Let Your Smile Change The World. But Don't Let The World Change Your Smile
Tak ada kata 'Benci' dalam kamusku. Memang banyak hal yang kutakuti, tapi itu bukanlah alasan bagiku untuk membencinya.
Meskipun semua temanku selalu menjauhiku, bahkan Ibuku sendiripun begitu. Aku tak pernah menyalahkan mereka. Sekalipun itu merugikan diriku sendiri.
Kulakukan yang terbaik untuk membuat mereka senang. Dan aku tahu, satu kesalahan saja, mereka akan langsung melupakan semua kebaikan yang pernah kulakukan untuk mereka.
Mungkin umpatan mereka akan menyadarkanku bahwa disitulah letak kesalahanku. Dan aku akan berusaha untuk memperbaikinya menjadi lebih baik. Aku tidak berharap lebih, jika perbuatanku menguntungkan mereka—sedangkan aku tak pernah mendapatkan kata "Terima Kasih" terucap dari mulut mereka.
Terkadang aku berpikir, dunia ini tidak adil. Tapi, dibalik itu, aku masih dapat bersyukur, mereka masih membutuhkanku. Dan aku cukup berguna bagi mereka.
"Untuk bisa berhasil, kau harus berusaha berdiri di atas kakimu sendiri dan kau hanya boleh bangga, jika apapun yang kau miliki adalah apa yang telah kau perjuangkan dengan peluh keringatmu sendiri," kata yang Ayah ucapkan sebelum akhirnya ia tak pernah kembali.
Hanya itu yang menyemangati setiap titik lemahku yang berusaha menguasai diriku.
~>•<~
Pagi ini terlihat berbeda. Cahaya matahari bersembunyi di balik gumpalan awan kelabu. Rintikan hujan mengiringi nyanyian burung - burung di sepanjang jalan.
Kukayuh sepedaku dengan semangat yang ikut melaju. Anginpun menerpa wajahku halus seakan menyapaku. Aku yakin, pekerjaanku hari ini tidak akan sia - sia lagi.
Kakiku terhenti untuk mengayuh dan perlahan kecepatan sepedaku menurun—lalu berhenti di depan sebuah gerbang besar yang menutupi gedung di sebaliknya. Aku menaruh tatap pada gerbang itu selama beberapa detik yang kemudian bergeser secara perlahan. Gerbang tersebut membukakan jalan untukku. Dengan sedikit ragu, aku mengayuh sepedaku perlahan dan memasuki area parkir di depan gedung itu. Luas—sangat luas.
Aku tak percaya mendapat undangan lowongan kerja dari tempat sebesar ini. Gedung setinggi dua puluh lantai menyambutku dengan megahnya. Ini semacam kesempatan baru untuk membuktikan bahwa aku masih berguna.
Setelah kemarin siang—dipecat dari pekerjaan sambilan yang kukerjakan baru tiga hari lamanya di sebuah salon. Dan itu bukan pertama kalinya, melainkan kesekian kalinya bagiku.
"Para karyawan lainnya tidak menginginkan keberadaanmu disini. Karena jika kau tetap bekerja disini, mereka yang akan keluar. Itu akan merugikan saya, oleh karena itu...." alasan yang terucap tidak pernah jauh berbeda dari pimpinan perusahaan lainnya.
Lalu di hari ini, aku berdiri dengan secercah harapan baru. Kuparkirkan sepedaku dan berjalan ke arah Dorma Automatic Door yang terletak di bagian depan gedung. Seketika pintu terbuka dan sensasi sejuk kurasakan pertama ketika mulai memasuki gedung tersebut. Banyak terdengar derap kaki berlalu lalang. Tetapi, tidak sedikit pula terdengar alih - alih pembicaraan bercampur aduk oleh pegawai atau karyawan disana. Aku hanya dapat melihat sekitar yang cukup membingungkanku untuk memilih jalan. Dan tanpa kusadari, aku telah berjalan tanpa memperhatikan depan—fokus dengan sebelah kanan dan kiri yang terlihat asing. Hingga dengan tidak sengaja, aku menabrak seorang lelaki berpakaian kemeja kotak - kotak dengan dasi melingkar di kerah lehernya.
"Ouups, maaf! Saya sangat minta maaf, tuan!" tanpa di proses otakpun, kata - kata itu terlontar dari mulutku.
Lelaki itu menatapku dan tersenyum.
"Tidak apa - apa. Saya baik - baik saja. Apa Anda pegawai baru disini? Saya belum pernah melihat Anda sebelumnya. Maaf atas kelancangan saya, tapi apakah Anda sedang kesulitan mencari sesuatu? Saya dapat melihat bahwa wajah Anda menunjukkan kegelisahan," ia menatapku dengan arti yang tak dapat ku deskripsikan.
Dan pada saat itu juga, masalah yang baru saja terjadi telah terlupakan.
"Ahm, iya. Memang saya sedang mencari pak Gregson disini. Tapi, saya tidak begitu mengetahui denah gedung ini, jadi saya tersesat dan tidak tahu harus ke arah mana," ucapku gugup.
"Oh, mengenai tuan Gregson—ia sedang pergi karena sebuah urusan luar. Saya belum mengklarifikasikan, jika memang benar akan ada karyawan baru. Kalau begitu, ikuti saya ke ruang manajer," ia memberiku isyarat untuk mengikutinya dari belakang.
Akupun mengikutinya, hingga sampai di depan sebuah pintu berwarna putih—kemudian ia membukanya dan mempersilakanku untuk masuk. Sedari tadi, ia terus memberikanku senyum yang tidak kuketahui pasti untuk apa senyum itu. Karena jika orang melihatku tersenyum menyapa, mereka justru menganggapku aneh. Lain dengan beliau, ia begitu ramah semenjak aku bertemu dengannya. Dan aku senang dengan keramahan itu.
"Silakan duduk, nona. Sebelumnya saya belum sempat memperkenalkan diri tadi. Biarkan saya mengawalinya dengan nama. Saya Oufey Herleo Parker. Selaku manajer disini, saya merupakan tangan kanan tuan Gregson seperti yang Anda ketahui. Dan saya juga memegang hak untuk mengurus kontrak dengan pegawai baru disini. Silakan perkenalkan diri Anda," tuturnya.
"Saya mohon maaf karena tidak bisa menyebutkan nama secara lengkap. Tetapi, orang - orang akrab memanggil saya dengan nama 'Jenny'. Menurut orang tua angkat saya, mereka menyebutkan bahwa saya berkelahiran tahun seribu sembilan ratus sembilan puluh dua. Dan saya memiliki banyak pengalaman kerja sebelumnya," kataku bertatapan langsung dengannya.
Sebenarnya ini sungguh sangat canggung bagiku.
"Kalau begitu..." katanya terputus seraya mengalihkan pandangannya menuju layar monitor di sebelah kanan meja—jika dilihat dari sudut pandangku.
Aku tidak dapat mengeluarkan suara, jika ia tidak bertanya. Dan itu membuat suasana menjadi .... tidak bersaudara. Ini sungguh membuatku bingung harus melakukan apa.
Aku menunggunya selama beberapa menit dalam keadaan sunyi yang dipecahkan oleh suara pendingin ruangan dan ketikan. Hingga hampir lima menit, ia mulai berbicara kembali, "Saya sudah menerima pesan dari tuan Gregson melalui e-mail. Sekiranya Anda sudah melewati wawancara penerimaan lowongan kerja. Menurut pesan ini, Anda diterima untuk mengisi satu shift disini sebagai sekertaris saya. Kalau begitu, Anda boleh bekerja mulai hari ini maupun besok mulai jam tujuh pagi sampai pukul satu siang. Bagaimana?"
"Mmm ... sebenarnya saya belum pernah bertemu langsung dengan pak Gregson—maksud saya, seseorang mengantarkan sebuah undangan penawaran kerja disini dengan suatu perjanjian yang sempat membuat saya ragu," kataku jujur.
"Katakan apa itu, mungkin saya dapat membantu Anda."
"Saya dijanjikan akan bertemu dengan kakak kandung saya. Dan perihal kapan saya akan memulai kerja—hari ini juga saya sudah siap."
Dia terdiam sesaat dan melanjutkan bicaranya, "Hmm, kalau begitu izinkan saya untuk memperkenalkan produk - produk yang perusahaan kami produksi. Tugas pertamamu kali ini adalah...."
Itu adalah hari pertamaku bekerja disana. Dan aku berhasil bekerja selama setengah tahun tanpa terasa berat. Ya, mereka semua membutuhkanku disana. Walaupun beberapa karyawan juga tidak begitu menyukaiku.
Ini salah satunya, "Tahu tidak? Dia baru bekerja disini saja sudah sangat dekat dengan pak manajer. Apa kau tidak iri? Aku bahkan benci melihat mukanya yang selalu tersenyum tidak jelas. Mungkin kejiwaannya sedikit terganggu," ucap bu Feeny terang - terangan di depan segerombol karyawati yang sedang makan siang bersama.
Dan itu selalu menjadi topik harian yang dibicarakan secara bergantian oleh karyawan lainnya. Walaupun di depanku, mereka ramah—dapat kulihat bahwa wajah mereka menunjukkan keengganan bekerja sama denganku. Tapi, aku yakin—dapat menunjukkan bahwa aku tidak akan merugikan mereka.
Kulakukan semua apa yang mereka minta, walaupun mereka selalu menyalahkan hasil kerjaku yang sebenarnya benar—tak ada yang salah. Dan hanya memperlakukanku dengan 'baik' jika di depan pak manajer.
Terkadang aku membuat secangkir teh di pagi hari untuk beberapa pegawai berjabat tinggi disana sesuai permintaan pak Harleo, tetapi mereka selalu memuntahkan teh itu dengan sengaja sebab rasanya yang tidak enak. Sedangkan pak Harleo selalu memuji setiap minuman buatanku.
Di lain hari, beberapa karyawan akan menyuruhku untuk menyimpan sebuah data penting padaku. Lalu keesokan paginya hilang, hingga pak manajer harus membuat ulang data - data tersebut. Sedangkan data - data itu belum kusentuh sampai pak manajer sendiri yang membukanya. Kemudian mereka akan kembali menyalahkanku karena telah merepotkan pak manajer.
Dan di hari Selasa lalu, jantungku seakan berhenti berdetak setelah tak sengaja mendengar perkataan pak Herleo saat berbincang - bincang dengan rekan kerja lainnya di rooftop mengenai diriku dari sudut pandangnya, "Sebenarnya, dia adalah beban bagiku. Entah apa yang membuat tuan Gregson memperkerjakan perempuan sepertinya."
Tapi, aku masih mengingatnya. Bahwa tuan Gregson menjanjikan untukku—mempertemukanku dengan kakak kandungku. Setelah Ayah pergi meninggalkanku dan Ibu yang mengusirku dari rumah—aku tidak memiliki siapapun lagi. Aku masih menaruh kepercayaan pada beliau, meskipun sampai sekarang, aku belum pernah bertatap muka langsung dengannya. Kulakukan semua yang ia percayakan padaku untuk pekerjaan ini dan membiarkan waktu mengambil alih semuanya. Karena aku tahu, "Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda".
Dan hari ini merupakan hari yang sangat panjang bagiku. Pak manajer akan mempresentasikan proyek hasil kerja perusahaan kami di depan publik. Aku tahu, mungkin ia akan sedikit ragu memberikanku kepercayaan untuk menjaga data lagi. Tentunya aku juga sedikit canggung dan kehilangan kepercayaan diri di hadapannya setelah mendengar perkataannya kemarin Selasa atau mungkin tanggapannya tentang diriku yang tidak pernah ia katakan secara langsung. Namun, sekarang aku tahu—di balik senyumnya tersirat makna yang sekarang sudah kuketahui. Ia tidak menyukaiku sejak pertama melihatku.
Lalu hari ini, ia terpaksa memberikan kepercayaan padaku karena semua karyawan yang ia percayai begitu enggan untuk dititipkan kepercayaan sebesar itu. Tentu saja—jika proyek ini gagal di presentasikan, maka harga diri semua pekerja disini akan di rendahkan dan membuat nama perusahaan kami memiliki reputasi buruk di depan publik.
"Bagaimana—semua sudah siap?" tanya pak manajer tanpa suara dari tengah panggung yang kubalas dengan anggukan kecil di balik pintu yang berada di pojok panggung. Semua orang yang duduk di bagian tempat penonton pun sudah siap menantikan presentasi.
Jantungku berdegup kencang karena diberikan tanggung jawab besar dari pak manajer, tidak, bukan manajer lagi. Tapi, keberhasilan presentasi ini ada di tanganku dan pak manajer. Rasa takut bercampur cemas seakan mencambuki diriku dari dalam tubuh ini. Takut kesalahan terjadi atau mungkin aku melupakan 'sesuatu'. Ya, 'sesuatu'.
Aku mengatur semuanya dengan baik. Aku yakin semuanya akan baik - baik saja. Sebelum aku menyadari, ada sesuatu yang ganjil. Sebenarnya ini sepele untuk dipikirkan, tapi aku sudah berjanji akan menyelesaikan masalah sekecil apapun yang akan terjadi—jika itu mengancam keberhasilan presentasi itu.
Aku menaruh tatapan tajam ke layar monitor, tepatnya di balik panggung—mengatur program yang akan di tampilkan di depan publik melalui Screen Projector yang di tampilkan di panggung.
Sebelumnya, aku telah memberikan tanggung jawab pengawasan sekitar tempat presentasi pada sepuluh penjaga untuk berkeliling di setiap dua lantai gedung ini. Lalu tiga rekan kerjaku atau lebih tepatnya karyawan lainnya untuk mengawasi jalannya presentasi bersamaku di dalam satu ruangan di belakang panggung ini.
"Ada masalah pada layar monitor ini, Jenny. Aku tidak bisa mengendalikannya. Bagaimana ini?" kata seorang perempuan berambut hitam di pojok ruangan.
Aku menghampirinya dan mengambil alih monitor tersebut. Ya, tugasku adalah mengawasi pekerjaan mereka semua dan bertanggung jawab atas kesalahan yang mereka perbuat. Aku hanya tinggal mengatur apa yang harus mereka kerjakan.
"Kau tidak mengatakan kalau ada virus," kataku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar monitor.
Aku baru sadar seseorang mencoba mengirimkan virus untuk menggagalkan keberhasilan presentasi itu. Ya, 'sesuatu' yang sepele itu telah berkembang dengan baik.
Aku segera melacak pengguna WiFi yang masuk tanpa perizinan. Dan memang benar, ada yang meng-hack jaringan WiFi gedung ini. Kemudian kuputar kembali rekaman CCTV dan menemukan dua orang mencurigakan itu berpisah di lantai satu. Salah satunya pergi ke lantai lima dengan tangga, lalu yang lainnya pergi ke lantai tujuh belas dengan lift.
Aku segera menghubungi semua satpam untuk mengepung mereka. Tapi, laporan yang kuterima tidak sesuai dengan ekspetasiku. Dua pelaku itu sudah pergi. Yang kutahu, ia yang berada di lantai tujuh belas meninggalkan sesuatu. Dalam rekaman CCTV—terekam ia sedang mengotak-atik sesuatu yang kurasa itu adalah mesin pengatur listrik gedung ini. Jika salah satu ia ubah salurannya, maka akan terjadi gangguan listrik dan menyebabkan gangguan pada presentasi. Beberapa detik kemudian, sebelum ia meninggalkan tempat, tangannya seperti mengeluarkan sesuatu yang lain dari tas ranselnya. Itu terlihat seperti ... Bom.
Dan sudah kutebak, orang yang berada di lantai lima itulah yang membuat virus untuk mengecohkanku.
Tanpa menunggu lagi, aku segera meminta semua pekerja yang sedang bersamaku saat itu untuk menetralkan virus yang terjadi, lalu kutinggalkan mereka untuk pergi ke lantai tujuh belas dan mengambil bom itu sebelum meledak di tempat.
Aku pergi dari gedung sejauh mungkin dan mendapati beberapa detik sebelum bom itu meledak. Hingga suara terakhir yang kudengar adalah suara sirine mobil ambulance.
"Ayah, apakah kau melihatnya? Bukankah aku cukup berguna untuk mereka? Dan aku lebih senang mengetahui bahwa tuan Gregson, pemilik perusahaan itu sendiri adalah kakak kandungku"