Penderitaan dan kebahagiaan berada dalam satu paket yang sudah tuhan siapkan, kita hanya menunggu kapan kirimannya datang, sejauh itu paket tuhan tidak akan pernah salah. Berbahagialah kamu, yang memiliki keluarga utuh. karena ketika sebuah kaca sudah pecah, susah untuk bisa utuh kembali.
PAKET TUHAN
Inilah hariku yang baru,dengan sepi yang tak juga menghindar,dan bahagia yang tak kunjung datang. Inilah hariku, sekarang aku sudah mulai terbiasa setelah sebelumnya aku amat tersiksa. Inilah aku dengan dunia baruku,dunia yang aku anggap asing sebelumnya,dan kini aku mengenalinya. Dunia baru, yang tidak pernah lebih baik dari sebelumnya. Ini karena sebuah keputusan besar harus terjadi. sebuah keputusan yang tidak akan ada seorang anak pun menerimanya namun mereka tidak bisa berbuat banyak,hanya diam,diam,dan diam.
Hari itu orang tuaku memutuskan untuk berpisah setelah pertengkaran hebat yang mereka Lakukan. Setelah semua kata-kata yang tak seharusnya mereka ucapkan tetapi tetap mereka keluarkan. Aku begitu ketakutan dan memilih untuk bersembunyi, menutup telingaku namun itu tidak berhasil, aku tetap bisa mendengarnya karena mereka berteriak. Dan hari berikutnya mereka resmi berpisah secara agama dan negara. Selanjutnya aku pergi meninggalkan bangunan itu, bangunan yang tidak cukup besar namun cukup untuk menampung kami bertiga,Bangunan yang penuh akan misteri,semua kenangan ada di sini. Tapi, Kenangan itu tidak akan berguna, hanya saja akan menambah sesak didada.
aku dan ibuku tinggal dirumah nenek untuk hidup selanjutnya. Aku cukup bisa menerima ini,karena memang aku dekat dengan nenek. Tapi, Aku benar-benar menyesali kejadian ini, kenapa ini semua terjadi? Aku tidak menyalahkan ibuku karena dialah korban yang sebenarnya. Ayahku melakukan KDRT,bahkan aku seringkali mendapatkan pukaulan darinya, tapi aku tetap menyayanginya seperti aku menyayangi ibuku.
Dipagi yang cerah ini aku mulai melangkah keluar rumah dengan menenteng sepatuku, aku memakainya dan bersiap berangkat kesekolah. Karena beberapa jalan tidak dilalui oleh angkutan umum,aku diantar oleh ibuku sampai ke jalan besar. Namaku arienta,mereka memanggilku rinta,aku salah satu dari 500 lebih murid kelas delapan di sekolah yang paling bagus di daerahku ini.
Ternyata kejadian itu benar-benar membuat semuanya pergi. Hari ini entah kenapa sahabatku menjauhiku,walaupun aku tidak yakin itu berhubungan dengan kejadian kemarin, tapi aku yakin ini masih satu paket tuhan yang ia kirimkan kepadaku. Satu paket yang hanya berisi sebuah penderitan, entah kenapa ia mengirimkannya, apa aku melakukan dosa besar, apa dia membenciku hingga dia melakukan ini.
Aku berada pada sudut ruang kecil yang ada dihatiku, aku berada diujung pikiranku. Lagi-lagi Aku tidak bisa berbuat apapun untuk perubahan sikapnya, aku tidak berani mendekatinya, biasanya ketika kesal padaku dia tidak seperti ini, tapi sekarang menatap wajahku saja tidak, tampaknya wajah ini begitu menjijikan baginya. Akupun mendekati Hany dan teman-temannya, walau sebelumnya aku membenci mereka, tapi itu lah satu-satunya tempat dimana aku bisa mendapatkan seorang teman, karena hanya mereka yang open terhadap semua orang. Bagaimanapun kamu, sehebat apapun kamu manamungkin kamu bisa hidup sendiri tanpa seorang teman, walau mereka tidak membantu banyak tapi mereka bisa membuatmu lupa akan masalahmu untuk sesaat.
Belakangan ini aku baru saja kehilangan julukan yang sudah melekat dalam diriku, pasalnya gadis kutu buku yang selalu datang keperpustakaan kini bahkan sama sekali tidak pernah menyentuh buku-buku itu. Bahkan rok panjangku yang menutupi lutut kini aku potong dan aku menurunkan 1 nomor kemejaku. Aku terbawa oleh mereka(hany dkk) untuk meniru apa yang mereka pakai. Bagaimanapun juga lingkunganmu adalah kamu, lingkungan ku seperti itu, maka aku pun seperti itu. Aku mulai melupakan masalahku, aku sudah tidak peduli dengan kedua orang tuaku yang berpisah, aku juga tidak peduli dengan Nita yang tidak mau berteman denganku lagi, aku masih bisa hidup tanpa mereka. Dan saat itu aku merasa kebebasan yang sebebas-bebasnya.
Senin ini aku akan melakukan ulangan akhir semester, aku merasa biasa saja, tidak seperti sebelumnya yang harus tegang dan mati-matian belajar, aku sama sekali tidak menyentuh tumpukan kertas di atas meja kayu itu. Aku hanya berpikir bagaimana caranya aku bisa bahagia, dengan cara apa pun.
Pada hari pembagian rapor, sebelumnya aku mendapat undangan dari wali kelas untuk menemuinya diruang guru saat itu juga. Aku kira itu undangan limited hanya untukku, tapi saat sampai di sana ada orang lain yang mendapatkannya juga. Tentu aku mendengarkannya. Dia hanya menanyakan mengapa semua nilaiku menurun drastis, dan aku menjawabnya tidak tahu, itu saja. setelahnya aku pergi. Aku tidak menyangka ada yang sedang menungguku di luar, tapi aku tidak suka tatapan yang ia berikan, tatapan iba, aku tidak perlu dikasihani, ini hidupku.
Rapor akan segera dibagikan, dan aku tidak berharap apa pun, aku sudah mengetahui usahaku, begitu pun hasilnya. Karena usaha yang kamu lakukan itulah hasil yang kamu dapat. itu menurutku, aku tidak memaksamu berpendapat sama atas itu .
Aku pulang terlambat, karena aku perlu menetralkan perasaanku atas apa yang aku bayangkan jika ibuku tahu tentang rapor ini. Dan aku berhasil, sekarang aku sudah tidak peduli dengan apa yang akan terjadi, aku hanya perlu diam tanpa mendengarkan, karena itu akan lebih baik, bagiku.
Sampainya di rumah, aku mendapatkan sesuatu yang tersisa dari paket tuhan hari yang lalu. Aku belum masuk ke dalam rumah, di dalam akan sangat berisik, jelas sekali karena itu terdengar sampai sini. Dibalik pintu kuning aku bersandar dan mendengarkan, aku berusaha keras untuk menjauh dan tidak mendengarkan itu semua, tapi hatiku terus saja berteriak untuk melakukannya. Setelah kemarin dengan ayah, dan sekarang dengan nenek.
Aku masih mendengarkan apa yang mereka katakan, aku ingin tahu apa yang mereka perdebatkan hingga menjadi heboh seperti itu, mereka merasa sedang hidup dihutan, di mana jika mereka berteriak tidak akan ada yang mendengarnya. Dan aku mulai tahu apa yang terjadi, Ini semua penyebabnya adalah adik dari ibuku, entah bagaimana dia menyihir nenek hingga membenci ibu, ramuan apa yang dia gunakan agar nenek terus membelanya. Aku tidak tahan dengan semua ini, air mataku sudah tumpah ruah di sana, kacanya sudah mulai buram sama seperti pandanganku. Dengan emosi yang sudah melampaui batas dan sakit yang sudah mendasar aku beranikan untuk masuk dan menghentikannya. Entah mereka mendengarnya atau tidak, yang penting aku sudah mengatakannya. Aku berkata:
“hentikan!!!tolong hentikan semua ini, apa ada lagi yang harus berubah dari hidupku! Sudah cukup aku tidak mempunyai seorang ayah, Cukup dengan itu hidupku sudah hancur, jangan tambah kehancuran dalam hidupku, aku tidak bisa bertahan!”
Hanya itu yang aku ucapkan, saat mengucapkannya aku merasa ditampar beribu kali oleh kata-kataku sendiri, aku merasa tenggelam dalam air mataku sendiri, dan aku merasa didunia ini hanya ada aku, hingga aku bebas berteriak sesuka hatiku.
Sekarang aku berada di tempat yang memang tidak terjangkau oleh orang, aku menginginkan keheningan, walau tidak tahu bagaimana bentuknya, tapi aku ingin berteman dengannya. Suatu kerajaan yang sudah hancur namun tetap saja dihancurkan, apa yang terjadi? Bukankah ia akan hilang? Apa aku juga akan seperti itu, aku hancur karena sebuah perselisihan yang terus datang dan berikutnya aku akan menghilang.
Sekarang aku merasakan dan mendengar suara nafas Yang diembuskan dengan keras. Dan benar saja, itu Nita. Entah bagaimana dia menemukanku, dia bilang dia mengikutiku sedari kita bertemu di depan kantor dan sampai sekarang dia berada di sini. Dia mengatakan banyak hal, namun aku hanya menangkap beberapa dari yang ia katakan, dia meminta maaf atas perlakuannya yang menghindar begitu saja, dia bilang dia iri kepadaku yang selalu mendapatkan peringkat satu, dia menghindariku agar aku terus memikirkan hal itu dan tidak bisa berkonsentrasi pada ulanganku, dia sempat mendapatkan kepuasannya saat aku mendapat panggilan dari Bu endang. Namun dia sangat merasa bersalah saat pertemuan kita setelah itu. Dan dia bilang dia tahu tentang keluargaku, dia juga menawarkan jasa curhat dan apa pun itu asalkan aku memaafkannya. Aku memaafkannya untuk segala hal, untuk menghindariku, untuk mengasihaniku dan semua kesalahan yang bahkan tidak bisa aku ingat, bukan karena itu terlalu banyak, hanya saja aku buruk dalam hal mengingat.
Hari itu aku kembali menemukan sahabatku, bahkan kami bertambah akrab sekarang. Untuk permintaan yang dia tawarkan aku meminta untuk menginap dirumah-Nya, aku benar-benar harus menghilang untuk menetralkan kembali perasaanku, kalaupun itu tidak berhasil, aku tidak peduli setelahnya, mungkin aku akan benar-benar menghilang. Aku melupakan buku raporku, apakah mungkin tertinggal di sana, kalau iya itu akan menambah bencana baru.
Keesokan harinya ibuku datang untuk menjemputku, entah bagaimana dia tahu, Nita bilang dia tidak memberitahukannya, dan aku tidak percaya padanya. Dia menceritakan semuanya dari awal mengapa terjadi sampai akhir apa yang terjadi. Dan itu hanya sebuah salah paham, dia juga bilang sudah berbaikan, bahkan sekarang keluarga akan pergi berlibur, mengingat ini libur panjang sekolah aku kembali teringat pada raporku yang kemarin. Dan dengan keberanian penuh aku menanyakannya, ternyata dia sudah tahu, tapi dia tidak marah, dia hanya mengatakan lakukan apa yang ingin aku lakukan, asalkan itu baik untukku ibu mendukungnya.
Sekarang di tempat yang indah ini, aku dan keluargaku bersatu dalam satu tawa yang kembali menggemakan telinga, kami semuanya bahagia. Aku sudah merasa tenang dan tidak peduli lagi dengan masalah yang terjadi hari-hari yang lalu. Aku sudah mengikhlaskan selesainya hubungan ayah dan ibuku, maka lebih baik begini, dan ibuku tak akan tersakiti.
sekarang aku percaya setelah hujan lebat yang disertai gemuruh dan petir yang dahsyat, matahari datang dan menawarkan pelangi.
Penderitaan dan kebahagiaan berada dalam satu paket yang sudah tuhan siapkan, kita hanya menunggu kapan kirimannya datang, sejauh itu paket tuhan tidak akan pernah salah. Berbahagialah kamu, yang memiliki keluarga utuh. karena ketika sebuah kaca sudah pecah, susah untuk bisa utuh kembali.