Yurischaays_

Persahabatan takkan bisa dibeli dengan uang. Ia akan mengalir dengan sendirinya tanpa mengenal ruang dan waktu.

Meraih Impian

 

Persahabatan tidak pernah mengenal perbedaan. Perbedaanlah yang membuat persahabatan saling melengkapi satu sama lain. Itulah yang dirasakan oleh gadis bernama Nadhira. Nadhira Elvira Rawnie, gadis berusia 15 tahun yang baru menginjak SMA itu punya seorang sahabat yang sangat berarti dalam hidupnya. Cantik, energik, terkesan tomboy, dan cerewet. Mungkin seperti itu kesan orang terhadap sahabat Nadhira itu.


"Namanya Kinara. Dia memang terlihat cerewet, tapi dibalik itu sebenarnya dia punya niat baik. Dia hanya mengkhawatirkan keadaanku. Itulah mengapa ia selalu mengomel saat aku melakukan kesalahan walau sedikit." Inilah pengakuan Nadhira saat ditanya oleh teman-teman di sekolah saat SMP.


Nadhira dan Kinara memang sudah berteman sejak TK sampai sekarang, kelas 1 SMA. Mereka sudah seperti saudara kandung. Terkadang teman-teman sekelas Nadhira heran, bagaimana bisa Kinara yang tomboy dan cerewet itu bersahabat dengan Nadhira yang pendiam? Tetapi Nadhira tidak pernah mempermasalahkannya. Menurutnya, Kinara tak akan bisa digantikan oleh apapun di dunia ini.


“Dhira, mau kemana?”Tanya Kinara ketika mereka berpapasan di depan kelas. Kinara dan Nadhira berada di kelas yang berbeda. Kinara kelas X-4 sedangkan Nadhira kelas X-5.

“Eh, Kinara. Aku mau ke perpustakaan. Mau ikut?”Tanya Nadhira yang sudah pasti tau jawabannya.

“Males Dhir, perpustakaan isinya anak kutu buku semua. Berangkat sendiri aja ya maaf aku gak bisa nganterin.”Jelasnya. Nadhira mengangguk dan melambaikan tangannya kepada Kinara.


"Dhira, ayo pulang, lama banget sih!"seru Kinara dari depan kelas.
"Iya sebentar, buru-buru banget sih, Kin.", jawab Nadhira sambil mengobrak-abrik setiap laci meja di kelasnya.
"Aku tuh lagi kesel tuh sama si Rian, masak tadi kursiku ditukar sama kursinya yang goyang-goyang kayak mau patah? Terus aku minta tukar balik dia nggak mau, padahal yang dia duduki kursiku. Emang dasar biang rusuh." Omel Kinara sambil berjalan mendekati sahabatnya itu.
"Jangan gitu nanti suka loh.”
"Yaelah Nadhira, Kinara suka sama Rian? Impossible.”
Tak lama kemudian, Kinara mendekati sebuah kertas yang terlihat di lantai. Kertas itu terlipat dengan sangat teratur. Lalu, Kinara mengambil kertas tersebut, namun tiba-tiba Nadhira menghalanginya. Nadhira lantas mengambil kertas itu terlebih dahulu dengan gelagat yang aneh.

“Dhir, itu kertas apaan?”
“Bukan apa-apa kok. Ayo kita pulang.” Jawab Nadhira dengan sedikit aneh membuat Kinara curiga.

“Yes, sekarang kita bisa pulang!” seru Kinara.
"Dhir, hari ini aku ke rumahmu ya? Lagi badmood nih", kata Kinara yang sedang mengayuh sepeda.
"Boleh, pasti kamu lagi bete gara-gara habis berantem sama Rian tadi. Udahlah kalian itu jadian aja biar gak berantem terus." kata Nadhira sambil tertawa kecil.
"What? Mimpi apa aku semalam kalau harus pacaran sama dia, Dhir? Jangan sembarangan deh. Aku gak suka sama cowok tengil itu." omel Kinara.
"Aku kan cuman nyaranin."Jelas Nadhira.
"Ah udah ah gak mau bahas cowok. Lagian masih jaman ya perjodohan? Sekarang udah nggak jaman jodoh-jodohan.”Kata Kinara.
Kinara mengayuh sepedanya lebih cepat sambil terus mengomel. Angin sepoi-sepoi menerbangkan rambut panjangnya sehingga mengenai wajah Nadhira yang dibocengnya. 


‘Green diamond’, Itu adalah rumah Nadhira. Rumah yang berada di sebuah pedesaan kecil itu bercat hijau. Rumah yang dijadikan pelarian oleh Kinara karena kesal ataupun ada masalah di rumahnya sendiri. Rumah itu memang memiliki dinding berwarna hijau. Bahkan bagian dinding dalamnya pun juga hijau. Itulah mengapa Kinara menyebut rumah Nadhira 'Green Diamond'. Entah dapat hidayah dari mana hingga memberi nama rumah orang sembarangan. Kinara selalu pergi ke rumah Nadhira untuk menenangkan diri ataupun hanya untuk bercerita. Mereka berdiam diri sejenak dan menatap langit yang biru di atap rumah itu, hingga kemudian Kinara memulai pembicaraan.


“Eh, Dhir, kertas yang tadi itu isinya apa sih? Kok kayaknya penting?” Tanyanya sambil melirik ke arah Nadhira yang sedang mengunyah kacang. Nadhira adalah cewek penyuka kacang. Untungnya Nadhira tidak sampai jerawatan karena seringnya ia makan kacang.
"Yang tadi? Bukan apa-apa kok." jawab Nadhira.
"ih jahat aku nggak dikasih tau. Kasih tau dong, Dhir." balasnya lagi sambil bangkit dan duduk.
"Apa sih, Kin? Bukan apa-apa itu."
"Udah ah males sama Nadhira."Kata Kinara dengan muka kesalnya. Udah kesal karena Rian, sekarang Nadhira membuatnya kesal.
"Kok gitu?"
"Karena kamu jahat. Kamu nggak mau ngasih tau, kan aku sahabat kamu, Dhira."Jelasnya.
 Setelah berpikir sejenak, Nadhira mengeluarkan kertas itu dari sakunya.
"Iya iya aku kasih tau, tapi kamu jangan ngeledeki aku ya? Awas kamu." kata Nadhira pelan kepada Kinara.
"Iya. Aku gak akan ngeledekin".
Nadhira lalu memberikan kertas itu dan Kinara membacanya dengan seksama.
"Ini cerpen karyamu ya, Dhir? Kok ceritanya kayak aku pernah ngalamin." tanyanya tak lama kemudian.
"Iya.. itu emang aku sendiri yang buat." jawab Nadhira ragu-ragu.
"Oh, bagus loh kata-kata didalamnya. Aku rasa kamu berbakat jadi penulis hehe," kata Kinara sambil tersenyum jahil.
"Beneran bagus, Kin?" tanya Nadhira tak percaya.
"Jangan bilang siapa-siapa ya, sebenarnya aku memang bercita-cita jadi penulis," bisik Nadhira pelan.
"Hah? Beneran, Dhir? Wah aku ngedukung banget!"
“Dhir, aku punya usul, gimana kalau kamu buat novel aja. Isinya tentang persahabatan kita. Membuat cerita yang pernah dialami kan lebih mudah daripada mengarang? Ya kan?”Lanjut Kinara.
Nadhira lantas berdiri, "aku nggak yakin  kalau bisa buat, Kin."Katanya pesimis.
"Jangan gitu,Dhir. Aku akan selalu semangatin kamu deh biar terus nulis."Jawab Kinara dengan penuh harap.
Mereka pun terus membicarakan tentang impian kecil itu hingga matahari terbenam.


Sejak hari itu, Kinara selalu menemani Nadhira menulis cerita tentang mereka. Nadhira memang masih malu untuk menunjukkan karya tulisannya di depan banyak orang. Bahkan membacakan cerita di depan sahabatnya sendiri saja pun ia masih grogi. Tetapi Kinara terus menyemangati Nadhira dan mendukungnya dengan semangat. Nadhira selalu bersyukur bahwa ia dipertemukan dengan perempuan sebaik Kinara. Hari berganti hari, Nadhira semakin sering latihan membuat cerita.


“Kin, aku ke perpustakaan dulu ya? Mau mengembalikan buku, udah telat satu minggu. Pasti nanti aku dimarahi sama bu Rena.” Kata Nadhira kepada Kinara di depan kelas.
“Hari ini kamu bawa sepeda kan? Aku nggak bisa nunggu, soalnya aku buru-buru. Jadi aku pulang duluan ya?” kata Kinara sepulang sekolah. Kebetulan hari itu Nadhira memang piket dan ia juga harus ke perpustakaan, jadi tidak bisa pulang cepat. Tetapi biasanya Kinara akan menunggunya, tetapi entah kenapa hari ini Kinara malah pergi duluan meninggalkan Nadhira. Nadhira merasa ada yang aneh.


"Kok jadi lebay gini ya? Ditinggal pulang duluan aja kayak ditinggal selingkuh." batin Nadhira.


Sehabis piket Nadhira segera bergegas pergi ke perpustakaan lantas ia pulang. Jalanan terlihat lebih sepi dari biasanya tanpa Kinara. Biasanya Kinara akan mengomelinya sepanjang perjalanan pulang. Tak lama kemudian gadis itu melihat sepeda Kinara terparkir di depan rumah Risa. Ia dapat melihat jelas sepeda Kinara dari kejauhan. 
Itu Kinara.. dan Risa! Kenapa Kinara berada di rumah Risa? Kinara bilang buru-buru karena main ke rumah Risa? Sebegitu pentingnya Risa sampai meninggalkanku pulang sendirian? Pikiran Nadhira mulai tidak karuan dan Nadhira tidak bisa berpikir jernih.

Nadhira langsung bergegas pulang dengan air mata yang menetes di pipinya.

Malam harinya, Nadhira masih tetap menangisi kejadian tadi siang. Ia tetap memikirkan kenapa Kinara tega kepadanya.


Tak lama kemudian, ibunya memanggil namanya dari depan pintu kamarnya.
“Nadhira, ini ada temannya datang.”
Nadhira sontak terkejut mendengar ucapan ibunya itu. Gadis yang matanya sembab karena terlalu lama menangis itu keluar dari kamarnya.

Ia berjalan pelan mendekati ruang tamu dan melihat... Kinara?
“Kinara, ngapain disini? Kamu nggak pulang?" ucap  Nadhira dengan sedikit terkejut. Kinara hanya tersenyum kepada Nadhira. Nadhira diam dan tidak membalas senyumnya dan menarik Kinara keluar rumahnya.
“Kin, kenapa kamu ada disini?” tanya Nadhira setelah membawanya keluar rumahnya.
“Kenapa kamu kesini?” timpa Nadhira lagi. Entah kenapa Nadhira tidak ingin mendengar penjelasan Kinara, Nadhira terlalu takut untuk mendengarnya.
“Aku hanya..”

"Oh iya, tadi yang kamu bilang buru-buru itu karena akan ke rumah Risa? Kamu mau mencari sahabat baru dan meninggalkanku, Kin?" tanya Nadhira bertubi-tubi tanpa memberi kesempatan kepada Kinara untuk berbicara. Matanya mulai berlinang air mata.
“Enggak, bukan gitu Nadhira..”

“Udahlah Kin, kamu pulang aja. Aku nggak mau punya teman pengkhianat seperti kamu.”

Kinara segera menaiki sepedanya dan mengayuhnya dengan cepat meninggalkan tempat itu. 
“Nadhira, kamu kenapa jahat seperti itu? kamu tidak boleh berkata seperti itu. Kinara pasti sakit hati mendengar ucapan kamu. Sekarang, kamu kejar Kinara dan minta maaf sama dia.”Ucap bu Irna, Ibunya Nadhira.
Nadhira segera menaiki sepedanya dan mengikuti Kinara dari belakang. Mereka berkejar-kejaran di sepanjang jalan.
Tak lama kemudian, Kinara melihat ke arah Nadhira yang mengayuh sepeda di belakangnya. Kinara mengayuh tanpa melihat ke arah depan hingga tiba-tiba.. BRAAAK!! Sebuah mobil Avanza berwarna hitam menabrak Kinara. Nadhira refleks mengerem sepedanya dan terjatuh. Jalan yang berwarna abu-abu itu kini berubah menjadi warna merah darah. Nadhira segera bangkit dan mendekati Kinara. Nadhira terpaku diam melihat keadaan Kinara itu. Tangan Kinara sangat dingin, sedingin es dan wajahnya memucat. Tak hanya itu, kepalanya berlumuran darah.
“Nadhira..” Nadhira tersentak mendengar suara itu. Kinara masih bisa berbicara!
"Iya.. aku disini, Kin" jawab Nadhira pelan.
"Maaf ya, aku sudah membuat kamu menangis, maaf aku tidak bisa menghapus air matamu. Selamat ulangtahun ya." ucapnya lemah sambil tersenyum.
Kemudian Kinara menutup matanya dan Nadhira tidak dapat merasakan tanda-tanda kehidupan darinya lagi. Kinara mengingat hari ulangtahun Nadhira sampai akhir hayatnya. Nadhira tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Air matanya mengalir deras.
Kinara sudah tiada, itulah kenyataan yang harus dihadapinya saat ini. Tak ada lagi orang yang akan mengomelinya hanya karena kesalahan sedikit yang dibuat oleh Nadhira. Tak ada lagi orang yang akan menemaninya latihan membuat cerpen. Kini semuanya harus di jalani sendiri, tanpa Kinara.
Hari ini, untuk pertama kalinya Nadhira berangkat dan pulang sekolah sendiri. Tak ada lagi canda dan tawa yang biasanya mengisi kesunyian di jalan itu. Tiba-tiba, Nadhira mendengar suara yang memanggil namanya. Nadhira yang merasakan kesepian tiba-tiba saja ada suara anak perempuan memanggil namanya. Sontak ia mengerem sepedanya.
"Kin, ini kamu ya? Kamu muncul dong. Aku ingin lihat wajah kamu. Walaupun nanti kamu muncul dengan wujud berbeda, aku akan tetap bilang kamu cantik kok. Beneran kamu cantik, Kin." Ucapnya seperti mengobrol dengan angin.
Nadhira pun segera membalikkan badan. Terlihat Risa sedang menuntun sepedanya ke arah Nadhira dan membawa sebuah botol di tangannya.
”Ditinggal Kinara mendadak jadi gila gini kamu ya?”kata Risa.
“Dhir, ini hadiah dari Kinara. Mungkin Kinara gak bisa ngasih kado istimewa karena waktu itu dia curhat ke aku kalau dia gak ada uang buat beli kado untuk kamu. Waktu itu aku yang memaksa untuk Kinara ke rumahku saja biar rahasianya aman. Oh iya, Dia cuman bisa kasih ini." jelasnya. Nadhira tidak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. Jadi, sebenarnya Kinara tidak berniat ke rumah Risa, tapi Risa yang memintanya? Kalau begitu untuk apa aku bertengkar? Untuk apa Kinara meninggal? Kalau saja hari itu aku tidak berprasangka buruk padanya dan mau mendengarkan penjelasannya, mungkin kecelakaan itu tidak akan terjadi dan aku masih bisa tertawa bersamanya saat ini.
Nadhira menyesali semuanya. Ia menyesal kalau saja dulu ia tidak marah kepada Kinara dan mau mendengar penjelasannya mungkin semuanya akan baik-baik saja.
Nadhira pulang dengan membawa botol berisi surat kecil yang diberikan Risa kepadanya. Ia membuka surat itu dan membacanya.
“Dear Nadhira, sahabatku..

Happy birthday ya cewek kaku dan pendiam kesayangan Kinara! Maaf ya Kinara gak bisa ngasih apa-apa buat Dhira. Kinara berharap kamu bisa mencapai mimpimu menjadi seorang penulis. Maaf aku tidak bisa memberi apa-apa. Aku yakin suatu saat nanti aku bisa melihatmu menjadi seorang penulis yang karyanya akan dibaca banyak orang dan Nadhira Elvira Rawnie, nama itu akan dikenal sebagai penulis terkenal. Impianmu pasti akan terkabul. Keep spirit!

 Kinara Alkenza”

Nadhira menitikkan air mata membaca surat itu. Kinara begitu memikirkan impian dan cita-citanya itu. Nadhira kemudian teringat dengan impian kecilnya untuk membuat novel persahabatan tentangnya dan Kinara. Ia mengambil secarik kertas dan pulpen, lalu perlahan mulai menulis. Nadhira mulai menorehkan pulpennya ke kertas putih itu, ‘Sahabat Sejati’, itulah kata pertama yang ia tulis. Inilah sebuah cerpen yang diciptakan dengan dukungan dan doa dari Kinara. Cerpen yang berisi luapan kasih sayangnya kepada Kinara. Hingga pada saatnya nanti, cerpen-cerpen itu disatukan menjadi sebuah novel berjudul 'Sahabat Sejati'. Nadhira dan Kinara memang berada di ruang yang berbeda, tetapi persahabatan mereka akan tetap abadi dan takkan pernah ada habisnya. “Terimakasih sudah melukiskan pelangi dalam kehidupanku. Bagiku, hidup ini adalah film terbaik. Bersama denganmu adalah bagian yang takkan pernah bosan aku memutarnya. Suatu hari, kamu akan menjadi kenangan yang paling berkesan dalam perjalanan hidupku.”Katanya dalam hati. Nadhira berharap suatu saat ia bisa mewujudkan impiannya untuk menjadi seorang penulis, untuk dirinya sendiri dan untuk sahabat sejatinya, Kinara Alkenza.

Bayudwi

Nicee


Vitaaa

Quotesnya menarik, persahabatan tak dapat dibeli dgn uang


Vitaaa

Bahasanya keseharn bangt aku suka


Dwisafitri_

Good


bimabjr

KEREN... 😍😍😍