Wanita terbaik adalah ibu. Wanita terhebat adalah ibu. Ibu adalah wanita sejati.
Ketulusan Hati
Matahari yang mengeluarkan sinarnya mulai muncul dan itu membuat diriku terbangun dari tidur nyenyak ku . Aku berlari secepat kilat seperti roket yang akan membeledakan rumah beserta isinya, aku melihat semua anggota keluargaku sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Langkahku semakin lambat karena ku lihat jam sudah menunjukan jam 06.40 AM, percuma saja aku berlari pada akhirnya aku juga akan telat datang sekolah. Nama ku adalah Sisil Maroyo anak pertama dari dua bersaudara di keluarga Maroyo, 10? Ya aku anak kelas 10 di SMA Jaya Surabaya. Seperti kebanyakan anak yang terlambat pagi ini aku di hukum di depan sekolah, tak ada kesedihan di raut muka ku. Malah aku senang karena aku pagi ini bisa di antar oleh ayah ku.
Selesai acara penghukuman itu, aku langsung pergi ke kelas ku. Tak terduga ternyata teman-teman kelasku banyak yang tak masuk kelas hari ini, apa penyebabnya? Karena hari ini ada kegiatan wajib Pramuka jadi mereka semua sibuk membantu kakak pelatih menyiapkan segalanya. Aku hanya terdiam sambil mengikuti intruksi dari kakak pembina yang menyuruh semua anak kelas 10 agar berbaris di lapangan. Acara permuka benar-benar sangat membuat ku mengerahkan segala kekuatan dan pikiran ku, bagaimana tidak, aku sekarang mengangkat teman-teman yang pingsan dan pura-pura pingsan di lapangan. Dipikir-pikir mereka sungguh cerdas mencari alasan agar tidak mengikuti kegiatan ini. acara pramuka berakhir aku dan Naila segera masuk kelas untuk beristirahat. Tapi ada yang aneh, kenapa ada mama ku di depan kelas. Aku segera menghamipirinya
“Ma, kenapa kesini?” tanyakku
“Ikut mama dan adek ,” jawabnya
“Kemana?”
“Tak usah banyak bertanya, cepat lah bereskan barangmu. Mama sudah mengizinkan ini ke wali kelasmu,”
Aku tak banyak bertanya, langsung ku gendong tas merah jambu ini keluar dari sekolah. Di pojok sana ada mobil silver yang taka sing bagiku. Mama menarik ku masuk mobil itu, aku terheran-heran dengan sikap mama ku yang seperti ini. Dalam perjalanan adek ku tertidur pulas karena dia masih berumur 4 tahun, sedangkan mama ku menintihkan air matanya.
“Ma ada apa? Kenapa menangis?” tanyak ku lembut
“Tak ada apa-apa sayang, cepatlah tidur,” jawabnya lembut
”Tidur? Di siang bolong seperti ini?”
Mama ku tak menggubris pertanyaan ku, ia melajukan mobilnya sangat cepat. ~Drt..Drt..Drt..~ getaran hp ku berbunyi, terlihat di situ papa mengirimkan ku sebuah pesan masuk
Papa
Sil, jaga mama ya.
Papa akan pergi sebentar.
Karena aku tak paham apa maksud papa ini, aku biarkan saja pesan itu. jam sudah menunjukan pukul 5.00 PM, tapi mama belum juga selesai menitihkan air mata. Aku juga tak tau kemana ini. mama memberhentikan mobil ini jauh sekali dari rumah, sebuah hotel? Ya ini adalah sebuah hotel yang sangat megah. Mama mengajak ku turun dan langsung menuju kamar.
“Sayang, apa mama bisa berbicara dengan mu?” tanyanya lembut
“Kenapa ma?” jawabku dengan nada penasaran
“Maafkan mama ya,”
“Maaf? Untuk apa?”
“Maafkan mama, mulai hari in mama dan ayahmu akan berpisah,”
“Berpisah? Apa papa akan pergi keluar kota?”
“Mama dan ayah mu akan bercerai,”
Jawaban yang begitu menohok ke dadaku, air mata ini tak dapat terbendung kembali. Apa maksud dari Pisah?Cerai?Tak bersama? Semua pertanyaan itu ada di kepala ku. Semuanya sangat tiba-tiba bahkan aku pun tak menyangka akan sangat cepat sekali. Air mata ini terus mengelarikan, tapi tak dengan emosi ku, aku tahan segala amarah dan pertanyaan yang mengganjal hati ini. senyuman dari mama terus membuatku tabah, aku tak akan bisa menentang segalanya. Senyuman akhirnya terukir di bibirku. Aku hanya berusaha setabah mamaku.
“Kamu tau mengapa mama dan ayah tak akan bersama kembali?” Tanya mama kembali
“Kalau mam mau menceritakannya, Sisil akan menjadi pendengar yang baik,” tawarku lembut
“Ayah mu telah mempunya istri ke-2 yang membuat mama terpukul,”
Aku hanya menahan sakit hati ini mendengar perkataan mama tadi, sambil menjawab
“Kalau memang itu yang terbaik, lakukan ma. Aku dan adek akan selalu bersama mama,”
Mama ku langsung memeluk ku hingga aku meluapkan segala tamgisan dan kemarahan hati ku ini. aku tak mengerti maksud papa dengan perlakuan nya kepadaku, apa papa tak mencintai mama? Padahal mama tak kalah cantik dengan wanita di luar sana. Jam mulai berlalu sampai aku baru tersadar bahwa tadi malam aku menangis hingga tertidur. Bangun di tempat yang asing mengingatkan luka mendalam yang keluarga ku alami. Mama, aku, dan adek kembali ke rumah dengan hati yang bercampur aduk. Aku tak peduli dengan masalah mereka, tapi apakah mereka tega melihat aku? Tidak perlu aku, lihatlah adek ku yang saat ini tak bisa mengerti apa-apa. Sakit yang ku rasa semakin memuncak begitu mengertahui ayah ku yang sangat berwibawa dan menyayangi keluarganya sedang di rumah dengan seorang perempuan yang usiannya lebih mudah dari pada ayah. Mama menguatkan ku sambil tersenyum, padahal aku mengertahui rasa sakit hati mama ku lebih dalam dari pada diriku. Aku masuk rumah dengan keadaan tersenyum, bagaimana pun aku tak bisa mengihklaskan, tapi setidaknya aku bisa menahan rasa sakit iini. Ayah menyambut kami bersama perempuan yang mempunyai perut besar itu. tak dia tak gemuk, tapi dia sedang mengandung. Mama pham dengan situasi seperti itu, mama langsung mengambil semua barang-barang ku,adek, dan mama sendiri. Ayah hanya bisa menitihkan air mata bersama perempuan itu.
“Buat apa menintihkan air mata?” Tanya mama sambil menghapus air mata Ayah
“Maaf kan saya ma, saya tidak bisa menjadi imam keluarga yang baik,” jawab Ayah
“Tak perlu menjadi imam keluarga yang baik untuk saya lagi, jadilah imam keluarga yang baik untuk istri baru mu beserta anak yang ada di kandungannya,”
Perempuan itu hanya bisa menitihkan air mata dan minta maaf kepada mama, tapi mama dengan tabah mengihklaskannya.
“Kenapa ayah lakukan itu?” kini aku tak bisa menahan emosi ku ini
“Apa Sisil ada salah? Bisakah Sisil mempercayai ayah lagi? Bagaimana dengan adek? Apa ayah juga membenci adek?” lanjutku.
Ayah hanya bisa menitihkan air mata sambil memeluk ku, aku hanya terdiam berusaha semua pertanyaan ku dan amarah ku tak meluap. Gagal , iya gagal semua sakit hatiku meluap ke perempuan itu.
“Apa keluarga saya punya masalah dengan anda? Apa anda dendam dengan mama saya? Kembalikan ayah saya, kembalikan keluarga saya tante. Saya janji tak akan nakal lagi, saya tak akan bolos sekolah, saya tak akan mengganggu mama dan ayah lagi. Kembalikan senyum keluarga ini tante,” kata-kata yang keluar dari seorang anak remaja ini seperti anak sd yang kehilangan permen.
Aku tak bisa lagi melihat keadaa rumah saat ini, aku paksakan diri untuk berlari menghindar dari semuanya, ayah yang selalu setia di sampingku kini tak aka nada lagi, ayah yang selalu menjadi lelaki yang melindungiku kini telah berubah menjadi orang jahat. Semua telah berubah dan ini babak baru dalam hidupku dimana aku harus mengerti apa artinya kehidupan .
~6 tahun Kemudian~
Tak terasa sudah 6 tahun berlalu, mama tak mencari pengganti ayah, sedangkan ayah bahagia bersama istrinya. Mama tetap sabar menjadi ibu yang baik, bagaikan malaikat yang selalu ada di hatiku. Kini aku telah menjadi sarjana. Aku berlajar memahami apa artinya kehidupan sejak SMA, taka da yang namanya nakal, yang ada hanya belajar dan terus belajar. Hikmah yang aik dalam hidupku ini lah menjadikan aku sebagai seornag wanita tangguh seperti mama, namaku saat ini sudah tak memakai nama Maroyo, aku tak membencinya hanya saja aku ingin agar mama sendirilah yang memberikan aku nama. Saat ini aku sedang berusaha menjadikan anak BROKEN HOME mengerti apa artinya kehidupan yang baru. Aku berusaha agar setiap rumah tangga bisa bertahan, cukup aku saja yang pernah merasakan sakitnya dan susahnya kehidupan. Aku ingin agar anak-anak lain bisa bahagia tanpa adanya rasa itu. tapi harus ku akui mama ku adalah wanita terhebat di dunia ini, wanita yang mengajarkan ku arti hidup, wanita pejuang demi keluarga. Mama ku adalah malaikat dunia ku.
SAYANGILAH IBU KARENA ENGKAU TAK AKAN PERNAH MENGETAHUI PERJUANGAN YANG IA LAKUKAN UNTUK MU.
AIKO YUSTIKA