Bagiku, pengalaman paling berharga adalah ketika aku memutuskan untuk bangkit dari kegagalan.
Namaku Julia.
Aku adalah seorang desainer. Pekerjaanku sudah pasti menggambar. Namun bila ku ingat kembali, dulu gambarku sangat buruk. Ibuku selalu bercerita bahwa ia adalah orang pertama yang memperkenalkanku pada menggambar.
Dia selalu berkata, “kau tahu, Julia? Aku adalah orang pertama yang mengajarimu menggambar.”
Ia juga selalu bercerita, “dulu, setiap kali aku menggambar, kau selalu mengikutiku. Ketika aku menggambar gunung, kamu menggambarnya juga. Ketika aku menggambar binatang, kamu mengikutinya juga. Kamu selalu meniru apa yang kugambar.”
Aku selalu tersenyum ketika mendengar Ibu bercerita tentang masa laluku. Banyak hal yang bisa ku pelajari dari masa laluku.
Ibuku juga berkata, “setelah kamu meniru gambar Ibu, kamu mulai belajar menggambar sendiri. Dari situ Ibu tahu kalau otakmu mudah menyerap pelajaran. Jadi Ibu tidak perlu mengajarkanmu banyak-banyak, karena Ibu tahu kamu akan belajar dengan sendirinya.”
Ya, itu merupakan satu hal yang kupelajari dari masa laluku. Aku selalu senang menggambar. Terutama menggambar manusia. Walaupun ketika aku menggambar, gambarku selalu jelek. Terkadang, kakinya terlalu panjang, atau mungkin tangannya yang terlalu panjang. Namun aku tetap menyimpan sebagian dari gambar tersebut untuk kenang-kenangan. Atau Ibuku biasa menyebutnya ‘Jurnal Perjalanan Gambar Julia’.
Dan disaat aku duduk di bangku Sekolah Dasar. Aku bertemu dengan seseorang bernama Linda. Linda pintar menggambar. Ralat, sangat pintar menggambar. Semua orang terkagum ketika melihat gambar Linda. Ia sangat berbakat dalam menggambar gambar kartun jepang atau biasa disebut manga.
“Gambar begitu saja tidak bisa. Itu kan mudah.” Kata-kata itu selalu diucapkan Linda ketika aku memintanya untuk mengajariku menggambar manga. Aku juga menceritakan semua tentang Linda kepada Ibuku.
“Julia, Ibu harap kamu tidak menjadi seperti Linda. Ibu yakin kamu bisa melebihi Linda, tapi jangan karena hal tersebut kamu menjadi sombong seperti Linda.” Itu salah satu perkataan Ibuku saat aku bercerita tentang Linda. Aku selalu menurutinya. Aku selalu mencoba untuk tidak sombong dan rendah hati. Tapi tanpa kusadari aku malah menjadi rendah diri.
Teman-temanku selalu meledek gambarku. Mereka bilang gambarku tidak ada apa-apanya dibanding gambar Linda. Guruku pun juga sama. Setiap ada lomba gambar, guruku selalu memilih Linda. Ketika aku meminta diriku untuk ikut, mereka selalu menolak. Aku frustrasi dan memutuskan untuk berhenti menggambar.
Hobiku yang awalnya menggambar beralih menjadi melipat kertas origami. Ayahku adalah orang pertama yang mengajariku cara melipat kertas origami menjadi bentuk-bentuk indah seperti burung atau bunga. Aku juga sering menunjukkan kehebatanku pada teman-temanku. Mereka semua terkagum, termasuk Linda. Aku merasa sangat senang. Namun ternyata, ada beberapa temanku yang iri kepadaku.
Saat aku menghias kelasku menggunakan kertas-kertas origami yang sudah kulipat, Aranda, salah satu temanku yang iri denganku melepasnya dan membuangnya. Kertas origami yang kulipat menjadi bentuk bola diberikannya kepada anak laki-laki, lalu ia menyuruh anak laki-laki bermain sepak bola menggunakan bola kertas yang kubuat. Dan Aranda melakukannya saat aku sedang tidak masuk sekolah.
Lalu ia juga pernah mengambil salah satu origami yang sudah kulipat dan menempelkannya di bajuku lalu menertawakanku. Ketika aku mengadukan semuanya kepada guruku, Aranda selalu mengatakan kebohongan di depan guruku, sehingga guruku percaya dengan Aranda dan memarahiku. Aku kesal. Aku frustrasi dan memutuskan untuk berhenti untuk kedua kalinya.
Aku tidak punya hobi apapun setelah itu. Tak ada lagi Julia yang suka menggambar. Tak ada lagi Julia yang suka melipat kertas origami. Setiap hari hanya kuhabiskan dengan bermain komputer dan menonton televisi. Tidak ada yang menarik.
Hingga akhirnya aku lulus dari Sekolah Dasar. Selama liburan kegiatanku tetap sama. Bermain komputer dan menonton televisi. Hingga suatu hari aku menemukan sebuah band. Aku menjadi salah satu penggemar dari band tersebut. Lalu aku menemukan fakta bahwa vokalis dari band tersebut suka menggambar. Dia menginspirasiku.
Aku bangkit kembali. Aku berniat untuk menjadi seperti dia. Ahli dalam bidang musik dan menggambar. Aku mulai mempelajari cara bermain gitar. Aku mulai mencoba lagi melipat kertas origami yang sempat kulupakan. Dan yang terpenting, aku mulai menggambar lagi. Aku terus berlatih.
Dan aku menyadari satu hal. Mungkin aku tidak pandai menggambar manga seperti Linda. Tapi aku bisa membuat tulisan indah atau kaligrafi. Aku sadar bahwa pandai menggambar tidak bisa dilihat dari satu sisi.
Lalu aku mulai memasuki Sekolah Menengah Pertama. Suasananya berbeda. Semua orang selalu memuji gambarku. Tapi nasihat Ibuku selalu kudengar.
“Julia, jangan pernah sombong karena bakat yang kamu punya.”
Itulah nasihat Ibuku. Dan aku tidak pernah sombong seperti Linda.
Ketika orang-orang selalu bilang, “gambarmu bagus sekali.”
Dan aku selalu menjawab, “ah, tidak, ini masih jelek.”
Kau tahu mengapa aku menjawab tersebut? Karena aku tahu diluar sana masih ada orang yang bisa menggambar lebih baik dariku. Dan gambar mereka sangat jauh lebih baik dibanding gambarku. Guruku juga bilang, “kamu akan menjadi sombong jika kamu merasa bahwa kamu sudah cukup pintar. Karena jika kamu merasa cukup pintar kamu cenderung tidak ingin belajar lagi.”
Dan saat aku duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama, aku sudah tahu akan jurusan kuliah yang akan ku ambil. Itu adalah Desain Komunikasi Visual. Ibuku orang pertama yang memperkenalkanku pada jurusan tersebut. Karena itu, aku semakin giat berlatih. Aku juga sering menempel hasil gambarku di majalah dinding di sekolah. Tak jarang guru yang memuji gambarku. Tapi tetap saja, aku selalu menuruti perintah Ibuku untuk tidak sombong.
Aku lulus Sekolah Menengah Pertama. Di Sekolah Menengah Atas, aku mengambil jurusan IPS, karena aku tahu bahwa aku sangat lemah dalam bidang IPA. Sebenarnya aku juga lemah dalam bidang IPS, tapi aku mengambil IPS karena menurutku itu lebih mudah daripada IPA. Nilaiku selama Sekolah Menengah Atas sangat rendah. Tak jarang Ayahku memarahiku.
“Lebih baik kau perbaiki nilaimu daripada kau menggambar terus-menerus.”
Seperti itulah perkataan Ayahku saat memarahiku. Aku kesal. Aku frustrasi. Aku merasa bahwa Ayahku lebih senang aku yang pintar dalam pelajaran daripada aku yang pintar dalam menggambar. Dan aku sempat berpikir untuk berhenti menggambar untung kedua kalinya. Untungnya aku bertemu Matthew, seorang laki-laki yang sangat kucintai. Dia selalu mengingatkanku akan saat-saat dimana aku berhenti menggambar lalu aku memulai menggambar lagi.
Dia bilang, “Julia, aku tidak ingin kejadian itu terulang lagi. Aku tidak ingin kamu berhenti menggambar. Aku ingin melihatmu berkarya. Karena satu sekolah ini selalu mengenalmu dengan Julia yang pintar menggambar, bukan Julia yang mudah menyerah. Kau sudah bangkit dari kegagalanmu dulu, jangan jatuh lagi ke dalam kegagalan. Berusahalah sebaik mungkin menghindari kegagalan tersebut. Aku akan selalu bersamamu.”
Dan aku menurutinya. Aku tidak menyerah. Hingga akhirnya aku lulus dan aku memutuskan untuk kuliah di Institut Kesenian Jakarta. Dan seperti rencanaku, aku mengambil jurusan Desain Komunikasi Visual. Karena biaya yang cukup mahal, aku harus bekerja untuk memenuhi uang kuliahku. Aku sering menjual gambar-gambarku. Aku juga menjadi penyanyi di sebuah kafe.
Hubunganku dengan Matthew juga sempat terputus. Hingga akhirnya kita memutuskan untuk memulainya kembali dengan baik. Ia juga selalu berusaha membantuku agar aku dapat menyeselesaikan kuliahku dengan segera. Aku sering gagal sehingga dosen beberapa kali memarahiku. Tapi hatiku selalu mengatakan kepadaku untuk tidak menyerah.
Hingga akhirnya aku lulus kuliah. Aku melamar menjadi desainer. Dan beberapa perusahaan menolak diriku karena mereka menemukan yang lebih bak dariku. Aku sempat frustrasi. Selama dua minggu aku hanya berdiam diri di kamar. Hingga suatu hari aku mendapatkan sebuah pesan dari sebuah perusahaan. Mereka bilang mereka mencari seorang desainer. Awalnya aku ragu. Namun Matthew membuatku yakin bahwa aku bisa. Aku akhirnya mendatangi perusahaan tersebut.
Hal yang tak kusangka adalah mereka menerimaku. Mereka juga mempromosikan hasil karyaku.
Dan beginilah kehidupanku sekarang. Masih banyak cobaan, tapi aku tetap bahagia. Aku sudah dikenal oleh banyak orang karena hasil karyaku. Aku juga sudah menikah dengan Matthew dan mempunyai anak bernama Mathlia, gabungan dari namaku dengan Matthew.
Aku sangat berterima kasih pada orangtuaku. Juga pada Matthew yang ikut menyemangatiku di dalam perjalanan karirku. Dan yang terlebih lagi, aku sangat berterima kasih pada Tuhan yang selalu ada untukku. Karenanya aku dapat belajar untuk bangkit dari kegagalan.