ikapm

Surga ditelapak kaki ibu

ITU MENGAPA, SURGA DITELAPAK KAKIMU IBU

 

Saat aku begitu berharap, ia belum juga Allah hadirkan. Disaat aku mulai berserah ternyata Allah menghadirkannya disaat yang tepat. Tak pernah menduga akan secepat ini, meski 3 tahun merupakan waktu yang tidak sebentar. Mengingat hadirku dirahim ibu pun begitu lama, dengan ikhtiar serta perjuangan panjang, 8 tahun,  aku kira aku juga akan menunggu hingga selama itu.

“Mas.. positif..!!” Kataku bahagia.

“Benarkah dek? Alhamdulillah” Mas Rasyid tersenyum bahagia.

“Akhirnya Allah mengamanahkan malaikat kecil untuk kita ya mas” aku begitu bahagia.

“Iya. Dijaga ya dek.. kamu harus berjuang menjaganya. Hingga saatnya ia lahir. Semoga kamu, anak kita, sehat selamat hingga waktu yang ditentukan untuk dia hadir didunia”


            Hari berganti hari. Bulan berganti bulan. Pagi itu diusia kandunganku 38 minggu, air ketuban pecah, mengucur begitu deras tiap kali aku bergerak, awalnya aku tidak mengetahui air sebanyak itu, yang mengalir dengan sendirinya dan tidak bisa tertahan adalah air ketuban, baru 2 jam kemudian aku diantar suami menuju bidan desa. Setelah diperiksa aku dirujuk ke rumah sakit. Sang bidan mengatakan bahwa, jika tidak segera ditindak medis dirumah sakit, nanti akan terinfeksi karena air ketuban sudah pecah, sementara aku belum merasakan sakit atau mulas-mulas tanda akan melahirkan.


            Jantung berdetak kencang, tetes air mata tak kuasa aku bendung, menyadari sebentar lagi aku akan bertemu bertatap muka dengan makhluk kecil yang selama 9 bulan berada dalam rahimku, yang kemanapun aku ajak beraktifitas, hingga jarak yang jauh tetap ku tempuh bersamanya, meski hujan membasahi ragaku tapi aku yakin ia selalu hangat dan aman didalam sana.


            Yang sebelumnya aku pikir kehadiran makhluk kecil dalam rahim sebatas mengandung, perut menjadi besar, mual muntah, ngidam, melahirkan. Ternyata proses berkembangnya amanah besar dari Allah ini begitu dahsyat. Dari trimester pertama yang membuat badan terasa tak nyaman, tak ada selera makan sama sekali dan selalu merasa mual ,namun tubuh harus tetap mendapat nutrisi, apalagi didalam ada makhluk kecil yang butuh banyak nutrisi untuk perkembangannya. Kehadirannya mengisi rahim malah membuatku seperti orang sakit kala itu. Hingga memasuki trimester kedua diagnosa dokter aku dihampiri preeklamsia, tekanan darah menjadi sering tinggi, pusing yang tak ada reda-redanya, diplopia binokuler yang kambuh saat aku kecapean hingga menjelang persalinan.

            Dihari itu aku yang dirujuk ke rumah sakit dilarikan kesana dengan sepeda motor, aku membonceng suami dengan mulai menahan rasa sakit yang tiada tara disepanjang perjalanan, disepanjang perjalanan itupun butiran air mata terus menetes deras. Sakit yang begitu hebat ini masih akan terasa sakit? Seperti apa sakit  yang nanti akan aku rasakan jika baru pembukaan 2 saja aku sudah sangat merasa kesakitan.

            Setiba disana aku memasuki ruang IGD setelah beberapa saat pemeriksaan aku dibawa ke ruang bersalin, dari pagi perut yang belum diisi sekepal nasipun akhirnya sekitar jam 12 aku mengisi energi dengan menu makan  siang rumah sakit. 1 jam kemudian aku dipacu. Obat untuk memacu pembukaan jalan lahir dimasukkan kedalam tubuh melalui infus. Semakin lama sakit yang aku rasa semakin terasa luar biasa, hingga aku seakan tak sanggup membuka mata, lelah yang begitu lelah. Menahan rasa sakit yang begitu hebat. Hingga aku pikir, apa izroil sedang disini hendak memisahkan ruh dengan ragaku? Aku takut jika saat itu menjadi saat terakhirku didunia. Aku belum memiliki bekal yang cukup untuk akhiratku.

            “Mas.. sakit sekali” kataku menahan sakit yang tiada tara.

            “Sabar dek.. sebentar lagi rasa sakit itu akan hilang. Sebentar lagi kita akan bertemu dengan jabang bayi yang kita tunggu-tunggu kelahirannya.” Kata mas Rasyid sambil terus mengipas-ngipaskan kertas ketubuhku.

            “Aku tidak ingin hamil lagi mas. Cukup ini saja” aku meneteskan air mata menahan sakit yang semakin menjadi.

            “Iya dek. Satu ini saja.” Mas Rasyid berlinangan air mata.

            Jam dinding menunjukkan pukul 16.00, aku lelah, aku pasrah, aku tak mampu lagi. Aku minta dokter dan bidan jaga agar aku dioperasi caesar saja, namun aku tetap diharuskan bertahan. Bertahan? Mampukah? Sesakit ini. Sakit yang luar biasa dan baru pembukaan 4. Setiap rasa sakit itu datang aku berteriak sekeras mungkin. Aku panggil nama Rabbku, aku beristighfar berulang kali, hingga seakan aku dipaksa terlelap. Lelap yang seakan membawaku menuju alam yang berbeda.

            “Suster.. saya dioperasi saja. Saya tidak kuat. Sakit sekali” aku seakan putus asa untuk berjuang melahirkan secara normal.

            “Sebentar lagi mbak. Ditahan ya. Pembukaannya hampir lengkap. Sabar ya mbak. Ditahan. Doa terus. Banyakin istighfar mbak” kata suster.

            “Iya dek.. kamu sudah merasakan sakit yang begitu sakit. Ini hampir. Mujahid kecil kita hampir lahir kedunia. Jika kamu dioperasi sembuhnya akan lama. Sabar ya dek” mas Rasyid mencoba menguatkanku.

            Hingga akhirnya aku mulai berjuang mendorong makhluk kecil dalam rahimku keluar. Perjuangan yang begitu hebat. Sekuat tenaga aku kerahkan, namun aku selalu tak berhasil. Seakan tak ada lagi daya untuk mengejan mendorong si jabang bayi keluar. Setiap hampir terlihat kepala mungilnya dokter dan beberapa perawat menyemangatiku keras, namun aku kembali tak berdaya. Lemah dan lemas seakan menahanku untuk berjuang melahirkan bayi mungil itu. Aku mulai mengambil nafas dalam-dalam. Aku kembali mengejan dan berjuang semaksimal mungkin. Hingga 1 jam, akhirnya sang mujahid kecil amanah dari Allah ini lahir ke dunia, aku kehabisan banyak energi, hanya lelah yang tersisa. Ia diletakkan diatas dadaku, aku mendekapnya, kepala mungilnya yang  dimiringkan kekanan, berusaha mendongak keatas melihatku, ibu yang melahirkannya, seakan dia ingin berkata, ibu akhirnya aku bertemu ibu dalam dekapan hangatmu. Dalam perjuangan dan pengorbananmu melahirkanku. Aku tersenyum dalam tangis bahagia. Ternyata begitu luar biasa perjuangan seorang ibu. Bagai sebuah pertempuran yang dapat menghilangkan nyawa.

            Aku mendekap erat tubuh mungil sang mujahid kecilku. Dan masih harus merasakan sakitnya rahim yang diobok-obok oleh tangan dokter yang sedang membersihkan rahimku dari sisa-sisa darah dan plasenta, juga harus masih menahan sakitnya jarum jahit yang menusuk berulang untuk kembali merapatkan jalan lahir yang sobek.

            Setelah semua selesai berusaha  duduk pun begitu sakitnya, bergerak dalam posisi berbaring pun begitu menyakitkan, ingin menggendong adek sang mujahid kecil pun perut masih sangat terasa sakit. Dan inilah, perjuangan yang penuh dengan pengorbanan. Ternyata, itu mengapa surga ada ditelapak kakimu ibu. Seorang ibu berjuang menahan sakit yang begitu luar biasa, rasa sakit pada ibu yang akan melahirkan jauh diatas rasa sakit yang bisa ditahan oleh manusia, namun ternyata Allah memberikan semua beban hebat itu kepada perempuan, dan mereka dapat melaluinya, meski dengan susah payah dan perjuangan serta pengorbanan yang besar.

mr1993

sediiih banget bacanya


arfarafisqy

.


arfarafisqy

.


arfarafisqy

bagus banget. aku terhatu


arfarafisqy

bagus banget. aku terharu