dyanayuriaurora

Life isn't about waiting the storm to pass; It's about learning to dance in the rain—Vivian Greene

Menari Dibawah Hujan
Oleh: Dyana Yuri Aurora

Pagi ini aku keluar dari kamar lebih cepat, berjalan menyusuri koridor yang mulai ramai dan bergerak menuju atap. Tak ada siapa-siapa disana. Udara pagi yang lembap menyapaku diiringi suara kendaraan yang berpacu dibawah sana. Meskipun awan hitam seolah menelan sinar mentari yang baru muncul, kota ini tampak sangat hidup. Sebaliknya aku yang berada diatap sebuah bangunan tepat ditengah kota ini tak merasa demikian. Aku merasa terasing ditempat yang tak pernah sunyi.
Ada perbedaan mencolok dari warna yang ditampilkan kota ini setiap pagi dengan apa yang kulakukan. Orang-orang yang berjalan tergegas; jalanan yang semakin padat; pedagang yang berkeliaran; bahkan anak-anak yang sibuk merapikan seragam sembari menunggu bus dipinggir jalan. Kota ini bergerak dengan cepat ketika aku hanya menonton dalam diam. Bukannya tak ingin, tapi tak banyak yang bisa kulakukan. Aku memilih untuk menonton pergerakan kota ini ketimbang terasing sepenuhnya. Namun pagi ini, alih-alih merasa lebih baik aku malah merasa sangat frustasi. Seolah aku berada di dimensi berbeda yang bagaimanapun takkan pernah bisa bergerak bersama kota ini.
“Benar, aku mencoba", ucapku lesu. Kini bahkan aku tak punya banyak energi untuk menyemangati diriku sendiri. Satu tahun terakhir kuhabiskan dengan membangun jembatan untuk membawaku pada mereka. Sayangnya jembatan yang kubangun selalu roboh, tepat satu langkah sebelum aku mencapai tempat itu. Pikiranku ingin beristirahat dari sulitnya pencarian kerja ini. Hanya saja tubuhku tak mendengarkan, seolah sadar bahwa bagaimanapun aku harus melakukannya. “Ayo lakukan. Kau tak ingin jadi seorang yang terus-terusan menjadi beban, bukan?", ucap sesosok suara didalam diriku. Biasanya aku selalu tergerak oleh kalimat itu. Hanya saja kali ini berbeda. Tubuhku enggan mendengarkan.
Sejujurnya ini bukan kali pertama untukku. Berada dalam kondisi yang sama berulang kali ternyata tak lantas membuat semuanya menjadi lebih baik. Satu-satunya hal yang berubah hanyalah jumlah kegagalan yang terus meningkat—meskipun kini aku tak pernah lagi menghitungnya. Bagaimanapun aku menutupinya, gagal tetaplah menyakitkan. Tak hanya sekadar itu, menyembunyikannya adalah sebuah kesalahan. Laiknya bom waktu yang dipenuhi amunisi, kekecewaan yang terpendam akan menimbulkan efek mematikan jika dibiarkan. Sebab hanya dengan satu pemantik, Boooooom, semuanya akan meledak bersamaan dan melumpuhkan sekelilingnya dalam hitungan detik. Dan kurasa  kejadian kemarin adalah pemantik sempurna untuk meledakkan bom waktu itu. Almost is never enough; tepat seperti apa yang diungkapkan judul lagu itu, hampir tidak akan pernah cukup—bagaimanapun kau memikirkannya.
Rambutku berterbangan dipermainkan angin yang bergerak semakin cepat. Kini ada lebih banyak awan hitam dari yang kulihat sebelumnya. Sepertinya akan hujan, namun aku masih enggan bergerak dari tempat ini. Tubuhku terpaku mengingat betapa aku berharap sangat besar pada pengumuman kemarin. Bidang yang kusukai; jenjang karir yang jelas; dan pendapatan yang cukup untuk menyokong kehidupanku kedepannya. Semuanya sempurna, kecuali fakta bahwa aku berada ditempat kedua ketika posisi itu hanya membutuhkan satu orang. Kesempurnaan itu berubah menjadi kekecewaan mendalam, “Sedikit lagi, andaikan aku berusaha sedikit lagi, aku pasti bisa mendapatkan nilai yang lebih baik daripada ini", bisikku lirih. Namun semua pengandaian itu adalah usaha yang sia-sia. Fakta bahwa aku mendapatkan nilai lebih rendah dengan selisih beberapa point itu takkan pernah berubah. Sebab waktu terlalu kejam dan enggan berputar balik bagaimanapun kau memohon.
Aku selalu mendapatkan hasil yang baik sejauh ini, namun mengapa asa itu harus kandas hanya dalam hitungan detik? Aku tak mengerti. Mataku melihat pengumuman itu dengan jelas; Otakku mengerti setiap kalimat itu dengan sempurna, namun kenapa aku masih tak bisa mempercayainya? Pikiranku kalut, semuanya menjadi lelucon yang tak menyenangkan dalam sesaat. Aku tak tahu dimana letak kesalahannya, namun aku sadar bahwa hanya dengan beberapa baris kalimat, kepercayaan diriku bisa runtuh tak tersisa. Aku tak tahu mengapa, hanya saja langit kali ini mempermainkan asaku terlalu jauh. Sekarang kurasa langit begitu puas melihatku diam tak berdaya. Bahkan jika aku balik mengutuk, langit hanya akan tertawa semakin lebar—membayangkan aku merespon seperti yang diperkirakan. Oleh karenanya aku hanya diam, membiarkan semuanya berkecamuk didalam dan menatap pantulan wajahku di cermin dengan dingin, “Kau luar biasa, bisa tetap terlihat tenang dalam kondisi seperti ini", ucapku dengan senyuman sinis.
“Tak ada yang salah dengan semuanya. Mungkin ini bukan jalan yang terbaik untukmu. Jalan terbaik akan kau temukan diwaktu yang tepat", ucap mereka yang bersimpati. Aku tersenyum, mengiyakan. Terlepas dari keberadaan mereka disisi manapun didunia ini, aku bersyukur masih ada yang berdiri disisiku disaat seperti ini. Msemuaeskipun begitu semua kalimat itu terasa hambar. Bagaikan makanan yang harus kutelan walaupun aku tak ingin, satu-satunya cara untuk memperbaiki situasi ini adalah memakannya. Aku selalu melakukan hal itu, ya.. tanpa banyak bicara. Alih-alih menelan, kali ini aku memuntahkannya dengan sempurna. “Tapi kapan dan dimana? Apa yang sebenarnya salah? Dan apa yang seharusnya kulakukan?”. Aku kini menolak rasa hambar itu sepenuhnya.
Kepalaku pusing. Ingatan terkadang bisa menjadi racun sempurna untuk membunuh seseorang. Aku mendongak ke langit, mencoba menghalangi buliran air mata yang siap jatuh. Aku meletakkan kedua tangan di pinggang dan menarik nafas panjang sembari mengerjap berulang kali. Aku menatap langit yang kini berwarna kelabu sempurna. Air mataku mulai mengering, pandanganku kini kembali beralih ke bawah sana. Para pedagang mulai membereskan dagangannya, bersiap jika hujan turun dalam waktu dekat. Beberapa pengendara motor mencoba menambah kecepatannya berharap bisa terhindar dari hujan. Mataku menyusuri jalanan besar itu dan terpaku pada seorang anak yang dengan tenangnya duduk didalam sebuah gerobak lusuh yang ditarik oleh seorang wanita berusia kira-kira 30-an. Bangunan ini hanya terdiri dari 4 lantai sehingga dengan mata yang masih baik aku bisa melihat  jelas apa yang ia lakukan dari atas. Sang ibu sibuk mengorek-orek tempat sampah yang berada didekat tiang listrik. Ia menemukan beberapa botol dan memberikannya pada sang anak. Anak berusia sekitar 5 atau 6 tahun itu memisahkan botol dan tutupnya tanpa mengeluh. Aku mengalihkan pandangan, pilu. “Aku bahkan tak bisa membantu diriku sendiri, bagaimana bisa aku membantu mereka. Dunia sungguh kejam", gumamku pelan.
Angin dingin terus bertiup, namun aku tetap berdiri tegak, enggan bergerak. Semuanya sudah terasa salah, mengapa tak membuatnya lebih buruk dengan diguyur hujan ketika kau tahu dengan jelas ia akan datang? Sempurna. Aku tak lagi memiliki keinginan untuk memperbaiki semuanya. Toh tak akan banyak yang berubah, semuanya bahkan bisa jadi lebih buruk—nah, hal lebih buruk apa yang bisa terjadi pada seseorang yang jatuh ke dasar lubang tanpa tahu jalan keluarnya? Tertimbun. Kurasa itu adalah kemungkinan terburuknya. Namun dalam kasusku, kurasa kemungkinan aku akan mengubur diriku sendiri jauh lebih besar daripada kemungkinan tertimbun oleh suatu hal lain. Aku mengeluarkan handphone dari kantong dan mulai mengutak-atiknya. Pikiranku mulai tak terkendali, mengaktifkan bagian terburuk dari pikiran yang bisa dimiliki manusia. Aku mulai takut dengan diriku sendiri.
Jemariku mulai bergerak liar diatas layar yang berganti dengan cepat. Gelisah, namun pikiranku enggan untuk berkompromi. Aku membuka catatan, berusahan untuk menemukan sesuatu yang lucu untuk mengalihkan suasana. Bola mataku bergerak liar, berusaha untuk mencari dengan cepat. “Tak ada. TAK ADA!”, pikiranku berteriak keras. Aku merinding, takut jika semuanya dalam sekejap berada diluar kendali. Jariku terus bergerak cepat dan berhenti ketika mataku menangkap sebuah judul yang tak biasa. Vivian Greene. Aku membukanya dan menemukan sesuatu yang asing. Biasanya aku tak pernah menuliskan daan menyimpan hal semacam ini, aku hanya membacanya dan lupa seiring waktu berselang.
Life isn't about waiting the storm to pass; It's about learning to dance in the rain—Vivian Greene
Aku menatap layar handphone lekat-lekat, sedikit terkejut dengan kutipan yang kutemukan. “Bagaimana bisa seseorang menari ditengah badai ketika berdiri saja sudah sangat sulit?”, bisikku. Tik..tik.. tetesan hujan membasahi layar handphoneku dengan cepat. Aku sedikit terkejut dan segera menyimpannya ke kantong. Aku menjulurkan tangan dan mulai merasakan kerasnya hujaman tetesan-tetesan kecil itu di telapak tanganku. “Benar bukan, badai tak pernah membaik. Ia hanya akan membawa lebih banyak ketidakberuntungan dalam hidupmu”, ucapku pelan. Aku mendesah, mengasihani diriku sendiri. Hujan turun semakin deras ketika aku masih berdiri diam diatap. Kali ini aku takjub dengan seberapa lemahnya diriku sendiri. Bahkan ketika aku tahu bahwa aku bisa saja langsung meninggalkan atap dan menertawakan hujan yang gagal mengeroyokiku, aku malah diam dan pasrah. Sebuah suara berdecit keras dibawah sana membuatku tersentak. Kini mataku tertuju pada seorang pengendara mobil yang menghardik ibu dan anak yang tadi kulihat dengan suara keras. Ia mengucapkan kata-kata yang sangat kasar untuk seseorang yang berusaha memotong jalur dan nyaris mencelakakan ibu dan anak itu. Aku berdecak kagum melihat betapa jauh level kemanusiaan seseorang bisa jatuh, kurasa ia terlihat seperti iblis yang bergelimang emas. Ibu dan anak itu hanya diam. Sang ibu menarik gerobaknya kepinggir ketika orang-orang disekelilingnya hanya menatap dengan kasihan. Sang pengemudi brural berlalu, semua orang kembali sibuk dengan urusannya masing-masing. Hujan turun semakin deras namun aku masih enggan bergerak dari tempat ini. Sesuatu dibawah sana menarik perhatianku sangat kuat. 
Ibu itu menatap anaknya dengan iba. Bahkan ketika hujan turun semakin deras, mereka hanya bisa berdiri dibawah sebuah warung yang tutup. Ujung atapnya sungguh pendek sehingga sang anak harus turun dari gerobak dan berdiri bertelanjang kaki disisi ibunya. Sang ibu berlutut, mengatakan sesuatu dan mengelus rambut anaknya yang berantakan. Iya tampak sangat sedih namun sang anak malah tersenyum. Aku mengerinyitkan dahi, mencoba menebak drama apa yang terjadi dibawah sana. Rambutku basah namun aku masih diam diatas sana, memperhatikan. Sang anak menepuk pundak ibunya dan bergegas naik keatas gerobak. Ia menarik plastik berisi penuh dengan botol plastik kearahnya. Ia kemudian  memilih sebuah botol dan mengarahkan mulut botol itu tepat dibawah cucuran atap. Ia menutup bagian atas botol dengan tangan sebelum mengocoknya beberapa kali dan membuang airnya dengan cepat. Kini anak itu memandang ibunya dan menunjukkan botol itu dengan bangga. Sang ibu tersenyum dan mulai melakukan hal yang sama.  Mereka berdua tertawa, membuatku seketika tergelitik oleh sebuah perasaan aneh yang menyeruak entah darimana. Aku tersenyum dengan air mata yang mulai berpacu dengan derasnya hujan yang turun. Aku duduk, menghempaskan diriku dilantai atap yang mulai basah. Aku terisak, membayangkan betapa bodohnya aku yang terlalu gampang mengeluh. “Hei, kau bahkan tak mengalaminya seburuk mereka", sesosok suara dalam diriku mulai menamparku keras. Aku benar-benar merasa buruk, terutama dengan semua pikiran buruk yang walaupun sesaat sempat melintas dipikiranku. Dancing in the rain, anak itu mungkin tak pernah tahu siapa itu Vivian Greene, tapi ia dengan sempurna menunjukkan bagaimana cara menyikapi situasi seperti yang Greene ungkapkan. Sementara aku? Wah, apa gunanya mengetahui lebih banyak jika pada akhirnya hanya berujung pada ke-soktahuan akan rahasia semesta? Aku benar-benar keterlaluan kali ini.
Aku berdiri, mulai bergerak kearah pintu dengan pakaian yang setengahnya basah  oleh hujan. Aku menyibakkan rambut sebelum masuk dan menyeka air mata yang masih terasa dipipi. Kurasa aku akan bergerak cepat kekamar dan mengambil beberapa botol yang kukumpulkan disudut ruangan. Siapa tahu anak itu bisa tersenyum lebih lebar ketika melihatnya.
Kurasa kali inipun aku belum bisa menyerah. Dan tak akan pernah.

dyanayuriaurora

Halo, dyana disini.. ini sedikit cerita kenapa fiksi ini muncul. Jadi beberapa waktu yang lalu ada berita miris tentang seorang pejuang kerja yang memilih untuk mengakhiri segalanya karena gagal dalam tesnya. Miris dan sangat disayangkan memang, karena aku sadar bahwa perjuangan itu memang tidak mudah aku mencoba untuk menangkap perasaan apa yang mungkin dirasakan saat itu dan mengubahnya dengan menggunakan quote dari vivian greene yang sangat memotivasi aku. Terus kenapa disana ga pake tokoh or