“Hujan selalu memberimu tiga kesempatan. Melihat genangan, mengingat kenangan, kemudian merasakan kenyamanan.â€
Hujan dan Kenangan
Hujan lebat diluar sana masih menderas sejak aku mendaratkan pantat dengan nyaman di sofa empuk ini. Lengkap dengan guntur dan petir yang bersahutan. Cappuccino di hadapanku masih menguarkan aroma pahit manis dan kehangatannya yang khas. Tanganku bergerak menyentuh cangkir tersebut, menyalurkan kehangatan yang merambat perlahan melalui jari-jari tanganku. Tanpa sadar, senyumku kembali terbit. Cappuccino dan hujan selalu menjadi dua komposisi tepat untuk kembali menjadikan hariku sempurna. Tak peduli cobaan dan masa lalu pahit di setiap detik waktunya.
Seorang ibu yang kudengar sedang menenangkan balita yang rewel, mengajakku berbicara sambil menepuk bahuku.
“Mbak, kok sendirian?”
“Iya bu, nggak ada yang bisa diajak.” Ujarku sesopan mungkin, sambil tetap tersenyum. Entah apa yang sedang ada dalam pikiran ibu itu, dan aku sedang tak ingin ambil pusing tentang apapun.
“Kalau begitu, boleh saya bergabung di sini mbak? Cucu saya rewel minta diajak duduk. Tapi, sepertinya semua kursi sudah penuh. Maklum, di luar kan sedang hujan. Orang-orang jadi malas beranjak dari tempatnya, Mbak.” Suaranya sarat akan permohonan, dengan balita di gendongannya yang masih terus menangis.
Aku menggeser dudukku dan mempersilahkan ibu itu untuk duduk. Ibu itu menggumamkan terima kasih yang kubalas dengan senyuman sopan. Sepuluh menit berlalu tanpa ada percakapan yang berarti, hanya sesekali terdengar suara ocehan balita menggemaskan di sampingku.
Aku mengubah posisi dudukku untuk sepenuhnya menghadap pada ibu itu dan cucunya. Aku mengulurkan tangan sambil menyebut nama. Tak sopan rasanya bila tak saling berkenalan, meskipun hanya untuk sekedar basa-basi.
“Saya Nina. Nama Ibu siapa?”
“Nama saya Lilis, Mbak. Orang-orang sih biasa panggilnya Bu Lis atau Eyang Lilis, sejak saya punya cucu.” Ucapnya memperkenalkan diri sambil menjabat tanganku. Dapat kurasakan kulit tangannya yang sudah termakan usia, berbeda dengan suaranya yang lembut dan penuh keibuan, yang kukira hanya terpaut beberapa tahun diatasku.
“Kalau si kecil ini?” Tanganku terulur hendak menyentuh balita dalam pangkuan Bu Lilis. Belum sempat tanganku sampai pada objek tujuan, aku merasakan sebuah telapak tangan mungil menggenggam jari telunjukku dengan kuat sambil tertawa riang. Ada perasaan asing yang hangat menyusup ke dalam benakku.
“Ini Chika, Tante. Chika mau digendong Tante Nina ya?” Tanya Bu Lilis yang hanya dijawab dengan ocehan tak jelas dari Chika, masih dengan tangannya yang mungil terus menggenggam jari telunjukku dengan erat.
“Boleh saya gendong Chika, Bu?” Tanyaku hati-hati, yang disambut dengan ramah oleh Bu Lilis. Kini, Chika sudah berpindah dipangkuanku. Jemari-jemari mungilnya tak lagi menggenggam jariku dengan erat, tapi dapat kurasakan kini ia menggapai-gapai menarik kerudungku. Aku menggenggam telapak tangannya dengan lembut dan mengarahkannya ke bibirku, mengecupnya pelan. Membuatnya tergelak dengan lucu di pangkuanku dan semakin mendorongku untuk tak lagi menahan diri untuk tak menghujaninya dengan ciuman.
Perasaan hangat itu kian kuat. Bercampur dengan rasa nyaman yang tak ingin kuakhiri, hingga tiba-tiba Chika menangis dengan kencang. Aku tak tahu apa yang salah. Aku masih berusaha menenangkannya dengan menggoyang-goyangkan kaki dan menepuk-nepuk pahanya dengan lembut hingga kudengar suara Bu Lilis menginterupsi kegiatanku.
“Mungkin Chika sudah ngantuk, Mbak Nina. Sini, biar Ibu yang gendong.” Ada perasaan tak rela ketika Chika sudah berpindah dari pangkuanku. Seketika moodku berubah mendung, entah kenapa aku mendadak melankolis begini. Kudengar hujan di luar sana pun masih enggan untuk berhenti. Jika mengingat waktu kedatanganku tadi, sekarang mungkin sudah pukul 3 sore.
Aku menghela napas dengan pelan. Suara tangis Chika sudah tak lagi terdengar, hanya sesekali kudengar senandung lirih dari bibir Bu Lilis. Aku mendengar dengan seksama. Menenangkan. Pantas Chika langsung tenang.
Tanganku terulur ke meja di hadapanku, meraih cangkir cappuccino yang tak lagi hangat. Aku menyesapnya perlahan, menikmati varian kopi favoritku mengalir membasahi kerongkongan. Meninggalkan jejak rasa pahit dan manis yang menyatu pada indera pengecapku. Aku menoleh ketika bahuku ditepuk perlahan.
“Mumpung Chika sudah tertidur, Ibu bisa jadi teman curhat kok, Mbak.” Suara Bu Lilis begitu lembut, begitu keibuan dan sarat akan ketulusan. Aku meletakkan kembali cangkir cappuccino yang telah kosong ke atas meja, lantas mengubah posisi dudukku menjadi lebih nyaman.
“Saya hanya ingin hidup seperti wanita-wanita lain, Bu. Hidup bahagia bersama suami dan anak-anak sampai akhir hayat. Tapi sepertinya keinginan saya yang sesederhana itupun masih terasa kurang pantas untuk saya terima. Suami saya baru saja meninggal, dua bulan lalu. Tidak ada yang tersisa untuk saya selain janin dalam rahim saya yang saat itu tak saya sadari kehadirannya dan tak lagi bisa mengenal ayahnya.” Aku berusaha sekuat tenaga untuk mencegah butiran bening mengalir membasahi pipiku. Aku menggigit pipi bagian dalam kuat-kuat, menyisakan rasa amis khas darah yang tak kupedulikan.
Kurasakan Bu Lilis menegang dan terkesiap di sampingku. Tangannya yang bebas meraih pundakku dan mengusapnya perlahan untuk menenangkanku yang mulai terisak tanpa suara. Beberapa jeda berlalu begitu saja, tak ada yang membuka suara selain hanya suara helaan napasku yang terasa semakin berat. Entah sejak kapan, namun aku juga merasakan Bu Lilis ikut menangis tanpa suara di sampingku. Hujan di luar sana sudah tak lagi terdengar rinainya, mungkin hanya tersisa gerimis kecil dan beberapa genangan yang tak kusuka.
Aku menegakkan tubuh dan mulai menyusut air mata yang sudah menganak sungai. Hingga kudengar Bu Lilis membuka suara. Bercerita.
“Kedua orang tua Chika juga sudah meninggal, Mbak. Baru dua minggu yang lalu.” Ucap Bu Lilis pelan, dengan suara tercekat. “Anak dan menantu saya meninggal dalam kecelakaan pesawat, meninggalkan seorang bayi mungil yang sekarang ada dalam dekapan saya. Tidak ada yang salah dengan takdir Tuhan, hanya saja rencanyaNya terkadang memang tak bisa kita terima dengan gamblang. Saya pun demikian. Berhari-hari saya tersedu-sedu mempertanyakan takdir Tuhan. Tapi disaat itu saya juga sadar, Tuhan tidak serta-merta mengambil anak kesayangan saya. Tuhan menggantinya dalam bentuk bayi mungil yang anak saya tinggalkan. Paling tidak dengan mengurus Chika, rindu kepada anak saya satu-satunya dapat terobati. Paling tidak Tuhan masih berbaik hati dengan memberikan saya teman di sisa-sisa umur saya.”
Aku tercekat, entah sejak kapan air mataku kembali menderas. Aku berusaha menutup mulut dengan tangan, menahan isakan yang hampir lolos. Membayangkan bayi sekecil Chika sudah tak lagi dapat melihat kedua orang tuanya, tanpa sadar membandingkannya dengan kondisi janinku. Setidaknya bayiku nantinya masih memilikiku, setidaknya dia masih bisa melihatku, setidaknya jika aku masih diberi kesempatan oleh Tuhan, bayiku masih bisa memanggilku Ibu. Sementara Chika, ia tak diberi kesempatan bahkan untuk sekedar menyebut Ayah dan Ibu pada orang tuanya.
Bu Lilis kembali menepuk bahuku pelan. Membuatku menghentikan isakan dan menghapus air mata. Aku menoleh.
“Saya pamit dulu ya, Mbak Nina. Hujannya sudah berhenti. Tadi Ibu memang hanya ingin berteduh sebentar. Jangan putus asa, Mbak Nina masih punya Tuhan yang selalu punya rencana indah dibalik kesedihan yang diberikan pada kita.”
Bu Lilis berdiri dan bersiap untuk pergi. Aku berdiri, meraih tangan Bu Lilis dan menciumnya. Tangan seseorang yang telah menyadarkanku untuk tetap menjalani kehidupan dengan baik, seseorang yang mungkin sengaja Tuhan kirimkan untuk menyadarkanku betapa masih beruntungnya aku ditengah ketidakberuntungan yang terus menerus kuagungkan. Bu Lilis terkesiap kaget dengan tindakanku.
“Terima kasih ya, Bu. Semoga Ibu dan Chika selalu dalam lindungan Allah. Terima kasih sudah mau berbagi cerita dengan saya.”
Bu Lilis mengusap kepalaku dengan pelan kemudian menepuk bahuku lembut, sebelum akhirnya berpamitan untuk benar-benar pergi dari hadapanku. Aku kembali duduk di sofa, tanganku bergerak-gerak mencari tongkat lipat yang tadi kuletakkan di sampingku. Nah, ketemu. Aku merentangkan tongkat dan berjalan keluar dari café ini, menghirup aroma segar khas hujan. Tangan kiriku mengayun-ayunkan tongkat dengan lincah sementara tangan kananku terulur membelai perut.
Setidaknya kamu masih punya Ibu. Setidaknya nanti kamu masih bisa melihat Ibu, meskipun Ibu yang nggak bisa lihat kamu. Setidaknya kamu akan tahu betapa Ibu sangat menyayangi kamu tanpa batas, meski dengan keterbatasan yang Ibu miliki.