukurlah, karna tiap dari kita memiliki berjam-jam lain dimana kita bisa bahagia dan tersenyum. Be thankful, karna kebanyakan dari kita punya lebih banyak jam untuk tertawa dibanding orang lain.

 

 

febyolanda13

Suka ceritanya. :D Aku termasuk orang yang mudah mengeluh dan sekarang sedang berusaha untuk lebih bersyukur. Senang sekali ketemu cerita ini!