Diamku Membuat Tuhan Berkata Padamu
“Sepotong Kue Ulang Tahun”
Evvani Maryama
Aku menengadahkan kepalaku, mencoba menatap pusat kerumunan di sekitarku. Namun tetap saja aku tidak bisa melihatnya. Tubuhku yang pendek dan berada di barisan paling belakang membuatku kesulitan untuk melihatnya. Aku menghembuskan nafasku setelah suara tepuk tangan terdengar ramai di sekitarku. Aku berjalan gontai menuju meja yang cukup jauh dari kerumunan ini. Dan dari sini aku masih bisa mendengar suara pembawa acara itu.
“Untuk potongan pertama akan diberikan pada siapa?” Tanya si Pembawa acara pada si Tuan.
“Ibu dan Ayahku,” Jawab si Tuan.
“Lalu potongan ke dua?”
“Tentu saja sahabatku, Sarah,” Aku menghembuskan nafasku lelah. Setidaknya aku masih beruntung bisa diundang ke acara ulang tahunnya sekalipun aku berharap akan mendapatkan potongan kue ulang tahun darinya.
“Dan potongan ketiga?” Tanya Pembawa acara itu terdengar ragu di telingaku.
Aku menjatuhkan kepalaku pada permukaan meja. Membiarkan beberapa helai rambutku yang tergerai menutupi wajahku. Aku ingin segera pulang saja jika tahu akan begitu. Masih saja sendiri seperti sebelumnya.
Aku mengerutkan keningku sekalipun tidak dapat dilihat oleh orang lain setelah mendengar jawabannya. “Aku akan memberikannya nanti.”
“Siapa yang akan mendapatkan potongan kue ulang tahunnya itu?” gumamku sambil menutup mata, membayangkan jika dirinya memberikan potongan kue itu pada diriku.
Aku menghembuskan nafasku kembali. Menganggkat kepalaku menatap langit malam yang penuh bintang di atas kepalaku. Berharap ada bintang jatuh yang melintas di atas sana agar aku bisa berharap akan hal itu dan semua menjadi nyata.
Aku menurunkan pandanganku. Tanganku meraih segelas sirup di atas meja untuk melepas dahaga dari tenggorokanku. Menengguknya hingga habis tak tersisa. Semua orang mulai kembali pada tempatnya. Dan kulihat kue yang tadinya menumpuk sekarang hanya tersisa beberapa saja itu juga sedang dipotong-potong oleh si Tuan dibantu ibunya dan pasti sahabatnya. Terkadang aku iri dengan Sarah yang bisa dengan mudah berada di dekatnya. Berbeda dengan diriku yang hanya sebatas teman sekelasnya saja. Dia juga terkadang lupa dengan namaku.
Aku melihat jam tanganku. Sudah jam tujuh dan acara baru akan selesai jam sembilan, itu artinya aku harus menunggu dua jam lagi. Aku menatap kado di pangkuanku. Ukurannya tidak besar, tidak juga kecil. Tak ada hiasan yang aku tempel hanya kotak berwana biru tua yang nampak sederhana seperti isinya. Tiba-tiba ada rasa tidak yakin bagiku untuk memberikan kado itu padanya.
“Bagaimana jika dia tidak menyukainya?” Batinku.
Aku memeluk kadoku begitu erat. Meyakinkan diriku jika dirinya akan menyukai kado pemberianku.
“Cek! Satu!” Suara berat itu berasal dari arah panggung.
Aku mengalihkan pandanganku ke arah panggung. Si Tuan sedang bersiap dengan gitarnya. Sepertinya dia akan bernyanyi. Aku meletakkan kembali kado itu dipangkuanku. Menompang daguku, dan mulai memperhatikannya yang sedang mengambil angcang-ancang untuk menyanyikan sebuah lagu. Selama ini aku hanya melihatnya bernyanyi sendiri dengan earphone di kedua telinganya dan sekarang dia mau bernyanyi dengan lantang di hadapan semuanya. Seandainya hanya ada aku di sini menontonnya dan dia membawakan lagu itu hanya untukku. Dan sayangnya itu hanya imajinasiku saja.
Aku tersenyum ke arahnya saat ia mengedarkan tatapannya. Entah ia melihatnya atau tidak yang terpenting aku melihat senyumnya. Suaranya begitu tegas dan indah untuk nyanyian laki-laki. Penampilannya juga begitu mendukung. Kemeja berwarna putih dengan lengan yang digulung hingga siku, celana hitam, sepatu hitam, dan rambut hitam yang selalu berantakan miliknya.
Aku mengalihkan tatapanku, tak ingin terpesona lebih lama. Bisa-bisa aku sangat menyukainya hingga aku menyakiti diriku sendiri. Aku beranjak dari tempat dudukku dan berjalan menuju meja dengan tumpukan kado di sana. Kebanyakan kado terlihat meriah ada beberapa ucapan yang sengaja ditulis di luar. Lagi dan lagi aku menghembuskan nafasku pasrah sambil meletakkan kadoku diantara kado yang lainnya dan kado inilah yang paling terlihat sederhana dan mungkin dia tidak akan begitu tertarik untuk membukanya.
Aku segera beranjak dari sana setelah nyanyiannya selesai. Aku melangkah keluar dari pesta ulang tahunnya. Bukan maksudku tidak menyukai pestanya, hanya saja aku merasa kesepian di sana. Sampai di trotoar jalan yang tidak jauh dari pintu keluar aku merogoh tas selempang milikku. Mengeluarkan sebuah topi berwarna putih dengan tulisan ‘Boy’. Aku mengelus kata itu sebelum memakaikannya ke atas kepalaku.
Saat hendak melangkah menjauh dari sana, ada seseorang yang menarik topiku hingga terlepas dari tempatnya. Aku berbalik dan hendak memarahinya. Namun, mulutku hanya bisa terbuka tanpa berucap.
“Pegang!” Suruhnya. Aku beralih menatap sesuatu yang ia pegang. Sepotong kue. Dengan ragu aku mengambilnya.
Dia mengeluarkan spidol hitam dari dalam saku celana hitamnya. Ia membuka tutupnya kemudian menggoreskan sesuatu pada topiku. Aku menahan nafasku sejenak. Berpikir jika dia menuliskan kata-kata tidak sukanya padaku dan melemparkan kadoku.
Setelah selesai ia memakaikan kembali topiku. Ia mengembalikan spidol itu ke dalam saku dan meraih sesuatu dari belakang tubuhnya dan mengambil spidol lainnya. Ia menyodorkan sebuah topi dengan spidol ke arahku aku menerimanya dengan sebelah tangan. Ia mengambil kembali kue dari tanganku. Aku menatap bingung topi dan spidol itu.
“Tulis nama kamu sama tanda tangan,” Aku menatapnya sebentar. Kemudian membuka tutup spidol.
“Dimana?” tanyaku.
“Ck!” Ia melepas kembali topiku dan menunjukkannya padaku. Kedua mataku melebar menatap apa yang digoreskannya di sana. ‘My Prince Tio Ardian’ kemudian tanda tangan miliknya. Aku menatap ke arahnya. Ia tersenyum. Tersenyum hanya padaku. “Cepet.”
Aku kembali menundukkan tatapanku, menatap topi berwarna hitam dengan tulisan ‘Girl’ topi hadiah ulang tahun dariku untuknya. Aku segera menulis namaku dan tanda tangan di atas topi itu dengan spidol putih darinya. Setelah selesai aku memberikannya kembali padanya namun dia tidak mau menerimanya dan malah tersenyum ke arahku. Ia memakaikan kembali topiku. “Bisa tolong pakaikan?”
Tiba-tiba jantungku berdetak super kencang. Dengan tangan sedikit bergetar aku memakaikan topi itu pada kepalanya. Menutupi rambut berantakan miliknya. Ia menatap topi itu yang bertengger di kepalanya. “Thanks.”
Aku mengangguk padanya sebagai jawaban. Sebisa mungkin aku bersikap biasa padanya karena aku tahu jika dia sudah biasa seperti ini pada siapa saja dan berusaha menetralkan detak jantungku yang terus berdetak tidak karuan.
Ia menundukkan kepalanya menatap potongan kue yang berada di tangannya. “Potongan kue ke tiga ini aku berikan padamu, Tasya Karina,” Aku terpatung di tempat. Menatap tepat ke arah potongan kue itu. tanganku meremas pelan dress selutut berwarna hitam milikku, menahan gejolak luar biasa dari dalam tubuhku.
“Kenapa?” Tanyaku hasrat akan rasa penasaran.
“I Love You,” Jawab Tio diiringi dengan sebuah senyuman yang lebih lebar darinya. Aku menahan nafasku beberapa saat ketika telingaku mendengar ucapannya yang begitu lancer dan seolah sering ia ucapkan.
Aku menunduk dan menerima kue itu darinya. Ternyata tak perlu bintang jatuh untuk mengharapkan semua ini menjadinya, kau hanya perlu bersabar menghadapinya.