bellesmana

Teruslah melangkah meraih impian. Abaikan rasa lelah dan malasmu. Bersabarlah. Yakinkan dirimu, bahwa kamu pasti sukses. -Bellesmana-

Teruslah Bekerja Keras

 

Pernah kan di antara kita sering kali mengikuti ajang lomba atau event untuk menampilkan bakat yang dimiliki? Pada mulanya semangat empat lima saat mempersiapkannya sampai  hari berlangsungnya lomba, seperti menulis novel untuk writing competition, membuat desain gambar dalam kontes ilustrasi, latihan menari dalam ajang pencarian bakat, dan lain-lain. Akan tetapi rasa itu hilang seketika di mana pengumuman telah tiba dan tidak tercantum nama kita.Seolah-olah dunia runtuh begitu saja. Padahal kita sudah bekerja maksimal dan yakin bahwa karya kita adalah yang terbaik. 

Kalah??? Hhhmmm..., pasti sakitnya tuh di sini (sambil pegang dada). Sudah barang tentu kesal bukan main. 

Itulah yang sering kali saya rasakan selama beberapa tahun belakangan ini. Di sini saya akan bercerita mengenai masa-masa sulit saat meraih impian. Dan semoga menjadi inspirasi bagi para pembaca sekalian.

Pertama kalinya dulu saat saya duduk di bangku SMA pernah membaca lomba menulis essay di salah satu media cetak. Saya pun tertarik dan mengikuti lomba menulis yang diselenggarakan oleh perusahaan pupuk nomor satu di Kalimantan Timur. Dengan percaya diri akan bakat serta keinginan untuk mencoba mengeluarkan kemampuan yang saya miliki akhirnya Ibu pun turut membantu, ia memberi bimbingan mengenai pembuatan naskah essay yang bertema CSR. Padahal usia saya masih sangat belia untuk menulis opini tentang peran CSR di suatu perusahaan untuk masyarakat sekitar. Tahap penulisan pun berjalan lancar, karena mendapat penjelasan dari Ibu. Lalu saya pun merangkai kata sedemikian rupa sampai naskah tersebut dikirim via email kepada panitia. Dan seminggu kemudian, ketika saya membaca pengumuman pemenang hati ini berasa hancur. Di mana tidak tercantum nama saya. Kebanyakan dari kalangan usia tiga puluh ke atas yang berprofesi sebagai karyawan atau dosen. Saya pun melupakan bakat menulis saya itu dan menjalani pendidikan sampai perkuliahan berlangsung. 

Tapi selang dua tahun ALLAH punya rencana lain dari kegagalan saya saat mengikuti lomba menulis tentang CSR. Di mana saya lulus tes SPMB di jurusan Ilmu Komunikasi. Saya mendapat mata kuliah tentang jurnalistik, diberi tugas menulis press release oleh sang dosen, dan lain-lain. Bahkan tidak disangka-sangka ALLAH mempertemukan saya dengan seorang wartawan dari media cetak. Saya pun diajak bekerja sebagai reporter freelance di perusahaan media cetak tersebut. Dengan senang hati saya menerima tawaran itu dan menjalani kuliah sembari bekerja paruh waktu. Dari situ saya belajar banyak sekitar jurnalistik. Saya pun mendapat ilmu dalam bidang menulis. 

Dan empat tahun kemudian setelah apa yang sudah saya jalani dan mendapatkan ilmunya saya menikah dengan salah satu wartawan di perusahaan yang sama. Dan untuk kali kedua saya mengabaikan bakat menulis dikarenakan sibuk mengurusi rumah tangga. 

Namun, tiba-tiba terlintaslah hasrat ingin menulis kembali walau berbeda kategori. Jika sebelumnya saya membuat naskah berita atau artikel, kali ini saya mencoba menuangkan kisah pertemanan ke dalam sebuah cerpen. Lalu saya mengirimnya ke media cetak di perusahaan saya sebelumnya. Dan tidak disangka cerpen saya terbit. Alangkah bahagianya ketika melihat hasil karya saya terpampang di media cetak nomor satu di Kalimantan Timur. 

Dari situlah 'energi' saya keluar. Saya jadi termotivasi untuk terus berkarya. Saya pun menulis beralih menulis novel. Padahal saat itu saya sudah menjadi staff administrasi di salah satu perusahaan dan menjalani peran sebagai ibu rumah tangga. Tapi semangat itu tidak luntur. Saya membagi waktu dengan semaksimal mungkin, yakni di pagi-sore hari bekerja di kantor, sore-malam mengurus anak dan suami, malam hari-menjelang subuh menulis. Setiap hari ritme kehidupan seperti itu saya jalani tanpa kenal lelah demi meraih impian menjadi seorang penulis.

Walhasil kerja keras saya tidak sia-sia yang selalu bergadang dan hanya tidur sekitar dua jam saja setiap harinya. Dalam tiga bulan sebanyak dua naskah novel saya selesaikan. Saya pun merasa takjub akan hasilnya. Benar-benar tidak menyangka bisa membuat novel dan menjilidnya di sebuah percetakan. Lantas saya tidak tidak biarkan novel itu begitu saja. Saya pun mengirim dua naskah novel itu dalam bentuk hard copy kepada salah satu penerbit ternama. Alangkah bahagianya saya bisa melakukan apa yang belum pernah saya lakukan sebelumnya.

Selama kurun waktu empat bulan saya menanti-nanti kabar menyenangkan dari pihak penerbit. Tapi begitu terkejutnya saya waktu salah satu editor perusahaan tersebut memberi penilaian terhadap dua naskah saya. Dengan kata lain dua novel saya ditolak dan belum layak terbit karena beberapa alasan. Hati saya hancur berkeping-keping hingga setengah tahun lamanya.Saya merasa putus asa dan tidak ingin lagi melanjutkan mimpi-mimpi untuk meraih cita-cita sebagai penulis. Sirna sudah kerja keras saya selama ini.

Tapi entah kenapa melihat info-info lomba menulis di beberapa media sosial hati saya mulai tergugah dan ingin kembali memulai menulis untuk kesekian kalinya. Akhirnya saya melupakan kekecewaan dengan mencoba lagi mengasah bakat dengan mengikuti ajang kompetisi menulis. 

Suatu ketika saya ikut serta dalam kompetisi menulis essay dan hadiahnya akan diberangkatkan ke Jakarta secara gratis secara keseluruhan untuk mengikuti pelatihan maupun litreasi bersama para penulis dan orang terkenal lainnya. Saya pun mati-matian menulis opini mengenai tema yang sudah disediakan. Mulai dari melek mata di pagi hari sampai menjelang subuh saya tuntaskan tulisannya. Dan malam itu juga saya kirim via email kepada panitia, kebetulan waktu yang ditetapkan juga tidak banyak (hanya dua hari). Dan di hari pengumuman berlangsung, saya pun dengan hati berdegup kencang membaca satu per satu nama-nama pemenangnya. Jleb,ternyata di antara sepuluh orang pemenang tidak ada nama saya. Begitu sedihnya saya saat itu. Karena di benak saya sudah terlalu berharap bisa menjalani proses kemenangan dan bergabung bersama para penulis mendapat banyak ilmu serta pengalaman baru.

"Baiklah. Enggak apa. Coba lagi," ucap saya yang pada waktu itu air mata menetes karena gagal.

Dari semua pengalaman dalam ikut serta menulis puisi, cerpen, essay, dan novel yang pernah saya coba dengan percaya diri itu tapi hasilnya NOL. Sekali dua kali tiga kali sampai seterusnya keberuntungan tidak pernah memihak kepada saya. Alias kalah terus. 

Kalah lagi, lagi, dan lagi, itulah yang saya alami selama ini sampai sekarang. Terus saya beradu argumen dengan sisi kanan dan kiri saya. Hati saya bergejolak menerima kemenangan yang tidak pernah saya dapatkan.

Lambat laun, dari segelintirnya banyak orang sukses saya pun berpikir keras. Saya kagum pada anak muda yang usianya jauh dari saya dan bisa merasakan kesuksesan di masa mudanya Lalu di otak saya melekatkan suatu kata kunci  berupa  "Kenapa dia bisa? Kenapa saya tidak bisa seperti dia? Pasti saya bisa!!!" 

Saya mengubah pola pikir yang positif sebagai motivasi agar tidak pernah putus asa. Karena sampai detik ini saya belum juga mendapat kabar baik mengenai kerja keras saya atau bisa dikatakan saya belum sukses di mata dunia.

Dan acap kali usai mengikuti berbagai lomba menulis saya selalu membuang jauh harapan untuk menang, saya lebih memilih untuk menyerahkannya kepada ALLAH. Karena ALLAH tahu kapan saya harus menang atau kalah.

Sekarang kekalahan atau kegagalan bagi saya itu bukanlah hal baru. Saya akan terus berusaha semaksimal mungkin sampai impian itu datang menghampiri. Yaitu saya ingin selalu meluangkan waktu menulis apa pun tanpa kenal lelah atau kecewa karena kalah dalam pertandingan. Saya ingin membuktikan kepada dunia bahwa saya bisa membuat orang tua tersenyum bangga akan kerja keras saya di suatu saat nanti.

Dan bagi para pembaca yang juga pernah merasakan hal sama seperti saya dan belum meraih kesuksesan, marilah kita bersama-sama mengejar mimpi-mimpi dengan kerja keras. Buang jauh-jauh rasa ingin putus asa dan tidak berdaya. Karena saat ini ALLAH sedang melihat sampai di mana usaha kita dalam menjemput impian.

Percayalah bahwa usahamu kelak akan menghasilkan sesuatu yang sangat berharga dan tidak ternilaikan. Seperti quotes saya sebagai berikut;

Teruslah melangkah meraih impian.
Abaikan rasa lelah dan malasmu.
Bersabarlah. Yakinkan dirimu, bahwa kamu pasti sukses. -Bellesmana-

Semoga tulisan saya ini membawa dampak positif dan motivasi bagi para pembaca. 

yusufyusuf

I became inspired.


lestariarra2006

Cerita yang mengharukan. Semoga si penulis sukses di kemudian hari.


kannizhend

good.good.good...


chachakhansa

Emang sih kalo kalah itu bikin nyesek yach?. Tapi ah sudahlah. Terus berusaha en semangat..


titaprastita

:)