PutriElsaL

Jangan langsung mengatakan bahwa kau membenci cinta. Karena pada dasarnya kau hanya baru menemukan cinta yang salah.

Kau hanya baru menemukan hal yang salah. Cobalah melihat hal yang sama di sisi yang lain. Apakah keduanya masih serupa ?

                                                                                                  ---

Dont say if i am not have a heart, karena kenyataannya adalah aku hanya tidak suka hal berbau percintaan. Setidaknya semenjak kejadian itu.

Aku berlari meninggalkan pria tampan yang tengah menatapku dari jauh. Aku meninggalkannya sedetik setelah dia menyatakan cinta padaku. Biarkan saja, ini adalah hidupku, lalu apa urusannya?

Namaku Andra Hainten, mereka biasanya memanggilku Andra, tapi ada satu seorang pria, ia sahabatku yang memanggil namaku dengan sebutan An. Katanya aku spesial, maka dari itu dia juga mempunyai panggilan spesial untukku. Lupakan tentangnya, sekarang adalah cerita mengenai diriku.

“Kamu menyukaiku?”

Aku menatap Alex, sahabat pria yang kuceritakan tadi sambil mengangkat sebelah alis kiriku, “Apa kamu salah makan lagi?”

Dia mencibir, “Pertanyaan kamu seperti pernyataan bahwa aku sering salah makan, An.”

Alex ini lucu sekali, sungguh. Aku tertawa mendengar perkataannya, lalu berjalan keluar dari dalam mobilnya. Dia, dokter muda yang sangat tampan adalah orang yang telah menyelamatkan aku dari laki-laki yang berusaha memintaku menjadi kekasihnya tadi. Seluruh dunia harus tahu bahwa aku menyangi Alex lebih dari pada aku menyayangi diriku sendiri. Mengapa begitu? Karena aku hanya punya dia. Dalam hal ini bukan berarti aku tidak memiliki orangtua.

“Hei, tidak mau berterimakasih?” dia berteriak dari dalam mobilnya.

“Thank you,” teriakku.

                                                                        -----

Mama membangunkanku tepat pukul satu dini hari. Astaga sepagi buta ini, ada apa?

“Alex kecelakaan.”

Duniaku seakan runtuh. Aku tidak bisa mencerta apa yang dijelaskan mama lagi karena aku langsung berganti pakaian dan mengajak mama ketempat Alex berada sekarang. Tidak ada yang bisa kuharapkan sekarang selain keselamatan Alex. Astaga, pria gila itu melakukan apa sampai ia kecelakaan?

Papa memarkirkan mobil di Rumah Sakit Santa Maria, setelah mama memberitahu kalau Alex di rawat di ICU. Orangtua Alex tidak tinggal disini, maka dari itu Alex hanya punya kami sebagai keluarga. Dia adalah anak dari rekan sekerja papaku di luar kota sana.

“Ma, orangtua Alex sudah tahu?” tanya papa mewakili pertanyaan dalam hatiku.

Mama mengangguk dan menjawab, “Mereka ambil tiket perjalanan nanti pagi.”

Aku menunggu di depan ruangan berbau obat ini. Apa yang tengah Alex rasakan? Apa ia kesakitan? Selamatkanlah dia, ya Tuhan.

                                                                        -----

Mama menyodorkan air mineral padaku dan aku hanya bisa mengambilnya tanpa meminum air itu. Bagaimana bisa aku duduk tenang sementara pria yang di dalam sana sedang memperjuangkan  nyawa?

Sekarang pukul 02:30 dan belum ada perubahan. Sementara suster-suster itu sibuk keluar masuk dari ruang Alex. Apa ada hal buruk?

Polisi datang beberapa saat kemudian. Papalah yang menangani mereka. Salah seorang dari polisi itu menjelaskan kecelakaan ini disebabkan kerena jalanan licin sehingga ban mobil Alex yang melucur lebih cepat mendapatkan masalah. Aku ingat sekilas memang kalau tadi malam ada hujan deras. Jadi hujan itu yang menyebabkan Alex kecelakaan?

“Tenang, dia akan baik-baik saja.” Mama menjawab telepon dari mama Alex.

“…”

“Kami pasti menjaganya.”

“…”

“Ya.” ujar mama.

 Seorang dokter muda keluar, kalau aku masih waras maka akan kukatakan dia tampan, sayangnya sekarang aku tidak waras karena masih memikirkan sahabatku itu.

“Ada benturan keras di kepalanya.” kata sang dokter sambil menatapku, karena saat itu mama sedang menemani papa keluar sebentar.

Aku diam menunggunya menjelaskan.

“Dia sedang dalam masa kritis sekarang.”

Aku tetap diam entah karena tidak sanggup berbicara atau lebih karena ingin mengeluarkan air mata mendengarnya berbicara.

“Kita hanya bisa berdoa sekarang.”

Baiklah, aku tahu bahwa mataku sudah berkaca-kaca sekarang. Aku megerjapkan mata ke atas, menarik napas lalu menjawab, “Apa ia akan sembuh?”

Sepertinya dokter itu tahu bahwa itu bukanlah pertanyaan, tapi lebih kepada pernyataan dari harapanku. Dia diam dan menatap tepat ke bola mataku.

“Maafkan aku,” kataku entah untuk apa. Tapi aku tidak sanggup mengatakan hal lain lagi dan malah menjatuhkan diri tepat di depannya.

Dia berjongkok menyeimbangiku, “Apa kamu baik-baik saja?”

“Selama dia baik-baik saja, akupun akan begitu,” aku menghapus air mata dan melangkah ke kursi tunggu.

                                                                        -----

Satu hari, Alex belum sadar. Dua haripun masih bernasip sama, tapi pada hari ketiga saat aku masih di tempat kuliah, mama Alex menghubungiku.

“Apa ada hal buruk yang terajadi, tan?” tanyaku langsung waspada.

“Alex makin kritis, nak. Kamu kesini sekarang ya.”

Aku mematikan ponsel. Apa aku salah dengar? Kumohon jangan merumitkan aku lagi Tuhan.

Taksi itu mengantarkan aku dalam waktu lima belas menit. Segera aku berlari tanpa peduli apa tanggapan orang melihatku karena yang terpenting sekarang hanyalah Alex.

“Dia masih belum sadar,” mama menjelaskan tanpa aku pinta.

Ingin rasanya aku berteriak kencang. Aku hanya punya Alex sebagai teman, aku hanya punya Alex sebagai sahabat. Aku tidak percaya pada orang lain, aku juga tidak percaya pada pria lain selain kepadanya. Lalu sekarang, Tuhan mau mengambilnya dariku?

Dulu, aku pernah hampir dilecehkan oleh seseorang yang sangat aku cinta, dan dia adalah orang pertama yang menyelamatkanku. Aku tidak tahu bagaimana aku akan hidup jika Alex dulu tidak datang, atau jika Alex sekarang tidak ada.

Pintu dibuka, aku cemas, sangat cemas.

“Bagaimana keadaan Alex?” kali ini giliran papanya yang bertanya.

Dokter itu diam sejenak dan menatapku. Aku kenal, ia adalah pria yang menjelaskan keadaan Alex beberapa hari lalu padaku. Kediamannya membuatku tahu kalau aku kehilangan Alex.

Astaga, cobaan apa ini?

Aku melangkah mundur dengan pelan.

Dia telah tiada, Alex sudah pergi.

Aku kehilangannya.

“Dia sudah melewati masa kritisnya.”

Apa?

“Dia sudah sadar, dan bisa di pindahkan beberapa jam lagi ke ruang pribadinya.” jelas dokter muda itu sambil menantapku.

Aku tidak salah dengarkan?

Orangtua Alex tak kunjung mengucap syukur sedari tadi, sementara dokter itu meminta izin untuk kembali keruangannya. Alex sadar. Demi apapun, Alex akan bangun bukan?

                                                                        -----

Kedua orangtua Alex sudah berada di rungannya. Dari luar aku mendengar suara tawa Alex meskipun terdengar cukup pelan. Mama dan papaku juga ada di sana.

Aku ingin masuk, tapi entah mengapa aku merasa ragu. Mama keluar dari dalam dan menjemput tanganku untuk masuk ke dalam. Aku melihat Alex, dia tersenyum padaku.

Entah mengapa. Kedua orangtua kami malah keluar seperti memberikan waktu untuk kami berbincang sebentar.

“Hai,” dia tersenyum padaku.

“Aku tidak mau berbicara padamu.”

“Apa aku ada salah?”

Masih bertanya, eh?

“Kamu kecelakaan, apa itu bukan kesalahan hah?” teriakku.

Dia tertawa pelan, dan aku menyukai itu, “Aku sudah baik-baik saja sekarang.”

Aku diam.

“Kamu mengkhawatirkan aku?”

Tidak kujawab pertanyaan bodohnya.

“Kamu menyukaiku?”

“Apa kepalamu terbentur sebegitu keras?”

Lagi dan lagi dia tertawa, “Aku menyukaimu, An.”

Aku menatapnya. Kalau saja aku gadis lain, pasti dengan senang hati akan membalas pernyataan dirinya. Tapi tidak, aku berbeda.

“Sungguh, aku menyukaimu. Atau bahkan aku jatuh cinta padamu.”

Aku senang, tapi tetap saja aku takut dengan segala hal yang berbau seperti ini.

“Bisa ambilkan kotak itu?” tunjuknya kemeja di sebelah kananku.

Aku menatap kotak merah itu, warna kesukaanku. Lalu aku sodorkan padanya.

“Bukalah.”

“Aku?”

“Jadi siapa lagi yang ada disini?”

Aku tertawa dan membukanya. Ada cincin putih, mengkilap persis di bawah cahaya lampu ini.

“Menikahlah denganku,” dia berusaha duduk.

“Alex,”kataku pelan.

“Kalau mau menolak besok-besok saja, aku sedang bahagia sekarang karena bisa mengungkapkan perasaan terpendamku.”

“Lex,”

“Iya An, ada apa?”

“Aku mau.”

Dia antusias mendengarnya, “Mau apa?”

Dia mengerjaiku.

“Aku mau menjadi milikmu.”

Dia tersenyum dan mengulurukan tangan. Aku menyambutnya. Pria tampan yang telah menjagaku, menjadi bentengku, dan aku tahu bahwa aku juga mencintainya sedalam dia mencintaiku.

Bukankah aku merasa takut bersama pria semenjak kejadian dulu? Tapi mengapa saat bersamanya berbeda? Kurasa itu semua karena kedua hal tersebut sama namun hanya berada di posisi yang berbeda.

kadiaadira

always like y kk:)


thomas

semoga bisa menemukan cinta sejati yak. hehe